Mendaki Gunung Dempo, Atap Sumatera Selatan

Mendaki Gunung Dempo, Atap Sumatera Selatan

posted in: Experience | 0

Mendaki Gunung Dempo, gunung tertinggi di Sumatera Selatan sungguh menjadi petualangan yang sangat seru dan mengesankan. Pergi tak saling kenal, pulang menjadi kawan.

“Aaaa, tidak, kemana perginya foto – foto perjalanan saya?” akibat kartu memori pada kamera saya rusak, hilang sudah kenangan pendakian Gunung Dempo yang saya lakukan bersama tiga orang teman. Sedih? Pastinya, karena tanpa foto akan sulit bagi saya merangkai sebuah cerita tentang perjalanan. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Gunung Dempo jika ada kesempatan lagi.

Jika ada niat disitu ada jalan, begitu kata pepatah. Saya mendapatkan email perihal promo yang didakan oleh maskapai penerbangan berplat merah, salah satu rute yang di promosikan adalah Jakarta – Palembang PP. Saya pun segera mengambil kesempatan tersebut. Tiket Jakarta – Palembang PP sudah ditangan, namun dimana teman sependakian kali ini? Hingga hari berangkatnya saya ke Palembang, saya belum mendapatkan rekan. Alasan jarak dan lamanya waktu yang harus ditempuh membuat saya kesulitan mendapatkan teman yang mau diajak kesana. “Tapi nanti juga saya akan bertemu dengan pendaki lainnya disana”  pikir saya waktu itu.

Penerbangan Jakarta – Palembang berjalan mulus, dipintu kedatangan saya telah ditunggu oleh Rian, adik sepupu saya. Olehnya saya diantarkan menuju agen bus yang berada di pusat kota Palembang. Rencana saya akan segera melanjutkan perjalanan ke Pagaralam secepatnya. Namun ketika saya sampai tepat di agen bus Melati Indah, busnya baru saja berangkat, “yahh ketinggalan deh” gumamku dalam hati.

Tapi saya tidak begitu khawatir karena masih ada jadwal bus ke Pagaralam yang berangkat siang hari tapi naiknya dari Terminal Karyajaya. Saya kemudian diantarkan ke Terminal Karyajaya, sampai disana segera saya menuju ke salah satu agen bus yang buka. Dengan senyum lebar sang agen melayani saya dan mengatakan akan ada keberangkatan bus pada jam 2 siang. Saya pun segera memesan tiket dan membayar Rp 60.000 untuk tiket tersebut. “Kamu sendiri saja ke Pagaralam? Nak, ke Dempo? Nah pas sekali karena penumpangnya semuanya nak ke Dempo jadi kamu ada kawan”.  Mendengar hal tersebut saya senang sekali karena nampaknya perjalanan ini akan bertambah seru dan saya akan memiliki kawan baru.

Karena masih ada jeda waktu yang cukup panjang, saya diajak jalan – jalan keliling Kota Palembang melihat ikon – ikon kota ini seperti Sungai Musi, Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera. Setelah puas kelliling kota, kami kembali ke terminal. Sebelum jam 2 siang, kami sudah sampai di Terminal Karyajaya. Terminal ini terlihat sunyi sekali seperti tidak ada aktivitas. Di pelataran parkir hanya ada 2 bus saja, 1 bus tujuan Pagaralam yang akan saya naiki dan satu bus lagi tujuan Bengkulu namun tanpa penumpang karena hanya diisi oleh belasan dus berisikan barang perlengkapan rumah tangga. Ibu – ibu penjual oleh – oleh kerupuk khas Palembang pun mulai menutupi kiosnya meski hari saat itu masih siang.

Sudah jam 2 lewat namun  belum ada penumpang lain selain saya. Namun tidak lama kemudian datang 3 orang dengan keril berukuran besar datang menghampiri sang agen untuk melapor. Lalu datang lagi kelompok pendaki lain berjumlah 9 orang, mereka datang dari Jambi dengan tujuan yang sama yaitu Mendaki Gunung Dempo. Setelah itu bus seukuran metro mini ini mulai berangkat meninggalkan Terminal Karyajaya. Ditengah perjalanan tepatnya di depan Universitas Sriwijaya, bus kembali berhenti untuk mengambil 3 orang penumpang yang menenteng ransel besar di pundaknya. Sudah dipastikan mereka adalah mahasiswa pencinta alam yang ada di kampus itu. Setelah itu bus terus melaju menggilas aspal jalan trans Sumatera melewati kota – kota diantaranya Prabumulih yang terkenal sebagai penghasil minyak.

Palu angguk pun dijadikan tugu pertanda bahwa kota ini penghasil minyak yang patut diperhitungkan. Setelah itu bus melewati Muara Enim dan beristirahat disebuah rumah makan di tepi jalan. Setelah beristirahat, bus kami melanjutkan perjalanan lagi melewati Kota Lahat, kota yang terkenal dengan Bukit Serelo-nya atau bukit telunjuk. Apabila hari masih terang maka bukit itu akan terlihat di sebelah kanan jalan. Di Kota Lahat naik lagi 2 orang penumpang yang ternyata merupakan satu kelompok mapala yang naik di depan Universitas Sriwijaya tadi.

Bus tiba dikota Pagalaram pada pukul 10 malam. Ada sebuah keunikan atau kebiasaan yang dilakukan oleh bus Palembang – Pagaralam ini yaitu apabila sampai Pagaralam disaat hari masih terang maka bus hanya akan berhenti sampai di pool bus yang berada di pusat kota Pagaralam saja, namun apabila sampainya malam maka sopir bus akan mengantarkan para penumpang hingga ke tujuannya masing – masing. Begitu juga dengan kami yang langsung diantarkan hingga ke rumah Ayah Anton yaitu sebuah rumah yang ditinggali oleh sesepuh bernama Pak Anton yang akrab disapa Ayah oleh para pendaki.

Sudah menjadi aturan tertulis bahwa setiap pendaki yang hendak mendaki Gunung Dempo diwajibkan untuk melapor dan menuliskan nama serta asal pendaki gunung untuk memudahkan mendata pendaki yang naik dan turun Gunung Dempo. Karena saya sendiri maka saya harus mencari kelompok pendaki yang bersedia menerima saya ke dalam kelompoknya dan ternyata kelompok mapala Universita Sriwijaya lah yang menjadi teman dalam pendakian ini. Mereka adalah Rican, Sirait, Ricardo, Nana dan Luther. Mereka semua berasal dari Medan dan sama – sama kuliah di Universitas Sriwijaya.

Setelah melapor kepada Ayah Anton kami langsung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Kampung IV yaitu kampung terakhir yang berada di kaki Gunung Dempo. Lama perjalanan yang ditempuh adalah 2 jam melewati perkebunan teh yang sangat luas. Apabila pagi hari, kita bisa menumpang truk pengangkut teh dengan membayar sekitar Rp 15.000 saja.

Jam 2 malam kami sampai di Kampung IV yang saat itu sangat kelam tanpa ada penerangan dari listrik. Salah seorang pengelola basecamp pendakian Gunung Dempo di Kampung IV menyambut dan mempersilahkan kami untuk beristirahat di dalam balai. Memang biasanya balai desa digunakan sebagai tempat beristirahatnya pendaki sebelum atau sesudah mendaki Gunung Dempo. Karena lelah setelah perjalanan panjang dari Jakarta saya langsung tertidur lelap hingga sebuah guncangan membangun saya dan teman – teman lainnya pada jam 4 pagi. Rupanya saat itu terjadi gempa yang bersumber dari Bengkulu Utara yang getarannya terasa hingga Pagaralam.

Mencoba kembali tidur namun selang – seling sahutan sang ayam membuat saya terbangun. Saya mencoba keluar untuk memperhatikan Kampung IV di pagi hari, rasa takjub dan kagum begitu sangat terasa ketika saya melihat ke seluruh arah yang ada di depan saya berdiri. Gunung Dempo sang atap Sumatera Selatan terlihat berdiri dengan gagahnya seolah menyapa saya untuk menggapainya. Selain itu jajaran perkebunan teh yang sangat luas menjadi pemandangan indah sejauh mata memandang. Dari sini Kota Pagaralam terlihat jelas, sesuai dengan namanya kota ini dipagari oleh alam berupa bentangan Bukit Barisan yang memanjang.

Matahari semakin naik, kampung yang damai ini mulai menunjukan kehidupannya. Anak-anak kecil mulai bermain di halaman rumahnya. Ada yang unik, meski Kampung IV ini berada di Sumatera Selatan namun bahasa dominan yang digunakan di sini ialah Bahasa Jawa. Warga yang tinggal di Kampung IV memang banyak yang berasal dari wilayah Jawa seperti Purwokerto, Wonosobo, Tegal, Kebumen, dll. Beruntung bagi saya yang sedikit mengerti akan bahasa ini, sehingga bisa berbaur dengan warga setempat. Keberadaan Gunung Dempo sangat disyukuri masyarakat Kampung IV. Meski merupakan gunung aktif, namun keberadaan kawahnya di Puncak Merapi di balik Gunung Dempo, semacam ada dinding pelindung. Sehingga jika terjadi peningkatan aktivitas pada gunung ini, masyarakat akan tetap beraktifitas seperti biasa. “Waktu tahun 2009 saat Gunung Dempo meletus, kami warga kampung IV aman-aman saja, mas” ujar seorang pria paruh baya yang saya temui waktu itu.

Jam 10 pagi semua anggota kelompok kami telah siap untuk kembali melanjutkan petualangan mendaki Gunung Dempo. Dengan semangat kami memulai langkah kami menuju Top Dempo, sebutan bagi puncak Gunung Dempo. Awal perjalanan masih berupa perkebunan teh yang menanjak. Hari itu cuaca sangat terik dan tanpa awan membuat tenaga kami sudah cukup terkuras karena banyak mengeluarkan keringat. 30 menit dari Kampung IV sampailah kami di Pintu Rimba yaitu sebutan bagi batas antara wilayah perkebunan dan hutan rimba. Mulai dari sini kami berdo’a, bulatkan tekad, siapkan mental baja karena mendaki Gunung Dempo bukanlah hal yang mudah.

Setelah dari Pintu Rimba kami langsung disuguhi oleh jalur yang terus menanjak namun bukan sekedar tanjakan karena yang harus dihadapi adalah jalur berupa juntaian akar-akar pohon yang harus kami panjati sehingga tidak hanya kekuatan kaki saja yang diuji tetapi juga tangan. Ditambah dengan beban di pundak berkisar 20 Kg, jelas bukan sebuah perkara mudah.

Satu jam berjalan dari Pintu Rimba sampailah kami di Shelter 1, tempat yang cukup datar untuk beristirahat. Selain itu, di sini juga terdapat sumber air sebagai bekal persediaan untuk minum.

Shelter selanjutnya adalah Shelter 2. Dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan melewati jalur yang terbilang sangat sulit ini. Selain itu sebelum sampai di Shelter 2, kami harus melewati sebuah tebing yang dikenal dengan sebutan Dinding Lemari. Sampai di Shelter 2 kami beristirahat untuk santap siang terlebih dahulu.

Perjalan dari Shelter 2 menuju Top Dempo masih dihiasi oleh akar-akar pepohonan. Setelah itu kami juga harus melewati tebing cadas yang apabila hujan, menjadi aliran air bahkan terlihat seperti air terjun mini. Lalu melewati hutan cantigi dan sampailah kami di Top Dempo 3159 mdpl tepat pada pukul 5 sore.
Selanjutnya kami turun menuju Pelataran, sebuah tempat datar yang biasa dijadikan tempat bermalam bagi para pendaki Gunung Dempo sebelum keesokan paginya melanjutkan pendakian ke Puncak Merapi untuk melihat danau kawahnya. Di Pelataran juga terdapat sumber air yang disebut Telaga Putri.

Malam harinya kami berkumpul di luar tenda sembari masak – masak untuk makan malam. Makan malam waktu itu terasa sangat istimewa karena suasana yang begitu syahdu dan damai. Bulan Purnama berbentuk bulat sempurna memancarkan cahayanya yang terang ditemani dengan jutaan bintang yang menggantung diatas langit. Angin saat itu juga tenang, suara nyanyian alam berupa suara – suara burung dan serangga di malam hari terdengar sangat merdu. Baru kali ini saya merasakan suasana gunung yang sangat nyaman dan tenteram. Setelah makan malam kami beristirahat di dalam tenda lalu membungkus diri dengan kantong tidur (sleeping bag) guna mengurangi rasa dingin pada tubuh saat tubuh beristirahat.

Pagi hari kami dibangunkan oleh hangatnya mentari yang mulai bersinar, segera kami keluar tenda lalu mengambil air untuk masak dan minum di Telaga Putri. Tujuan kami selanjutnya adalah Puncak Merapi dan melihat danau kawahnya. Namun sebelum itu kami sarapan terlebih dahulu.

Dari tempat tenda kami berdiri menuju Puncak Merapi hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, dengan melewati hutan cantigi dan medan menanjak serta berbatu khas gunung aktif. Sesampainya di puncak, rasa haru dan syukur terpanjatkan kepada Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan negeri ini begitu indahnya. Kami menikmati suasana di puncak bersama pendaki lainnya yang semuanya adalah penumpang bus yang sama dengan saya saat menuju Pagaralam kemarin. Kami saling berkenalan satu dengan lainnya lalu berfoto bersama untuk mengabadikan perjalanan seru ini.

Puas melihat Puncak Merapi kami kembali ke Pelataran lalu membereskan kembali barang bawaan kami dan turun ke Kampung IV melalui jalur yang sama seperti saat kami mendaki kemarin. Ditengah perjalanan hujan mengguyuri kami membuat perjalanan turun semakin sulit karena jalur menjadi licin. Namun dengan semangat dan kekompakan tim yang solid akhirnya kami sampai kembali di Kampung IV sebelum hari gelap.

Sungguh petualangan yang sangat seru dan mengesankan. Pergi tak kenal, pulang menjadi kawan. Sayang kebersamaan saya dengan mereka harus berakhir karena mereka memilih untuk menginap di Kampung IV sedangkan saya memiliki rencana lain yaitu keliling Pagaralam keesokan harinya. Kebetulan sekali ada empat pendaki asal Palembang yang juga turun malam itu jadi saya bergabung bersama mereka.

Dari pendakian ini terbukti sudah bahwa sesama pendaki adalah saudara. Siap untuk saling tolong menolong dan menjaga teman sependakian meskipun diantaranya adalah orang yang baru dikenal. [M Catur Nugraha/End]

Penyunting : Ega Septian Anugrah

Artikel ini telah dipublikasikan di Travelnatic Magazine volume 17 – Maret 2016

Sebarkan :
  • 215
  • 187
  • 171
  •  
  •  
  •  
    573
    Shares
Follow M Catur Nugraha:

Tinggal di Jakarta. Melakukan kegiatan traveling saat libur kerja. Penulis aktif di www.backangineer.com. Aktif dalam komunitas Backpacker Jakarta, Indonesian Mountains, dan komunitas D'travellers

Komentar anda?