Menelusuri Kelamnya Malam Demi Menggapai Puncak Gunung Prau

Cukup lama saya menunggu disini, dari sore. Tepat pukul tujuh malam, ada informasi bahwa mereka kemungkinan lusa pagi baru sampai. Ditengah kebingunan itu, tak lama kemudian datang rombongan lain dari Jakarta berjumlah tujuh orang. Setelah berbincang sebentar, saya memutuskan untuk melakukan pendakian bersama mereka malam itu juga. Kami memulai pendakian tepat pukul delapan malam, menelusuri kelamnya malam diantara rumah-rumah penduduk.

Trek awal pendakian berupa anak tangga yang cukup terjal, diapit perkebunan penduduk setempat yang terlihat samar -samar. Kebanyakan pendaki lebih memilih mendaki dimalam hari untuk menghindari cuaca panas dan sengatan sang mentari. Tapi mendaki malam hari cukup berbahaya, karena keterbatasan jarak pandang.

Petunjuk jalan ke arah puncak Gunung Prau. Dok. Emanuel Ndelu Wele
Petunjuk jalan ke arah puncak Gunung Prau. Dok. Emanuel Ndelu Wele

Waktu tempuh jalur ini hingga ke puncak berkisar 4 – 5 jam perjalanan, dengan kontur tanah yang keras dan tanjakan-tanjakan curam siap menyapa kita sepanjang jalurnya. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat keindahan lampu berwarna – warni di perkampungan dan desa kecil yang membentang dibawahnya, sembari merasakan hembusan angin pegunungan yang cukup dingin menembus kulit.

Disarankan untuk menggunakan baju hangat dan jangan beristirahat dalam waktu yang lama. Jangan sampai kedinginan, selalu menjaga kondisi fisik dan suhu tubuh kita.Walaupun gunung ini pendek, namun suhunya sangat dingin, seperti Gunung Papandayan di Jawa Barat.

Karena pendakian malam hari, saya tidak sempat mengambil foto sepanjang perjalanan di jalur ini. Tanjakannya yang terjal membuat saya harus selalu berhati-hati ketika melangkah dan berpijak. Setelah melewati sebuah tanjakan yang sangat terjal dan panjang, kita akan bertemu di sebuah jalanan yang landai. Itu sebagai pertanda bahwa sesaat lagi kita akan segera sampai di Camping Area Gunung Prau. Jam 12 malam, saya dan rombongan dari Jakarta sampai disini.

Suhu yang dingin membuat kami segera pasang tenda dan mulai memasak untuk makan malam. Disekitar tempat ini sudah ada beberapa tenda pendaki lain yang berdiri agak berjauhan dekat bukit-bukit yang berjejer. Disarankan mendirikan tenda dibalik bukit ini untuk menghindari terpaan angin secara langsung. Dinihari kami disuguhkan panorama alam yang luar biasa indahnya. Dikejauhan nampak lampu-lampu yang menghiasi salah satu Kota. Lelah selama perjalanan membuat kami segera tidur lelap.

Bagikan artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *