Menjelajahi Curug dan Situ di Subang dengan Maps

Menjelajahi Curug dan Situ di Subang dengan Maps

posted in: Experience | 0

Menjelajahi Curug dan Situ di Subang sangat terbantu dengan adanya aplikasi maps yang diinstal di sistem android. Salah satunya Google Maps yang dapat memandu perjalanan bahkan memperhitungkan waktu tempuhnya. Di Pulau Jawa dan kota-kota besarnya, presisi Google Maps cukup dapat diandalkan. Dya Iganov dan kawan-kawan telah sering menjelajahi cugug dan situ di subang dengan bantuan aplikasi ini. Kali ini, penjelajahan Dya Iganov dan kawan-kawan berada di Kabupaten Subang. Mereka mencari Curug dan Situ yang ada di kabupaten tersebut.  Berikut ceritanya.

CURUG CINA

Berasal dari rasa penasaran saya semenjak Mei 2016 lalu, maka perjalan satu hari kali ini saya putuskan untuk mengunjungi Curug Cina di Kabupaten Subang. Informasi jalur hingga patokan-patokan menuju Curug Cina saya dapat dari teman yang sudah pernah berkunjung kesana beberapa minggu lalu. Mitra namanya. Setelah bertemu dengan tiga teman lainnya –Teh Yuni, Kang Eko, dan Dian- pukul 06.00 WIB di dekat Gasibu, berangkatlah kami menuju Subang. Lalu-lintas pagi ini menuju Subang masih sepi karena masih pagi. Kami tiba di Ciater sekitar pukul 07.00 WIB. Patokan pertama kami adalah persimpangan menuju Jalancagak dan Purwakarta.

Di Pasar Jalancagak, jalan yang kami lalui adalah yang menuju Purwakarta melalui Sagalaherang. Patokan yang diberikan oleh teman saya yang sudah pernah ke Curug Cina yaitu mlalui Desa Bunihayu. Karena satu dan lain hal, oleh beberapa warga, kami disarankan masuk melalui Batukapur. Setibanya kami di jalur menuju Batukapur, kami diberitahu bahwa jalan di dalam sedang dalam proses pembetonan. Kondisi jalan mulai dari aspal, aspal rusak, hingga batu dan tanah merah kami lalui sampai akhirnya jalan kami ditutup karena sedang dalam proses pembetonan.

Bapak yang menjaga portal awalnya menyuruh kami kembali ke jalur Bunihayu, karena tidak ada jalur alternatif terdekat menuju Desa Curugagung dari lokasi kami saat ini. Mengetahui jalur yang harus dilalui adalah kembali ke Jalur Desa Bunihayu, kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Sedari berangkat tadi kami belum istirahat. Mungkin karena melihat kami yang sedikit kelelahan, akhirnya bapak lainnya mengijinkan kami melintas dengan alasan para pekerja lainya belum datang. Kami pun segera melintas menuju Desa Curugagung dan tidak lupa berterima kasih.

Di Desa Curugagung kami sedikit kesulitan mencari patokan yang diberikan teman saya. Jalan yang kami lewati makin menjauhi permukiman. Kami putuskan untuk berhenti dan bertanya pada warga jalur menuju Curug Cina. Benar saja, jalurnya sudah terlewat. Kami hanya perlu berbalik arah dan menemukan SD Impres di sisi kiri jalan. Jarak menuju SD Impres yang dimaksud tidak terlalu jauh, namun masih belum ada tanda menuju Curug Cina. Kami kembali bertanya. Tepat di sebelah SD Impres terdapat jalan kecil, jalan itulah yang menuju Curug Cina. Akhirnya kami tiba di lapangan sepakbola sesuai yang diinformasikan teman saya, Mitra.

Kami memarkirkan motor di halaman masjid. Jalur berikutnya hanya dapat diakses dengan berjalan kaki. Setelah tiga puluh menit berjalan kaki, kami tiba di Curug Cina. Pagi itu, baru ada dua pengunjung selain kami berempat. Menurut ibu pemilik warung di Curug Cina, semakin siang akan semakin ramai, terutama hari Minggu. Cuaca cukup terik, volume air pun tidak terlalu besar, karena sudah dua hari tidak turun hujan. Setelah puas mengambil beberapa foto, kami memutuskan untuk beristirahat di warung. Tidak lama setelah kami tiba di warung, pengunjung lainnya mulai berdatangan. Benar saja, semakin siang menjadi semakin ramai.

Sambil beristirahat, saya dan teman lainnya mengobrol dengan ibu pemilik warung. Menurut ibu pemilik warung, nama Curug Cina ini diambil karena ada satu peristiwa yang terjadi pada zaman dahulu. Menurut kabar turun temurun, dahulu ada pemburu berdarah Tionghoa yang jatuh dari atas air terjun ketika sedang berburu. Pemburu dan anjing-anjing pemburunya meninggal di sekitar area Curug Cina. Sejak itulah, air terjun ini dinamakan Curug Cina. Terlepas dari kecelakaan yang terjadi di zaman dahulu, belum ada informasi lainnya mengenai nama dari Curug Cina.

