Melanglang ke Pulau Pahawang

Melanglang ke Pulau Pahawang

posted in: Experience | 0

Rencana perjalanan yang telah rapi kami susun untuk menuju ke Yogyakarta akhirnya berubah. Jadilah Lampung sebagai destinasi kami. Awalnya, kami hendak menuju Teluk Kiluan, namun mempertimbangkan jarak antara Terminal Rajabasa dan Teluk Kiluan yang jauh dan waktu kami yang minim, akhirnya kami memutuskan menuju ke Pahawang.

Hari keberangkatan, kami berkumpul di Terminal Kampung Rambutan sekitar pukul sembilan malam untuk menaiki Bus Primajasa jurusan Merak. Dengan tarif 28 ribu rupiah per orang, kami menikmati perjalanan dalam bus ber-AC hingga pukul satu dinihari. Tiba di Merak, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Bakaheuni dengan kapal ferry. Per orang dikenakan tarif Rp 14.500,-, namun kami menambahkan 10 ribu rupiah untuk upgrade kelas dan 2500 rupiah untuk menyewa bantal. Tiga jam perjalanan pun kami lewatkan dengan tidur hingga pagi.

Menjelang subuh, ferry kami menyandar di Bakaheuni. Untuk melanjutkan perjalanan ke Lampung, terdapat beberapa alternatif transportasi: travel, angkot kecil, bus ber-AC dan bus ekonomi. Sayang, kami terlambat untuk menumpangi bus ber-AC sehingga akhirnya kami memilih bus ekonomi dengan tarif Rp 25.000,- per orang untuk menuju Terminal Rajabasa. Perjalanan sekitar dua setengah jam kami lewatkan kembali dengan melanjutkan tidur.

Sesampainya di Terminal Rajabasa, lebih baik jangan turun di dalam terminal karena banyaknya calo yang menawarkan tumpangan. Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan memaksakan, bukan menawarkan, karena menurut saya mereka cukup kasar dan akan memaki-maki kita bila menolak. Kemarin kami pun sempat mendapat makian kasar dari mereka. Kekesalan kami tak hanya sampai disitu, namun berlanjut saat kami hendak menaiki angkot. Para supir berebutan untuk mengambil penumpang. Dan ketika kami telah menaiki angkot, terjadi kesalahpahaman antara kami dan supir angkot hingga akhirnya dengan terpaksa kami menyarter angkot tersebut untuk mengantar kami hingga ke tempat tujuan kami di Ketapang. Pesan yang kami dapat: jangan mudah percaya dengan orang lain di jalan apalagi yang belum dikenal.

Kami tinggalkan kekesalan kami di Rajabasa. Setibanya di Ketapang, kami disambut oleh Pak Budi. Sebenarnya, seminggu sebelum keberangkatan kami, saya mengkontak Pak Yanto yang akan mengurus akomodasi kami selama di Pahawang. Karena Pak Yanto berhalangan, beliau melimpahkan kepada keponakannya yakni Pak Budi. Kami pun membuat kesepakatan dengan Pak Budi mengenai sewa homestay, kapal dan perlengkapan snorkeling, island hopping, dan makanan. Dari beberapa penyewa yang kami hubungi, Pak Yanto memberikan harga yang termurah. Senangnya karena kami bisa menyesuaikan dengan budget kami. Mereka berdua begitu baik dan tidak mengecewakan, sampai-sampai ketika hendak pulang pun mereka mencarikan angkot untuk kami.

Hari pertama disana kami habiskan untuk snorkeling, dengan spot pertama adalah Pulau Kelagian. Bila diperhatikan, pulau-pulau disini mirip dengan di Ujung Kulon yang memiliki banyak hutan. Bedanya, disini lebih banyak penduduk sedangkan di Ujung Kulon jarang penduduk tinggal di pulaunya.

Pulau Pahawang menjadi spot kedua kami hari itu. Lucu sekali, ketika turun dari kapal kami disambut oleh sekawanan ubur-ubur kecil. Kami mengaduh-aduh karena sengatan ubur-ubur itu. Akhirnya kami pindah spot namun masih di Pulau Pahawang karena tidak tahan dengan sengatan ubur-ubur. Spot tersebut menjadi lokasi pengembangbiakan ikan badut atau yang kita kenal sebagai ikan nemo.

Menjelang makan siang, kapal kami merapat ke Pulau Pahawang besar. Baru saja kapal bersandar di dermaga, turun hujan deras, menyebabkan kami berlarian ke warung terdekat.

Meski Pulau Pahawang besar termasuk pulau yang paling banyak penduduknya, namun pasokan listrik dari pemerintah tidak menjangkau pulau ini sehingga digunakan genset berbahan bakar solar. Para pengunjung biasanya menginap di homestay yang merupakan rumah milik penduduk yang disewakan ketika akhir pekan. Dengan tarif sewa sekitar 500 ribu, satu rumah biasanya dapat menampung hingga 20 orang.

Selain Pulau Pahawang, di Pulau Tanjung Putus dan Pulau Kelagian juga terdapat homestay yang dapat disewa pengunjung ketika akhir pekan. Tadinya kami akan menginap di Pulau Kelagian, namun karena kami disana sejak Minggu hingga Senin dan ketika weekdays tidak ada yang menjaga pulau tersebut, kami dipindahkan ke Pulau Tanjung Putus.

Spot ketiga kami untuk snorkeling adalah di sekitar Pulau Tanjung Putus. Disini dermaganya benar-benar mengapung di ditengah laut. Berseberangan dengan pulau terdapat pulau pribadi yang dilarang disinggahi oleh pengunjung lainnya. Mungkin karena alasan tersebut dermaganya dibuat ditengah laut. Spot ini memiliki terumbu karang yang bagus-bagus, ikannya juga beraneka ragam. Kami merasa puas menikmati taman laut disini.

Tidak terasa waktu telah sore dan kami mulai kelelahan. Kapal pun merapat di Pulau Tanjung Putus dan kami diantar Pak Budi menuju homestay yang nyaman dan bersih. Hari ini kami tutup dengan alhamdulillah.

Keesokan harinya, pagi yang mendung menyambut ketika saya membuka pintu kamar. Angin kencang bertiup dan terlihat air laut mulai pasang. Sayang sekali tidak menemui sunrise disini. Pagi itu kami hanya berjalan-jalan menikmati pantai di Tanjung Putus. Sebagian pantai telah tertutup air laut yang pasang. Kami kembali ke homestay untuk persiapan island hopping. Hari ini kami tidak akan snorkeling, namun akan menikmati pantai-pantai di pulau lain.

Pulau pertama yaitu Pahawang Kecil yang merupakan pulau pribadi milik orang Perancis yang beristri orang Indonesia. Pantainya boleh disinggahi pengunjung dengan membayar 20 ribu rupiah untuk parkir kapal. Lagi-lagi sebagian pantainya tertutup oleh air laut yang pasang, namun masih ada bagian yang bisa kami nikmati. Pasir putih yang lembut dan bersihnya pantai membuat kami betah.

Selanjutnya pantai kedua adalah di Pulau Kelagian Kecil yang merupakan milik pemerintah. Disini terdapat fasilitas MCK dan beberapa warung kecil yang hanya dibuka ketika akhir pekan. Karena hanya kami berenam yang mengunjunginya, pulau ini serasa jadi pulau pribadi kami.

Terakhir kapal kami bersandar di dermaga Pulau Kelagian Lunik yang memiliki area spot snorkeling yang tidak jauh dari pinggir pantai. Kami habiskan siang itu dengan berenang dan bersantai di pantai hingga kami lelah dan bersiap kembali ke rumah. Akhirnya datang juga momen yang paling tidak disuka, yaitu mengakhiri perjalanan kami dan mau tidak mau harus kembali ke rutinitas masing-masing. See you, Lampung! Elysa, Tomi, Dhona, Moghi, Agung, dan Nurain pamit! [Elysa Rosita/End]

Penyunting : Bela Jannahti

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    833
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

Komentar Pembaca