Haru dan Romantisme Mendaki Gunung Merapi

Haru dan Romantisme Mendaki Gunung Merapi

posted in: Experience | 0

“Saya merasa akar-akar pohon ini seperti tangan yang menjulur menawarkan bantuan. Dia menyambut tangan saya untuk memegangnya. Sumpah e, ini lebih berat daripada melahirkan anak” Tidak lama kemudian air mata Oncu meleleh dengan sendirinya. Ini adalah pengalaman pertama baginya mendaki Gunung Merapi”.

Travelnatic Magazine – “Beta seng kuat lae Abi” Suara rengekan Oncu lemah terdengar dibalik tubuhnya yang meringkuk kelelahan.  Daypack yang tak berisi dijadikannya bantal. Matanya berat, kaki lemas gemetar, badan letih setengah mati. Seakan tak ada tenaga di sendi-sendi tulangnya untuk menggerakkan otot kaki dan tangan. Ini pengalaman pertama Oncu mendaki Gunung Merapi.

Dingin angin dan suhu di kaki gunung Merapi pada jam 1 dinihari begitu menusuk tulang. Rerimbunan daun sengon gunung telah berembun tipis. Gelap gulita di sekeliling pendopo pintu rimba Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) hanya terpecahkan oleh satu dua cahaya headlamp di kepala tujuh orang pendaki pemula. Semua terpaku dalam diam.

“Istirahat saja dulu, nanti capeknya hilang pasti semangat lagi” Suara dari Yusdar terdengar lamat-lamat di kegelapan malam. Laki-laki ini, orang yang dipanggil dengan sebutan Abi oleh Oncu.  Penuh kesabaran menghadapi Oncu di beberapa ratus meter pertama tanjakan di jalur pendakian gunung Merapi.

“Aaaakk..Beta seng kuat lae Abi. Kita bikin tenda disini sudah Abi. Seng apa-apa toh?” Sekali lagi rengekan manja Oncu lirih disela-sela kantuk dan lelah yang semakin mencengkram tubuhnya.  Yusdar hanya diam dalam gelap. Dimatikannya headlamp di kepalanya sambil dibelainya kekasihnya itu.

Desir angin malam meliuk-liuk diantara dedaunan rumput gajah yang banyak tumbuh dilereng Merapi. Sampai ke kaki gunungnya rumput ini tumbuh atau sengaja ditanam oleh penduduk untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak sapi. Secara periodic daun dan batangnya ditebas sampai kebagian pangkal untuk diangkut ke kandang-kandang sapi. Lalu dari batang yang tersisa itu tumbuh lagi rumput gajah baru yang lebih rimbun. Daun-daunnya yang panjang seringkali menyapa kaki, tangan, badan dan wajah pendaki. Dari sisi daunnya yang tajam kadang memunculkan luka gores kecil dikulit. Rambut-rambut di batang dan daunnya membuat gatal ketika tergores ke kulit pendaki.

“Amin, masih jauhkah? Bisa kita bikin tenda disini saja? Saya sudah tidak kuat lagi, kaki gemetar” Tidak puas merengek ke Yusdar, kini Oncu mencoba peruntungan ke Amin, teman seangkatannya yang dipercaya memimpin rombongan. Tubuhnya masih meringkuk, tak mampu digerakkannya kaki dan tangan ketika bicara. Lutut dan seluruh persendiannya lemas, seakan sangat malas digerakkan, ditambah lagi suhu dingin yang membuatnya semakin kaku dan malas. Pelan-pelan matanya terkatup, seperti diberi lem sehingga susah sekali dibuka.

Orang yang diajak bicara sedang memasak air untuk tim. Baru saja tim ini tiba di pendopo pintu rimba TNGM. Berkali-kali sebelum sampai kesini tim meminta rehat. Bagi separuh anggota tim, ini juga merupakan pengalaman pertama mendaki Gunung Merapi. Sebagai pendaki pemula yang langsung dihajar oleh trek awal gunung Merapi yang terjal, wajar jika tim kelelahan. Meskipun ritme waktu yang diterapkan sangatlah longgar, tapi namanya adaptasi awal pendakian pasti selalu melelahkan. Apalagi bagi pemula yang tidak mengerti medan yang dihadapi.

“Sudah kamu istirahat saja dulu. Kalo mau tidur silakan tidur” Sesingkat itu dia menanggapi keluhan dan rengekan dari Oncu. Baginya hal seperti ini biasa dilihat di pendakian. Bahkan pendaki yang sudah berkali-kali mendaki gunung pun bisa mengalami kelelahan, walaupun cara menyampaikannya berbeda dan terkontrol.

Hingga sebagian tim kedinginan karena berhenti terlalu lama. Menunggu Oncu yang terus mengeluh. Meninggalkannya berdua Yusdar mendirikan tenda bukanlah pilihan bijaksana. Apalagi sebenarnya hal yang dialami Oncu hanyalah efek kelelahan sementara yang biasa menyerang pemula. Malas, lelah, kedinginan, ekspektasi pada trek yang terlalu berlebihan memberi sugesti diri untuk malas bergerak dan akhirnya jadi kantuk dan lelah.

Berhenti lama diruang terbuka, apalagi pada malam hari dengan kondisi seperti itu tidak baik. Maka pasti keputusannya adalah tidak ada pendirian tenda disitu dan perjalanan harus dilanjutkan. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayangnya Yusdar berhasil mengajak Oncu untuk berdiri, memanggul tas “kosongnya” sekali lagi untuk berjalan. Anggota tim yang lain memberi semangat dan motivasi seperti menyemangati anak kecil yang baru belajar berjalan. 

Sebarkan :
  • 231
  • 149
  • 112
  •  
  •  
  •  
    492
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?