Perjalanan 9 Jam Ke Kolam Air Laut Alami di Pantai Kedung Tumpang

Perjalanan 9 Jam Ke Kolam Air Laut Alami di Pantai Kedung Tumpang

posted in: Experience | 0

Perjalanan berawal dari Semarang menyusuri Boyolali – Sragen – Ngawi – Madiun hingga ke Kediri dengan lama perjalanan 9 jam. Perjalanan panjang kami tidak membosankan karena dikelilingi oleh pemandangan alam sekitar yang indah. Naik turun bukit kami lalui hingga malam hari, dari cuaca panas sampai dingin kami rasakan. Jalur yang paling ekstrim kami lewati ketika menyusuri kaki Gunung Kelud. Ketika itu kami jalan pada malam hari. Kabut yang turun membuat pandangan kami sangat terganggu.

Bayangkan saja yang terlihat hanya lampu mobil yang berlawanan arah dengan kami. Kanan kiri hutan dan jurang. Kalau tidak berhari-hati, ah sudahlah apa yang terjadi. Malam yang sepi hanya dilewati beberapa kendaraan saja. Alhamdulillah semua bisa kami lalui hingga sampai di Kediri. Lalu kami menyempatkan istirahat di alun-alun kota Kediri hingga besok pagi.

Hosting Unlimited Indonesia

Kami menginap di Hotel Bismo dengan tarif 250 ribu untuk kamar keluarga kapasitas empat orang. Hotelnya tampak tua tapi ya lumayanlah untuk istirahat sejenak melepas lelah dari pada kami harus menginap di hotel “merah putih” alias pom bensin. Iya memang tadinya kami ingin beristirahat di pom bensin untuk menekan pengeluaran, tapi ternyata pom bensin di Kediri tidak buka 24 jam.

Besok paginya, kami lanjutkan perjalanan menuju Tulungagung. Sebelum masuk di kota Tulungagung tepatnya di perbatasan antara Kediri – Tulungagung, kami sempatkan mencicipi kuliner Jawa Timur yaitu sambal tumpang dan nasi pecel. Enak betul rasanya! Kami makan dengan sangat lahap, harganya murah meriah lagi. Ditemani dengan minum es degan dan rimbunnya pepohonan.

Selepas ba’da Dzuhur kami lanjutkan perjalanan menuju Desa Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung. Lama perjalanan yang kami tempuh sekitar dua jam dari perbatasan Kediri – Tulungagung. Pemandangan di perjalanan didominasi oleh hutan dan beberapa rumah penduduk. Jalannya sudah beraspal tapi minim penerangan. Sinyal seluler disini naik turun, apalagi kami mengandalkan aplikasi Waze untuk sampai ke tujuan. Untung banyak petunjuk arah di jalan yang memudahkan kami untuk sampai ke tujuan sore itu.

Di desa ini ada kolam renang alami yang berisi air laut atau biasa disebut Kedung Tumpang oleh penduduk lokal. Kendaraan tidak diperbolehkan untuk sampai ke lokasi secara langsung, harus diparkir beberapa ratus meter dari kolam renang. Kalau mau jalan sih bisa saja tapi sepertinya akan cukup lama, bisa makan waktu satu jam atau lebih. Disini disediakan angkutan umum berupa ojek dengan tarif 15 ribu per sekali jalan. Jalannya masih belum mulus, kalau hujan tergenang air dan cukup licin, tapi pemandangannya luar biasa. Dari atas perbukitan terlihat hamparan laut lepas dengan ombak yang menggelegar. Masya Allah, dada ini berdetak kencang tidak sabar untuk bisa sampai kesana.

Pantai Kedung Tumpang diapit oleh dua pantai yaitu Pantai Molang dan Pantai Lumbung. Setibanya di bibir pantai, perjanan masih belum berakhir. Kami harus menuruni tebing dengan dasar tanah yang tergenang air hujan. Disarankan untuk menggunakan sandal gunung agar tidak mudah terpeleset. Oiya biaya masuknya 15 ribu tapi waktu itu kami tidak dipungut biaya masuk, karena petugasnya sudah pulang dari siang hari hehehehe.

Untuk mencapai Kedung Tumpang bisa menggunakan jasa pemandu dengan biaya 50 ribu tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Treknya jelas dan kondisinya baik kok. Fasilitas MCK juga sudah ada dengan berbayar tentunya. Kalau weekend banyak warung yang buka, karena waktu itu kami datang weekday jadi hanya satu warung yang buka.

Untuk turun ke Kedung Tumpang kami harus menuruni hutan dengan pegangan akar pohon dan juga tali yang dibuat oleh pengelola. Kedung Tumpang terbentuk karena air laut yang tertampung di karang pada sisi tebing. Ada beberapa kolam dengan bermacam-macam kedalamannya. Selagi air laut tidak pasang, Kedung Tumpang aman digunakan untuk bermain dan berenang. Tempat ini lagi hits mulai setahun terakhir. Mungkin mirip juga dengan angle’s billabong di Nusa Penida.

Sayang kami tidak beruntung. Saat kami tiba disana, air laut sedang pasang. Ombak menghempas terlalu tinggi hingga sampai ke atas tebing. Padahal kalau lagi surut ombak tidak sampai menutupi Kedung Tumpang yang memang sudah lebih tinggi daripada permukaan air laut. Sedih rasanya, jauh-jauh dari Bekasi menuju Tulungagung, ternyata tidak bisa menikmati bermain di Kedung Tumpang. Mungkin lain kali kami harus kesini lagi. Hari makin sore, kami segera kembali ke parkiran. Di pinggir pantai sudah sepi. Apalagi untuk naik ke parkiran ojek harus melewati hutan yang gelap, kami juga tidak membawa lampu penerangan. Kami buru-buru kembali, sampai panik.  Mungkin karena menahan rasa kecewa, jadi sedikit emosi atau mungkin karena sudah terlalu lelah d iperjalanan, maafin yah. Yang pasti, perjalanan kami tidak berhenti sampai disini, masih banyak cerita-cerita di perjalanan berikutnya. Ditunggu ya. [Elysa Rosita/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 298
  • 273
  • 269
  •  
  •  
  •  
    840
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

Komentar anda?