Melintas Kota Tambang Juifen

Juifen berbenah sekencang-kencangnya, dari bekas tambang menjadi kota tujuan wisata. Karya seni adalah nafas hidup bagi orang Taiwan.

Seraut muka buruk rupa tiba-tiba mengentikan langkah saya. Dengan alis yang cenderung tak rata, matanya terbelalak asimetris menatap saya dengan garang. Pancaran di wajah itu seperti kemarahan tersembunyi. Tapi bila diperhatikan lebih dalam, mungkin wajah itu sedang mengisaratkan sebuah kesedihan mendalam.

Di wajah itu, saya melihat butiran dadu menempel, letaknya tak beraturan. Saya bukan sedang berada dalam sebuah pertunjukan seni, tapi itulah patung wajah yang mencegat saya ketika menaiki undakan tangga tertua di Juifen, sebuah desa terpencil di utara Taiwan.

Para pelancog berseliweran di sisi saya, mereka tersenyum ramah. Tapi menggeleng ketika saya ajak bicara. Kebanyakan warga Taiwan memang enggan berbahasa Inggris, mereka lebih nyaman saat ngobrol dalam bahasa ibunya.

“Te bu chi, wo de zong hwen pu hao,” sapa saya. Maaf bahasa mandarin saya parah, kira-kira seperti itulah dalam bahasa Indonesia. Seseorang perempuan tersenyum ketika saya bicara seperti itu padanya. “No worry, you can speak in English,” jawabnya.

Perempuan dua puluh tahunan, Bella Lin, akhirnya menjadi teman perjalanan dalam petualangan saya. Dia menceritakan karya seni adalah nafas hidup bagi orang Taiwan.

Juifen, kata Bella, adalah daerah tambang yang termashur. Selain emas murni, Juifen juga terkenal dengan batu bara. Sejak 1971, eksploitasi dilakukan atas 220 ribu ton cadangan batu bara. Tapi eksploitasi harus berhenti pada 1990. Sejak itulah Pemerintah Taiwan betul-betul merombak desa tambang itu menjadi desa wisata yang apik. Transportasi umum yang lancar, murah dan aman membuat saya berpikir kembali suatu saat nanti.

Kami melintasi rumah-rumah bergaya Jepang di sepanjang undakan tangga tua. Lorong bekas tambang banyak yang dijadikan tempat nongkrong. Kafe telah dibuka sebagai pengisi kekosongan lorong. Lampu berkedap-kedip menjaring pengunjung untuk singgah.

Saya dan Bella memilih rehat di warung yang terletak di undakan tangga paling atas. Dari dalam warung, saya menikmati pemandangan laguna luas yang tampak agak samar lantaran gerimis. Mungkin jika cerah, saya akan betah berlama-lama di warung yang menyajikan teh gelembung itu. Tapi hawa dingin yang menusuk membuat saya dan Bella harus segera turun.

Saya menyinggahi bioskop modern pertama Taiwan tepat di sebuah pelataran di undakan tangga yang dekat dengan jalan utama Juifen. Tahun 1914, Jepang membangun Shengping Theater. Mulanya bioskop ini diperuntukkan sebagai hiburan bagi pekerja tambang. Tapi kini, bioskop itu berubah fungsi menjadi semacam museum mini.

Saya menikmati penggalan kecil film legendaris City of Sadness. Sebuah proyektor tua memancarkan sinar pada layar putih di depan pengunjung. Saya mendengar proyektor itu bekerja seperti meringis. Tapi Juifen masih memiliki segudang tanda tanya dan saya harus menjawab itu. [End/Syafrizaldi]

Penulis juga menulis untuk The Jakarta Post. Untuk berinteraksi dengannya silakan mengunjungi akun instagram @beingindo.

Sebarkan :
  • 2
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares
Follow Travelnatic:

Travelnatic Magazine is magazine about tourism and traveling in Indonesia or by Indonesian. Every people can shared their travel story here. Send me by email at redaksi@travelnatic.com

Latest posts from

Leave a Reply