Menelisik Keindahan Istana Air Taman Sari

Menelisik Keindahan Istana Air Taman Sari

posted in: Destination | 0

Yogyakarta, satu kota tujuan yang paling diminati di Indonesia. Tujuan untuk menuntut ilmu dan juga tujuan wisata. Jika kamu ingin memuaskan rasa ingin tahumu tentang sejarah masa lampau, kamu bisa mengunjungi satu tempat yang menakjubkan indahnya. Sama seperti saya takjub ketika kedua kalinya datang ke tempat ini. Arsitektur kunonya yang indah serasa membuat kita kembali ke masa kerajaan dahulu kala. Sungguh pemandangan yang mempesona.

Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I, membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ibukota kesultanan ini didirikan ditengah sumbu imajiner antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis, dengan titik acuan umbul (mata air). Beliau memerintahkan Demak Tegis, seorang arsitek berkebangsaan Portugis untuk membangun sebuah Istana di umbul yang berjarak 500 meter dari Keraton.

Bangunan utama di kolam pemandian selir raja di Taman Sari. Dari tingkat tertinggi bangunan ini raja dapat memantau selir-selirnya. Dok. Lida Maya Setyowati
Bangunan utama di kolam pemandian selir raja di Taman Sari. Dari tingkat tertinggi bangunan ini raja dapat memantau selir-selirnya. Dok. Lida Maya Setyowati

Tembok berwarna krem gagah berdiri mengitari kolam pemandian yang terbagi menjadi tiga, Umbul Kawitan (untuk putra putri raja), Umbul Pamuncar (untuk para selir) dan Umbul Panguras (kolam untuk raja). Gemericik air mengalunkan nada dan irama yang semakin menambah kecantikan tempat ini. Dari atas menara yang dibangun untuk tempat pribadi Sultan, terlihat pantulan cahaya matahari dari kolam dibawahnya. Nampak jelaslah dari sana keseluruhan pemandangan Taman Sari.

Menyusuri bagian lain dari Taman Sari, terdapat juga lorong yang menghubungkan Taman Sari dengan Keraton. Lorong bangunan bawah tanah yang luas ini menjadi tempat untuk berjaga-jaga apabila keraton sedang berada dalam keadaan genting. Saat menyusurinya banyak ditemukan ruang rahasia didalamnya. Sesampai ditempat berbentuk persegi dengan lima anak tangga sekelilingnya, keindahan tempat ini makin terasa kala menengadahkan kepala ke atas.

Taman yang mendapat sebutan “The Fragant Garden” ini punya luas 10 hektar dengan sekitar 57 bangunan. Sebuah komplek sejuk dulunya. Lebih banyak menonjolkan sisi artistik pada kolam dan air ini sangat menyenangkan untuk dinikmati. Penasaranmu bisa terpuaskan dengan datang ke jalan Taman, Yogyakarta. Berada tak jauh dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan waktu tempuh 15 menit dari alun-alun utara Keraton. Sama seperti kamu yang sedang berekreasi di tempat ini, jaman dahulu keluarga kerajaan juga pergi berekreasi di Istana Air Taman Sari. Selain sebagai taman, istana air ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Bangunannya yang kokoh dibangun sekitar tahun 1758-1765. Arsitekturnya merupakan perpaduan berbagai gaya, seperti Eropa, Cina, Jawa, Hindu, Budha dan Islam.

Sekarang ini di sekitar area Taman Sari terdapat perkampungan kecil yang disebut Kampung Taman dengan jumlah penduduknya 2.700 orang. Masyarakatnya dikenal sebagai pengrajin batik, lukisan dan juga kesenian tradisional lainnya. Dari jam 8 pagi hari hingga pukul 2 siang hari, kamu bisa menghabiskan waktu berkeliling Taman Sari dengan hanya membayar tiket masuk sebesar 3.000 rupiah untuk wisatawan lokal dan 7.000 rupiah untuk wisatawan asing, serta 25.000 rupiah untuk pemandu wisata yang bisa anda jumpai jasanya saat di pintu masuk menuju Taman Sari. Banyak sekali cerita menarik yang bisa kamu dengarkan dari para pemandu wisata tersebut. Mulai dari cerita sejarah Taman Sari, perkembangan peradabannya sampai mengulik kisah kehidupan para pemandu yang bertahun-tahun tak putus-putusnya terus-menerus membagikan kisah lampau tempat itu.

Mereka setia berada di samping kita yang mungkin sibuk mengambil beberapa gambar untuk diabadikan dalam kamera. Sebagian lain mungkin sibuk selfie dan sebagian lainnya benar-benar memperhatikan kisahnya sembari berangan-angan kembali pada jaman dahulu kala. Meski begitu para pemandu wisata yang notabene banyak dilakukan oleh kaum laki-laki ini terus berceloteh dengan antusias. Balutan kain seragam berwarna biru muda yang dipadukan dengan beragam pilihan celana panjang menjadikan mereka terlihat rapi tatkala memandu para pelancong. [Lida Maya Setyowati/End]

 

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 263
  • 246
  • 228
  •  
  •  
  •  
    737
    Shares
Follow Lida Harryanto:

Tinggal di Semarang.

Komentar anda?