Menjelajahi Nagari Tuo Pariangan, Negeri Asal Orang Minangkabau

Menjelajahi Nagari Tuo Pariangan, Negeri Asal Orang Minangkabau

posted in: Destination | 0

Darimano asa titiak palito,

Di baliak telongnan Batali

Darimano asa niniak moyang kito,

Dari lereang Gunung Marapi

Sajak diatas apabila diartikan maka berarti :

Dari mana asal titik pelita

Dari balik telong yang bertali

Dari mana asal nenek moyang kita

Dari lereng Gunung Merapi

Pantun tersebut merupakan gambaran asal – usul nenek moyang masyarakat Minang. Apabila kita melihat pantun diatas, masyarakat Minangkabau berkata mereka berasal dari lereng gunung berapi. Yang dimaksud lereng Gunung Merapi adalah Nagari Pariangan. Ya, secara historis Nagari Tuo Pariangan merupakan daerah asal muasal orang Minangkabau.

Pertama kalinya saya mengetahui perihal Nagari Tuo Pariangan dari Wilma, teman saya yang bekerja sebagai travel guide di Istana Basa Pagaruyung. Tak hanya memandu di dalam Istana Pagaruyung saja, Ia juga biasa memandu tamu – tamunya yang ingin mengunjungi Nagari Tuo Pariangan. Pada kesempatan kali ini, ia bersedia menjadi pemandu bagi saya untuk menjelajahi Nagari tertua di Ranah Minang ini.

Akses menuju Nagari Pariangan ini sangatlah mudah karena lokasinya yang berada di tepi jalan yang menghubungkan Kota Batusangkar dan Kota Padang Panjang. Dari Kota Padang saya berkendara sepeda motor menuju ke lokasi. Perjalanan tidak sepenuhnya mulus karena saat melintasi Lembah Anai, hujan turun cukup lebat membuat saya lebih memilih berhenti terlebih dahulu. Usai hujan saya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampailah saya di depan gapura Nagari Tuo Pariangan. Tak lama kemudian Wilma pun sampai, ia membawa serta adiknya untuk ikut serta dalam penjelajahan ini.

Memasuki kawasan Nagari Pariangan, saya merasa diajak bernostalgia untuk mengenang kembali sejarah berabad-abad lampau melalui beberapa peninggalan bersejarah. Disini banyak bangunan – bangunan lama yang memiliki nilai sejarah seperti kuburan batu, peninggalan batu dari zaman mengalithikum, dan panorama alam yang memukau berupa sawah padi yang tumbuh subur bertingkat – tingkat.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Sawah Gadang Satampang Baniah dan Lurah Indah Baraia. Meski yang saya lihat saat ini hanyalah sepetak tanah yang ditumbuhi rerumputan liar, ternyata tempat ini memiliki cerita yang menarik dan berhubungan dengan kisah asal usul nenek moyang orang Minangkabau. Dalam tambo diceritakan, perahu yang mengantarkan rombongan Sri Maharajo Dirajo mendarat di Pulau Perca, tepatnya di puncak Gunung Merapi. Kemudian Sri Maharajo Dirajo dan rombongan turun ke darat. Sementara air laut pun beranjak surut.

Selang berapa lama kemudian rombongan Maharajo Dirajo turun ke sebuah tempat yang disebut Labuhansi Tambago. Jaraknya sekitar dua kilo meter dari Nagari Pariangan kearah puncak Merapi. Di tempat inilah untuk pertama kalinya rombongan itu menemukan sawah yang disebut sawah Satampang Baniah. Padi inilah yang kemudian menyebar keseluruh Minangkabau.

Dari Sawah Gadang Satampah Baniah, kami beranjak ketempat lainnya yaitu Balai Saruang yang dulunya merupakan tempat bersidang. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan adat dan kepentingan rakyat di musyawarahkan dibalai ini.

Dan inilah yang paling saya sukai selama berada di Nagari Pariangan yaitu menelusuri pemukiman di wilayah nagari ini. Permukiman ini bebukit – bukit sehingga dibuatlah jalan berbentuk tangga sebagai akses yang digunakan masyarakat untuk berlalu – lalang. Saya takjub melihat masih banyaknya peninggalan – peninggalan berupa rumah gadang yang telah berusia ratuhan tahun, namun sayangnya karena telah dimakan usia dan kurangnya perawatan, banyak dari rumah gadang yang saat ini kondisinya rusak berat.

Di bagian tengah nagari ini terdapat Masjid Ishlah. Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur dongson ala dataran tinggi Tibet. Hal ini bisa kita lihat dari bentuk atapnya yang lebih menyerupai bangunan – bangunan yang ada di dataran tinggi Tibet. Meski telah berusia ratusan tahun, masjid ini masih berdiri kokoh dan memberi pesona. Selain itu, bangunan masjid ini menggambarkan betapa majunya peradaban Minangkabau tempo dulu.

Berdekatan dengan Masjid Ishlah, terdapat pemandian berupa pancuran air panas. Tempat mandi dengan pemisah ruang bagi laki – laki dan perempuan itu memiliki dua pancuran di setiap biliknya. Tersedia pancuran untuk air panas dan air dingin. Warga disini menggunakan lokasi pemandian untuk keperluan sehari – hari, namun bagi pengunjung juga diperkenankan untuk mencoba sensasi air hangatnya yang sangat memanjakan tubuh.

Tepat di seberang masjid terdapat situs Prasasti Pariangan. Namun akibat perubahan cuaca dan kurangnya perawatan, permukaan batu dan prasasti mulai memudar, warnanya berubah, dan tertutup lumut. Pada situs tersebut pun tidak terdapat keterangan yang bisa dibaca oleh pengunjung. Karena minimnya kenikmatan, kami pun beranjak dari sana mencari tempat lain yang sekiranya menarik dikunjungi.

Dari banyaknya rumah gadang yang ada di Nagari Pariangan, ada satu yang menarik perhatian kami yaitu rumah gadang yang lokasinya berseberangan dengan makam panjang Tantejo Gurhano. Kedatangan kami disambut oleh seorang bapak yang saat itu sedang bersih – bersih di halaman rumah gadang itu. Bapak Syafroni namanya, beliau mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah yang telah dibangun sejaktahun 1938 ini. Walau sudah tua, rumah gadang ini tetap menampakkan keindahannya. Rumah gadang ini masih menyisakan kompleks rumah yang lengkap. Selain bak cuci kaki dibawah, di depan rumah gadang ini terdapat rangkiang yaitu tempat untuk penyimpanan padi. Terdapat tangga dua sisi untuk memasuki rumah ini.

Rumah ini tampak dibuat oleh orang kalangan atas, bisa dilihat dari pintu masuk kamarnya yang  terbuat dan berbentuk sangat indah. Pada pintu kamar terdapat kaca lukis yang menggambarkan merak dan bunga. Di ruang utama terdapat beberapa lemari yang menempel masuk kedalam bangunan, lemari tersebut disebut lemari lakek yang merupakan khas Pariangan.  “Rumah gadang ini rumah kebesaran saya dan kaum Suku Pisang di Nagari Tuo” kata Pak Roni. “Rumah ini berfungsi sebagai tempat musyawarah Suku Pisang” lanjutnya.

Puas mengetahui isi dan cerita tentang rumah gadang tersebut kami pun berpamitan kepada Pak Roni. Tujuan kami selanjutnya adalah Kuburan Panjang Datuk Tantejo Gurhano. Datuk Tantejo Gurhano merupakan tokoh arsitek pembuatan Balairung Sari Tabek. Ukuran kuburannya sangat panjang yaitu 25,5 m X 7 m sehingga terkenal dengan nama kubur panjang. Konon tiap orang yang mengukur panjang kuburan ini selalu mendapatkan hasil yang tidak sama.

Rasanya tidak lengkap jika berkunjung kemakam Datuk Tantejo Gurhano namun tidak mengunjungi mahakarya-nya, Balairung Sari. Kami pun memutuskan untuk segera kesana.

Bangunan Balairung Sari terbentang dari utara ke selatan, dengan ukuran panjang 48,24 meter dan lebar 3,40 meter. Bangunan ini secara keseluruhan terbuat dari kayu namun untuk atapnya terbuat dari bahan ijuk. Bangunan ditopang dengan tiang kayu sebanyak 36 buah yang setinggi 3 meter. Sedangkan tinggi panggung (lantai) adalah 1 meter. Bangunan ini memanjang dan tanpa dinding, tujuan dibuat seperti ini adalah agar penghulu yang mengadakan rapat dapat diikuti oleh masyarakat umum seluas – luasnya. Lantai panggung dibuat merata dari ujung utara ke selatan, hal ini menandakan Balairung Sari Tabek bangunannya bercirikan system Bodi Caniago. Padahal masyarakatnya tidak menganut system kelarasan tersebut. Masyarakat Nagari Tabek menganut system lareh nan Bunta. Jadi mereka tidak menganut system kelarasan Bodi Caniago maupun Koto Piliang. Pada zaman dahulu Pemimpin koto Piliang dan Bodi Chaniago ketika berdiskusi atau hendak bersidang memutuskan sesuatu dilakukan di Balairung Sari sebagai tempat yg paling netral. Hal ini menandakan bahwa, Balairung Sari Tabek merupakan wujud harmoni budaya bermusyawarah masyarakat Minangkabau.

Puas sekali rasanya bisa menjelajahi dan mempelajari tentang asal usul nenek moyang orang Minangkabau. Tak hanya sekedar perjalanan tetapi juga memberikan banyak pelajaran. [M. Catur Nugraha/End]

Penyunting : Ega Septian Anugerah

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    552
    Shares
Follow M Catur Nugraha:

Tinggal di Jakarta. Melakukan kegiatan traveling saat libur kerja. Penulis aktif di www.backangineer.com. Aktif dalam komunitas Backpacker Jakarta, Indonesian Mountains, dan komunitas D'travellers

Komentar Pembaca