Ibu pemilik warung pun mengatakan kalau lahan dan kebun di sekitar Curug Cina sudah bukan lagi lahan milik warga setempat. Lahan di sekitar Curug Cina sudah menjadi milik pribadi. Kedepannya, area di sekitar Curug Cina akan dikembangkan menjadi objek wisata. Saat ini memang tidak ada fasilitas apapun di sekitar Curug Cina. Warung ibu inipun hanya buka Sabtu dan Minggu. Jika pengunjungnya sudah sepi, ibu segera menutup warung.

 Tujuan kami memang hanya Curug Cina, tapi sayang rasanya kalau sekarang kami langsung pulang ke Bandung. Kami memutuskan untuk mencari alternatif tujuan wisata lain yang dapat kami kunjungi di sekitar Sagalaherang. Bermodalkan aplikasi peta pada hp, kami menandai setidaknya dua danau yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi kami saat ini. Ketika sedang menandai beberapa tempat, ada pesan masuk dari teman saya, Mitra. Tidak disangka, Mitra saat ini sedang berada di Sagalaherang. Tujuannya untuk mencari air terjun di dekat Curug Cijalu. Karena cukup sulit bertanya mengenai beberapa lokasi yang baru saja saya tandai di peta, Mitra memutuskan untuk menyusul kami ke Desa Curugagung.

Kami menunggu Mitra di masjid. Beberapa lokasi menjadi pilihan kami, termasuk Situ Love yang pernah didatangi Mitra beberapa minggu lalu. Saya yang memang sudah cukup lama penasaran dengan Situ Love, akhirnya spontan memberi ide untuk mengunjungi Situ Love. Dari beberapa pilihan lokasi, ternyata semua sepakat Situ Love menjadi tujuan berikutnya. Berhubung Mitra sudah pernah kesana dan tidak keberatan mengantar kami, Pukul 13.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Situ Love. Jalur yang akan kami lewati adalah melalui Kecamatan Dawuan.

SITU LOVE

Perjalanan menuju Situ Love dari Desa Curugagung merupakan jalur perlintasan truk pengangkut batu dan pasir. Jalan beton yang sudah mulai rusak dan berdebu harus kami lalui selama kurang lebih satu jam. Satu jam di tengah teriknya matahari dan kepulan debu dari truk yang tidak henti-hentinya melintas membuat tenaga saya terkuras. Jalur yang kami lalui mulai memasuki kawasan perkebunan pisang di area yang jauh lebih terbuka. Tenaga semakin terkuras, dehidrasi pun mulai terasa.

Setelah hampir satu jam perjalanan, kami berbelok menuju gapura lengkap dengan spanduk selamat datang di objek wisata Cadas Gantung, Desa Cisampih, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang. Situ Love sebenarnya memiliki nama resmi Situ Cisampih. Penyebutan Situ Love dikarenakan jika melihat danau ini dari ketinggian (bahkan dari aplikasi maps) bentuknya akan menyerupai hati. Nama Situ Love sendiri sudah tidak asing bagi saya. Banyak teman-teman saya dari daerah Purwakarta, Karawang, dan Subang yang sudah seirng berkunjung, bahkan sebelum seramai sekarang. Nama Cadas Gantung diambil dari tebing batu yang membentuk sebuah gua, tepat di sisi utara danau.

 Jalan masuk merupakan jalan makadam dan tanah merah. Kami cukup beruntung karena hujan belum turun selama dua hari disini. Jika datang ke Situ Love ketika musim hujan, sudah dapat dipastikan jalan berubah menjadi lumpur. Bahkan sepeda motor pun akan sangat sulit melintas di jalur ini. Saat hujan,  mungkin saja terjebak di kubangan lumpur.  Area di sekitar Situ Love masih berupa tanah kosong, kebun, dan tebing-tebing batu tanpa penerangan.

Kami memarkirkan kendaraan di warung terdekat. Situ Love siang ini ramai oleh warga yang memancing dan anak-anak yang berenang dengan ban sewaan. Sambil melepas lelah dan menghilangkan panas setelah ‘dijemur’ di jalur truk siang bolong, kami memesan minuman dan makanan. Sayangnya, makanan yang ada hanya lotek, karedok, dan mie instan.

Menurut informasi bapak pemilik warung, lokasi ini baru saja diresmikan menjadi objek wisata yang dikelola warga. Sebelumnya, lokasi ini bebas dimasuki siapa saja tanpa retribusi dan penjagaan dari warga. Lahan di sekitar Situ Love merupakan lahan milik pribadi. Pemilik lahan tidak keberatan jika lokasi tersebut dikembangkan menjadi objek wisata. Kedepannya, area di sekitar Situ Love akan dibenahi, mulai dari jalan, pos retribusi, hingga penambahan beberapa fasilitas pendukung wisata.

Tidak banyak yang dapat kami lakukan disini, karena tenaga kami sudah mulai habis. Kami segera mencari lokasi berikutnya yang dapat kami datangi sembari pulang. Pencarian kembali kami lakukan dengan melihat-lihat peta di hp. Saya menemukan satu danau tanpa nama di peta. Danau tersebut cukup luas, namun sama sekali tidak ada informasi nama danaunya. Bertanya pada bapak warung pun, katanya belum pernah mendengar ada danau di wilayah tersebut. Rasa penasaran saya pun semakin menjadi. Sepakat, tujuan kami berikutnya adalah danau tanpa nama tersebut.

SITU CIBOGO

Sekitar pukul 14.30 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju danau tanpa nama di daerah Desa Cibogo, Kecamatan Dangder, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dilihat dari rute yang akan kami lalui, jalur Sagalaherang – Dawuan ini akan tembus di Jalan Raya Kalijati – Subang. Jalur berikutnya yang akan kami lewati masih merupakan perlintasan truk. Perjalanan sedikit terhambat karena ban belakang motor teman saya bocor. Untunglah, kami menemukan bengkel. Ternyata, ban dalamnya sobek. Setelah tiga puluh menit, kami melanjutkan perjalanan.

Kami tiba di persimpangan Jalan Raya Kalijati. Patokan berikutnya yaitu Yonif Kala Hitam. Setelah melewati Yonif Kala Hitam, jalan masuk  ke lingkungan perumahan. Kami tiba di danau tanpa nama tersebut. Setelah berkeliling ke sisi kanan danau dan buntu, kami mencoba berkeliling ke sisi kiri danau.

Di sisi kiri danau terdapat kolam pemancingan. Kami pun memarkirkan motor. Salah satu warga yang mungkin heran dengan kedatangan kami, segera menghampiri. Dari bapak inilah kami memperoleh informasi mengenai danau tanpa nama ini. Danau ini merupakan danau buatan. Seluruh area danau merupakan bekas galian pasir dan pasir hisap. Kapan tepatnya mulai terisi air tidak disebutkan oleh bapak tersebut. Hanya kata “sudah lama sekali” dari bapak ini yang menjadi keterangan waktu.

“Danau Ayong” celetuk bapak lainnya dari kolam pemancingan. Ayong merupakan nama pemilik tambang galian pasir. Entah kenapa, rasanya kurang sreg dengan penamaan Situ/Danau Ayong, saya pribadi memutuskan untuk menyebut danau ini sebagai “Situ/Danau Cibogo”. Alasannya, karena lokasi danau buatan ini berada di Desa Cibogo. Di Kabupaten Subang, sebenarnya sudah ada nama Situ Cibogo, namun karena tidak ada penamaan resmi untuk danau ini, tidak apalah sementara saya sebut Situ Cibogo juga.

Kami meminta ijin untuk memarkirkan sepeda motor karena akan berkeliling ke seberang danau. Untuk menuju ke seberang danau. Sebenarnya bisa menggunakan sepeda motor, namun cuaca berubah menjadi mendung. Kami khawatir ketika di tengah perjalanan hujan turun. Jalan yang akan kami lalui adalah jalan tanah, jadi kami tidak mau ambil resiko terjebak lumpur jika tiba-tiba turun hujan.

Sisi lain Situ Cibogo dimanfaatkan oleh warga sebagai lokasi memancing, terpisah dari kolam pemancingan tempat kami memarkirkan sepeda motor. Selain eceng gondog yang banyak ditemui di sisi danau, ada juga tambak-tambak warga yang tersebar luas di seluruh danau. Karena sudah sore dan tidak mau terlalu lama mengganggu warga yang sedang asik memancing, kami pun berpamitan. Tujuan terakhir kami yaitu sebuah danau di tengah area permukiman di Desa Cinangsi.

SITU CINANGSI

Jarak menuju Situ Cinangsi tidak terlalu jauh. Jalur yang kami lewati pun merupakan jalan raya utama. Tidak sampai satu jam, kami sudah tiba di pinggir Situ Cinangsi. Situ Cinangsi adalah danau yang berada di tengah kawasan perumahan Griya Cinangsi Asri. Situ Cinangsi tepatnya berada di Desa Cinangsi, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kami tidak dapat mengelilingi seluruh area Situ Cinangsi dengan sepeda motor karena jalannya terputus.

Sekitar pukul 17.00 WIB, kami memutuskan untuk kembali ke Bandung karena langit semakin mendung. Kami baru tiba di Bandung pukul 22.00 WIB karena terjebak kemacetan di Dago Pojok saat perjalanan pulang. [Dya Iganov/End]

 

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    776
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar Pembaca