Lima Hari di Kepulauan Natuna

Lima Hari di Kepulauan Natuna

posted in: Experience | 0

Setelah lima tahun, akhirnya bisa juga mengunjungi Natuna. Bukan hal yang mudah untuk berkunjung ke tempat ini, karena mahalnya biaya transportasi, akomodasi yang info dan ketersediaannya juga cukup terbatas, hingga waktu untuk berkunjung yang kebanyakan tidak pas menjadi hambatan selama lima tahun ini. Setelah akhirnya berhasil tiba di Natuna, informasi-informasi yang sebelumnya didapat tentang Natuna semakin banyak lagi. Apalagi kalau bukan informasi yang didapat langsung dari warga sekitar. Selama lima hari di Natuna, meskipun bukan dalam waktu kunjungan terbaik, tetapi informasi dan cerita menarik seputar Natuna sudah siap saya bagikan dalam beberapa bentuk tulisan mengenai Natuna.

Teman, masih ingatkah kejadian perebutan wilayah teritorial perbatasan Sebatik – Nunukan yang melibakan Indonesia dengan Malaysia? Atau tentang warga di Provinsi Sulawesi Utara yang lebih mudah mendapatkan bahan bakar dari negara tetangga, Filipina? Atau kebanyakan pemenuhan kebutuhan sehari-hari di perbatasan Kalimantan lebih mudah didapat dari negeri tetangga? Atau kegiatan reklamasi Singapura yang sedikit membuat was-was garis perbatasan Indonesia dengan Singapura?

Ya, itu hanya segelintir permasalahan perbatasan yang sering kita dengar. Lalu, apakah Kepulauan Natuna yang juga termasuk wilayah perbatasan tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan internasional sehingga jarang sekali terdengar kabarnya?

Tidak, teman. Wilayah Kepulauan Natuna tidak terbebas dari permasalahan internasional hanya karena letaknya yang relatif berjauhan dengan negara tetangga, tidak seperti Nunukan-Sebatik-Malaysia ataupun NTT-Timor Leste, atau Pulau Miangas dengan Filipina. Perairan Kepulauan Natuna yang kaya akan berbagai jenis ikan dan tangkapan laut lainnya sering kali menjadi incaran para nelayan-nelayan, terutama dari negeri tirai bambu dan beberapa negara lainnya.

Apa yang Asyik di Kepulauan Natuna?

Teman, salah satu yang membuat saya penasaran dengan Natuna adalah batuan granitnya. Meskipun, wilayah Kepulauan Natuna lebih terkenal dengan cadangan migasnya yang terbesar se-Asia Tenggara. Memang, saat ini granit di Kepulauan Bangka Belitung sudah jauh terkenal dibandingkan dengan yang berada di Kepulauan Natuna. Keindahan alam dan promosi wisatanya pun jauh lebih gencar dibandingkan dengan Natuna. Tapi, tetap saja, rasa penasaran saya masih jauh lebih besar terhadap sebaran granit di Kepulauan Natuna. Memang, teman, saya ini bukanlah seorang dengan latar belakang ilmu geologi, tetapi dengan adanya litelatur yang saat ini mudah didapat, setidaknya saya jadi sedikit kenal dengan batu granit. Rasa penasaran saya pun terpenuhi sudah ketika tidak hanya menemukan beberapa literatur terkait tentang batu granit dan sebaran granit di Kepulauan Natuna, tetapi juga ketika bisa melihat bahkan menyentuh langsung bongkahan batu granit berukuran raksasa di tempatnya berada. Teman, tahukah kalian, saya sendiri lebih setuju jika keberadaan batu granit di Kepulauan Natuna ini seperti apa adanya seperti sekarang saja. Dinikmati apa adanya tanpa ada embel-embel kawasan penambangan batu granit, meskipun di beberapa tempat sudah mulai ada yang melakukan penambangan liar.

Teman, pernahkah kamu mendengar Alif Stone? Ya, salah satu ikon objek wisata granit kebanggaan masyarakat Natuna yang memang sudah didesain secara sederhana tanpa mengurangi kealamiannya. Tapi, teman, tahukah kalian keindahan sebaran batuan granit tidak hanya Alif Stone Park? Masih ada Batu Kasah, Batu Madu yang di sekitarnya masih banyak terdapat granit-granit yang masih alami, lalu ada Batu Sindu yang tersebar cantik di perbukitan terjal, atau Batu Bersantai yang merupakan istilah pemuda setempat untuk jejeran batu granit di pinggir pantai yang jika sore hari tersorot sinar matahari bagaikan kursi untuk bersantai, lalu ada lagi Tanjung Sulai dan Pantai Pasat Tinggi yang mungkin hanya sekumpulan bongkahan granit di tepi pantai. Ya, Tanjung Sulai dan Pantai Pasat Tinggi. tempat inilah yang tidak sengaja kami datangi ketika air laut masih surut. Ada sesuatu yang menarik perhatian di sini, ternyata jika cerah dan air laut masih surut, pemandangan Gunung Ranai berpadu dengan pohon kelapa dan bongkahan-bongkahan batu granit akan menjadi sebuah frame cantik untuk koleksi foto bertema landscapemu.

Untuk kami yang memang hobi motor-motoran, jujur, kondisi jalan di Pulau Bunguran ini membuat saya kaget. Siapa sangka, jalan utama yang mengubungkan antar kecamatan sudah teraspal mulus, lengkap dengan marka jalannya. Ya, pembangunan jalan ini memang diperlukan untuk sebuah pulau yang memiliki predikat terdepan sekaligus jauh dari pusat pemerintahan ataupun kota besar ataupun kawasan strategis lainnya. Di sepanjang jalan utama di pulau ini, tidak akan ada kemacetan ataupun kesemrawutan angkutan umum. Jangankan kemacetan, kendaraan yang melintas pun sangat jarang. Sepanjang kami berkeliling Pulau Bunguran ini, hanya sesekali kami berpapasan dengan sepeda motor ataupun mobil. Paling, kami hanya sering berpapasan dengan truk pengangkut pasir di sekitar Selat Lampa karena di daerah ini sedang dilakukan pembangunan pelabuhan penumpang. Ya, jangankan bus antar kota, bahkan angkutan kota (angkot) pun tidak akan ditemukan. Kebanyakan warga di Pulau Bunguran ini menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi utama di darat dan kapal tentunya, untuk bepergian ke pulau-pulau di sekitar wilayah Kabupaten Natuna, itu pun jika kondisi cuaca baik.

Teman, ketika saya menanyakan apa perayaan khas yang biasa diadakan setiap tahun (semacam panen raya atau tradisi memperingati sautu moment bersejarah), jawabannya tidak ada. Teman saya berkata, dulu sempat ada, semacam perayaan untuk panen ikan atau menyambut musim kemarau, tetapi tidak berjalan lancar karena terkendala biaya pelaksanaan, padahal antusias warga dan pemuda khususnya sudah cukup besar. “Yang ada setiap tahun sekarang ya ini, Musim Utara saja,” ujarnya sambil tertawa kecil. Musim Utara? Ya, itu adalah sebutan yang lazim di daerah perairan Laut Cina Selatan ini untuk menandakan musim hujan yang memang arah anginnya berasal dari Utara wilayah perairan ini, yaitu dari arah Utara Laut Cina Selatan. Musim Utara di wilayah perairan Laut Cina Selatan ini normalnya akan bermula di Oktober dan mencapai puncaknya pada Februari dan berakhir sekitar akhir April. Jadi, jika teman-teman ingin berkunjung ke Pulau Bunguran ataupun wilayah-wilayah di perairan Laut Cina Selatan, April hingga September merupakan waktu yang tepat untuk menikmati sinar matahari dan birunya laut serta keindahan bawah laut di sekitar sini. Berbicara tentang sinar matahari, hal itu menjadi sesuatu yang sangat langka ketika kami berkunjung kemari pada pertengahan Oktober 2015 lalu. Dari lima hari yang kami habiskan di Pulau Bunguran ini, hanya satu hari penuh kami berkesempatan menikmati sinar matahari dan sedikit langit biru ketika berkunjung ke Pulau Setanau di kawasan perairan Selat Lampa, Kecamatan Pulau Tiga.

Nama Selat Lampa tidak terlalu asing bagi saya, karena termasuk ke dalam kajian pekerjaan yang sedang saya kerjakan sekarang ini. Bisa melihat langsung perairan Selat Lampa bukan dalam konteks kunjungan kerja, rasanya lebih menyenangkan, meskipun hanya bisa melihat dari kejauhan. Selat Lampa, siapa kira jika ingin mencapai daerah tersebut dari Kota Ranai kita harus melewati perbukitan yang sampai saat ini saya berpendapat bahwa perbukitan tersebut adalah perbukitan karst (semoga ada ahli geologi yang meralat jika salah). Awalnya saya berfikir jika dataran tinggi (perbukitan dan pegunungan) hanya ada di bagian Timur Pulau Bunguran, tepatnya di sekitar Gunung Ranai yang tidak terlalu jauh dari Kota Ranai. Siapa sangka, di bagian Selatan Pulau Bunguran ini berderet puncak-puncak perbukitan karst yang lumayan luas dengan kondisi jalan yang tetap mulus, padahal sudah berjarak cukup jauh dari Kota Ranai. Kembali ke kunjungan kami ke Pulau Setanau. Pulau Setanau ini adalah pulau kecil tidak berpenghuni yang memiliki pasir memanjang yang diapit oleh dua perairan. Jika pernah melihat pesona Pantai Ngurtafur di Maluku Tenggara Barat, maka Pulau Setanau ini mungkin seperti Pantai Ngurtafur versi pengecilan beberapa puluh kali, sama seperti Pulau Maitam di Lampung dan mungkin beberapa pulau kecil lain yang serupa.

Pangkalan TNI di Kepulauan Natuna?

Hal lain yang menjadi ciri khas wilayah perairan dan kawasan terdepan dari suatu negara adalah adanya pangkalan TNI berikut kapal perangnya. Di wilayah perairan Selat Lampa ini kami ‘bertemu’ dengan dua buah kapal perang Indonesia, yaitu KRI Leuseur 924 & KRI Todak 631. Teman, tahukan kalian kegunaan KRI Todak dan KRI Leuseur? Singkatnya, KRI Todak 631 difungsikan untuk membawa pasukan aju, pasukan komando, yang akan mendarat di garis depan, untuk membangun prasarana bagi pasukan lainnya di belakang. Dengan persenjataan yang dimiliki, kapal ini bisa melindungi pasukan aju yang mendarat. Kapal ini mampu mengarungi ZEE dengan ombak 5 hingga 6 meter. Dirancang sebagai kapal penyerang cepat serbaguna, anti kapal permukaan dan patroli cepat. Dalam beberapa literatur, KRI Leuser bersama dengan KRI Soputan hingga kini menyandang sebagai kapal tunda terbesar yang ada di Asia Tenggara.

Keindahan Kepulauan Natuna tidak hanya pantai dan pulaunya saja. Beberapa spot untuk snorkeling, diving, dan memacing pun tersedia di sini. Untuk spot diving, teman kami bercerita bahwa beberapa kali personil dari National Geographic mencari spot diving di perairan Pulau Senoa dan langsung jatuh hati dengan kecantikan bawah lautnya. Bagi yang ingin sekedar snorkling pun, di sekitar Pulau Senoa dan Pulau Setanau tersedia beberapa spot yang cukup indah. Berbicara Pulau Senoa, pulau kecil tak berpenghuni ini sarat dengan cerita legenda yang mengilhami bentuk pulaunya sendiri. Pulau Senoa memiliki bentuk seperti ibu hamil yang sedang berbaring. Konon, menurut cerita rakyat setempat, pulau ini memang berasal dari ibu hamil yang karena kerakusannya terjebak di laut yang tengah pasang karena asyik memakan tanaman laut yang hanya muncul ketika air surut. Peringatan suaminya tidak diindahkannya, sehingga ketika air pasang, ibu hamil ini masih saja memetik buah tersebut dan akhirnya terseret ke tengah laut. Cerita rakyat di wilayah kepulauan Natuna ini tentu bukan hanya Pulau Senoa, tetapi penamaan Pulau Bunguran, Pulau Kemudi, mitos adanya ‘orang balik gunung’, Puncak Gunung Ranai, dan lain-lainnya juga menarik untuk disimak.

Sekilas, Pulau Bunguran ini mengingatkan kami akan Pulau Lombok. Pulau Lombok memiliki gunung, pantai bertebing, pantai berpasir putih, spot snorkling, spot diving, pulau kecil, perbukitan, dan jalan yang mulus. Tidak jauh berbeda dengan Pulau Bunguran. Hanya saja, tipe gunung di Pulau Bunguran ini berbeda dengan tipe gunung yang ada di Pulau Lombok dan Pulau Bunguran ini tidak memiliki danau. Danau sebenarnya ada, danau buatan yang sebenarnya adalah penampungan air bersih untuk keperluan masyarakat Ranai di kaki Gunung Ranai, dan danau alami di Pulau Senoa (di bagian perut) yang mengeluarkan bau tidak sedap. Dulu, ada mata air di atas Batu Granit yang terkait dengan cerita legenda raksasa dan kerisnya, namun, kabarnya mata air ini sudah kering dan tertutup sampah.

Teman, wilayah Kepulauan Natuna ini tidak kalah menariknya untuk dikunjungi, meskipun dari segi biaya masih harus sedikit mahal, tetapi, sedikit mengenali wilayah perbatasan yang memiliki banyak tempat dan cerita menarik negeri kita sendiri akan sebanding dengan apa yang kita keluarkan.

Tulisan ini juga sekaligus sebagai ungkapan terima kasih untuk teman kami, Arif Naen (kami biasa memanggilnya Bang Naen), fotografer yang sudah hapal spot-spot foto di Pulau Bunguran dan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Bunguran, yang sudah menemani kami selama 3 hari full hujan-hujanan, full motor-motoran. Bang Nelson pemilik Hotel Natuna (tempat kami menginap selama 5 hari yang rekomended banget) udah ngasih pinjem buku dan brosur tentang Natuna dan ngasih buku wisata Natuna berikut info wisata, kuliner dan yang diluar dua konteks tersebut, kami jadi lebih banyak mengenal Kepulauan Natuna, tidak hanya sebatas dari yang kami baca di internet. [Dya Iganov/End]

Penyunting : Bela Jannahti – Semarang

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    503
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar Pembaca