Kota Tua Semarang Beraksen “Klithikan”

Kota Tua Semarang - Bangunan peninggalan kolonial Belanda lainnya di Kota Semarang. Dok. Lida Harryanto
Kota Tua Semarang – Bangunan peninggalan kolonial Belanda lainnya di Kota Semarang. Dok. Lida Harryanto

Berada di sisi utara Semarang, secara geografis, posisi Little Netherland sebenarnya tidak menguntungkan. Saat terjadi air laut pasang, kawasan ini kerap tergenang air laut. Rob telah melumpuhkan sebagian daratan rendah dari berbagai aktivitas. Tidak mudah menangani rob yang semakin ganas dari waktu ke waktu, terlebih lagi dengan adanya dampak dari pemanasan global. Jika tidak ada upaya untuk mengerem laju pemanasan global, beberapa puluh tahun mendatang, wilayah pesisir Semarang akan tergenang air laut sedalam 16 cm. Rendamannya semakin dalam hingga ruas jalan lokal, ribuan rumah penduduk, puluhan hektar sawah dan tambak bakal terganggu akibat merangseknya air laut. Bisa dibayangkan kerugian yang bakal diderita. Ratusan miliar bakal melayang akibat kerusakan jalan, rumah, sawah dan tambak. Angkanya belum termasuk kerugian akibat terganggunya aktivitas perekonomian seperti perdagangan dan transportasi. Kawasan bersejarah itu menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Banyak bangunan bersejarah, termasuk situs Kota Lama mengalami banyak perubahan. Entah mengapa kawasan penuh makna dan bersejarah itu dapat dengan mudahnya tergusur. Menyadari kekeliruannya, pemerintah berusaha mempertahankan bangunan tua lainnya. Sekarang sudah tidak diperbolehkan mengubah desain bangunan lama sesuai selera melainkan harus menggunakan prinsip desain dan aturan perancangan karena bangunan itu memiliki nilai estetika, budaya dan ekonomi yang tinggi. Bagaimanapun bentuknya dan apapun fungsinya saat ini, Kota Lama menjadi aset yang sangat berharga bila dikemas dengan baik. Sebuah bentuk nyata sejarah Semarang, dan sejarah Indonesia pada umumnya.

Salah satu upaya mempertahankan dan mengembangkan kawasan wisata heritage ini sebagai salah satu objek wisata yang menarik di kota Semarang kepada masyarakat adalah menggelar kembali car free day (CFD) dan car free night (CFN) di kawasan Kota Lama. Kegiatan ini berdampak sangat positif bagi pengembangan wisata kawasan ini. Dengan gelaran itu, masyarakat bisa menikmati berbagai acara yang ada sekaligus memperkenalkan dan meramaikannya. Pemerintah tidak boleh beralasan meniadakan gelaran CFD dan CFN hanya karena sepi peminat. Ada tidaknya antusiasme masyarakat, gelaran itu harus tetap dilakukan. Justru jika sepi, pemerintah harus memancing dengan berbagai kegiatan menarik. Semakin tinggi kadar interaksi, kecintaan terhadap warisan budaya akan semakin berkembang.

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *