Kearifan Lokal Masyarakat Suku Baduy

Kearifan Lokal Masyarakat Suku Baduy

posted in: Otherside | 0

Baduy, adalah nama dari sebuah suku yang berada di Provinsi Banten. Mereka masih menjaga erat nilai dan norma serta tradisi atau adat istiadat masyarakatnya. Suku Baduy termasuk salah satu suku yang terisolir yang ada di Indonesia. Masyarakat Baduy sengaja mengasingkan diri. Mereka hidup mandiri dengan tidak mengharapkan bantuan dari orang luar. Mereka mengasingkan diri dan menutup diri dengan tujuan menghindar dari pengaruh budaya luar yang akan masuk.

Suku Baduy sangat menjaga kelestarian alam yang mereka huni. Mereka selalu menjaga dan merawat alam supaya dapat terus dikelola dengan baik. Efeknya, alam memberikan hasil panen yang cukup dan melimpah untuk menghidupi kebutuhan hidup mereka. Mereka tidak ingin merusak kelestarian alam yang ada.

Ditengah-tengah gempuran modernitas dan globalisasi saat ini, nilai budaya dasar yang dimiliki dan diyakininya. Kearifan lokal dimasyarakat Baduy memberikan banyak pelajaran berharga untuk masyarakat kita yang sudah banyak sekali termakan oleh modernitas. Oleh karena itu banyak sekali baik individu atau kelompok yang datang dan berkunjung ke suku Baduy.

Wisatawan berkunjung untuk melihat keindahan alam ataupun belajar akan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dimasyarakat suku Baduy. Hebatnya lagi adalah kemampuan suku Baduy untuk bisa mempertahankan kebudayaanya dari kebudayaan-kebudayaan luar yang masuk melalui para pengunjung yang datang.

Baduy terletak di Desa Kanekes terletak di Gunung Kandeng yang sebagian wilayahnya adalah hutan. Wilayah ini termasuk ke dalam Propinsi Banten tepatnya di Kabupaten Lebak Leuwi Damar. Kelompok masyarakat Baduy terbagi menjadi dua, yaitu Baduy Luar, dan Baduy Dalam. Keduanya berada di Desa Kanekes hanya saja ada beberapa aturan adat yang berbeda.

Kondisi alam Desa Kanekes ini terdiri dari bukir-bukit yang tersusun berjajar, sehingga untuk berjalan dari satu desa ke desa yang lainnya membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Belum lagi jika berkunjung saat musim hujan. Jalan menjadi sangat licin dan perlu berhati-hati.

Masyarakat Baduy ini sangat menjaga budaya dan adat istiadat yang diwariskan nenek moyangnya sehingga banyak sekali pantangan-pantangannya dengan alasan untuk menjaga alam atau pun menjaga tradisi seperti halnya, dilarang menggunakan trasportasi, menggunakan listrik, menggunakan elektronik, menggunakan sabun, odol dsb. Masyarakat Baduy sangat menjungjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal masyarakatnya.

Sistem ekonomi Baduy lebih mengutamakan sistem tertutup. Artinya aktivitas ekonomi dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan diproduksi serta dikonsumsi dilingkungan Baduy sendiri. Mata pencaharian mereka pada umumnya adalah bertani atau bercocok tanam. Adapula yang bekerja di hutan untuk mencari madu.

Hasil kerja mereka kemas dengan alat secukupnya dan dijual ke kota. Mungkin tidak jarang orang-orang yang berada di Jakarta, Bogor, Tanggerang dsb menemukan masyarakat Baduy menjual madunya atau kain tenunnya. Sementara wanita suku Baduy bekerja di rumah seperti menenun kain, selendang, sarung, gantungan serta kerajinan lainnya seperti membuat tas dari serat akar-akar pohon. Wanita Baduy sendiri diwajibkan untuk memiliki keahlian menenun sebagai bukti bahwa dirinya sudah cocok untuk dipinang.

Nilai-nilai kearifan masyarakat Baduy yang sederhana dengan tidak mementingkan materi dalam kehidupannya menjadi sebuah contoh dimana mereka hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan primernya. Bahkan dalam bertani mereka mengikuti aturan-aturan yang ada dimasyarakat, diantaranya tidak menggunakan pupuk kimia.

Masyarakat Baduy memupuk tanamannya dengan pupuk buatan mereka sendiri dari bahan-bahan organik. Sebuah nilai kearifan lokal masyarakat Baduy yang tidak mau merusak alam dengan menggunakan bahan kimia. Berbeda dengan kebanyakan masyarakat lain yang menggunakan pupuk kimia dengan tujuan hasil panen yang melimpah dan cepat, tetapi tidak memperdulikan lingkungan alam yang akan rusak karena bahan kimia dalam pupuk yang digunakan. Selain itu dalam menanggulangi hama padi, masyarakat Baduy memilih mengusir daripada membunuh.

Dalam bertani, mereka selalu menjaga keselarasan dengan alam, bukannya melawan alam. Maka dari itu, dalam penanggulangan hama padi huma, masyarakat Baduy menggunakan racikan biopestisida dan rawun pare daripada pestisida pabrikan yang dianggap dapat meracuni dan merusak lingkungan.

Upaya mengusir hama padi huma tersebut tampaknya cukup berhasil. Buktinya, kejadian puso panen padi huma akibat gangguan hama sangat jarang terjadi di Baduy. Mengapa demikian? Pasalnya, berbagai tumbuhan untuk biopestisida atau rawun pare orang Baduy dikenal secara ilmiah (etik) termasuk kategori tumbuhan pengusir hama (repellent).

Kehidupan mereka yang sederhana membuat mereka tidak terlalu mementingkan harta, yang penting uang yang mereka miliki cukup untuk makan dan kebutuhuan penting lainya. Sebuah nilai kearifan lokal yang sekarang ini jarang bisa ditemui lagi mengingat sekarang ini banyak masyarakat yang menganggap bahwa uang adalah segalanya dan uang adalah raja yang harus mereka cari dan kumpulkan sebanyak-banyaknya untuk keberlangsungan hidup mereka.

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapu’unan (kepu’unan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah sembilan orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro dua belas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan.

Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung. Prinsip kearifan yang dipatuhi secara turun temurun oleh masyarakat Baduy ini membuat mereka tampil sebagai sebuah masyarakat yang mandiri, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Karena itu, ketika badai krisis keuangan global melanda dunia, dan merontokkan pertahanan ekonomi kita di awal tahun milennium ini, suku Baduy terbebas dari kesulitan itu. Hal itu berkat kemandirian mereka yang diterapkan dalam prinsip hidup sehari-hari.

Masyarakat Baduy sangat percaya bahwa segala sesuatu di alam ini telah diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Oleh karenanya, sebagai manusia yang juga diciptakan, manusia tidak memiliki kepatutan untuk merusak seperti memotong atau menyambung. Konsep hidup yang diserahkan pada gagasan natural ini jelas memperkuat masyarakat Baduy secara umum bahwa mereka dilahirkan untuk menjaga stabilitas alam agar tetap seimbang.

Kesederhanaan hidup ini adalah cara mereka untuk “bersatu” dengan alam. Pikukuh yang menjadi pegangan hidup mereka dianggap sebagai harga mati dan tak boleh diubah. [Risya Fitriana/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

Sebarkan :
  • 76
  • 55
  • 23
  •  
  •  
  •  
    154
    Shares
Follow Travelnatic:

Travelnatic Magazine is magazine about tourism and traveling in Indonesia or by Indonesian. Every people can shared their travel story here. Send me by email at redaksi@travelnatic.com

Komentar anda?