Ken Ariestyani. Pejalan Perempuan Penulis 3 Buku.

Ken Ariestyani. Pejalan Perempuan Penulis 3 Buku.

posted in: Travelers Profile | 0

Jika kamu suka membaca buku lokal bergenre traveling, khususnya tentang pendakian gunung, rasa-rasanya tidak mungkin tidak mengenal Ken. Ken menikmati hidup dengan banyak hal. Dia termasuk pejalan dengan paket lengkap! Dia suka menulis, dia jurnalis dan yang paling penting dia suka traveling! Dengan paket seperti itu, Ken tidak hanya menerima keindahan ciptaan Tuhan, tapi juga membagikannya pada orang lain. Hebat kan!

Makin penasaran sama Ken? Wawancara Travelnatic Magazine berikut ini akan segera menghilangkan penasaran kamu tentang sosok perempuan yang satu ini. Mari simak!

Sejak kapan Kak Ken menyukai kegiatan traveling?

Sejak masih jadi pelajar di sekolah dasar, saya sering diajak Ayah jalan kaki atau trekking bareng sama Ibu dan adik.

Seperti apa suasana jalan-jalan saat masih SD itu?

Rutenya macam-macam, semisal dari rumah ke pasar yang jaraknya sekitar tujuh kilometer. Kami jalan melewati permukiman penduduk, tak jarang menyusuri sungai dan sawah (pada saat itu masih terdapat banyak sawah di sekitar rumah saya). Terkadang kami naik delman (yang sekarang sudah tidak ada lagi) saat kembali ke rumah. Di lain waktu, kami trekking melewati sawah dan sungai jernih di daerah rumah (alm) nenek di Bogor dan sekitarnya.

Sungguh menyenangkan dapat menikmati pemandangan alam yang hijau sambil menghirup udara segar. Intinya, Ayah seringkali mengajak saya berkegiatan di alam. Inilah cikal bakal saya menyukai kegiatan traveling. Ditambah lagi sejak SD hingga SMA, saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka yang semakin menguatkan hasrat traveling saya. Namun, keinginan untuk solo traveling harus mengendap karena terkendala waktu (aktivitas sekolah dan kampus cukup menyita waktu) serta izin orang tua dan baru tersalurkan lagi sejak saya mulai bergelut di dunia jurnalistik pada tahun 2005. Maka sejak itu saya mulai melakukan perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia.

Kesibukan Kak Ken sehari-hari seperti apa?

Saat ini, lima hari dalam seminggu saya bekerja sebagai jurnalis di salah satu televisi swasta. Di tengah kesibukan itu, saya menyempatkan diri untuk mengajar materi jurnalistik di sebuah universitas negeri di Jakarta. Sebelum berangkat kerja, saya meluangkan waktu untuk menulis. Saya juga memanfaatkan hari libur kerja untuk melanjutkan menulis.

Saat sedang jenuh menulis, biasanya saya pergi hunting foto sendiri atau bersama teman. Atau pergi ke perpustakaan pusat Universitas Indonesia di Depok. Oh ya, main ke toko buku juga ampuh buat menghilangkan jenuh. Dijamin!

Bagaimana mengatur waktu untuk kegiatan traveling?

Nah, bagian ini paling menyenangkan dalam hidup saya. Dalam satu minggu, saya punya dua hari waktu libur. Jadi, kalau tujuan traveling-nya dekat saya memanfaatkan dua hari libur ini. Sementara kalau traveling-nya membutuhkan waktu lebih dari dua hari, terpaksa harus cuti kerja karena tanggal merah atau long weekend tak berlaku buat saya yang bekerja di media dengan tugas utama menangani program yang tayang setiap hari. Namun terpenting buat saya adalah bagaimana kita menikmati momen saat perjalanan menuju destinasi yang sudah ditentukan.

Dengar-dengar kak Ken adalah dosen dan juga bekerja sebagai jurnalis di media swasta, bagaimana mengatur waktu supaya semua berjalan lancar, termasuk traveling?

Kalau sedang dipercaya menangani program yang tayang malam, saya masuk kerja dari sore. Jadi, paginya bisa dimanfaatkan untuk menulis dan mengajar di kampus. Sementara kalau sedang ditugaskan untuk program yang tayang siang, maka saya masuk pagi. Jadi, waktu libur dipakai untuk mengajar satu hari. Traveling-nya di hari libur untuk yang jarak dekat dan ditambah cuti jika untuk mencapai destinasi yang telah ditentukan membutuhkan waktu lebih dari dua hari.

Kak Ken sudah pernah menulis buku tentang kegiatan traveling? Boleh diceritakan pada pembaca?

Sudah dong 

Buku pertama bertajuk “Mahameru. Bersamamu”. Buku ini saya tulis selepas perjalanan mendaki Gunung Semeru pada 31 Desember 2012 – 3 Januari 2013. Buku yang diterbitkan oleh Grasindo pada 31 September 2013 ini bercerita tentang memoar pendakian ke Mahameru bersama sekitar 50 orang teman dari Jakarta dan beberapa dari daerah di Indonesia.

Puncak Mahameru jadi pengalaman pertama saya mendaki gunung. Saya awam mendaki gunung, namun itu bukan berarti tak bisa dilakukan (dikutip dari Mahameru.Bersamamu. Hal.32), begitu yang saya pikir sebelum mendaki gunung untuk pertama kalinya. Bagaimana riweuh-nya menyiapkan peralatan untuk mendaki gunung, berembuk tentang logistik kelompok, hingga berkemas saya ceritakan di buku ini.Termasuk, pengalaman hati selama dalam perjalanan ini juga tertuang dalam buku “Mahameru. Bersamamu.”

Sedangkan buku kedua saya bertajuk “Rumah Adalah Di Mana Pun”. Ada sedikit yang berbeda di buku ini dengan buku pertama. Penulis buku, yang diterbitkan oleh Grasindo pada Maret 2014 ini adalah 19 orang pejalan perempuan (women traveller) yang memang menyukai traveling dan sering melakukan perjalanan. Jadi, buku “Rumah Adalah Di Mana Pun” merupakan antologi perjalanan dari 19 orang pejalan perempuan.

Secara garis besar temanya masih seputar “cinta”, tapi cinta di sini kami tuangkan dari berbagai macam sudut pandang. Ada tulisan yang temanya cinta terhadap budaya Indonesia, lalu ada pula yang jatuh cinta pada alam Indonesia yang indah. Dan tentunya, ada cerita yang menuturkan cinta pada tambatan hati alias lelaki pujaan.

Menariknya, semua cinta yang tertuang di buku ini merupakan pengalaman para penulis selama melakukan perjalanan. Jadi, setting tempat benar-benar tujuan traveling yang pernah didatangi oleh para penulisnya. Saya sendiri bertutur tentang cinta kepada Ibu, kisah ini saya alami saat melakukan perjalanan ke Lombok dengan tujuan Gunung Rinjani, Pantai Kuta, dan Desa Adat Sade.

Nah, kalau di buku ketiga ini saya mulai menulis fiksi. Jadi, pengalaman traveling saya tuliskan dalam bentuk novel. Jelas berbeda dengan buku pertama dan kedua yang merupakan memoar dari penulisnya. Jadi tantangan tersendiri, sih, saat menulis novel untuk buku ketiga ini. Saya harus lebih detail memikirkan konflik, dialog, dan ending cerita, termasuk alur cerita dan setting tempat.

Oh ya, saya menulis novel ini berduet dengan penulis Pia Devina, yang sudah lebih dulu menerbitkan novel-novelnya di sejumlah penerbit termasuk Grasindo. Menariknya, proses diskusi jadi lebih hidup saat penulisan novel ini. Saya jadi lebih mengetahui seluk beluk menulis novel hasil sharing dengan Pia Devina. Banyak hal yang kami diskusikan, mulai dari ide cerita (opening, konflik, resolusi, dan closing), alurnya bagaimana, lalu lokasi mana saja yang mau dijadikan setting, hingga outline per bab. Ide-ide saya dan Pia Devina kemudian disampaikan ke editor dan tentu saja mendapat masukan dari editor sehingga harus kami poles lagi di sana sini.

Begitulah kiranya, hingga terbitlah buku ketiga saya yang sepakat kami beri judul “HEARTSICK” dengan tagline “Keping Hati Yang Membeku”. Buku ini juga diterbitkan oleh Grasindo pada Oktober 2015. Jadi, masih hangat lho dan masih banyak tersedia di toko buku Gramedia seluruh Indonesia dan toko buku lain. 

