Mengintip Serunya BTS Ultra 100 Tahun 2016 Lewat Cerita Anindya

Mengintip Serunya BTS Ultra 100 Tahun 2016 Lewat Cerita Anindya

posted in: Experience | 0

“Setapak jalan yang sudah biasa dilewati dengan mendaki pun terasa sungguh berat saat berlari, karena semuanya diburu waktu…”

Prepare. Dok. Anindya Andhari
Prepare. Dok. Anindya Andhari

BTS Ultra 100 atau Bromo Tengger Semeru Ultra 100, sebuah event tahunan yang sungguh sangat familiar. Event yang selalu diadakan setiap tahunan dan selalu menyita perhatian pelari-pelari trail baik dari Indonesia maupun mancanegara. Dengan kategori 170 kilometer, 102 kilometer, 70 kilometer dan 30 kilometer, setiap tahunnya selalu diramaikan oleh partisipasi dari ratusan pelari.

Biaya pendaftaran terbagi dalam empat kategori. Untuk peserta dari Indonesia, kategori 170K untuk early bird sejumlah Rp 1.100.000 dan untuk regular sejumlah Rp 1.300.000. Kategori 102K untu early bird sejumlah Rp 800.000 dan untuk regular sejumlah Rp 1.000.000. Kategori 70K untuk early bird sejumlah Rp 700.000 dan untuk regular Rp 850.000. Kategori 30K untuk early bird sejumlah Rp 350.000 dan untuk regular sejumlah Rp 500.000.

Tahun ini BTS Ultra 100 menyita sekitar 500-an partisipan dari 4 kategori tersebut. Seperti biasa, wajah-wajah familiar dari pelari pelari yang biasa mengikuti trail running muncul di event ini. Senangnya adalah bisa bertemu teman teman dari berbagai kota yang sebelumnya bertemu di race-race trail running juga.

BTS 70K

Setelah menjajal trek 30K tahun lalu, tahun ini saya mencoba menjajaki trek 70K. Beberapa bulan lalu saya mendaftarkan diri sebagai peserta BTS Ultra 70K. Trek asli sempet di skip tahun lalu karena Gunung Semeru sedang ditutup akibat cuaca yang kurang baik.

Dengan persiapan yang menurut saya “cukup” matang, ditengah kesibukan keseharian, saya begitu mantap untuk mengikuti kategory 70K. Saya mengambil pelajaran dari tahun sebelumnya di trek 30K yang otomatis juga akan dilewati oleh trek 70K. Trek jalur Semeru sudah begitu melekat didiri saya karena saya anggap Gunung Semeru adalah rumah kedua saya. Dengan bekal itu, saya semakin mantap mengikuti kategory 70K. Namun tidak lepas dari rasa deg-degan juga ketika menjelang hari-H, karena alam pegunungan tidak bisa ditebak.

BIB+Pemandangan Semeru menuju senja. Dok. Anindya Andhari
BIB+Pemandangan Semeru menuju senja. Dok. Anindya Andhari

Akhirnya hari itu datang juga, saya kembali lagi ke Bromo, Lava View Lodge tepatnya, untuk pengambilan racepack. Setelah pengambilan racepack, saya segera kembali ke homestay untuk persiapan perlengkapan nanti malam. Kedatangan saya disambut gerimis kabut khas Bromo. Udara dingin dan angin sepoi-sepoi yang membelai tubuh saya mengiringi rasa deg-degan untuk memulai race nanti malam.

Saltstick, makanan ringan, obat-obatan, jas hujan, headlamp dan segala persiapan saya cek ulang dan kemasi sore itu. Persiapan sebelum pengecekan mandatory gear nanti malam sebelum start. Setelahnya saya sedikit melepas lelah di tengah udara dingin Bromo. Tidur menjadi pilihan saya sore menuju malam itu. Tidak begitu panjang hanya tiga jam sebelum start.

Lava View Lodge

Tepat jam sembilan malam, kami mulai bersiap-siap, mandi, berkemas dan menggunakan seluruh atribut race, dan kami pun berjalan menuju Lava View Lodge, sambil sedikit pemanasan.

