Kota Tua Semarang Beraksen “Klithikan”

Kota Tua Semarang Beraksen “Klithikan”

posted in: Destination | 0

Kota Tua Semarang – Kata Semarang berasal dari bahasa Jawa “Asem Arang”. Sejak masa penjajahan Belanda terkenal sebagai gerbang masuk menuju kota-kota lain yang ada di Jawa Tengah. Tidak heran kalau kota Lumpia ini lebih dikenal sebagai kota transit ketimbang kota tujuan wisata. Padahal sebenarnya kota yang juga dijuluki kota ATLAS ini punya begitu banyak keunikan yang bisa dinikmati, bukan pada objeknya, tetapi pada kearifan lokalnya seperti bangunan bersejarah.

Salah satu kawasan yang merupakan warisan dari masa lalu adalah Kota Lama. Kota Lama menjadi potongan sejarah karena dari sinilah ibukota Jawa Tengah berasal. Bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, begitulah Semarang dan Kota Lama. Kota Lama sering disebut Oude Staadt atau Little Netherland, karena pada awalnya sekitar tahun 1741 dihuni oleh kolonialis Belanda. Little Netherland mencakup daerah dimana gedung-gedung lama dan tua itu berada. Gedung-gedung tersebut dibangun sejak zaman Belanda dengan karakter bangunan mengikuti gaya bangunan di benua Eropa. Lihat saja detail bangunannya yang khas dengan ornamen yang identik dengan gaya Eropa, seperti ukuran pintu dan jendela yang besar juga lebar, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Secara keseluruhan, keragaman bangunan arsitektur di Little Netherland ini berlanggam artdeco, reinnasance, baroque, dan semarangan. Belanda membawa konsep dari negara asal mereka untuk diterapkan di Semarang, yang notabene merupakan tempat baru bagi mereka, agar tetap terasa seperti di rumah.

Kota Tua Semarang - GPIB Immanuel atau dikenal dengan nama Gereja Blenduk. Dok. Lida Harryanto
Kota Tua Semarang – GPIB Immanuel atau dikenal dengan nama Gereja Blenduk. Dok. Lida Harryanto

Bangunan tua dan lama di kawasan ini masih terlihat arif dan menawan dalam usianya yang semakin renta. Letak bangunan-bangunan tersebut saling berdekatan tanpa dibatasi pagar dan taman. Terbayang betapa sibuknya daerah perkantoran dan pusat perdagangan pada tempo dulu. Wilayah ini dirancang dengan Gereja Blenduk sebagai pusat pemerintahannya, karena pada masa itu pusat pemerintahan di Eropa adalah gereja. Kehadiran gereja yang terletak di tengah-tengah kawasan itu cukup menonjol karena terlihat lebih tinggi di antara bangunan lainnya. Pintu depannya tepat berada di depan jalan raya, akan tetapi bentuknya yang bergaya arsitektur Eropa membuat gereja ini terlihat cantik dari dilihat berbagai sisi. Dibangun pada tahun 1753 zaman pendeta Johannes Wihelmus Swemmelaar, Gereja Protestan ini masih tegak berdiri dalam keadaan utuh sampai saat ini. Gereja ini masih digunakan untuk melakukan ibadah sehari-hari sehingga kondisinya terawat dengan baik. Konon nama “blenduk” diambil dari kata mblenduk, merujuk pada bentuk atapnya yang unik yaitu berbentuk bulat menggembung.

Semarang memiliki kawasan permukiman bersejarah yang lengkap dan unik, seperti Kampung Melayu, Kauman, Pecinan dan Kota Lama. Sayangnya kawasan Kota Lama, Kota Tua di Semarang ini terancam berbagai persoalan seperti bangunan yang hampir rapuh. Butuh cara cerdas untuk menjaga, melestarikan dan mempertahankan bangunan berumur hampir dua setengah abad ini dari pelapukan dan kerusakan akibat kurangnya perawatan. Sesungguhnya bagi para arsitek, Semarang punya segudang laboratorium alami tentang ilmu desain yang menggairahkan. Ada seorang pakar pengajar arsitektur mengatakan dalam buku karyanya, di Kampung Kauman saja contohnya, terdapat 82 bangunan kuno berupa masjid dan rumah. Kini bangunan itu telah banyak yang sirna dan hanya menjadi cerita untuk dituturkan pada generasi penerus bangsa. Padahal, bagi wisatawan yang berasal dari mancanegara, Kota Lama memiliki daya pikat tersendiri. Perjalanan mengelilingi Kota Tua ini merupakan catatan tersendiri dalam nostalgia mereka.

Sebarkan :
  • 5
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
    10
    Shares
Follow Lida Harryanto:

Tinggal di Semarang.

Komentar anda?