Haru dan Romantisme Mendaki Gunung Merapi

Pengalaman perdana Oncu mendaki Gunung Merapi. Dok. Yusdar
Pengalaman perdana Oncu mendaki Gunung Merapi. Dok. Yusdar

“Kakak, kita lanjut jalan, nanti kalau capek kita berhenti ambil nafas dan minum, tapi jangan terlalu lama begini. Nanti kedinginan dan malas bergerak. Susah kalau harus adaptasi terus” Icha menyemangati Oncu. Meskipun juniornya di kampus, tapi Oncu mendengarkan dengan seksama karena memang Icha lebih paham tentang dunia baru bagi Oncu ini. Setidaknya Icha sudah mendaki Gunung Merapi sebanyak tiga kali sebelum ini.

Di suatu titik sebelum Pos I Gunung Merapi, dalam kegelapan malam berpenerang cahaya headlamp, di jalur setapak yang begitu beratnya Oncu berhenti. Ketika itu tim berjalan secara sistematis dengan jarak yang terjaga. Perlahan tapi pasti terus maju. Melewati kelokan jalur air, tanjakan, berpegang ke akar pohon dan batu-batu andesit untuk bisa melangkah ke atas setapak demi setapak. Bersusah payah Oncu berpegangan dan bertumpu pada akar, lalu mengeluarkan seluruh tenaganya  untuk naik, sampai satu hentakan tenaga membuatnya dapat berdiri tegak lagi. Dipeluknya pohon yang membantunya naik itu, dia tertegun mematung.

“Saya merasa akar-akar pohon ini seperti tangan yang menjulur menawarkan bantuan. Dia menyambut tangan saya untuk memegangnya. Sumpah e, ini lebih berat daripada melahirkan anak” ujarnya lirih, perlahan hampir tak terdengar. Hampir tertelan oleh isak tangis yang haru. Air matanya tak tertahan lagi mengalir di kedua kelopak mata. Perlahan air hangat itu mengalir dipipi. Hidungnya panas, ingus cair pun meleleh bersamaan dengan air mata.

“Iya, sumpah ini lebih berat daripada melahirkan” diulangnya lagi kata-kata itu. Semua tim yang sedang menanjak tertegun. Cahaya headlamp dimatikan. Tiba-tiba suasana jadi hening. Diam tak berkata di kegelapan malam. Semua disergap rasa haru seketika yang ditularkan oleh Oncu. Hanya suara jangkrik yang entah darimana datangnya yang terdengar di keheningan malam ketika itu. Bahkan Yusdar juga berdiri terpaku, tanpa gerak untuk menenangkan kekasihnya yang sedang diserang rasa melankolis secara tiba-tiba.

Bagaimana mungkin Oncu bisa bilang begitu? Apa dia tidak terlalu berlebihan membandingkan antara melahirkan anak dengan mendaki trek Munung Merapi? Seberat itukah trek Gunung Merapi baginya?

Oncu memiliki seorang buah hati yang kini berusia balita. Dia adalah seorang ibu dari seorang anak yang dilahirkannya dengan penuh perjuangan. Dia merasakan sakitnya melahirkan. Bagaimana mungkin dia berkata seperti itu sekarang di Gunung Merapi? Pertanya berkecamuk dalam kegelapan malam. Dalam diam semua mencoba menjawabnya sendiri. Tanpa sepatah katapun terlontar. Semua menghormati suasana melankolis yang sedang melanda hati Oncu.

Disekanya air mata yang membahasahi pipi dengan leher jaketnya. Dia mulai tenang. Semua anggota tim tampak lega. Syukurlah suasana melankolis itu berakhir bahagia. Perjalanan pun dilanjutkan.

Tak lain dari Oncu dan Yusdar yang saling berbagi kasih sayang, saling mendukung, berbagi kesabaran saat mendaki gunung Merapi, dengan cara berbeda Indri dan Rocky juga berbagi kasih sayang. Dengan cara yang agak canggung dan jaga image, mereka berbagi air minum, menyemangati saat lelah, berbicara dalam diam dan hening malam berdua.

Di penampilan luarnya, Indri terlihat jauh lebih siap dibanding Oncu dalam hal mendaki Merapi. Indri pernah melakukan hiking di Area Grassberg, Freeport, Papua yang dinginnya lebih kurang sama dengan di Gunung Merapi. Pergerakan Indri juga jauh lebih cepat daripada Oncu. Namun sama dengan Oncu, gunung Merapi adalah gunung pertama yang didaki oleh Indri. Sama-sama bersama pasangan masing-masing. Jika Oncu begitu memperlihatkan lelahnya kepada Yusdar, maka Indri sebaliknya. Indri dan Rocky sekilas terlihat sama-sama kuat. Mereka berjalan cepat dan terus maju.

Namun dibalik itu ternyata ada cerita yang tak diketahui orang lain. Jika tak tampak dan tak diutarakan, memang apa yang dirasakan hanya diri sendirilah yang mengetahui. Dibalik tegarnya mereka berdua, sama seperti Oncu, lutut mereka juga serasa mau lepas, gemetar dan lemas. Jantung berdegub kencang seperti mau lepas dari dada. Langkah terasa berat setiap tanjakan dan jalur terasa begitu menyiksa, waktu terasa lambat dan jarak seperti diperpanjang. Itu yang ada dibenak mereka berdua. Indri dan Rocky punya cara yang terlihat lebih elegan untuk menutupi lelahnya.

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *