Kopi, Kafe dan Masyarakat Pejalan

Sejarah awal mula keberadaan berbagai kedai kopi di belahan bumi ini bisa ditelusuri di berbagai tempat seperti, Makkah, Damaskus, Kairo, Venesia, Oxford, Boston, Soho dan London. Sejarah perubahan politik atau revolusi sebuah Negara terkadang lahir dari pembicaraan dan pematangan ide revolusioner serta penyusunan agenda aksi di kedai kopi. Mungkin tidak berlebihan kalau bangsa ini lahir dari inspirasi dan pemikiran para pendiri bangsa, yang dihasilkan setelah berdiskusi membahas nasib bangsa Indonesia untuk lepas dari penjajahan ditemani bercangkir-cangkir kopi.

Kafe - Hardjono Chandra, pemilik Blue Lotus Cofee di Semarang siap melayani peminum kopi di balik meja barista. Dok. Lida Maya
Kafe – Hardjono Chandra, pemilik Blue Lotus Cofee di Semarang siap melayani peminum kopi di balik meja barista. Dok. Lida Maya

Selalu ada cerita menarik di balik secangkir kopi. Disadari atau tidak, bubuk hitam dan air yang hadir dengan aroma wangi khusus serta diperkuat dengan cita rasa pahit, membutuhkan kemampuan khusus untuk meraciknya hingga menghasilkan secangkir kopi yang nikmat untuk dicecap. Minuman ini hadir sebagai “teman” atau “alat perekat” dalam ajang bersosialisasi dengan tren yang terus meningkat dan berkembang serta telah melahirkan budaya berkumpul di kafe. Sebanyak apapun kafe tersebar di suatu kota, kopi tak pernah kehilangan pelanggan setia. Bahkan minum kopi jadi budaya yang hampir identik dengan budaya kekerabatan dan persahabatan. Kafe, begitu orang masa kini menyebutnya dan begitulah orang masa kini mencoba membangun peruntungan dari sebuah kafe,  dengan menghadirkan berbagai macam menu kopi. Kopi bisa dinikmati dengan proses penyajian yang sederhana, seperti tinggal menyeduh bubuk kopi siap saji yang dikemas dalam sachet dengan air panas. Namun, secangkir kopi juga dapat disajikan dengan cara yang rumit. Cara ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang ahli atau dikenal dengan barista.

Kafe hadir sebagai tempat melepas kepenatan, menumbuhkan inspirasi dan ide segar serta berbagi cerita dengan sahabat dan teman sambil menikmati kopi. Seringkali diskusi atau pembicaraan di kafe melantur dari satu topik ke topik lain dengan tidak tentu arah. Kopi dan kafe terkadang tidak lahir dari suatu kecintaan terhadap keduanya, tetapi terkadang dari suatu kecintaan terhadap salah satunya. Bisa saja hanya menyukai kopi, bisa saja hanya ingin mewujudkan mimpi mempunyai kafe. Jadi bukan kopi, tapi hobi lah yang melahirkan kafe itu. Hardjono Tjandra salah satu yang ingin memuaskan para pelanggannya yang sangat memahami kopi melalui keberadaan coffee house atau rumah kopinya, meskipun tidak semua pelanggan datang ke kafe untuk mengapresiasi sebuah sajian kopi. Masalah lambung yang ada pada orang Indonesia lah yang membuat hanya 10 persen pelanggan memuji kehadiran segelas kopi. Sisanya tidak tahu bagaimana rasa kopi yang enak. Maka dari itu, jika satu orang pelanggan mengatakan kopinya sangat nikmat, pemilik, manajer, chief barista dan roaster ini akan sangat senang.

“ Terkadang sajian kopi kita tak pernah memuaskan pecinta kopi. Pasti juga ada yang tidak puas dan itu tidak bisa dihindari. Yang terpenting adalah jujur dengan seberapa kualitas penyajian.” Ujarnya.

Mengeksplorasi kopi bisa dilakukan dengan banyak cara. Campuran dari kopi dengan bahan-bahan lain ternyata dapat menyuguhkan suatu cita rasa baru. Seperti kopi latte yang merupakan hasil “mengawinkan” kopi dengan susu seperti cappucinno latte, menghadirkan seni dalam menyajikan kopi. Kenikmatan meminum kopi memang tidak melulu mengandalkan rasa, tetapi juga estetika penyajiannya harus turut diperhatikan. Keindahannya harus mempertimbangkan kontras, warna, presisi dan kerumitan model agar harmonisasi seni dan rasa dalam secangkir kopi makin digemari sehingga memantik sensasi tersendiri bagi pecinta minuman ini. Meracik kopi dengan baik dan benar membutuhkan kompetensi sekaligus pengalaman kerja.

Tidak hanya kopi dan kafe yang dibutuhkan masyarakat. Tidak hanya obrolan antara penikmat kopi yang diinginkan. Alangkah indahnya bila cerita menarik itu terjadi antara pemilik kafe atau barista dan penikmat kopi. Pemilik kafe dan barista tidak sekadar “penjual kopi”, melainkan profesi yang dilandasi passion. Barista bukan hanya menyajikan kopi, tapi memberikan pengetahuan mengenai kopi kepada tamu. Melayani, membuatkan, menyajikan dan menemani penikmat kopi, di situ lah letak jiwanya menikmati kopi. Kembali dan kembali lagi, itulah yang akan dilakukan penikmat kopi. Bahkan bukan hanya kembali, dengan sukarela mereka akan menceritakan keistimewaan tempat dimana mereka meneguk kopi melalui blog dan berbagai sosial media seperti facebook, twitter, instagram dan path yang mereka miliki. Cerita dan kesannya akan dibaca banyak orang. Mereka membuat penikmat kopi lainnya penasaran untuk mencicipi kenikmatan kopi yang dibalut dalam acidity (keasaman), body (kekentalan), flavor (aroma) dan after taste (rasa yang tertinggal) dari secangkir kopi dan mereka benar-benar datang.

Kebanyakan tempat menjual minuman dan makanan menamakan tempat mereka sebagai kafe. Sebutan kafe menjadi membingungkan karena terkadang menyajikan minuman dari sachet pun sudah dapat dikatakan kafe. Padahal kafe yang sesungguhnya, biasanya bersandingan dengan keberadaan restoran dan tidak terlalu fokus pada minuman keras. Tapi sekarang tempat apa saja dan menjual apa saja bisa menggunakan kata kafe.

Kafe atau apapun tempat itu dinamakan, asalkan ada kopi enak dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan, itulah cerita yang akan ditularkan dari mulut ke mulut atau bisa dikata itulah iklan tanpa biaya. Sebagai gantinya pemilik kafe bisa memberikan minuman gratis untuk pelanggan yang sering datang dan mengajak mereka mengobrol.

“ itu salah satu cara kita beriklan tanpa kelihatan beriklan.” Tambah Hardjono Tjandra.

Kopi dan kafe, sesederhana apapun bentuknya tak boleh mengabaikan kualitas hubungan antara penyaji dan penikmat. Apalagi jika mereka yang menikmatinya adalah masyarakat pejalan. Mereka menikmati perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Di antara perjalanan yang mereka lalui, mereka singgah untuk menikmati secangkir kopi. Kopinya berasal dari olahan biji kopi yang ditanam di berbagai daerah di Indonesia, seperti Aceh, Medan, Jawa, Bali, Flores, Toraja, Papua atau bisa dikatakan dari Sabang sampai Merauke. Tetapi apa yang sesungguhnya membuat kopi itu memiliki nama dan rasa yang berbeda? Kandungan mineral dalam tanah ternyata memiliki pengaruh terhadap rasa olahan biji kopi yang dihasilkan. Tak hanya itu, ketinggian juga menjadi unsur penentu dari rasa dan aroma kopi itu sendiri. Semakin tinggi tempatnya, semakin tinggi juga kadar asam yang terkandung dalam kopi. Intensitas curah hujan pun juga bisa menghasilkan rasa kopi yang berbeda-beda setiap tahunnya. Hmm…Lelah pun terbayar dengan harumnya olahan biji kopi dan secarik cerita pengalaman seru di bawah teduhnya naungan kafe.

Kopi secara diam-diam telah banyak memikat hati para penikmatnya. Ada yang sekedar mencicipinya, tetapi ada juga yang sangat menggandrunginya bahkan rasa keingintahuan mengenai kopi bisa saja muncul. Memang tak cukup baik bila kecanduan kopi, tetapi ketimbang kecanduan narkoba, kecanduan kopi menjadi pilihan terbaik. Berbagai macam olahan kopi yang disajikan dan disukai seseorang biasanya juga menggambarkan kepribadian seseorang itu, diantaranya adalah sifat introvert, ekstrovert, kesabaran, perfeksionis, kehangatan, kewaspadaan, kepekaan dan keberanian. Kemanapun perginya, dimanapun tempatnya olahan kopi favorit itulah yang akan selalu dipesan, yang segar dari dapur pengolahan. Kopi yang dulu hanya dinikmati di rumah, kini orang bisa pergi sendiri atau beramai-ramai ke kafe untuk menikmati kopi, salah satunya di Blue Lotus Coffee House. [Lida Maya/End]

 

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *