Mendaki Bukit Uhud; Napak Tilas Perjuangan Rasulullah SAW

Mendaki Bukit Uhud; Napak Tilas Perjuangan Rasulullah SAW

posted in: Experience | 2

Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga. – HR. Bukhari

Bukit Uhud, Madinah, Arab Saudi. Dok. Febrialdi R

Detik-detik peperangan kian mendekat. Pasukan Muslim dan musyrik telah saling berhadapan. Jumlah yang tak seimbang. Pasukan musyrik sebanyak 3.000 orang. Sedangkan di sudut sana, pasukan Muslim hanya 700 orang. Namun tak ada rasa gentar di wajah kaum Muslim.

Debu-debu beterbangan dihembus angin. Suara ringkik kuda dan lenguh unta bercampur dengan dengus napas dari kedua kubu. Pedang dan tombak saling mengacung tinggi, siap mencincang dan membabat tubuh musuh. Panji-panji Islam berkibar ditingkahi angin Uhud yang menyapu seluruh kawasan tersebut.

Pertempuran pun akhirnya pecah. Semua sudut Bukit Uhud menjadi lokasi pertarungan sengit antar dua kubu. Pertempuran paling menegangkan terjadi di sekitar panji pasukan musyrik. Thalhah bin Thalhah a-Abdari, pembawa panji pasukan musyrik, maju memecah keheningan. Ia adalah seorang laskar berkuda yang paling berani dari kalangan Quraisy.

Kudanya dihela mendekati barisan terdepan pasukan Muslim. Dari atas kudanya, ia menentang kaum Muslim untuk duel. Bertarung satu lawan satu. Tantangan itu segera dijawab oleh Zubair bin Awwam. Ia melompat laksana singa dengan untanya. Mereka kini saling berhadapan. Suara pedang yang beradu terdengar, saat keduanya terlibat pertarungan seru. Sementara ribuan pasang mata menyaksikan dengan harap-harap cemas.

Saling tikam dan saling incar tubuh lawan menjadi sasaran mereka. Pedang terus beradu, nyali pun bertarung untuk secepatnya mematikan musuh. Zubair kini mulai berada di atas angin. Ia memegang kendali pertarungan. Kibasan dan ayunan pedangnya mampu mendesak musuh Allah itu, Thalhah.

Dalam sebuah kesempatan, pedang Zubair tepat menghunjam tubuh Thalhah. Orang musyrik itu tewas, terjatuh dari kudanya. Tubuh yang tak bernyawa itu terjerembab menghujam bumi, bersimbah darah. Rasulullah SAW yang terus mengamati pertarungan tersebut langsung mengumandangkan takbir menyambut kemenangan

Zubair.

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…!!!”

Pekik nabi mulia itu segera disambut dengan takbir pula oleh pasukan Muslim.

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…!!!”

Peperangan terus berkecamuk. Saling serang, saling bunuh dan tikam, menjadi sasaran masing-masing. 50 pasukan panah yang berada di Bukit Rummat berhasil mencerai beraikan kaum musyrik. Tanda-tanda kemenangan berada di kaum Muslim.

Melihat kaum musyrik lari lintang pukang akibat serbuan dari kaum Muslim. Tiba-tiba aura kemenangan yang akan digenggam kaum Muslim berlari menjauh saat 40 orang pasukan pemanah Muslim turun, tergoda pampasan perang yang ditingggalkan kaum musyrik. Kini hanya tinggal 10 orang pasukan pemanah yang tersisa di Bukit Rummat.

“Jangan turuuunn…Jangaaannn…Rasulullah melarang kita untuk turun…!” Teriakan Panglima pasukan pemanah kaum Muslim, Abdullah bin Zubair, mengingatkan 40 orang anggota pasukannya yang sudah terlanjur menuruni bukit.

Bukit Uhud tampak dari lembah. Dok. Febrialdi R

Abdullah panik. Dia tak menyangka sebagian besar pasukannya berani mengabaikan perintah Rasulullah SAW untuk tidak turun dari Bukit Rummat, apapun yang terjadi. Namun ternyata sebagian besar pasukannya malah tergoda pampasan yang berserakan. Kilau dunia menyilaukan 40 pasukan pemanah hingga berani menentang pesan Rasulullah SAW.

Tak dinyana, kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Panglima kaum musyrik, Khalid bin Walid yang kala itu belum masuk Islam. Ia langsung menyerang sisa pasukan pemanah yang masih bertahan di atas bukit. Sekejap saja sisa pasukan pemanah kaum Muslim tewas terbunuh oleh kibasan pedang Khalid, tak terkecuali Abdullah bin Zubair.

Usai itu, Khalid dan pasukannya bergerak cepat memutari Bukit Uhud untuk menyerang pasukan Muslim dari belakang, dengan tujuan utama siapa lagi kalau bukan Rasulullah SAW. Beliau terkejut saat melihat pasukan berkuda Khalid tiba-tiba muncul dari belakang bukit. Sedari dulu mereka memang berupaya ingin membunuh Rasulullah SAW, dan kini peluang itu terbuka lebar di Jabal Uhud. Jiwa Rasulullah SAW terancam. Situasi menjadi sangat kritis.

Bayangan selanjutnya tak mampu lagi penulis lanjutkan. Tak sanggup hati ini jika membayangkan langsung tubuh Nabi SAW yang mulia, penuh luka tersabet kibasan pedang pasukan musyrik. Di sinilah peristiwa tragis itu berlangsung, di Jabal Uhud, di tempat kaki penulis berpijak.

Inilah Uhud. Inilah Jabal Uhud. Bukit yang menjadi saksi saat gigi seri Nabi SAW bagian bawahnya tanggal, kepalanya luka. Di sinilah paman Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib tewas oleh seorang budak milik Jabir bin Muth’im, Wahsyi, oleh lemparan tombaknya.

Bukit ini juga yang menjadi saksi saat jenazah para syahid di cincang-cincang oleh kaum musyrik. Dan di bukit ini yang akan menjadi saksi di akhirat kelak saat Hindun binti Utbah membedah perut Hamzah kemudian memakan jantung paman Nabi SAW yang dijuluki Singa Allah itu, dan menjadikan kuping serta hidung Hamzah sebagai kalung dan gelang kaki. (Ibnu Hisyam).

Tapi Bukit Uhud masih seperti dulu. Anginnya masih kering membawa udara panas padang pasir. Tapi di sinilah kaki seorang anak manusia akan menjadi lemah dan terpaku, saat jari kaki ini mencapai puncaknya. Dibanding bukit atau gunung-gunung lain, Uhud tak begitu tinggi. Ketinggiannya hanya kurang lebih 1.077 meter.

Bandingkan dengan ketinggian gunung Jayawijaya (4.884 mdpl) atau Everest (8,848 mdpl). Atau tak usah jauh-jauh jika untuk membandingkan soal ketinggian. Gunung Gede (2,958 mdpl) – Pangrango (3.019 mdpl), dan Burangrang (2.064 mdpl), Bukit Uhud masih jauh dibanding gunung-gunung di atas.

Bukit Uhud memang tak sebanding ketinggiannya dengan gunung-gunung yang disebutkan di atas. Bukan hanya dari tingginya gunung itu sendiri, tapi dari keeksotisannya pun Bukit Uhud jelas kalah jauh. Di Bukit Uhud tak ada warna hijau rumput bagai permadani yang melingkari bukit, tak ada gemericik air terjun yang curahan airnya begitu segar, atau tak ada pepohonan hijau yang membuat mata menjadi teduh.

Jabal Uhud memang tak memiliki semua itu. Selain ketinggiannya yang tak seberapa, juga tak ada keindahan yang enak dipandang dengan mata telanjang jika mendaki gunung tersebut. Tapi hanya Uhud lah bukit yang menjadi saksi atas kekalahan pasukan Muslim dan kaum musyrik pada pertempuran yang digelar pada Jum’at, 6 Syawal tahun ke 3 Hijriah.

Uhud lah bukit yang di atasnya pernah dijadikan lokasi pertempuran Nabi SAW yang mulia. Dan itu tak dimiliki oleh bukit-bukit lainnya yang ada di semesta ini.

Uhud lah bukit yang satu-satunya yang akan menjadi penghuni Surga kelak. Gunung ini memang disebut Nabi sebagai salah satu gunung yang ada di surga, sehingga kalau kita melihatnya sekarang, insha Allah, kita akan melihatnya lagi di surga nanti. Dan perjalanan spiritual itulah yang takkan akan pernah didapatkan oleh para pendaki yang telah mencapai puncak-puncak tertinggi atau telah menjajaki Seven Summits.

Perjalanan spiritual, itulah yang terpenting maknanya saat mendaki gunung. Menatap keindahan semesta dari puncak gunung tanpa goresan yang berarti, memandangi semesta dari atas gunung yang kebanggaannya hanya sebatas saat turun kembali. Itulah yang harus dibawa ‘pulang’ saat mendaki gunung dan turun kembali.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah S.A.W. pernah menaiki puncak Uhud bersama Sayyidina Abu Bakar R.A., Sayyidina Umar Al-Faruq R.A. dan Sayyidina Usman bin Affan R.A. Setelah keempatnya berada di puncak, terasa Gunung Uhud bergegar.

Rasulullah kemudiannya menghentakkan kakinya dan bersabda; “Tenanglah kamu Uhud. Di atasmu sekarang adalah Rasulullah dan orang yang selalu membenarkannya dan dua orang yang akan mati syahid.”

Tak lama setelah itu Uhud berhenti bergetar. Demikianlah tanda kecintaan dan kegembiraan Uhud menyambut Rasulullah. Dan sesuai dengan namanya yakni Uhud yang berarti penyendiri, Bukit Uhud memang terpisah dari bukit-bukit lainnya.

Begitulah cerita soal Bukit Uhud. Bukit yang telah menjadi saksi sejarah pertempuran dahsyat antara pasukan Muslim dan musyrik, berabad-abad silam. Bukit yang di kawasannya terbaring makam Paman Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib itu, adalah bukit sejarah yang tak terbantahkan.

Bukit Uhud memang tak setinggi Burangrang. Ia hanya memiliki ketinggian 1.077 meter, masih ratusan meter dibanding Gunung Burangrang dan gunung-gunung lainnya. Namun perjalanan spiritual mendaki Gunung Uhud bagai kembali menapak tilas pertarungan Kaum Muslim dan musyrik, di awal masa-masa Islam. [Febrialdi R/End]

Penulis : Febrialdi R

atau akrab dengan nama pena Edelweis Basah. Tinggal di Jawa Bawat. Penulis aktif dalam kegiatan alam bebas dan kepenulisan.

 

Sebarkan :
  • 322
  • 318
  • 217
  •  
  •  
  •  
    857
    Shares
Follow Febrialdi R:

Juga dikenal dengan nama pena Edelweis Basah. Penulis lepas sebagai kontributor di berbagai media cetak dan elektronik. Penulis buku novel Bara - Surat terakhir seorang pengelana terbitan Djeladjah Pustaka pada tahun 2016. Saat ini menetap di Kota Madinah, Arab Saudi.

2 Responses

  1. Menarik😊

  2. Jabal Uhud, soon😭😭😭😭

Komentar anda?