Mengenal Curug Cina di Subang, Jawa Barat

Mengenal Curug Cina di Subang, Jawa Barat

posted in: Destination | 0

Secara administratif, Curug Cina berada di Desa Curugagung, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat dan berada pada koordinat 06°37′41.8″ LS 107°41′24.1″ BT. Curug Cina merupakan satu dari beberapa air terjun yang berada di wilayah Desa Curugagung. Curug Cina merupakan air terjun yang baru ini dibuka untuk wisata dan mulai ramai sekitar akhir Maret 2016, pengelolaannya pun masih swadaya dari masyarakat setempat. Lokasi Curug Cina berada cukup jauh dari permukiman warga setempat dan berada di tengah kebun yang cukup tertutup.

Penamaan Curug Cina yang dikenal hingga saat ini sebenarnya insidentil, bukan berdasarkan geomorfologi, kepercayaan, atau ciri khas daerah tersebut. Menurut informasi dari beberapa warga di sekitar Curug Agung, dinamakan Curug Cina karena pada zaman dahulu kala ada seorang pemburu berdarah Tionghoa yang melakukan perburuan dan mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia di sekitar lokasi Curug Cina. Sejauh yang diketahui, inilah asal mula penamaan Curug Cina. Sementara itu nama sebenarnya air terjun ini sebelum adanya kejadian pemburu tersebut masih belum diketahui.

Lahan di sekitar Curug Cina hampir semuanya lahan kebun dan sawah. Menurut informasi warga setempat, lahan yang berada di sekitar Curug Cina dan sekitarnya saat ini sudah berada di bawah kepemilikan pribadi. Kedepannya, pemilik kebun ini berencana untuk membuka dan mengelola Curug Cina sebagai objek wisata.

Untuk menuju Desa Curugagung tidaklah terlalu sulit. Kondisi jalan relatif bagus, medan jalan tidak terlalu sulit, serta jalur yang dilalui akan terus menyusuri permukiman penduduk dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Terdapat dua jalur utama untuk menuju Desa Curugagung,. Jalur pertama yaitu melalui Kampung Batukapur dan jalur kedua melalui Desa Bunihayu.

Jika dari arah Bandung, arahkan kendaraan menuju Jalancagak melewati Lembang – Tangkubanprahu – Ciater – kemudian pertigaan menuju Purwakarta dan Jalancagak. Setiba di Jalancagak, ambil jalur menuju Purwakarta. Lokasi pertigaan ini berada sebelum pasar dan bunderan/pertigaan Jalancagak yang ditandai dengan adanya Tugu Nanas. Jika jalan masuk menuju Desa Curugagung adalah melalui Desa Bunihayu, setelah belok ke arah Purwakarta, patokannya adalah SMAN 1 Jalancagak di sisi kiri jalan. Tepat di seberang SMAN 1 Jalancagak akan ditemui jalan kecil dan ada pangkalan ojek. Di dalam jalur ini setidaknya terdapat dua percabangan, ikuti saja jalan utama.

Bila jalur yang dipilih melalui Kampung Batukapur, maka, setelah belok menuju arah Purwakarta, terus ikuti jalan raya hingga mendekati pusat Kecamatan Sagalaherang. Tepat di ujung jalan yang akan sedikit menikung ke kiri, di sisi kanan jalan akan ditemui papan penunjuk arah menuju objek wisata Batu Kapur. Ambil jalan menuju objek wisata Batu Kapur. Jalan yang melalui Kampung Batukapur akan sedikit rusak ketika sudah keluar dari area permukiman yang pertama dilewati. (Untuk objek wisata, penulisannya Batu Kapur, tapi untuk nama Kampung penulisannya Batukapur, sesuai toponiminya. Penulis)

Setelah keluar dari area pemukiman, area persawahan akan menjadi pemandangan utama di sisi kanan dan kiri jalan. Setelah area sawah habis, jalan akan mulai memasuki area perkebunan. Di area inilah jalan akan terus menurun dengan kondisi yang cukup buruk. Aspal berlubang akan digantikan dengan batu yang akan licin ketika hujan. Setelah turunan panjang, jalan akan bertemu dengan jembatan yang cukup besar. Setelah jembatan, jalan akan kembali menanjak. Jalur setelah jembatan sudah termasuk ke dalam wilayah Desa Curugagung. Jalan masuk menuju objek wisata Batu Kapur berada tidak jauh dari tanjakan setelah jembatan. Jalur menuju objek wisata Batu Kapur masih harus menanjak bukit.

Jika datang dari arah Purwakarta, patokan pertama yaitu Situ Wanayasa. Setelah tiba di Situ Wanayasa, arahkan kendaraan menuju jalan raya utama menuju Kecamatan Serangpanjang kemudian Kecamatan Sagalaherang. Jika dari arah Purwakarta, jalan masuk menuju Desa Curugagung adalah yang melalui Kampung Batukapur.

Lapangan sepakbola Desa Curugagung merupakan patokan akhir baik dari jalur Kampung Batukapur maupun dari jalur Desa Bunihayu. Kendaraan dapat diparkirkan di sekitar lapangan sepakbola. Biasanya, pengunjung membayar 5.000 Rupiah kepada warga yang menjaga kendaraan. Perjalanan berikutnya ditempuh dengan berjalan kaki dari lapangan sepakbola Desa Curugagung.

Awalnya, jalan akan menanjak terus hingga memasuki perkebunan. Tepat setelah memasuki perkebunan, akan ditemukan patok arah menuju lokasi. Dari patok ini, jalan akan sedikit menanjak. Jalur treking merupakan jalan setapak tanah yang memasuki areal kebun warga. Jika hujan akan sedikit licin. Kondisi trek cukup lebar meskipun berada di pinggir jurang.

Sepanjang  jalur treking, pemandangan akan didominasi oleh area kebun di medan perbukitan dan area sawah tepat di bawah jalur treking. Tidak ada penunjuk arah menuju Curug Cina di sepanjang jalur treking. Cukup ikuti jalur jalan setapak yang sudah sangat jelas hingga menemukan aliran irigasi di sisi kanan jalur setapak. Tepat di sisi kiri ketika sudah menemui saluran irigasi akan ada jalan yang menurun. Ikuti jalan setapak yang menuju ke arah bawah kebun. Total lama perjalanan dan jarak dari lapangan sepakbola menuju areal Curug Cina kurang lebih 30 menit sejauh 1,08 Km dengan medan yang tidak terlalu sulit.

Areal di sekitarnya memang tidak terlalu luas. Hanya ada satu areal datar dan terbuka yang biasanya digunakan sebagai lapak berdagang warga sekitar. Untuk menuju curug dari lokasi pedagang ini, pengunjung harus melewati aliran sungai dengan cara melompati bebatuan. Selain Curug Cina, tepat di depan kolam jatuhan air terjun terdapat mata air yang sudah dikelilingi beton. Konon, mata air ini merupakan air panas yang mengandung belerang.

Dari lokasi mata air ini, pengunjung sudah dapat melihat Curug Cina secara jelas, namun jika ingin lebih jelas lagi, pengunjung dapat memanjat batuan di sekitarnya. Memanjat batuan untuk tiba di tingkatan pertama Curug Cina tidaklah mudah, terlebih jika musim hujan. Tidak direkomendasikan bagi pengunjung untuk memanjat batuan menuju tingkatan pertama Curug Cina.

Curug Cina merupakan air terjun permanen yang pada musim kemarau masih akan tetap memiliki aliran jatuhan. Aliran Curug Cina berwarna jernih, namun, setelah kembali masuk ke sistem sungai, alirannya akan sedikit keruh. Hal ini dipengaruhi oleh kandungan belerang di mata air yang berada di dekat kolam paling bawah Curug Cina. Diperkirakan asal kandungan belerang ini masih berasal dari Gunung Tangkubanparahu. Batuan di dekat Curug Cina masih banyak yang berupa bongkahan. Artinya, batuan tersebut diperkirakan berasal dari runtuhan dinding di sekitar Curug Cina.

Pembukaan Curug Cina sebagai objek wisata memang masih dilakukan secara swadaya. Hal ini dilakukan oleh warga sekitar tahun 2014 lalu, namun baru mulai ramai sekitar Maret 2016. Nama Curug Cina kini mulai dikenal masyarakat dan menjadi salah satu tujuan wisata yang sedang Hits di Kabupaten Subang. Berdasarkan informasi dari warga setempat, wisatawan yang datang ke Curug Cina tidak hanya berasal dari Subang, Jakarta, Bandung, dan Purwakarta saja, tetapi juga wisatawan dari Cirebon, Indramayu, bahkan dari Jawa Tengah. [Dya Iganov/End]

 

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 248
  • 184
  • 156
  •  
  •  
  •  
    588
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar anda?