Haru dan Romantisme Mendaki Gunung Merapi

Tim mendirikan tenda di atas Pos II Gunung Merapi. Dok. Yusdar
Tim mendirikan tenda di atas Pos II Gunung Merapi. Dok. Yusdar

Ketika itu sudah pagi. Tim berjalan semalaman. Membawa pendaki pemula mendaki gunung terjal bukan perkara mudah. Perhitungan waktu menjadi perhatian yang tak boleh diremehkan. Separuh tim sudah mencapai titik camping ground yang direncanakan, yaitu di atas Pos II. Lama sekali Indri dan Rocky tidak muncul juga. Mereka terakhir terlihat sedang mengambil foto-foto. Matahari sudah terang sehingga cahaya cukup mendukung untuk mendapatkan foto bagus. Barangkali mereka berdua sedang sibuk mengambil foto sehingga lupa bahwa mereka harus segera mencapai tenda agar dapat beristirahat.

Wajah lusuh dan lelah itu akhirnya muncul juga. Mereka segera ke tenda yang telah berdiri, menaruh barang-barang dan beristirahat bersama yang lainnya. Sampai saat itu tak ada yang tau apa yang terjadi pada mereka dibawah, mereka pun tidak bercerita. Akhirnya tim berhenti sampai disitu dan tidak melanjutkan lagi ke pasar Bubrah. Satu-satunya anggota tim yang berniat ke puncak Merapi hanya Leni. Enam orang lainnya memutuskan untuk mengisi ulang tenaga guna perjalanan pulang. Niat Leni itu pun diabaikan karena tidak ada yang menemani ke puncak.

Cerita tentang Indri baru terkuak setelah tim tiba di Jogja. Rocky bercerita, ketika itu mereka tinggal  berdua. Yusdar dan Oncu sudah duluan, begitu pula Icha dan Leni. Amin, telah lama berjalan menuju camping ground untuk mendirikan tenda. Orang terakhir yang ditemui Indri dan Rocky adalah Icha. Icha memberitahu bahwa camping ground sudah tidak jauh lagi dan jalurnya tidak seterjal seperti sebelum Pos I. Setelah itu Icha meninggalkan mereka.

Ditengah kondisi berdua itulah air mata Indri terburai. Kepada Rocky, kekasihnya, Indri mencurahkan kelelahannya. Di jalur itu dia duduk terdiam, menangis. Sebenarnya hal itu sudah lama ditahannya, namun dia malu pada kawan-kawan yang lain. Akhirnya saat mereka tinggal berdua, tak ada lagi yang dapat menahan sakit yang membuncah itu.

“Aku sudah tidak kuat lagi. Aku capek” ujarnya lirih sambil air matanya mengucur perlahan.

Jalur tidak terlalu terjal, dan camping ground yang sudah tidak jauh lagi menurut Icha tidak sama seperti yang dirasakan Indri dan Rocky. Mereka mengeluh, menyumpah dan tetap terpaksa harus terus berjalan. Siksaan fisik yang diberikan oleh alam begitu menyakiti hati dan tubuh mereka. Hingga tak tertahankan lagi sakit dan lelah itu berubah menjadi air hangat yang keluar dari kelopak mata. Entah bagaimana cara Rocky menyemangati Indri agar dia mau berjalan lagi. Meski kaki kepayahan, punggung begitu pegalnya, letih lelah dan ngantuk menyerang tiada ampun akhirnya mereka bisa tiba dihadapan tim yang lain. Tak terlihat sisa air mata itu ketika mereka bergabung bersama yang lain.

Tim akhirnya bergabung secara keseluruhan tidak jauh dari Pos II Gunung Merapi. Melihat kondisi semua anggota tim, pendakian itu diputuskan tidak dilanjutkan. Niat Leni untuk mendaki Gunung Merapi hingga ke puncak tertingginya harus tertahan meski semangatnya menggebu. Tidak ada yang akan menemani. Mendaki sendirian ke puncak cukup beresiko mengingat fluktuasi angin dan kabut di sekitar puncak sangat cepat berubah. Lagi pula medannya yang berbatu, tanah pasir bercampur di sekitar puncak yang mudah lepas sangat berbahaya. Rawan terjadi rock fall. Perlu ada orang lain yang memantau pergerakan kita agar bisa saling menjaga.

Amin dan Icha harus memprioritaskan empat orang lainnya yang sudah kelelahan dan tampaknya sudah tidak berniat mendaki lebih jauh. Pukul lima sore, setelah turun melewati jalur lumut, tim tiba di Base Camp New Selo.

Begitulah cerita pengalaman mendaki Gunung Merapi di bulan Mei 2015 itu. Pendakian penuh cerita haru dan lucu. Pendakian yang memberi pengalaman pertama mendaki gunung pada beberapa orang teman sejawat. Pendakian yang di sepanjang jalannya banyak memperlihatkan kasih sayang dan perhatian antar teman, antar kekasih. Pendakian yang sederhana diisi suasana haru dan romantis bercampur padu. [Nurul Amin/End]

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *