Merayapi Pesisir Selatan Tanggamus

Merayapi Pesisir Selatan Tanggamus

posted in: Destination | 0

Provinsi Lampung terkenal memiliki kekayaan objek wisata pantai-pantai cantik dan menawan. Membentang mulai dari Kalianda hingga Krui. Satu dari sekian daerah di Lampung yang menyimpan keindahan wisata bahari adalah Kabupaten Tanggamus. Dua di antaranya adalah Pantai Karang Putih dan Karang Bebai masing-masing di Pekon Putih Doh dan Pekon Tenor, Kecamatan Cukuh Balak.

Mengunjungi Pantai-pantai Indah Tak Terjamah

Kami para penikmat kendaraan roda dua yang tergabung dalam Forum Nusantaride tergoda untuk mengunjungi pantai-pantai di pesisir Tanggamus. Kami berminat mengunjungi pantai-pantai ini karena masih alami dan kurang terjamah pengunjung. Butuh perjuangan ekstra untuk menjangkau pantai-pantai di pesisir Tanggamus, sebab jalan penghubung menuju pantai-pantai di pesisir Tanggamus relatif buruk. Sebagian badan jalan yang pernah diaspal banyak yang mengelupas meninggalkan bopeng dan lubang di sana-sini. Sehingga setiap pengunjung perlu tekad bulat dan usaha kuat demi mencapai lokasi.

Pantai Karang Putih dan Karang Bebai dapat diakses dari empat pintu masuk, yakni Gedongtaan, Pringsewu, Kotaagung, dan Padangcermin. Dari keempat pintu masuk, yang paling direkomendasikan adalah dari Gedongtaan dan Pringsewu. Kedua pintu masuk ini merupakan akses masuk termudah. Jalur yang kami pilih kali ini adalah yang melalui Pringsewu.

Kami memulai rute perjalanan dari Bandarlampung-Pringsewu-Ambarawa-Pardasuka-Limau-Cukuh Balak. Perjalanan menuju Pantai Karang Putih dan Karang Bebai memang membutuhkan perjuangan ekstra, tapi perjalanan menuju lokasi sungguh tidak membosankan. Sembari merayapi jengkal demi jengkal jalan, kita akan mendapat sajian alam begitu menawan. Sisi kanan-kiri jalan masih diapit hutan lebat. Suara jangkrik dan burung menjadi harmoni musik alam yang mengiringi sepanjang perjalanan. Sesekali kita dapat menjumpai beberapa ekor tupai melompat dan berlarian dari satu pohon ke pohon lain. Ada juga sekawanan kera hutan tidak jarang menyapa kita di tepian jalan.

Setelah menempuh perjalanan dalam tempo 2,5 jam dari Kota Bandarlampung, kami tiba di Pekon Putih Doh. Bangunan rumah warga di kampung ini sangat mencirikan perkampungan masyarakat Lampung yang berupa rumah panggung dengan pintu utama tepat berada di tengah bangunan. Pemandangan khas lainmya, yaitu kaum hawa baik remaja maupun dewasa kebanyakan masih mengenakan kain sarung dalam segala aktivitas. Adat budaya lokal tampak masih cukup terjaga di kalangan masyarakat Putih Doh.

Pantai Karang Putih Tanpa Sinyal

Lokasi pantai Karang Putih berjarak sekitar lima kilometer dari perkampungan. Jauh dari keramaian, sangat privat, tidak ada sinyal telepon seluler. Sehingga cocok untuk relaksasi sejenak membebaskan diri dari hiruk pikuk pekerjaan. Sekitar 500 meter sebelum mencapai bibir pantai kita akan melewati jajaran pohon kelapa yang menjadi payung peneduh alami.

Setibanya di tepi pantai pemandangan alam benar-benar menawan. Batu karang berwarna putih yang menjulang tinggi sekitar 15 meter menjadi ikon pantai yang berair jernih dan tenang ini. Tidak sulit untuk mencapai batu karang, sebab saat kami tiba, ketinggian muka air laut sedang surut. Ketinggian air pada saat itu hanya semata kaki. Air berkilau jernih. Jajaran batu karang bermunculan bak cendawan di musim hujan. Ikan-ikan berukuran kecil pun terlihat berenang di sekitar kaki.  Pantai Karang Putih benar-benar menawan sehingga sayang jika dikunjungi hanya beberapa jam. Maka demi dapat menikmati panorama ciptaan Tuhan, kami pun membangun tenda untuk bermalam.

Popok Bayi hingga Bungkus Mie di Pantai Karang Putih

Esok hari mentari bersinar sempurna. Kami segera berkemas. Sebelum meninggalkan lokasi, kami melakukan ritual bersih sampah. Tidak hanya sampah bekas bungkus makanan yang kami pungut, tetapi juga sampah-sampah yang tersebar di penjuru pantai, kami sapu bersih. Mulai popok bayi hingga bungkus mie, begitu banyak menumpuk di setiap sudut pantai. Sayang sekali jika lokasi yang indah penuh sampah. Selain bersih sampah, kami juga meninggalkan tiga buah tong sampah. Ada harapan para pengunjung tidak lagi membuang sampah di sembarang tempat melainkan di tempat sampah yang tersedia.

Kami melanjutkan perjalanan merayapi pesisir selatan Tanggamus. Kali ini kami ditemani Anton, seorang pemuda lokal yang berbaik hati mengantar kami menuju pantai yang tak kalah seksi, yaitu Pantai Karang Bebai.

“Ayok saya antar menuju pantai yang jauh lebih indah,” ajaknya seraya sedikit berpromosi.

Jalan menuju Karang Bebai yang terletak di Pekon Tenor jauh lebih buruk. Badan jalan didominasi batuan lepas dan tanah merah. Cekungan agak dalam bekas tapak ban truk muatan hasil alam dan kayu hutan menambah nuansa offroad. Agar tidak mudah tergelincir, kami mengurangi tekanan angin ban motor agar mendapat traksi lebih baik.

Tanjakan dan turunan menjadi sajian perjalanan. Hingga kami tiba di punggung bukit. Sejenak kami menikmati lukisan alam. Sejauh mata memandang terhampar garis pantai yang melengkung bak bulan sabit. Sangat indah. Beberapa waktu berselang kemudian Anton memberi isyarat kepada kami untuk melanjutkan perjalanan. Kami memacu laju sepeda motor agar lekas tiba di Karang Bebai.

Jalan masuk menuju pantai hanya berupa jalan setapak dengan kanan-kiri semak belukar berpadu dengan pohon kelapa. Dari kejauhan tampak barisan batu karang warna hitam yang menjadi ikon pantai ini. Benar-benar bak magnet yang membuat kami makin bersemangat menjangkau lokasi. Setiba di bibir pantai, keelokan Karang Bebai begitu nyata. Tidak hanya jajaran karang yang menjadi daya pikat, tetapi kejernihan air laut juga menjadi daya tarik tersendiri.

Saat laut surut, cekungan-cekungan batu karang membentuk laguna-laguna berisi air jernih. Asyik sekali untuk sekadar bermain air. Menurut Anton, pantai-pantai di Cukuh Balak berada di tanah milik perorangaan. Sehingga belum terkelola secara profesional.

“Pengunjung pun hanya ramai saat hari libur nasional. Itu pun pengunjung lokal,” kata dia.

Sementara pengunjung dari luar Cukuh Balak dan Tanggamus masih tergolong jarang. Anton menduga minimnya akses menuju lokasi menjadi masalah utama. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Pringsewu itu menaruh harapan besar pemerintah dapat segera memperbaiki akses jalan menuju Cukuh Balak agar aktivitas masyarakat dan daerah mengalami lompatan perkembangan yang signifikan. [Dewan Wahyudi/End]

Penulis: Dewan Wahyudi

Dimisili: Kebon Tebu, Lampung Tengah

Dewan Wahyudi adalah penggiat kegiatan traveling menggunakan roda dua dan tergabung dalam Forum Nusantaride. Hobinya yaitu mengeksplore tempat-tempat wisata di sekitar Lampung dengan roda dua, terutama lokasi-lokasi potensi wisata berakses sulit di sekitar Lampung.

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 298
  • 273
  • 265
  •  
  •  
  •  
    836
    Shares
Follow Dewan Wahyudi:

Berdomisili di Kebon Tebu, Lampung Tengah. Penggiat kegiatan traveling menggunakan roda dua dan tergabung dalam Forum Nusantaride. Hobinya yaitu mengeksplorasi tempat wisata di sekitar Lampung, terutama lokasi-lokasi potensi wisata yang sulit diakses di sekitar Lampung.

Komentar anda?