Mengenal Edelweiss : Bunga Abadi yang Terancam

Mengenal Edelweiss : Bunga Abadi yang Terancam

posted in: Otherside | 0

Bunga Anaphalis javanica atau yang dikenal dengan nama Edelweiss Jawa tentu sudah tidak asing lagi di telinga para penggiat alam. Menurut Londo (2012), Edelweiss berasal bahasa Jerman yang memiliki dua kata, yaitu “edel” berarti suci, mulia, dan “weiss” berarti putih.

Junghuhn mengatakan bahwa tumbuhan yang terlihat manis ini dapat ditemukan di zona alpina/ montana. Montana sendiria dalah suatu formasi hutan tropika basah yang berada di pegunungan. Jika kita berkunjung ke daerah Eropa, maka akan kita dapati Edelweiss yang berbeda dengan yang sering kita temui di pegunungan Jawa, Sumatra, dan Lombok. Edelweiss yang terdapat di Eropa adalah bunga Leontopodium.

Di Jawa Barat, ada beberapa tempat favorit para pendaki untuk menikmati keindahan Edelweiss, seperti Surya Kencana di Gunung Gede, Mandalawangi di Gunung Pangrango, dan Tegal Alun di Gunung Papandayan.

Tahukah teman-teman bagian bunga manakah yang sebenarnya sebagai bunga? Jika kalian menjawab bagian yang berwarna putih, maaf jawaban kalian kurang tepat. Bagian bunga yang sebenarnya adalah bagian yang berwarna kuning, sedangkan bagian yang berwarna putih adalah kelopak bunga.

Bagian bunga yang berwarna kuning akan rontok dalam 1-3 hari. Bunga yang masih satu family dengan bunga Krisan ini memiliki cara reproduksi dengan cara generatif. Serbuk-serbuk bunga generative Edelweiss memiliki massa yang ringan, sehingga mudah terbawa oleh angin. Saat serbuk-serbuk menemukan tempat yang cocok untu ktumbuh, maka Edelweiss akan dapat tumbuh dengan baik.

Edelweiss merupakan tumbuhan dikotil, sehingga Edelweiss berpotensi untuk dilestarikan dengan cara reproduksi vegetative buatan, salah satunya adalah stek batang. Namun hal ini perlu diteliti lebih lanjut. Edelweiss adalah salah satu tumbuhan pionir. Edelweiss mampu bertahan hidup dan terus tumbuh di lahan yang krisis unsure hara. Untuk memenuhi kebutuhan unsure haranya, ia bekerjasama dengan jamur. Kerjasama ini dikenal juga dengan mikoriza. Jamur hidup pada perakaran Edelweiss untuk mendapatkan oksigen dan tempat hidup, sedangkan keuntungan Edelweiss adalah mendapat unsure hara dari jamur. Edelweiss dapat tumbuh hingga tinggi 8 meter, jika tidak diganggu oleh manusia.

Bagi lingkungan di pegunungan yang susah ditumbuhi oleh tumbuhan, Edelweiss adalah super hero bagi organism lainnya. Seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa Edelweiss merupakan tumbuhan pionir, yang artinya tumbuhan pertama yang muncul untuk membantu memenuhi kebutuhan unsure hara bagi tumbuhan lainnya. Edelweiss juga dapat mengurangi terjadinya erosi tanah karena berperan sebagai penahan tanah jika terjadi hujan maupun dari aliran air lainnya. Edelweiss juga merupakan tumbuhan yang berperan penting bagi beberapa serangga.

Tumbuhan ini merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki status kritis oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Bunga yang masih berkerabat dengan bunga Matahari ini memiliki keunikanya itu terlihat tak pernah layu, oleh sebab itu dikenal dengan bunga abadi. Tak jarang pendaki “nakal” memetik bunga ini karena mempercayai mitos bahwa jika memberikan pada sang kekasih, maka cintanya pun akan abadi. Mungkincintanya akan abadi, namun alam yang terancam kelestariannya.

Beberapa penelitian menunjukkan “kesaktian” bunga cantik ini sebagai obat. Ekstrak Edelweiss dipercaya memiliki kandungan anti-oksidan yang tinggi. Alasan ini jugalah yang menyebabkan berkurangnya populasi Edelweiss di alam bebas. Faktor lain yang mempengaruhi jumlah populasinya adalah adanya kebakaran lahan, aktivitas jual beli bunga Edelweiss oleh penduduk sekitar.

Mengingat peran Edelweiss di lingkungan, sungguh sangat disayangkan jika populasi terus menurun. Jadi masihkah teman-teman berniat memetik bunga cantik ini? Bukankah lebih terasa istimewa jika menikmati keindahan bunga ini dipadukan dengan keindahan alam disekitarnya? Saya yakin, jika teman-teman adalah pejuang sejati, maka akan mengurungkan niatnya untuk “posesif” pada Edelweiss karena paham betapa susahnya perjuangan Edelweiss di alam bebas. [Nurina K. Atmono/End]

Penulis : Nurina Kurnianingsiwi Atmono – Bogor (follow @niatmono di twitter)

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    485
    Shares
Follow Travelnatic:

Travelnatic Magazine is magazine about tourism and traveling in Indonesia or by Indonesian. Every people can shared their travel story here. Send me by email at redaksi@travelnatic.com

Komentar Pembaca