Mengurai Pentingnya Pemahaman Sadar Kawasan

Mengurai Pentingnya Pemahaman Sadar Kawasan

posted in: Destination, Otherside | 0

“Respek dan rasa hormat pada hutan dan lingkungan (seharusnya) dapat menjadi modal bagi kita dalam mengambil keputusan-keputusan yang berpihak pada kelestarian hutan dan lingkungan” – Abah Iwan

Kini, 71 tahun sudah kita memasuki kebebasan sebagai bangsa merdeka. Keringat dan darah bahkan jiwa rela dikorbankan untuk merebut sebuah arti dari kebebasan. Kita memang tak ikut berjuang dalam heroik genderang perang waktu itu. Kita cuma mendengar kemudian membayangkan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu, dan selayaknya kita menghormati walau ‘hanya’ sekadar memperingati sebuah upacara seremonial saja saban tahunnya.

Namun sebagai penggiat alam terbuka, sebenarnya tidak hanya sekadar memperingati secara seremonial saja yang bisa kita lakukan. Bukan dengan senjata kita ikut mengisi hasil yang telah dicapai oleh para pendahulu. Menempuh daerah-daerah terpencil lalu mengangkatnya sebagai informasi bagi pemerintah adalah sumbangsih yang besar. Kemudian membuka keterasingan suatu daerah atau masyarakat untuk kemudian disebarluaskan lewat media massa atau media sosial, mungkin lebih pas untuk kita lakukan.

Menjaga kelestarian alam yang tersisa karena terdesak oleh salah satu alasan pembangunan guna meningkatkan devisa negara, juga adalah salah satu bentuk lain dari sumbangsih yang bisa kita lakukan dalam mengisi kemerdekaan. Semuanya itu memang berawal dari hobby bercengkerama dengan alam, yang kemudian lambat laun timbul keinginan untuk lebih jauh lagi mengetahui dan mengenal tempat lain yang lebih terpencil dan sulit.

Di titik inilah awal mula dari sumbangsih kita sebagai generasi yang tak ikut secara langsung saat perang kemerdekaan. Rasa keingintahuan yang besar menjadi alasan semakin jauh pencarian yang dilakukan. Tanpa pamrih namun bermakna yang sangat dalam!

Sebagai sebuah negara, Indonesia diberi kelebihan dengan luas wilayahnya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan luas wilayah sebesar itu, ternyata masih banyak daerah yang belum terungkap. Keterbelakangan dan keterasingan, ternyata, masih mengungkung saudara kita di berbagai sudut pulau di tanah air ini.

Keingintahuan memang menjadi kunci bagi para penggiat alam terbuka untuk menyingkap itu semua. Namun terkadang dalam proses penyingkapan itu, tanpa disadari kita kerap melupakan adat istiadat masyarakat atau daerah yang kita datangi. Apalagi terkadang pembawaan “Keangkuhan” kita melupakan tata krama tak tersensor dalam setiap tindakan.

Bahkan bukan hanya sifat “keangkuhan” yang terkadang membuat segala rencana menjadi berantakan, namun aturan main yang mendasar pun kerap kita abaikan. Terkadang kita sendiri sebagai penggiat alam terbuka abai akan keberadaan alam yang menjadi arena kita bermain selama ini.

Kita kerap lupa, bahwa tak selamanya alam terbuka menjadi lokasi yang sah untuk bermain dan berkegiatan. Salah satunya, kita abai selama ini pada cagar alam! Ya, kita kerap lupa dengan cagar alam yang semestinya benar-benar harus dilindungi. Kita selalu berlindung di balik penyingkapan informasi akan suatu daerah atau alasan lainnya yang sekiranya bisa masuk akal, sehingga menjadi sah untuk dijadikan lokasi kegiatan alam terbuka.

Contohnya? Lihat saja Gunung Burangrang di Bandung, Jawa Barat. Gunung yang punya ketinggian 2.064 meter diatas permukasaan laut, adalah termasuk cagar alam. Ini dibuktikan dengan adanya Surat Keputusan Mentri Pertanian Nomor 479/Kpts/Um/8/1979, tanggal 2 – 8 – 1979.

Tapi lihatlah yang terjadi selama ini. Bukan suatu rahasia umum lagi, jika sampai saat ini Gunung yang terletak di kawasan Bandung utara (KBU) dan terpisahkan oleh sebuah lembah besar dengan Gunung Tangkuban Perahu itu, menjadi arena atau lokasi spesial dalam berkegiatan di alam terbuka.

Betapa banyak para pencinta alam yang menggunakan gunung tersebut sebagai lokasi Pendidikan Dasar dan Latihan (Diklatsar). Bahkan salah satu punggung di gunung tersebut menjadi lokasi yang bagus bagi para tentara yang tengah dididik menjadi Pasukan Khusus. Apakah pendidikan tentara itu sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang Cagar Alam? Apakah lokasi latihan perlu dievaluasi, mengingat, di satu sisi kita tentu juga mengetahui bahwa pendidikan tentara juga membutuhkan lokasi yang sesuai dengan karakter dan spesialisasi pasukan yang ingin dibentuk. Ini perlu dikaji kembali agar batas-batasnya dapat dibuat dan tidak melangkahi aturan perundang-undangan tentang Cagar Alam yang sudah ada. Inilah keironisan yang terjadi. Suatu aturan yang dipijak oleh berbagai kepentingan, tanpa mengedepankan respek pada Burangrang yang telah menjadi kawasan cagar alam.

Belum lagi kegiatan wisata lainnya yang lebih massif lagi seperti motor trail, bersepeda gunung, pendakian gunung, dan kegiatan wisata santai lainnya seperti piknik, camping ceria dan event-event hiburan yang dilakukan di lokasi Cagar Alam, yang sudah pasti seharusnya dilarang dilakukan di Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. Ini baru intervensi dari pendatang saja. Ada juga kegiatan yang melakukan pengrusakan secara langsung seperti penebangan pohon yang seharusnya mendapat tindakan tegas, bukannya pembiaran.

Padahal, dimana aturan yang membolehkan cagar alam dijadikan kawasan untuk berkegiatan di alam terbuka? Dalam konteks pengertian cagar alam jelas sudah, bahwa cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Cagar alam menjadi bagian dari dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh dilakukan di dalam area cagar alam.

Kawasan itu disebut cagar alam karena dalam kawasan tersebut dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Artinya, pengelolaan cagar alam sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Upaya pelestarian kawasan cagar alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan, inventarisasi potensi kawasan, dan penelitian serta pengembangan yang menunjang pelestarian.

Upaya pelestarian itu dilaksanakan dengan ketentuan larangan melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa. Dan termasuk dalam pengertian kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan kawasan diantaranya, melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan; memasukkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli kedalam kawasan; memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan; menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan. tumbuhan dan satwa dalam kawasan; atau mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa.

Suatu kegiatan dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud diatas, apabila melakukan perbuatan, memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan; atau membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan.

Sepertinya, pemahaman seperti ini yang belum secara gamblang disosialisasikan oleh instansi terkait seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat terkait pentingnya menjaga ekosistem di cagar alam.

Atau contoh lain adalah Gunung Rakutak, yang belakangan ini makin tenar karena kerap diposting di media sosial, baik Instagram, facebook atau medsos lainnya. Padahal jauh sebelum medsos hadir, mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu tentang Gunung Rakutak. Mungkin seputar para penggiat alam terbuka atau pencinta alam saja yang tahu.

Tapi sejak Gunung Rakutak di posting di medsos, banyak remaja dan masyarakat yang bertandang ke gunung tersebut. Persoalannya bukan masalah gunung itu menjadi tenar atau tidak, menambah PAD daerah setempat atau tidak, menjadi sumber ekonomi masyarakat setempat atau tidak, bukan itu persoalannya yang menjadi titik pembahasan.

Persoalannya adalah postingan kita di medsos, ternyata bisa menjadi penentu kelestarian di kawasan tersebut. Apalagi saat daerah yang kita posting itu adalah suatu cagar alam yang harus benar-benar dilindungi. Tak terbayangkan, saat kita posting suatu cagar alam dan kemudian keesokan harinya berduyun-duyun orang datang ke tempat tersebut, apakah lokasi tersebut masih pantas disebut cagar alam?

Saat flora di lokasi cagar alam tersebut dicabut keindahannya, ketika fauna di cagar alam itu terbunuh karena ulah manusia yang hanya untuk kepentingan individualnya, dan saat ekosistem di cagar alam tersebut terganggu keseimbangannya akibat tindak tanduk kita yang tak menghargai betapa pentingnya cagar alam itu harus dijaga.

Atas dasar berbagai keprihatinan itulah, beberapa belakangan ini muncul suatu gerakan atau aksi yang dinamakan Sadar Kawasan. Aksi ini bermula dari kesadaran akan pentingnya menjaga Danau Ciharus yang sudah masuk ke dalam kawasan cagar alam. Pentingnya menjaga ekosistem yang masuk cagar alam, harus benar-benar merasuki dalam roh dan jiwa para penggiat alam terbuka. Karena suatu hal yang kontradiksi jika kita yang menamakan diri penggiat alam terbuka atau pencinta alam justru berkelakuan sebaliknya dari makna nama tersebut.

Sadar Kawasan penjabarannya adalah sebuah pergerakan yang menitikberatkan kegiatannya untuk penyadar-tahuan bagi para penggiat alam bebas. Pergerakan Sadar kawasan tentu saja akan menjadi penyeimbang bagi para penggiat alam. Bahwa tidak semua tempat yang ada bisa dipergunakan untuk wisata.

Tapi memang itulah dilemanya, karena disini berbagai kepentingan bermuara dan berkelindan menjadi satu. Sisi lain, cagar alam harus benar-benar dijaga ekosistemnya dan ia hanya bisa dimasuki sebatas penelitian dan seputar itu. Namun di sisi lain, terbitnya SIMAKSI menjadi peluang bagi komunitas-komunitas pencinta alam untuk melakukan kegiatan alam terbuka di lokasi yang notabene adalah cagar alam.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan satu sama lain atau mengklaim ini sebagai kebenaran yang mutlak. Namun kita harus bersama-sama mengembalikan konteks “cagar alam” dalam posisi yang sebenar-benarnya. Memang, untuk kebenaran yang mutlak dikembalikan pada diri masing-masing: Apakah masih tetap “keukeuh” menjadikan cagar alam sebagai lokasi bermain atau menyadari sepenuhnya jika cagar alam adalah suatu kawasan yang harus dijaga buat generasi penerus nanti.

Bangga sebagai bangsa Indonesia memang bisa diwujudkan dalam sumbangsih dengan kegiatan alam bebas, sesuai skill yang kita miliki. Namun jangan sampai kebanggaan itu menjadi salah kaprah, saat kita menepuk dada di tengah lokasi yang sebenarnya adalah cagar alam, berteriak dan berpesta namun melupakan makna hakiki dari arti sesungguhnya pelestarian alam. Karena hakekat dari pencinta alam, penggiat alam atau apapun itu adalah pelestarian alam. Karena kita bukanlah perusak, tapi penjaga. [Febrialdi R/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1.1K
    Shares
Follow Febrialdi R:

Juga dikenal dengan nama pena Edelweis Basah. Penulis lepas sebagai kontributor di berbagai media cetak dan elektronik. Penulis buku novel Bara - Surat terakhir seorang pengelana terbitan Djeladjah Pustaka pada tahun 2016. Saat ini menetap di Kota Madinah, Arab Saudi.

Komentar Pembaca