(Omong-omong, teman-teman dan pembaca Travelnatic Magazine udah baca yang mana aja nih? Buku ketiga nggak kalah seru lho! Hehehe)

Pelajaran apa saja yang Kak Ken petik dari kegiatan traveling?

Banyak hal yang saya dapatkan dari kegiatan traveling. Saat melakukan perjalanan, saya bertemu dengan banyak orang. Di antara mereka, terselip individu-individu yang boleh jadi sepintas tampak biasa saja, tapi mereka punya cerita dan pengalaman hidup yang luar biasa. Kisah hidup yang mereka bagi mampu menyentil kesadaran saya akan banyak hal.

Selain itu, saat melakukan perjalanan seringkali saya dihadapkan pada situasi atau kondisi yang tak terduga (apapun bentuknya), termasuk bertemu orang dengan beragam karakter (baik itu teman perjalanan yang baru kenal atau orang-orang lokal). Nah, inilah seninya traveling, bagaimana kemudian cara kita menangani hal tersebut agar perjalanan kita tetap menyenangkan. Saya melihat inilah ujian buat diri kita sendiri. Bagaimana mengendalikan emosi, mengambil keputusan dengan cepat tapi tepat, atau mungkin juga memberikan toleransi terhadap orang lain.

Dan tentu saja, saya mengenal dan belajar langsung tradisi serta budaya masyarakat Indonesia yang begitu beragam. Termasuk belajar untuk menghargai tradisi mereka yang berbeda dengan kebiasaan saya.

Terakhir yang tak kalah penting, traveling membuat saya selalu bersyukur dan terus menambah rasa syukur saya. Bersyukur akan banyak hal dalam setiap episode hidup saya.

Apa pengalaman Kak Ken yang paling berkesan dalam hal traveling?

Banyak pengalaman berkesan buat saya ketika melakukan perjalanan. Setiap saya traveling selalu ada pengalaman ini. Dan buat saya semua pengalaman itu berkesan. Kalau ditanya apa yang paling berkesan, menurut saya ketika mendaki gunung, terlebih ketika pertama kali saya melakukannya. Perjalanan mendaki gunung mengajarkan saya untuk jangan pernah menyerah saat hendak meraih cita – menjadikan nyata sebuah mimpi. Namun, perjalanan mendaki gunung sekaligus semakin menyadarkan saya kalau dalam membuat nyata segala cita pasti ada rintangan dan dibutuhkan ketekunan, kegigihan, kesabaran, upaya, serta doa. Dan perjalanan mendaki gunung juga mengingatkan saya bahwa ketika mimpi belum mampu mewujud, angan belum dapat teraih, cita belum bisa menjadi nyata, maka jangan pernah menyerah sebab akan selalu ada jalan lain yang terbuka. Kesempatan, boleh jadi tak datang dua kali. Tapi kesempatan pasti ada, tinggal bagaimana kita peka ketika ia datang dan memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Apa hal yang paling Kak Ken sukai saat berkunjung ke suatu tempat?

  • Bertemu dengan orang-orang lokal, berinteraksi dengan mereka. Ini adalah cara paling jitu untuk menggali banyak informasi seputar tempat tujuan kita, selain tentunya dilengkapi dengan riset pustaka.
  • Menikmati pemandangan alamnya.
  • Mencicipi kuliner khasnya.
  • Dan ini yang paling penting: membeli kain khas daerah tersebut. Apapun bentuknya, selendang, scarf, kain panjang yang bisa dijahit, tenun, batik, songket, apapun. Simpel karena saya begitu menyukai kain! Hehehehe… (koleksi di lemari udah bertumpuk tuh :D)

Apa hal yang paling Kak Ken tidak sukai saat berkunjung ke suatu tempat?

Eehm…mostly selalu antusias kalau datang ke tempat baru. Paling kalau harus bermalam, saya agak repot sama urusan kamar mandi. Hahaha.

Berikan dong satu pesan sebagai closing wawancara ini.
Jangan pernah letih untuk melangkah, berjalan sejauh kita mampu, karena dalam proses mencapai tujuan itulah kita belajar segala aspek kehidupan dari setiap kejadian. Pun memetik nilai kehidupan dari individu-individu yang kita temui dalam perjalanan. Setangkup pengalaman yang boleh jadi tak terganti dengan mata uang manapun. [Nurul Amin/End]

Penyunting : Bela Jannahti

Sebarkan :
  • 273
  • 260
  • 232
  •  
  •  
  •  
    765
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?