Liburan Keluarga di Omah Laut Bondo

Saya disambut dengan sangat hangat oleh pemilik Omah Laut Bondo, ketika datang ke homestay-nya yang asri di desa Ngelak Mulyo, Kelurahan Bondo, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara. Mereka adalah Mr. Wieslaw Fwizdala, yang berkebangsaan Polandia dan Swastika Tenny Ria yang asli orang Muntilan, Indonesia.

Homestay-nya tepat berada dipinggir Pantai Bondo. Dahulu tempat ini hanyalah sebuah bangunan yang terbengkalai ditinggalkan pemiliknya, seorang berkebangsaan Inggris bernama Mr. Frank. 

Saya dan Sea menikmati bermain perahu di pantai Bondo yang bening dan tenang. Dok. Lida Harryanto

Mereka yang bertemu pertama kali pada Festival Layang-layang tahun 2015 di India, akhirnya saling jatuh hati dan menjalin hubungan yang serius. Awalnya mereka berdua mencari tempat untuk membangun sebuah rumah sekaligus bisnisnya di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Hanya saja tak menemui kecocokan di hati Mr. Wieslaw. Akhir tahun 2016, mereka menyusuri pantai Jepara. Tepatnya di sekitar daerah Bondo. Lalu Mr. Wieslaw langsung jatuh cinta dengan keberadaan rumah tinggal yang terbengkalai tersebut karena lokasi yang strategis dan view-nya yang indah.

Pada tahun 2017, tempat ini resmi menjadi milik Mr. Wieslaw. Bersama dengan istrinya yang akrab disapa Tenny, mereka memulai awal usahanya hanya dengan menjual mie instan dalam cup dan minuman kemasan yang diseduh. Waktu itu mereka hanya mendapat uang Rp 10.000 dari berjualan.

Tahun 2018 usaha mereka perlahan berkembang. Mereka membangun 3 guesthouse untuk disewakan. Ruangannya sangat nyaman dan bersih. Arsitektur dan dekorasinya dirancang sendiri oleh Mr. Wieslaw menggunakan bahan-bahan yang menonjolkan kesan sangat alami, seperti kayu jati dan batu alam, yang tentunya sangat bagus untuk sebuah bangunan.

Tahun 2019 mereka juga merenovasi rumah lantai 1 untuk disewakan dan membangun lantai 2 sebagai rumah tinggal yang nyaman dengan pemandangan pantai secara langsung. Sama hal-nya dengan guesthouse, rumah tinggal tersebut juga di-desain oleh Wieslaw.

Tahun 2020 mereka mulai membuka Omah Laut Bondo secara resmi. Omah Laut Bondo adalah nama yang dipilih Mr. Wieslaw karena laut menjadi cinta pertamanya. Dari cerita Tenny, jika memungkinkan dia ingin terus tinggal di laut. Tetapi karena itu tidak memungkinkan maka dari itu ia membangun tempat ini sebagai rumahnya yang sangat dicintai.

Semasa dia berumur 12 tahun, dia sudah mulai jatuh cinta dengan laut. Lahir di dekat laut di Polandia dan kegiatan yang dia lakukan bersama dengan teman-temannya di laut dan danau, membuatnya semakin mencintai laut. Alasan ketika dia menjatuhkan pilihan tinggal di Pantai Bondo adalah karena pantainya yang sangat aman untuk melakukan kegiatan air.

Sea bermain air di Pantai Bondo yang tenang dan jernih, cocok untuk liburan keluarga. Dok. Lida Harryanto

Ada banyak aktivitas yang bisa kamu lakukan saat menginap di Omah Laut Bondo. Kalian bisa mencoba olahraga kano. Tahun 2017 mereka membeli 3 kano besar dan 1 kano kecil dari Pulau Bali. Harga sewa yang mereka tetapkan per 30 menit Rp 30.000 dan Rp 50.000 per 60 menit. Sayangnya banyak dari pengunjung yang tidak menjaga kepedulian mereka terhadap peralatan yang ada. Sehingga beberapa barang menjadi hilang. Selain kano, kalian juga bisa bermain Paddleboard.

