KFP : Menyulut Semangat Pendidikan dan Menjelajah Indonesia

KFP : Menyulut Semangat Pendidikan dan Menjelajah Indonesia

posted in: Community Review | 0

Saya tergelitik akan cerita di balik Komunitas Filantropi Pendidikan ini. Komunitas ini mempunyai program outstanding menebarkan semangat melalui pendidikan. Keistimewaan komunitas ini adalah selain jalan-jalan keliling Indonesia, mereka pun dengan semangat membara juga menyebarkan kebaikan lewat pendidikan. 

Ya, mereka menyebarkan semangat sekolah dan gemar membaca ke pelosok perbatasan Indonesia. Awal berdiri di tahun 2012, diprakarsai oleh teman-teman dari Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa, lahirlah Komunitas Filantropi Pendidikan atau yang biasa disingkat dengan KFP.

Salah satu kegiatan mengajar Komunitas Filantropi Pendidika. Dok. Griska R Gunara
Salah satu kegiatan mengajar Komunitas Filantropi Pendidika. Dok. Griska R Gunara

Saat ini, relawan yang sudah ikut ambil bagian mendukung komunitas ini menyebarkan kebaikan lewat pendidikan sudah mencapai lebih dari 1000 orang. Jumlah tersebut adalah relawan yang telah terdaftar di KFP. Jika saat ada kegiatan inspirasi, KFP dapat melibatkan sekitar 250 relawan. Dibandingkan dengan daerah lainnya, Jabodetabek telah melahirkan banyak relawan di KFP.

Salah satu daerah yang sudah dijangkau oleh KFP adalah Rote Ndao, Sebatik, Pandeglang dan Wakatobi. Ada begitu banyak cerita baik yang sangat menyentuh relung hati kita sebagai manusia. Bertemu dengan banyak sekali orang-orang lokal yang sangat ramah dan terbuka.

Perjalanan saya ke Nunukan bersama KFP, melihat sendiri kehidupan dan pendidikan anak-anak di tapal batas, membuat saya jatuh cinta dan ingin kembali lagi berkunjung ke sana. Saya tidak pernah membayangkan langkah kecil saya menginjak Nunukan. Apalagi berkenalan dengan Camat Nunukan, Bapak Harman, sungguh bukan impian saya waktu itu. Tetapi KFP bisa membuktikan dan membawa saya merasakan pengalaman berharga bahwa mimpi anak-anak di Nunukan perlu disulut agar mereka bisa menggapai cita-citanya dengan kerja keras nyata yang penuh semangat … Bersekolah !

Saat saya hubungi, Mas Angger baru pulang dari Wakatobi. Kemudian menceritakan dengan antusias tentang perjalanan ke Wakatobi kemarin. Program ‪#ROTB ‪#WakatobiProject yang dikerjakan membuahkan antusias yang luar biasa. Gerakan Reaching Out The Bounderies ‪#ROTB  yang menyulut anak-anak di Wakatobi.

Berikut kutipan wawancara saya dengan Mas Angger yang inspiratif lebih lanjut :

Program yang sedang berjalan dan yang akan dikerjakan di masa mendatang apa saja?

“Program yang sedang berjalan hari ini adalah gerakan GemariBuku, dimana kita mengajak banyak orang untuk terlibat aktif dalam memberikan akses pengetahuan atau informasi (buku) kepada saudara-saudara kita (khususnya anak-anak) yang ada di remote area di Indonesia”.

“Kedepan, kita akan menghelat kegiatan DapurRelawan, dimana kita mempersiapkan skill para relawan untuk siap terjun ambil bagian dalam aksi-aksi nyata kerelawanan. Selain itu juga akan ada kegiatan RuangInspirasi, dimana akan menjadi wadah para relawan untuk berbagi kemampuan pada mereka yang membutuhkan”.

Apakah Kfp membuka pendaftaran untuk relawan baru, apakah ada spesifik umur tertentu?

“Ya, kita selalu senang jika kedatangan keluarga baru dan buat ingin daftar bisa di Daftar Relawan KFP “

“Sebenarnya tidak ada batasan usia, selama si relawan yakin mampu berkontribusi. Namun, biasanya yg terlibat dimulai dari usia 16 tahun”.

Apa sih pesan Kak Angger untuk Indonesia melalui Travelnatic Magazine ?

“Kalau kita bicara Indonesia, maka baiknya tak ada membeda-bedakan antara Jawa dengan Papua atau kota besar dengan daerah pedalaman. Semestinya semua sejajar dari segi apa pun, apalagi soal pendidikan. Tak peduli ia lahir di Sangihe atau Makassar, seharusnya tiap anak Indonesia bisa tercerahkan masa depannya lewat pendidikan. Namun, hari ini yang terjadi lain. Seolah-olah hak menikmati kemerdekaan hanya milik mereka yang lahir dan hidup di kota saja”.

“Suka tidak suka, Indonesia memang masih diselimuti banyak permasalahan. Tapi apakah kemudian pilihan kita hanya diam melihat permasalahan-permasalahan ini? Atau kita hanya memilih jadi penonton saja? Lalu bagaimana mungkin kita bisa memastikan perubahan jika kita hanya ada di dua pilihan tadi?”

“Saya amat yakin, kita mampu ambil bagian dalam barisan solusi bagi republik ini. Sebagai orang yg lahir di tengah keluhuran budaya gotong royong, kita sebenarnya sudah amat akrab dalam bingkai kebersamaan ketika menyelesaikan sebuah permasalahan”.

“Jadi, yuk ambil bagian!”

[Griska R Gunara/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

Narasumber : Andi Angger Sutawijaya

Kordinator Komunitas Filantropi Pendidikan,

Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    400
    Shares
Follow Griska Gunara:

Tinggal di Bekasi. Traveler yang berprofesi sebagai photogragpher. Aktif dalam kegiatan komunitas traveler di Jabodetabek.

Komentar Pembaca