Keindahan Teluk Mandeh, Primadona Baru di Sumatera Barat

Keindahan Teluk Mandeh, Primadona Baru di Sumatera Barat

posted in: Destination | 0

Baru saja saya tiba di Dermaga Carocok Tarusan usai menempuh perjalanan sekitar 63 Km selama 2 jam dari Kota Padang. Dermaga ini terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Tiba – tiba seorang bapak paruh baya datang menghampiri saya seraya bertanya, “mau survey ke Mandeh ya? Ayo sini ke rumah bapak”

Saya tercengang, bagaimana ia bisa tahu jika kedatangan saya kesini memang untuk survey melihat keindahan Teluk Mandeh yang disebut-sebut sebagai Raja Ampat-nya Sumatera Barat. Saya pun diajak masuk ke dalam rumah bapak tersebut dan berkenalan.

“saya Pak Alam, saya lihat dari bentuk tas yang kamu bawa, kamu pastinya mau survey kan? Nah, nanti kamu ikut saja dengan anak saya ya” kata Pak Alam

Lalu datanglah seorang anak muda yang dari raut wajahnya seperti masih duduk di bangku SMA, Amri namanya. Amri adalah anak dari Pak Alam. Mereka sekeluarga bekerja sebagai penyewa kapal bagi wisatawan yang hendak mengeksplorasi Teluk Mandeh.

“Hei Amri, ini ada Catur dari Jakarta mau survey. Kamu ajaklah nanti, kamu belajar dari dia, bagaimana cara membawa, melayani tamu” ujar Pak Alam kepada anaknya.

owaik, mengapa saya harus mengajari anaknya Pak Alam?” Terlintas dalam pikiran saya. Padahal niat saya hanya ingin tahu Teluk Mandeh lebih dekat karena sebelumnya saya ke Mandeh hanya melihat panoramanya saja dari puncak Bukit Mandeh.

Waktu berjalan dengan sangat cepat, kini telah tengah hari. “tamu – tamu sudah turun dari puncak (Bukit Mandeh) Amri, Adit ayo ke dermaga, Catur kamu ikut ya, kamu tak usah bayar” suruh Pak Alam

Saya senang sekali mendapatkan kesempatan ini. Kapan lagi bisa menjelajahi Teluk Mandeh secara gratis. Dari rumah Pak Alam, kami menuju ke dermaga tempat dimana wisatawan naik ke kapal – kapal wisata. Dua bus berukuran sedang datang, lalu keluarlah para tamu yang akan kami bawa.

“ayo, bapak, ibu, naik, hati – hati kepalanya ya jangan sampai terantuk atap kapal” kata saya kepada tamu – tamu yang hendak naik ke kapal. Kapal telah terisi oleh tamu  yang datang dari Komunitas asal Bandung. Adit melepas tali tambat, lalu mengangkat jangkar sedangkan Amri mulai menyalakan mesin kapalnya yang memiliki kekuatan 40 PK (PK singkatan dari Paar de Kraft dalam bahasa Belanda, sama artinya dengan HP atau horse power dalam bahasa Inggris atau tenaga kuda dalam adaptasi bahasa Indonesia. Satu HP setara dengan 745, 7 watt. Redaksi).

Pulau Sironjong Besar dan Sironjong Kecil di Teluk Mandeh

Kapal mulai berlayar menuju destinasi pertama yakni Pulau Sironjong Besar. Pulau ini hanya berupa batu berukuran besar namun ajaibnya tumbuh subur pohon – pohon berukuran besar. Hal yang membuat bertanya – tanya bagaimanakah pohon tersebut bisa mendapatkan nutrisi supaya dapat tumbuh? Pastinya ada campur tangan Tuhan dibalik semua itu.

Tepat disebelah Pulau Sironjong Besar ada Pulau Sironjong Kecil. Di pulau ini wisatawan yang berkunjung bisa melakukan hal yang terbilang ekstrim yaitu cliff jumping atau lompat dari tebing. Tebingnya sendiri memiliki ketinggian sekitar 15 meter dari muka air laut. Cukup tinggi bukan?

Para tamu di kapal kami tidak ada yang berani melakukan itu. Adit pun berinisiatif untuk melompat. Dia naik ke tebing Pulau Sironjong Kecil dengan cepat, kemudian tubuh kecilnya terjun bebas ke laut, byuuuurr. Tidak hanya sekali, ia melakukannya dua kali. Para tamu yang terhibur dengan atraksi ini mengumpulkan uang untuk diberikan ke Adit.

“Wah beruntung sekali si Adit, mendapatkan uang dari hal yang ia suka walau itu beresiko tinggi” gumam saya dalam hati.

Pulau Setan di Teluk Mandeh

Dari Pulau Sironjong Kecil, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Setan melewati Pulau Cubadak. Tidak sembarang orang bisa masuk ke Pulau Cubadak karena pulau ini merupakan resort yang dikelola secara mandiri oleh warga negara asing. Namun kami bisa melihatnya dari kejauhan. Pulaunya nampak bersih karena dikelola dengan baik. Perairan di sekitar Pulau Cubadak pun memiliki terumbu karang dengan kondisi yang terjaga.

Kami tiba di Pulau Setan. Pulau ini memiliki pasir pantai yang putih. Karakteristik gelombangnya sangat tenang sehingga cocok bagi wisata keluarga. Disini juga banyak penyedia jasa permainan olahraga air seperti banana boat, donat boat dan jetski.

Air Terjun Gemuruh dan Hutan Bakau di Teluk Mandeh

Masih ada satu destinasi lagi di kawasan dalam Teluk Mandeh yaitu Sungai Gemuruh. Untuk menuju kesana tergantung pada pasang surut air. Saat itu kami beruntung karena batas air pada lambung kapal yang kami tumpangi masih cukup untuk melewati sungai. Sepanjang sungai ini terlihat pemandangan hutan bakau dikanan kirinya. Ujung dari rute ini adalah sebuah air terjun. Airnya sangat menyegarkan. Ditambah lagi, dibawah air terjun terdapat lubuk alami. Panorama yang lengkap! Air Terjun Gemuruh memang sengaja ditaruh diakhir perjalanan karena biasanya setelah puas bermain air di laut para wisatawan akan membilas diri mereka disini.

Akhirnya setelah menjelajahi seluruh destinasi wisata yang ada di kawasan dalam Teluk Mandeh kami kembali ke dermaga Carocok Tarusan. Para tamu kembali melanjutkan perjalanannya menuju Bukit Langkisau Painan. Mereka mungkin akan menghabiskan waktu sore sembari menikmati panorama matahari terbenam disana.

Saya, Amri, Adit dan Pak Alam kembali ke rumah Pak Alam. Kami memarkirkan kapal, mengikat tali temali pada batang kayu yang sudah terpancang, melego jangkar supaya kapal tidak terbawa arus. Kami menghabiskan waktu sore dengan duduk – duduk diatas kapal, bercakap – cakap berbagi cerita pengalaman. Saya yang tumbuh besar di kota dan Amri, Adit yang berteman erat dengan angin, pantai dan lautan. Obrolan ini terasa asik. Kami biarkan tubuh kami dihembus angin laut yang sejuk. Di arah barat sana sang mentari akan tenggelam. Menciptakan rona senja yang menawan.

Tak terasa rembulan berbentuk bulat sempurna serta bintang – bintang telah menghiasi langit malam itu. Oleh Pak Alam saya diminta untuk menginap, tawaran yang rasanya tidak pantas untuk ditolak.

Keesokan paginya, Amri dan Adit telah siap dan rapi mengenakan pakaian seragam sekolah. Dengan semangat mereka meninggalkan rumah menuju ke sekolahnya masing – masing. Salut kepada mereka yang tetap semangat untuk sekolah, mengejar cita – cita. Saya pun juga bersiap untuk kembali ke Padang. Saya pamitan kepada Pak Alam dan istrinya. Berterima kasih karena bersedia menerima dan menampung saya. Saya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga ini. [Muhammad Catur Nugraha/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 187
  • 170
  • 136
  •  
  •  
  •  
    493
    Shares
Follow M Catur Nugraha:

Tinggal di Jakarta. Melakukan kegiatan traveling saat libur kerja. Penulis aktif di www.backangineer.com. Aktif dalam komunitas Backpacker Jakarta, Indonesian Mountains, dan komunitas D'travellers

Komentar anda?