Saat membuka memori yang tersimpan, Tenny menunjukkan satu berita dalam  surat kabar tentang kegiatan mereka yang bertajuk One Sky One World (Suara Merdeka, Selasa, 15 Oktober 2019). Setiap hari minggu pekan kedua Oktober, pecinta layang-layang di seluruh dunia menggelar kegiatan bertajuk One Sky One World. Kegiatan itu sering disebut pula sebagai Hari Layang-layang sedunia.

Panas matahari terik tidak membuat surut para pengunjung untuk menikmati suasana disana. Semua sibuk dengan  benang dan layangan. Tenny sendiri sibuk menerbangkan layang-layang yang sudah disiapkan, dibantu beberapa orang dan suami Wieslaw Fwizdala yang kerap mengikuti festival layang-layang di berbagai negara.

Awal kecintaannya pada layang-layang dimulai saat menjadi fotografer sebuah festival layang-layang. Dia mencoba menerbangkan layang-layang besar dan mulailah dia menjadi sangat menyukainya.

Layang-layang yang diterbangkan dalam kegiatan One Sky One World ini berbentuk sosok pahlawan super, orang bersepeda, layang-layang merah putih dan ada juga layang-layang berbentuk naga. Bagian kepala dibuat berbentuk 3 dimensi sementara buntutnya mungkin lebih dari 20 meter.

Tenny menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekedar menerbangkan layang-layang tetapi juga membawa pesan untuk perdamaian, persaudaraan serta juga kepedulian pada lingkungan. Dia berharap masyarakat mengerti bahwa kita semua hidup dibawah langit yang sama, diatas bumi yang sama.

Situs oneskyoneworld.com menyebut kegiatan tersebut mulai digelar pada 1985 oleh Jane Parker Ambrose. Sejak itu layang-layang mulai mendapat perhatian lebih di dunia. Layang-layang bukan hanya mainan anak yang kerap dimainkan untuk diadu tapi juga sebagai simbol dari kebaikan yang diingini masyarakat secara luas.

Tahun 1989 kampanye tersebut mendapat Peace Award di Italia. Tahun 1992 layang-layang  juga diterbangkan pada aksi damai pertama di Tienamen Square, Beijing, China. Tahun 2000 Unesco menyertakan acara tersebut pada aksi satu dekade antikekerasan.

Suasana siang hari di Homestay Omah Laut Bondo. Dok. Lida Harryanto

Saat menginap disini pun, Tenny juga mengajariku membuat layang-layang sendiri. Bahannya tentu saja sangat mudah didapat. Bambu, benang, kertas, gunting dan lem. Setelah jadi pun, kita bisa menghias layang-layang kita menggunakan warna yang kita inginkan.

Selain homestay, mereka juga terus mengembangkan kedai yang mereka miliki dengan kuliner khas ikan bakar dan Pindang Serani. Semua diolah dengan resep khas Tenny yang dia dapatkan dari warga sekitar. Bumbu ikan bakar yang dia gunakan diantaranya : bawang putih, kunyit, lengkuas dan garam ditambah sedikit kecap. Sedangkan bumbu Pindang Serani diantaranya : bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, garam, gula, penyedap rasa dan merica. Rasa asamnya bisa didapat dengan menggunakan asam jawa atau belimbing wuluh. Masak bersama dengan daun salam, daun jeruk, dan sereh. Kalau sudah matang masukkan daun bawang prei, cabai dan tomat.

Mr. Wieslaw yang sedang belajar meracik kopi, mengajak saya juga untuk mencoba membuatnya sendiri di dapurnya. Dengan alat sederhana yang dimilikinya, dia menunjukan cara membuat Latte dengan kopi khas daerah setempat. Begitulah kopi di mata kami saat menyeduh dan menyeruputnya bersama-sama, sederhana dan tentu saja nikmat. Sangat hangat.

Nah, untuk kalian yang ingin menikmati waktu liburan, Omah Laut Bondo bisa jadi destinasi kalian. Setibanya kalian di Terminal Jepara, sewalah jasa transportasi online, menuju Omah Laut Bondo. Harganya sekitar Rp 80.000. Untuk mendapatkan harga sewa  homestay terbaiknya, kalian sekarang bisa dengan mudah memesan melalui agen perjalanan online. Jadi kalian bisa tetap menikmati liburan yang menyenangkan, dengan anggaran yang bisa kalian susun sendiri.

    Enjoy your holiday! [End/LH]

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *