Menghindari Kena Prank Bayar Makan Mahal di Tempat Wisata

Lagi viral berita yang menceritakan curahan hati seorang wisatawan yang bayar mahal setelah makan. Curahan hati (curhat) itu diunggahnya di media sosial dan menimbulkan kegaduhan di dunia maya. Tapi kegaduhan itu paling cuma bentar dan nanti tenggelam, lalu diganti kegaduhan yang lain lagi.

Paguyuban pedagang sampai berniat untuk memperkarakan pengunggah curhat-an tersebut ke meja hijau. Kenapa? Untuk apa?

Credit photo : Brilio

Banyak sekali komentar netizen menanggapi hal tersebut. Ada yang mendukung pengunggah, ada yang mendukung paguyuban, ada yang jadi penasehat.

Sebenarnya kasus seperti bukan satu dua kali terjadi. Sudah bertahun-tahun dan ada di berbagai lokasi wisata.

Nah, disini Travelnatic memberikan saran-saran supaya hal tersebut tidak terjadi. Penulis akan kasih saran ke 5 pemangku kepentingan sekaligus. Baik banget kan penulisnya. Ini saran buat konsumen, buat pemerintah, buat paguyuban, buat pedagang, dan tentu saja buat netizen tentu saja.

Buat Konsumen.

Pertama, sebelum berwisata sebaiknya buat perencanaan yang matang, termasuk soal keuangan dan tempat-tempat yg mau dikunjungi. Ini disebut travel planing, soal keuangan sebut saja travel budgeting. Kalo berwisata modal pas-pasan, sebaiknya tahan-tahan makan dan belanja. Bisa bolong. Dan kalo wisata tanpa plan begitu, terus ketiban sial, yang rugi pertama kali adalah diri sendiri.

Kedua, kalo masuk toko atau warung atau mau belanja. Liat-liat dong harganya bos. Kalo tidak tertera, kan bisa ditanya ke penjaga toko. Nah abis itu hitung deh berapa akumulasinya. Kalo kira-kira cocok di kantong, lanjut. Kalo ga cocok ya jangan lanjut. Setahu penulis, di banyak lokasi wisata, pedagang makanan tidak memaksa pengunjung untuk makan di tempatnya. Tapi ketika kamu duduk, pesan makanan, sudah disentuh, kamu harus bayar semua yang di pesan. Itu salahmu sendiri sih kenapa ga tanya harga. Gengsi? Takut dibilang kere?

Ketiga, kalo sudah plan bagus, sudah sangat hati-hati, namun masih juga tertipu. Adukanlah kejadian itu ke saluran yang benar. Sebenarnya Paguyuban justru bisa jadi tempat pengaduan karena pedagang yang bersangkutan mungkin anggota dari sebuah paguyuban. Jika tidak tau dimana paguyuban berada, adukanlah ke otoritas pengelola wisata setempat. Jika tidak ada juga, adukanlah ke pihak berwajib. Bahkan sampai ke kementerian pariwisata kan juga boleh. Mengadu ke sosial media memang lumrah di jaman ini dan sangat cocok bagi milenial. Tapi itu bukanlah saluran pengaduan yang benar. Karena sosial media anda kan tidak punya otoritas untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mengadulah ke yang memiliki otoritas sebagai penyelesai masalah.

Buat pedagang.

Pertama, sebaiknya punya daftar menu dan daftar harga yang tertera jelas. Ini untuk memudahkan pedagang sendiri loh ya biar ga ribet jawab pertanyaan pengunjung soal harga dan menu. Kan waktu adalah uang juga. Soal makan, lidah memang tak pernah bohong. Itu setelah makanannya dirasa lidah. Tapi sebelum itu, lidah akan sangat cerewet bertanya ini itu. Ini soal selera bos.

Selain buat memudahkan tanya-jawab, daftar menu daa harga juga untuk menghindarkan penipuan alias prank. Ya memang ada beberapa pedagang yang sengaja menerapkan ilmu aji mumpung yang menyasar pengunjung untuk jadi target mark up harga. Ini tidak bisa dipungkiri masih terjadi.

Kedua, plis hindari banget dah politik mark up harga dan aji mumpung yang negatif. Seriously its not work to increasing your cash flow for long time. Ya, Elu cuma untung saat itu aja, abis itu informasi tentang kelakuan Elu atau pegawai Elu akan menyebar kemana-mana. Untuk bisnis jangka panjang, itu bisa sangat mengurangi repeat order. Percaya deh. Di tambah lagi, hal tersebut akan merusak citra pariwisata dan daerahmu secara umum. Pedagang lain jadi kena getahnya gegara kelakuan mark up harga itu. Mau lu disumpahi se-kabupaten?

Buat Paguyuban

Paguyuban kan tugasnya melingkupi pedagang dan berkumpul untuk tujuan kesejahteraan pedagang. Ya, jangan lekas emosilah sama tingkah laku konsumen. Konsumen kan juga berpengaruh pada kemajuan pedagang yang anda naungi. Kalo sikap anda buruk menanggapi keluhan konsumen kan kurang bijaksana juga. Nanti orang tidak mau makan lagi disana kan paguyuban juga yang ikut repot harus bikin promosi sana-sini. Sebaiknya paguyuban menengahi permasalahan yang terjadi dengan bahasa yang lebih ramah.

Paguyuban juga dapat berembuk untuk membuat audit internal mengenai apa yang terjadi. Menginvestigasi keluhan tersebut dengan data dan fakta jauh lebih baik daripada langsung merespons akan memperkarakan ke meja hijau. Jika data faktanya clear, akan kelihatan dimana salahnya dan solusi apa yg bisa diambil. Syukur-syukur konsumen dan pedagang yang berkonflik bisa didudukkan bersama dan didamaikan agar mata rantai masalah segera terputus.

Membuat pers release mengenai kronologis perkara, hasil investigasi, dan solusi konflik sangat baik untuk dilakukan oleh paguyuban.

Buat Pemerintah.

Tugas pemerintah ini kan regulator dan pengawas. Ya bikin regulasi yang terperinci sekaligus mekanisme penyelesaian konfliknya. Kalo bisa ada tempat pengaduan dan petugas yang langsung datang ke lokasi menyelesaikan masalah malah sangat bagus. Intinya kan satu ; pemerintah harus hadir dalam masalah yang terjadi antar warga negara. Kalo pemerintah tidak hadir, ya percuma dong semua pajak pariwisata yang besar itu.

Nah di zaman sekarang, ketika masalahnya terjadi di dunia maya, bagaimana solusinya? Ditengahi juga dong di dunia maya. Dan di follow up ke dunia nyata bagaimana manajemen konfliknya agar tidak terjadi hal serupa di kemudian hari.

Buay Netizen

Ga ada sih saran buat netizen. Susah juga mau ngasih saran apa. Ada 270 juta orang lebih netizen pasti pendapatnya beda-beda kan. Jadilah netizen yang berkualitas. Itu aja sih.

Saran Pamungkas

Sebenarnya kan antara konsumen (turis), pedagang, paguyuban, pemerintah, netizen, ada didalam satu kesatuan ekosistem pariwisata yang saling membutuhkan. Kenapa sih suka saling menyakiti? Padahal jika satu komponen tidak berfungsi dengan baik, pasti ekosistem pariwisata akan menjadi buruk dan tentu ujingnya adalah kesulitan bersama. Nah, mari bikin ekosistem pariwisata yang fair dan sehat agar semuanya bisa senang berada dalam ekosistem tersebut. [End]

Bagikan artikel