Kota Tua Semarang Beraksen “Klithikan”

Aktivitas lain yang menarik perhatian saya di seputar Kota Lama adalah adanya Pasar Klithikan atau Pasar Antik Kota Lama. Saya yakin para kolektor barang antik pun akan tertarik untuk datang ke tempat yang mendapat julukan Padang Rani ( Paguyuban Pedagang Barang Seni ) ini. Lokasi buruan ini sangat sayang untuk dilewatkan wisatawan yang tertarik mengoleksi barang kuno. Pasar ini mulai dibuka sejak dua tahun yang lalu, karena keprihatinan bahwa Semarang tidak memiliki pasar seni. Dahulunya pasar klithikan hanya buka sebulan sekali pada hari Jumat sampai Minggu, tiap minggu kedua. Tetapi kini pasar klithikan buka setiap hari. Klithikan adalah penggunaan bahasa untuk menyebut pernak-pernik benda antik atau barang bekas. Di pasar ini Anda bisa menemukan segala rupa barang antik dan bekas berkualitas asli. Mulai dari kebaya, selendang, setrika arang, lampu teplok, telepon, buku, lukisan, gerabah, keramik, kamera, kipas angin, uang koin, uang kertas, kaset, perangko, gelas, piring, televisi, tas, mesin kasir, rantang makanan antik yang semuanya serba zaman dulu.

Kota Tua Semarang - Pasar Klithikan saat Car Free Day. Dok. Lida Harryanto
Kota Tua Semarang – Pasar Klithikan saat Car Free Day. Dok. Lida Harryanto

Benda antik ini didapatkan para penjual dengan cara berburu dari pintu ke pintu, dari pemulung, kolektor, dan orang yang menjual secara langsung. Benda antik ini kemudian dijajakan. Tak usah khawatir soal harga, semua koleksi barang yang dijual tidaklah mahal dan masih bisa ditawar. Tetapi bagi para pengunjung yang tidak berniat membeli pun tak jadi soal. Boleh saja mampir dan sekedar cuci mata melihat benda-benda yang sekarang ini sudah sulit untuk ditemukan. Tempat ini juga menjadi tempat bernostalgia, siapa tahu Anda menemukan benda mirip kepunyaan nenek atau kakek Anda dulu. Bagi para pecinta fotografi, pasar ini juga bisa menjadi objek bidikan yang unik dan menarik. Letaknya persis di sebelah timur Gereja Blenduk, hanya dipisahkan oleh keberadaan taman Sri Gunting.

Lelah usai berbelanja dan sekedar mencuci mata, Anda dapat beristirahat sejenak di bawah rindangnya pepohonan yang ada di taman Sri Gunting. Salah satu landmark di kawasan Kota Lama, yang pada masa kolonial Belanda berwujud parade plein untuk panggung parade. Meski luasnya tak seberapa, taman ini bisa melepaskan penat sembari melihat pemandangan bangunan-bangunan lama. Tamannya enak dipandang, bersih dan asri. Bila lapar atau haus juga tidak usah bingung karena ada beberapa penjual makanan dan minuman seperti es dawet durian dengan harga relatif murah di sekitar taman Sri Gunting.

Kota Tua Semarang - Taman Srigunting. Dok. Lida Harryanto
Kota Tua Semarang – Taman Srigunting. Dok. Lida Harryanto

Tidaklah mudah menjaga warisan Kota Lama. Upaya pelestarian situs cagar budaya boleh dibilang masih punya segudang tantangan. Tidak saja mengenai sosialisasi dan edukasi ke khalayak tetapi juga terkait financial, terutama untuk perawatan dan revitalisasi. Meski begitu, tanggungjawab melestarikan warisan cagar budaya tak hanya ada di satu atau sekelompok orang tapi pemerintah terutama dan masyarakat khususnya harus punya kesadaran untuk mengupayakan terus-menerus keberadaan Kota Lama dari masa ke masa. Virus cinta tanah air harus ditularkan lewat cara mengenalkan warisan budaya Indonesia. Rasanya sangat memprihatinkan lantaran rendahnya kesadaran masyarakat dan kurangnya rasa menghargai warisan budaya milik negeri. Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum menyadari serta enggan mengerti pentingnya menjaga warisan budaya yang ada. [Lida Harryanto/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *