Menjamu Biyung Indonesia Kala Berkegiatan di Jambi

Jogja, jikalau tak bisa bertandang ke kotanya, bertemu sahabat dari tanahnya pun tak apa”.

 Begitu mungkin kalimat satire yang cocok menggambarkan antusiasme saya bertemu kawan lama dari Jogja. Dari sudut pandang ikatan emosional, Jogja semacam rumah ideologis bagi saya. Tidak sekedar lokasi administratif, pemerintahan, orang, sejarah, budaya, destinasi wisata. Ada lebih banyak hal tak berbentuk yang lebih mengikat dibandingkan semua yang fisik dan materil itu . Namun lebih dari itu, sahabat yang akan saya temui ini memang orang yang pantas saya bela-belain untuk bertemu. Satu diantara semakin sedikit orang.

Bulan Maret lalu, saya mendapat pesan bahwa seorang kawan lama di Jogja akan berkunjung ke Jambi. Saya cukup shock sekaligus antusias membaca kabar tersebut. Kawan ini ada satu kegiatan di Kota Jambi dan menawarkan satu kemungkinan untuk bertemu.

Dalam benak saya, ini kesempatan langka. Saya pernah membuat satu kegiatan bersama dia dan timnya di Jogja. Hal ini membuat kami cukup intensif berkomunikasi untuk menyukseskan kegiatan bersama tersebut. Sejak itu komunikasi berlangsung secara alamiah hingga sekarang. Dalam kebanyakan kasus, saya lebih sering memposisikan kawan ini sebagai tempat bertukar pikiran, atau tempat bertanya soal hal-hal spesifik. Mungkin karena ada beberapa irisan dalam alur berpikir ataupun motivasi yang mirip, berkaitan pada hal-hal yang kebanyakan orang malas memikirkannya, misalnya seperti pembahasan tentang lingkungan yang lestari. Pembahasan yang dalam soal ini jarang sekali disukai apalagi dipahamui, oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang lebih mengedepankan versinya sendiri. 

Menurut penjelasannya, kawan ini akan berkegiatan di Jambi selama beberapa hari. Saya pun berpikir keras, apakah ada kemungkinan “menculik”  diselah kegiatan. Ternyata setelah dihitung-hitung kegiatannya padat, maka saya hanya bisa bertemu di tanggal 17 Maret, setelah dia off dari kegiatan.

Kawan lama ini adalah Mba Ani, begitu saya akrab menyapa. Saya mengenalnya di Jogja. Awal mula pertemuan terjadi saat saya mengajak jalan-jalan seorang bule Jerman yang sedang magang di perusahaan tekstil yang bekerjasama dengan Universitas di Jerman. Melina, seorang mahasiswi RWTH Aachen University yang sedang magang di Indonesia. Salah satu lokasi magangnya adalah pabrik tekstil di Jogja yang mengekspor pakaian ke Jerman. Kami mengajaknya ke beberapa tempat wisata di Jogja, misalnya Gunung Purba Nglanggeran dan Pantai Watukodok.

Pantai Watukodok dipilih karena pantainya masih asri.  Bermain-main di pantainya yang indah pasti akan membuat Melina senang. Salah satu kawan yang ikut membawa bule tersebut mengajak kami semua ke sebuah bangunan ikonik yang ada di pantai tersebut. Semacam sebuah pendopo di perbukitan. Itulah bangunan yang digunakan oleh Ocean Of Life Indonesia untuk berkegiatan. Disitu saya mengenal Mba Ani, Mas Bintang, dan timnya yang lain.

Dari situ, kemudian saya menjaga komunikasi dengan teman-teman di OLI hingga pada tahun 2014, saya melalui Travelnatic mengajak OLI untuk membuat Travel Writing Workshop. Lokasi pantai Watukodok yang indah dan tenang sangat cocok untuk workshop yang ingin saya buat waktu itu. Selain itu saya juga perlu partner kerja yang sesuai untuk menyelenggarakannya. OLI adalah partner yang potensial.  Singkat cerita, saya tetap berkomunikasi dengan Mba Ani hingga kini, meskipun sekarang saya sudah berada di Jambi.

Kini Mba Ani berkegiatan di sebuah usaha sosial tetap konsisten pada isu lingkungan, juga pada kesehatan reproduksi perempuan yang baginya sangat beririsan dengan persoalan lingkungan. Biyung Indonesia namanya. Mungkin saja kegiatan mba Ani melalui Biyung Indonesia ini merupakan implementasi dari Ekofeminis? 

Dari berbagai publikasi di media sosialnya, daat dilihat bahwa Biyung Indonesia tidak hanya membuat pembalut kain. Tetapi lebih dari itu sebenarnya Biyung Indonesia sedang menggerakkan sebuah isu penting : ekologi dan kesehatan reproduksi perempuan (ini pendapat saya sendiri). Dari media sosial Biyung Indonesia pula saya mengetahui bahwa mereka pernah berkegiatan di Papua untuk mengadakan workshop membuat pembalut kain untuk kelompok perempuan di 2 kabupaten Papua. Saya jadi ingat, bahwa salah satu point kegiatan kami dahulu di Watukodok, juga bersentuhan dengan kesehatan reproduksi perempun. Waktu itu, 20% dari uang pendaftaran Travel Writing Workshop didonasikan untuk sosialisasi kesehatan reproduksi perempuan. Jika hari ini Mba Ani berkegiatan serupa di Biyung Indonesia, saya melihat itu sebagai jalan konsistensi yang dilaluinya.

Melihat fakta bahwa Biyung Indonesia bisa saja membuat kegiatan yang jauh dari Jogja, maka saya pun berpikir suatu hari akan mengundang Mba Ani dan Biyung Indonesia  ke Jambi untuk membuat kegiatan berkaitan dengan isu perempuan. Ternyata, belum sempat rencana itu saya laksanakan, Mba Ani dan timnya telah terbang ke Jambi untuk berkegiatan membuat pembalut kain. Saya tambah penasaran, bagaimana prosesnya hingga beliau bisa berkegiatan di Jambi. Maka dari itu, ketika tiba-tiba Mba Ani menghubungi bahwa dia ada di Jambi, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Melalui aplikasi pesan whatsapp, kami mengatur waktu untuk bertemu hari Rabu, 17 Maret 2021. Waktu persisnya tentative karena harus menyesuaikan kapan kegiatan Mba Ani selesai. Namun, pastinya randezvous akan terjadi setelah shalat ashar sebelum maghrib. Saya bersiap berangkat dari rumah sekitar jam 10 siang. Jarak dari kampung saya ke Jambi sekitar 3 jam perjalanan. Saya tidak ingin terburu-buru dan masih perlu mempersiapkan beberapa hal, misalnya pesanan kopi dan pesanan tuak lokal, yang cukup membuat saya memutar otak. 

Bagian ini menyebabkan saya harus melewati jalur via Simpang Kiri. Jadi, untuk keluar ke jalan utama dari rumah saya, ada dua jalur yang bisa dilewati.  Via Simpang Kiri dan via pematang lumut. Kedua jalur ini beda dalam jarak dan wakti tempuh, serta beda pula medan yang di lalui. Jalur via Simpang Kiri cenderung offroad karena melewati jalan milik perusahaan. Setelah bertanya sana-sini, saya mengetahui bahwa di Simpang Kiri ada yang menjual tuak. Berbicara mengenai minuman beralkohol lokal, sebenarnya di Jambi ada berbagai macam. 

Namun dahulu sebelum pabriknya di tutup, merk Cap Macan cukup legendaris. Produknya bahkan dapat dijumpai di warung-warung lokal. Namun kini pabriknya telah ditutup karena minuman tersebut digunakan secara salah oleh konsumen dan yang menyebabkan hilangnya nyawa. Kini, minuman lokal yang masih bisa dijumpai yaitu Tuak Medan. Yap, kami biasa menyebutnya begitu karena sering dijumpai di lapau-lapau minuman milik orang Medan (Sumatera Utara). Minuman tuak medan ini dibuat dari fermentasi nira Aren atau nira Kelapa. Umumnya yang banyak beredar di pasaran terbuat dari nira kelapa. Hal ini karena pohon aren semakin sulit dijumpai dan tidak dibudidayakan secara terus-menerus. Rasa tuak medan cenderung asam dengan kandungan alkohol sedang. Tidak terlalu memabukkan jika diminum secukupnya saja. Apakah mba Ani berniat menjadikan tuak ini sebagai souvenir? Faktanya akan saya ketahui nanti setelah bertemu dengannya.

Jam 5 sore, saya baru tiba di Kota Jambi. Sembari menunggu pesan selanjutnya dari Mba Ani, saya mampir di Etalase Coffee milik Bang Ediyanto. Tempat yang sering jadi transit saya ketika berada di Kota Jambi. Saya pun memesan kopi Sanger. Sejenis kopi susu dengan espresso base yang menurut beberapa sumber merupakan metode penyajian kopi yang berasal dari Aceh.

Belum saya teguk kopi, pesan dari Mba Ani masuk. Beliau menanyakan posisi, tempat bertemu, dan rekomendasi makanan di Jambi. Saya pun langsung bertanya-tanya pada Bang Edi tentang makanan yang cocok untuk menjamu tamu jauh.

Saya teringat ke Soja Corner. Satu UMKM yang menjual makanan khas. Tapi bukan makanan khas Jambi, melainkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Saya salah satu pelanggan yang senang dengan makanan cireng yang dijual oleh Soja Corner. Tapi Mba Ani kan orang Jogja? Saya pun mencoba merekomendasikan Soja Corner dan mengirim menunya ke Mba Ani. Di menunya ada Gudeg, Cireng, Soto, dan beberapa lagi lainnya.

Meskipun saya sudah 3 tahun pulang ke Jambi, sesungguhnya saya tidak akrab dengan Jambi. Termasuk area dan tempat-tempat sentra makanannya. Bahkan pergi kemana-mana saya masih mengandalkan bisikan mba-mba di Google Maps. Kali ini saya cukup kesulitan mencari rekomendasi. Tapi Saya tidak mau mengecewakan tamu jauh yang baru datang ini.

“Ko ada rindu dengan masakan Jawa ka?” Balas Mba Ani begitu melihat menunya Cireng Soja. Ya, meskipun orang Jogja, Mba Ani dahulu besarnya di Papua. Saya pun akrab dengan bahasa ini. Jadi selama di Jogja dan berkomunikasi langsung dengan Mba Ani, kami kerap menggunakan logat Papua.

Bener juga. Kalau Mba Ani ditawari Gudeg, maka bukan mba Ani yang jadi tamunya, tapi saya. Pertanyaan beliau menyadarkan saya bahwa saya kangen Jogja. Tapi sekali lagi, untuk kali ini tamunya adalah Mb Ani, maka saya perlu cari lagi dimana tempat yang ada makanan khas Jambi, atau minimal khas Sumatera, selain warung nasi padang, yang tentu saja ada dimana-mana.

“Bang, apa di WUJBI ada makanan yang cocok buat menjamu tamu dari Jawa?” Saya tanya ke Bang Edi. Yang ditanyai juga tidak yakin apa ada makanan khas Jambi.

“tapi makanan taste Sumatera sepertinya ada beberapa. Misalnya seafood” tambahnya.

Akhirnya saya pun mengajak Mba Ani dan Tim Biyung ke WUJBI. Saya pun penasaran sama WUJBI. Tempat ini semacam sentra UMKM yang dibuat untuk memajang dan menjual produl UMKM di Jambi yang bermitra dengan Bank Indonesia Jambi. Nama WUJBI merupakan singkatan dari Wirausaha Jambi. Tempat ini di fasilitasi oleh Bank Indonesia Jambi sebagai bentuk kontribusi dari Bank Indonesia Jambi untuk mendorong tumbuh kembang UMKM di Provinsi Jambi. Di dalamnya ada berbagai produk misalnya olahan makanan seperti kopi dan olahan buah kering. Ada juga produk kerajinan tangan dan pakaian. Untuk menjamu pengunjung di WUJBI ada bar dan kitchen yang menyediakan berbagai menu F&B (food and beverage) lokal Jambi. Saya kira WUJBI cukup tepat untuk menjamu tamu spesial saya dari Jogja ini.

Selesai Maghrib, saya pun bertolak dari Etalase Coffee Jambi ke Hotel Luminor, tempat Tim Biyung Indonesia menginap. Kopi Sanger pun sudah saya seruput hingga tetes terakhir lalu saya pamit ke Bang Edi, pemilik Etalase Coffee Jambi. Sebenarnya Bang Edi juga menyarankan saya untuk mengajak tamu saya ini Ngopi di Etalase, namun karena di Etalase belum menyediakan makanan lokal, Bang Edi pun “legowo” tamu kali ini diarahkan ke tempat yang komplit saja seperti WUJBI.

Di Hotel Luminor, akhirnya kami bertemu. Mba Ani terlihat energik seperti saya terakhir bertemu di Jogja sekitar 3-4 tahun sebelumnya. Dia bersama seorang temannya di Biyung Indonesia, Tesa namanya. Kami pun segera ke Luminor diantarkan oleh abang driver yang khusus untuk kegiatan Biyung Indonesia. Di dalam mobil, Mba Ani menjelaskan bahwa Narasi TV, perusahaan media milik Najwa Shihab yang membawa Biyung Indonesia ke Jambi.. Kegiatan workshop membuat pembalut kain itu merupakan jawaban Narasi atas surat dari Beranda Perempuan (sebuah komunitas perempuan yang ada di Batang Hari, Jambi) kepada Najwa. Dari Jogja, Mba Ani datang bersama Mba Tesa, rekannya di Biyung Indonesia.

Setiba di WUJBI, suasana masih cukup sepi. Ada banyak bangku kosong yang bisa kami pilih. Pada awalnya kami memilih di dalam agar bisa mengobrol lebih nyaman. Namun begitu live music di mulai, ternyata suasananya tidak memungkinkan untuk mengobrol di dalam. Kami mencari ruang di dalam yang agak berjarak dari sound system, namun di ruangan dalam, suara sound system tersebar cukup merata. Akhirnya kami memilih untuk duduk di meja outdoor.

Obrolan mengalir bersama sajian yang terhidang. Dari bercerita soal kegiatan, kami beralih ke soal makanan di depan kami. Tampaknya menu yang dihidangkan cukup memuaskan tamu saya. Ekspektasi tentang makanan lokal cukup terwakili dengan berbagai pilihan menu. Meskipun menunya cukup umum seperti nasi goreng, sea food, namun pilihan isiannya dapat mewakili taste sumatera yang pedas, segar dan bersemangat. Saya pun lega mendengar testimoni dari tamu saya. Saya tidak salah pilih tempat. Mba Ani dan mba Tesa senang dengan makanannya. 

Beranjak dari WUJBI kami menyempatkan untuk mengabadikan pertemun itu dalam sebuah gambar. Abang driver harus rela mengambil posisi sebagai juru gambar.

Saya, Mba Ani (tengah) dan Mba Tesa di depan WUJBI. Dok. Abang Driver.

Menjelang jam 9 malam kami kembali ke Luminor. Saya dan Mba Ani meneruskan obrolan “nostalgia” dan obrolan tentang berbagai isu sentral yang sering kami bahas seperti isu lingkungan, pertanian, pariwisata, perempuan dan anak, dan berbagai hal lainnya. 

Salah satu isu penting yang kami bahas adalah tentang mental inferior yang sering disebut Bung Hatta sebagai mental inlander. Mentalitas ini merupakan warisan mutlak dari kolonialisme yang berlangsung beberapa generasi. Bisa dikatakan mental inlander merupakan efek langsung dan kronis dari ketertindasan yang telah sampai pada tingkat hilangnya harga diri sebuah bangsa, tidak hanya orang per orang. Efeknya sangat massif terlihat dan terasa dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kecenderungan ingin diakui, kecenderungan merasa rendah ketika berkompetisi dengan orang asing. Efek kolonialisme berupa rusaknya mental secara massif ini menjangkiti hampir seluruh lapisan masyarakat, baik yang berpendidikan (well educated) maupun yang tidak. Yang berpunya (have) secara finansial, maupun yang miskin papa (unhave). Sayangnya tidak banyak yang menyadari adanya penyakit ini dalam diri setiap orang Indonesia. Dan sayangnya lagi, setiap orang yang tidak menyadari dan tidak berusaha menyembuhkan diri dari penyakit mental inlander ini, terus mewariskan mentalitas ini pada generasi berikutnya.

“Sedangkan yang menyadari adanya mental sickness ini pun belum tentu bisa sembuh setelah berusaha sekian lama, apalagi yang tidak sadar” Ujar saya menggerutu.

Selain itu kami membahas cukup dalam tentang pertentangan antar generasi. Fokus utamanya adalah anomali sifat generasi Y dan Z yang gagal dipahami oleh generasi sebelumnya, yaitu generasi milenial dan generasi baby boom. Kami sepakat bahwa berharap perubahan mendasar tentang pembangunan yang lestari kepada generasi milenial dan baby boom, sudah tidak dimungkinkan lagi. Generasi kami  secara umum sudah menjadi bagian dari perusak tatanan alam semesta dan tidak mampu berbuat banyak untuk menahan hal-hal buruk.

Kami sepakat, harapan ada pada generasi Y dan Z yang cenderung terlihat radikal dan sporadis. Mereka ( gen Y dan Z) memiliki keterputusan generasi dengan generasi sebelumnya. Mereka cenderung tidak percaya dan skeptis terhadap apa yang telah dilakukan generasi sebelum mereka. Dan justru disitulah terdapat harapan.

Ya, harapan yang dibarengi rasa was-was luarbiasa. Mengingat keterputusan emosional mereka (Gen Y dan Z) pada generasi sebelumnya, dan tantangan dunia digital hari ini yang memiliki daya rusak sangat cepat dan massif, membuat pengamatan terhadap generasi Y dan Z cukup mendebarkan.

“Ternyata kamu melihat fenomena itu juga” Ujar Mba Ani.

“Iya mba, setidaknya ku amati cukup intens selama 3 tahun terakhir ini” jawabku. 

Kami mengambil beberapa contoh subjek di sekitar kami masing-masing dan mendapatkan satu konklusi sederhana.

Bahwa generasi Y dan Z adalah pemegang tongkat estafet untuk membuat perubahan mendasar yang gagal diwujudkan oleh generasi sebelumnya. Maka dari itu, generasi ini sangat perlu dijaga dari kerusakan. Meskipun komunikasi antara kami dengan gen Y dan Z terdapat gap yang sulit dijelaskan, namun setidaknya benang merahnya dapat tersampaikan dengan cara sebaik-baiknya. Naif memang, kita menyerahkan apa yang gagal kita selesaikan pada mereka. Sungguh tidak adil. Namun memang itulah yang terjadi.

Di tengah obrolan, kawan saya dari salah satu NGO di Jambi datang. Ayu namanya. Dia datang untuk mengambil pesanan kopi. Lumayan, kotak yang saya bawa jauh-jauh dari kampung akhirnya berkurang isinya. Saya memperkenalkan Mba Ani ke Ayu. Sayangnya Ayu tidak bisa ikut mengobrol lebih panjang karena dia sedang tidak enak badan. Padahal menurut saya seharusnya cukup seru menyaksikan Ayu dan Mba Ani mengobrol tentang topik lingkungan misalnya, atau tentang enpowering community seperti yang mereka berdua lakukan selama ini.

Obrolan kami berdua di lobi Hotel Luminor baru berakhir sekitar jam 11 malam. Rasanya waktu terlalu cepat berputar. Kami belum juga membahas topik seputar agrocomplex yang sangat membuat hopeless orang-orang unhave seperti saya. Belum juga membahas soal-soal lain lagi yang sama beratnya. Namun, waktu yang bergerak tak bisa dihentikan. Mau tidak mau obrolan harus disudahi.

Tidak akan cukup waktu sehari dua hari untuk deep corversation dengan Mba Ani. Saya sendiri masih punya banyak topik yang ingin saya tanyakan. Namun Mba Ani punya waktu terbatas di Jambi dan harus istirahat karena besok pagi Biyung Indonesia akan kembali ke Jogja. Malam sudah cukup larut. Mba Ani dan timnya masih harus packing untuk terbang pagi. Akhirnya kami pun berpamitan.  [Nurul Amin/End]

Bagikan artikel