“Mbak emergency blanket? headlamp? Jas hujan? Obat-obatan?..” Kata mas-mas yang melakukan pengecekan mandatory gear di Lava View Lodge.

“Ada mas semua..check list beres” jawab saya.

Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB, sambil ngobrol dan persiapan, kami melakukan pemanasan ringan. Tidak lupa dibuka oleh secangkir kopi re-ramean untuk menghangatkan badan.

Pelari kategori 102K dan 70K mulai banyak berdatangan, bergerombol atau sendirian. Mereka pun melakukan pemanasan ringan seperti yang kami lakukan.

“Peserta 102K dan 70K diharapkan bersiap siap di dekat garis start…!” seru mas-mas panitia race dari jauh.

Kami pun segera mendekati garis start sambil masih melakukan pemanasan ringan. Seperti biasa, setiap race lagu Indonesia Raya dengan hikmatnya selalu dilantunkan, haru. lalu hitungan mundur 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1,,, Startttt..!

Selamat Datang Kembali di Rumah dengan Jarak 70 Kilometer di Depan Sana.

Suara riuh melepas keberangkatan pelari dini hari itu. Dengan disambut tanjakan dan udara dingin yang cukup menembus jaket, saya perlahan berlari di tanjakan ditemani cahaya headlamp di kepala.

Trek yang sudah cukup familiar bagi saya, seperti tahun lalu, hanya bedanya saat ini saya berlari malam hari. Sebenarnya saya sangat anti melakukan perjalanan malam hari, karena jujur saja fokus berkurang jika perjalanan malam hari.

Tanjakan panjang, lalu turunan, berbelok ke kanan ke kiri, kembali datar, lalu kami masuk ke turunan panjang. Di belakang saya ada Mbak Ayu dari Semarang Runner dan Digit, teman saya dari Indorunners bandung. Kami bersahut-sahutan mengabsen khawatir terpaut terlalu jauh. Turunan panjang, lalu kami masuk ke savana Bromo, dipandu marka bendera merah putih dan lampu berwarna kuning. Dari kejauhan di atas sana sudah terlihat kerlap-kerlip headlamp. Dimana kita? Selamat datang di B29.

Tanjakan B29, Jemplang, Desa Ranu Pane. Selamat Datang Kembali di Semeru

B29 pagi hari. Malam hari? Silakan bayangkan sendiri. Dok. Anindya Andhari
B29 pagi hari. Malam hari? Silakan bayangkan sendiri. Dok. Anindya Andhari

Perlahan-lahan saya menapaki B29 tanpa berlari, karena B29 adalah tanjakan yang cukup menguras tenaga. Bermodalkan headlamp dan trekpole saya terus bergerak ke atas. Sekali-kali berhenti menghela nafas. Sayangnya hari itu kebetulan saya “kedatangan tamu bulanan” yang sebenarnya cukup menguras tenaga, tapi ah hanya sugesti saja pasti bisa kok, ucap saya dalam hati. Saya terus menanjak perlahan menghabiskan tanjakan B29. Akhirnya setelah satu jam, saya sampai ke WS 1, mengisi ulang air minum.

“Mbak, jalannya landai tapi licin hati hati ya..” ujar mas penjaga WS Jemplang. Selamat datang di Jemplang. Headlamp saya setel ke cahaya yang lebih besar karena kabut datang cukup tebal dan cahaya headlamp memantul sehingga jarak pandang tidak begitu jauh.

Jalur jemplang tahun lalu sangat berbeda dengan tahun ini, treknya semakin jelek. Penuh lubang akibat motor yang sering melintas kesana, dan banyak genangan di dalam lubang tersebut. Harus ekstra hati hati dan tidak bisa berlari. Hanya jalan cepat satu-satunya pilihan malam itu. jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari, jalur hutan Jemplang terasa sangat panjang. Kangen aspal Jemplang deh rasanya.

Jarak pelari malam itu terpaut cukup jauh. Oleh karena itu saya menyesuaikan diri dengan pelari depan dan belakang untuk menghindari sendirian di jalur tersebut. Akhirnya sekitar pukul 03.30 WIB saya keluar dari hutan Jemplang.

“7015 masuk..” sambut Reza teman saya jadi bandrex yang bertugas malam itu.

Saya langsung melanjutkan perjalanan menuju jalanan aspal yang menurun, kabut semakin tebal, cahaya headlamp semakin minim, jarak pandang semakin pendek. Sesekali saya melewati dan dilewati pelari. Beberapa kali saya sempat ngobrol dengan pelari Makassar dan akhirnya bertemu mas-mas dari Surabaya yang sering sekali saya temui setiap race trail.

“Ayok neng aku ndisikan, udah telat dari perkiraan iki..” sautnya. Sekitar jam empat pagi saya masuk ke WS 2, Desa Ranu Pane.

“Mbak Roro ikut juga to?..” saya mendengar suara orang menyapa. Lha malem malem gini masih ada yang ngenalin saya, ujar saya dalam hati. Ternyata Wanda, teman lama saya mendaki.

“Eh Wan.. iya nih.. doain yaa..” ujar saya.

“7015 check in, monggo Mbak air minumnya diisi ulang. Ada air panas juga sama milo dan nescafe” kata mbak-mbak pencatat waktu di WS 2. Tidak lama di WS 2, saya langsung check out sekitar pukul 4 lebih 5-an.

Saya berjalan cepat menuju Ranu Pane. Udara khas dan desa yang begitu familiar dimata saya, Ranu Pane, selamat datang. Saya kembali berlari menyusuri perkebunan, dan tanjakan menuju Landengan Dowo, lalu menyusuri Landengan Dowo dengan berlari ringan, masih bersama mas-mas dari Surabaya yang saya lupa namanya, hehe.

Rasanya lelah sudah menghujam tubuh saya, beberapa biji kurma saya kunyah sambil setengah berlari. Pos 1 saya abaikan, lanjut ke pos 2, Watu Rejeng, jalur khas bebatuan. Di pos 3 sebelum Tanjakan Setan saya mendahului mas-mas dari Surabaya.

“Mas aku duluan ya, nyambi, nanti juga pasti kamu nyusul saya..” ujar saya

Tanjakan saya lewati perlahan namun konstan. Lalu jalanan landai menuju Ranu Kumbolo. sepanjang jalan saya mbrebes mili, rasanya lelah saya sudah di ubun-ubun. Enam jam sudah saya berlari menyusuri trek, lalu saya harus berusaha sampai di Kalimati sebelum COT (Cut Off Time) pukul 08.30 WIB nanti.

Ranu Kumboloooooooooooo! Tepat jam 6 lebih 5 saya sampai di WS 3. Cairan elektrolit lah yang pertama saya cari. Lalu saya mengambil bekal untuk perjalanan selanjutnya.

“Mbak saya langsung check out ya” ujar saya pada pendajaga WS 3.

“7015 check out…” sambutnya.

Seperti rute pendakian yang sering saya lewati, Tanjakan Cinta lalu menyusuri oro-oro ombo, dan memasuki hutan Cemoro Kandang. Sesekali saya melihat jam, setengah tujuh. Saya rasa masih sempat untuk sampai ke Kalimati sebelum jam setengah sembilan.

Lutut saya mulai meraung sesampainya di Cemoro Kandang. Beberapa kali saya berpapasan dengan pelari yang sudah turun dari Kalimati.

“Ayooo Anin semangat,,” sambut Iruh, teman saya.

Lalu beberapa lagi pelari yang juga teman saya berpapasan dengan saya, baik dari kategory 102K atau pun 70K. Tanjakan Cemoro Kandang juga bukan tanjakan main-main. Menuju Jambangan terasa jauhnya bukan main, sendirian. Kebetulan kemarin jalur pendakian Semeru tidak terlalu ramai karna bukan long weekend. Akhirnya Jambangan. Jam setengah 8 lebih 10 saya sampai di Jambangan.

Biasanya saya di Jambangan dengan memanggul keril segede gaban, haha hihi dulu sambil makan semangka dan gorengan, lalu foto-foto Puncak Mahameru dari kejauhan. Kali ini saya harus sangat buru-buru.

Kembali saya berlari, sambil berkata sendiri kepada lelah dan lutut yang sudah mulai meraung, sebentar lagi Kalimati kok, kalian harus kuat ya.

Kalimati

“Mbaaaak aniiinnn ayookk cepet diambil gelangnya trus kita lanjut lagi” Sambut Herdie yang sudah lebih dulu sampai di Check Point 4 Kalimati. Akhirnya jam delapan tepat saya sampai di Kalimati dan under COT. Segera saya ambil gelang di check point. Lalu beristirahat sembari jalan dan menikmati Mahameru dari jauh. Sempat berfoto bersama teman-teman yang sudah lebih dahulu sampai di Kalimati. Setelah beberapa saat menghela napas dan beristirahat kami melanjutkan berlari lagi. Kembali ke Ranu Kumbolo.

Saat turun, saya berpapasan dengan pelari yang masih berusaha mengejar COT di Kalimati.

“Semangat mbaak, mass..!” seru saya. Satu kata untuk mereka sangat berarti karena mereka akan kembali berjalan cepat ataupun berlari setelah disemangati. Saya baru benar-benar merasakan rasanya “power of semangat” disini.

Cemoro Kandang siang itu sepi, tidak seperti biasanya banyak pendaki yang beristirahat di bawah pepohonan rindang. Saya berlari menyusuri hutan Cemoro Kandang, menuju warung si bapak untuk Semangka yang kesegarannya tiada dua.

Waktu menunjukkan jam setengah 10. Saya kembali berlari menyusuri oro-oro ombo, lalu menyuruni Tanjakan Cinta dan akhirnya kembali ke Ranu Kumbolo, bertemu kembali dengan Mas Wahyu, Herdie dan Sam yang masih beristirahat di Ranu Kumbolo. Pop mie dan gorengan sempat saya lahap di rakum sambil beristirahat.

“Mbak 7015 check out lagi ya..” ujar saya sambil mengisi air minum pada mbak-mbak penjaga WS.

15 kilometer ke depan mulai dari savana teletubies dan jalur ayek-ayek tidak akan ada WS. Kami pun kembali berlari menanjaki jalur pinggir Ranu Kumbolo, lalu memasuki savana teletubies sebelum masuk ke jalur ayek-ayek.

Saya ingat betul terakhir kali saya melewati jalur ayek-ayek lima tahun yang lalu. Saat ini jalur ayek-ayek memang bukan untuk jalur umum karna hanya digunakan untuk jalur evakuasi. Jalur ayek-ayek menanjak konstan, batuan yang menjadi gerbang adalah penanda habisnya tanjakan ayek-ayek dan itu masih cukup jauh.

Di tengah jalur ayek-ayek rasa kantuk mulai menyerang. Apa daya, saya harus memaksakan diri beristirahat. Tidur 5-10 menit di pinggir jalur kembali bersama si mas-mas dari Surabaya dan mas-mas dari Malang. Dipaksakan terus berjalan cepat pun kondisi tubuh tidak akan stabil dan pasti gerakan semakin melambat. Setelah fresh sedikit saya melanjutkan kembali berjalan cepat bersama si mas-mas dari Malang sambil mengobrol. Tibalah saya di puncak ayek-ayek.

“Omaygaaatt.. this is fucking rute..!” ujar dua orang bule yang baru sampai dan sedang beristirahat di atas batu.

“Memang om, jalur ayek-ayek pendek tapi dahsyat” ujar saya dalam hati.

“Come on..” sapa saya kepada dua orang bule tersebut sambil berlari menuruni jalur ayek-ayek. Rasanya dengkul saya sudah mulai aus, haha. Dihajar tanjakan lalu turunan. Jalur ayek-ayek cukup panjang juga sebelum sampai di Desa Ranu Pane.

 

Jalur Pipa Warga yang Tersohor Kesadisannya.

Jalur pipa adalah jalur yang akan kita lewati setelah itu. Saat ini saya berjalan sendirian karena si mas-mas dari Malang dan Surabaya tertinggal di belakang. Patokan saya hanya mas-mas di depan, yap mas Sheva dari Madiun, bersama teman yang sudah terlebih dahulu di depannya, Mbak Ping. Menyusuri desa, masuk hutan yang sepertinya baru di bersihkan kembali jalurnya, masih banyak pohon bambu. Sampailah di tanjakan yang super dahsyat menanjak sekitar 2/3 kilometer lalu kembali dihadapkan dengan turunan dahsyat dengan pipa-pipa yang sudah tertimbun tanah.

Bermodalkan webbing yang terpasang di jalur tersebut saya perlahan-lahan menuruni jalur dengan telaten. Entah sudah seperti apa kotor di baju, karena saya memilih ngesot menggunakan pantat, sebab jika berjalan dengan kaki, saya khawatir tersandung dan terjatuh.

Saya kira setelah jalur pipa habis, akan langsung ditemukan dengan jalur aspal Jemplang. Ternyata saya salah. Saya masih memasuki desa demi desa, perkebunan demi perkebunan. Jauhnya kira-kira 5-6 kilometer.

Jika kawan-kawan ke Bromo bisa lihat sebelah kanan jalan di bawah, ada desa Ngada. Itulah desa yang kami lewati berliku-liku. Akhirnya kami mendengar suara kendaraan sayup-sayup dari jauh, yaaapp jalanan aspal jemplang, akhirnya..!

“Mbak Mas, dua kiloan lagi ya menuju Jemplang..” ujar bapak yang ada di jalanan tersebut.

Yap! Betul, 2-3 kilometer kami lewati dengan menanjak. Saya sudah kangen WS 5 rasanya ingin segera minum. Tanjakan panjang saya lewati dengan perlahan, begitu juga dengan pelari lainnya. Berjalan cepat. Saya rasa untuk berlari pun kami sudah tak sanggup.

WS 5 Jemplang dan Alarm untuk Segera Menyelesaikan 16 Kilometer (Lagi) di Lautan Pasir.

“Ayo mbak sini tak bantu isi ulang air minumnya. Kalo kamu mau lanjut harus sekarang di push, kecuali kalo setengah tiga tadi sampek sini. Kalo sekarang kamu harus benar-benar push di bawah sana, atau mau di evak nunggu kendaraan dari sini jam setengah empat nanti.” kata si mbak di WS 5.

Setelah air terisi penuh dan satu biji bakpau saya bawa, saya melanjutkan perjalanan dan  kembali berlari. Jam 3 kurang 10 saya mulai kembali berlari menyusuri jalanan aspal Jemplang yang tahun ini sudah diperbaiki, lalu mulai berlari di savana bukit teletubies. Udara tidak begitu panas, lautan pasir pun tidak begitu berdebu.

Saya terus berusaha setengah berlari dan berjalan cepat, tiba-tiba hujan datang. Terpaksa saya harus mengeluarkan goresek alias jas hujan keresek. Walaupun sebenarnya cukup pengap.

Saya masih terus menyusuri pasir berbisik. Lalu masuklah kami ke jalur tebing-tebing akibat erupsi Bromo. Berbeda dengan tahun lalu, jalur pasir berbisik tahun ini lebih dahsyat, tebing demi tebing kami lewati, lalu menanjak drastis dan menurun. Pasir yang padat agak sedikit menghambat ketika turunan.

Kira – kira seperti inilah jalur disana. Berbeda dengan tahun lalu. Rasanya saya hanya melewati tiga bukit dan menuruni satu bukit. Sekarang rasanya begitu panjang, karena ini adalah trek asli yang sebenarnya dalam rute BTS ultra 100.

Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Saya dan beberapa pelari lain masih berkutat dengan trek pasir yang harus dilewati dengan ekstra hati hati. Trek yang harus kami lewati tinggal tanjakan menuju tangga kawah Bromo lalu menyusuri trek pasir kembali untuk kembali ke finish line.

Saya rasa waktu sudah terlalu mepet untuk menyusuri tangga kawah Bromo. Akhirnya saya dan beberapa pelari lain memutuskan untuk langsung menyusuri lautan pasir. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Beberapa tukang ojek menghampiri kami, menawari jasa pengantaran sampai ke Lava View Lodge. Tapi kami tetap memilih menyelesaikan dengan berjalan cepat saja untuk kembali kesana.

Matahari sudah mulai tenggelam, hari mulai gelap, kami masih memilih untuk terus berjalan cepat selangkah demi selangkah sampai akhirnya kami sampai di aspal jalanan menuju Lava View Lodge.

Tepat pukul 18.30 WIB, saya dan beberapa pelari terakhir sampai di finish line. Alhamdulillah dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Setelah 18 jam 30 menit berlari, berjalan cepat, menanjaki, menuruni, ngesot-ngesot sepanjang trek.

Walaupun tahun ini kembali terulang seperti tahun kemarin, OVER COT 30 menit dari COT yang seharusnya, tapi saya merasa lega sudah bisa menyelesaikan apa yang saya mulai dengan sebaik mungkin.

Saya selesaikan sampai akhir, sampai kembali ke Finish Line dengan segala kemampuan dan tenaga yang saya punya. Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi.

Apa Yang Kamu Cari dari Trail Running?

Berlari di hutan atau trail running menurut saya merupakan sesuatu yang harus dipersiapkan dengan matang dan sungguh-sungguh, baik peralatan, fisik maupun mental. Dari lelarian kemarin begitu banyak pelajaran yang bisa diambil. Pelajaran bahwa masih ada yang mementingkan ego tanpa menghiraukan satu sama lain untuk mengejar sesuatu yang ingin dikejar. Tetapi masih banyak juga yang bisa meredam ego dengan menghiraukan satu sama lain untuk saling membantu di perjalanan.

Pelajaran bahwa kita harus mengenal betul bahasa tubuh kita, dimana kita harus berhenti dan dimana kita harus kembali berlari sekuat tenaga. Pelajaran bahwa manajemen waktu adalah sesuatu yang sangat berharga disaat berlari di alam. Pelajaran bahwa satu kata semangat adalah sesuatu yang sangat berharga untuk sesama.

Sampai jumpa lagi tahun depan, di kilometer yang sama, semoga dapat terselesaikan dengan lebih baik lagi.

OVER COT atau DNF merupakan sebuah keberhasilan yang tertunda. Pelajaran untuk lebih memanajemen tubuh agar lebih baik lagi. Bukan sebuah kegagalan untuk menyerah begitu saja. Sampai jumpa kembali Bromo Tengger Semeru Ultra 100 tahun 2017.

#marilari

#mariberbagi

 

Terima Kasih Banyak Untuk :

Keluarga besar Indorunners Bandung dan semua teman teman yang sudah mendoakan. Semua teman teman yang sudah meluangkan sedikit partisipasinya untuk berbagi dalam donasi  : berlari untuk anak indonesia

Dalam tulisan kali ini saya tidak banyak menampilkan foto jalur ataupun foto yang lainnya, karena sepanjang jalur Semeru saya rasa sudah terlalu sering berfoto disana. Sedangkan di jalur lain kondisi tidak memungkinkan untuk mengambil foto karna malam hari dan trek yang cukup waw menegangkan. Silahkan kalian bayangkan sendiri jalur jalur yang saya lewati atau mari kita coba bersama sama di BTS tahun depan. Salam sayang. [Anindya Andari/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    887
    Shares
Follow Anindya Andhari:

Penikmat alam, gunung, prosa dan kopi ! Regards. Anindya.

Komentar Pembaca