Museum Kereta Api Ambarawa Simpan Lokomotif Langka

Museum Kereta Api Ambarawa Simpan Lokomotif Langka

posted in: Destination | 0

Siapa sangka Indonesia masih mempunyai koleksi lokomotif F10 yang langka ini? Meski dulunya Indonesia berstatus negara jajahan dan tidak memproduksi lokomotif, namun kini kita justru hanya bisa melihatnya di empat negara, salah satunya Indonesia. Museum Kereta Api Ambarawa yang menyimpan koleksi tersebut kini merupakan saksi dan pelaku sejarah perkeretaapian dunia.

Siapa yang tidak tahu museum kereta api terbesar di Asia Tenggara yaitu Museum Kereta Api Ambarawa di Semarang – Jawa Tengah. Museum kereta api ini  memiliki koleksi kereta api lokomotif uap yang dibuat pada awal abad 20. Kereta api uap sendiri merupakan cikal bakal kereta api modern yang ada sekarang.

Dulunya Museum Ambarawa bernama Stasiun Willem I pada jaman Kolonial Belanda. Kemudian dialihfungsikan sebagai museum pada tanggal 6 Oktober 1976 dengan tujuan untuk melestarikan kereta api lokomotif uap yang sudah tidak dapat difungsikan kembali. Salah satu koleksinya bernama F10, jenis lokomotif ini hanya dapat dijumpai di empat Negara yaitu Indonesia, Jerman, Swiss, dan Perancis. Lokomotif ini memiliki panjang total 13.880 mm, lebar lok 2.506 mm, tinggi maksimal 13.880 mm lebar sepur 1.067 mm dan diameter roda penggerak 1.102 mm.

Sebanyak 28 buah lokomotif F10 dibeli oleh Staats Spoorwegen (SS) dari dua pabrik yang berbeda di tahun 1912-1920. Sebanyak 18 lokomotif dibeli dari Hanomag Hannover (Jerman) dan 10 lokomotif dibeli dari Werkspoor (Belanda). Dengan 6 penggerak yang dihubungkan menjadi satu poros. Lokomotif jenis ini dapat menjelajah rel dengan radius tikungan minimal 150 meter di daerah pegunungan. Namun roda penggerak pertama memiliki tingkat keausan yang tinggi sehingga SS memindahkan ke rute Purwokerto – Prupuk dan Jember – Surabaya – Blitar – Malang yang radius tikungannya lebih besar.

Untuk memenuhi kebutuhan angkutan batubara Sumatera Barat, maka 5 lokomotif  F10 dipindahkan dari Jawa ke Sumatra Barat. Saat ini hanya tersisa dua buah yaitu F1002 dan F10015. Lokomotif F1002 dipajang di Museum Ambarawa Jawa Tengah, sedangkan lokomotif F1015 dipajang di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Selain itu ada juga Lokomotif B52 dengan series B5210. Lokomotif ini difungsikan sebagai angkutan hasil bumi. Perusahaan kereta api swasta Semarang, Cheribon Stootram Maatschappij (SCS) membeli lokomotif uap B52 sebanyak 27 buah dari pabrik Hartman (Jerman). Lokomotif ini didatangkan secara bertahap pada periode tahun 1908-1914.

SCS membangun jalur kereta api pada tahun 1897-1914 sepanjang 373 km yang menghubungkan Semarang Poncol – Pekalongan – Tegal – Cirebon – Kadipaten. Wilayah jelajah lokomotif B52 melalui rute Tegal – Prupuk – Purwokerto. Selain melayani penumpang, lokomotif uap ini mengangkut barang dari pabrik gula yang berada disepanjang pantai utara Jawa dari Majalengka hingga Semarang. Lokomotif ini memiliki panjang total 11.650 mm, lebar sepur 1.067 mm, lebar lok 2.460 mm, tinggi maksimal 3.600 mm, jarak antar perangkai 11.650 mm, dan diameter roda penggerak 1.050 mm.

Perkeretaapian Indonesia  sendiri akhir-akhir ini telah mengalami banyak perkembangan. Beberapa diantaranya yaitu :

Tahun 2013, Kereta Api Bandara Pertama di Indonesia beroperasi. Sejak 23 Juli 2013 untuk pertama kalinya Indonesia memiliki layanan transportasi kereta api bandara yang menghubungkan Stasiun Medan dengan Bandar Udara Kualanamu. Layanan tersebut diluncurkan bersamaan dengan peresmian Bandar udara international Kualanamu. Operasional kereta api diselenggarakan oleh PT.Railink, salah satu anak perusahaan dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang merupakan hasil kerjasama dengan PT. Angkasa Pura II (Persero). Sebagai layanan transportasi khusus, kereta api bandara menjadi tonggak sejarah sekaligus awal dari penerapan standar pelayanan untuk kemudahan para penumpang pesawat di bandar udara lainnya.

Tahun 2014 dilakukan pembangunan jalur ganda kereta api di Sumatera Selatan dan jalur ganda lintas utara di Pulau Jawa. Pada tanggal 9 Juni 2014 di Stasiun Karupati Sumatera Selatan, Menteri BUMN Dahlan Iskan meresmikan jalur ganda (double track) sepanjang 22 km antara Stasiun Prabumulih dan Niru serta 11 stasiun baru.

Jalur ini hanya bagian kecil dari total sekitar 228 km antara Prabumulih dan Tarakan, Sumatera Selatan serta 38 km jalur ganda yang menghubungkan Stasiun Muaraenim dan Stasiun Lahat. Jalur kereta ganda diharapkan memperlancar pengangkutan penumpang dan barang khususnya batu bara, karena lintasan kereta barang dan penumpang terpisah. Sebelumnya, bila terjadi pertemuan dua kereta api maka salah satu kereta api harus menunggu sampai kereta api yang lain melintas. Namun setelah dibangun jalur kereta ganda tidak ada lagi saling menunggu.

Menyusul Sumatera Selatan, kereta api lintas utara Jawa pun menggunakan jalur ganda (double track). Jalur tersebut diresmikan pada 3 September 2014. Jalur ganda sepanjang 727 km mengular di jalur Jakarta – Surabaya. Waktu tempuh kedua kota itupun menjadi lebih singkat. Pembangunan rel ganda itu dibagi dalam empat segmen yaitu Cirebon – Brebes  63 km, Pekalongan – Semarang 90 km, Semarang – Bojonegoro 180 km, dan Bojonegoro – Surabaya 103 km, sisanya 291 km Jakarta-Cirebon mengikuti jalur yang sudah ada. Pembangunan jalur ganda tersebut menggunakan sumber daya manusia (SDM) dalam negeri dengan melibatkan 6,3 juta orang.

Pada tahun 2015 dilakukan revitalisasi Museum Kereta Api Indonesia – Ambarawa. Pembangunan dan pengembangan Museum Kereta Api Indoneisa tahap pertama dimulai 23 Oktober 2011 dengan pekerjaan fisik seperti perbaikan tender air, area dipo dan pemasangan batu candi untuk pedestrian. Sedangkan pembangunan tahap II dimulai pada pertengahan tahun 2014 hingga tahun 2015. Pada proses pembangunan tahap kedua museum sudah memiliki wajah baru. Penampilan baru itu terlihat dari tata letak koleksi, dan pemberian kanopi untuk koleksi lokomotif uap, kereta dan gerbong bersejarah. Sedangkan untuk bangunan fungsinya dikembalikan dengan nuansa tempo doeloe.

Kembali lagi ke Museum Ambarawa. Disini terdapat kereta wisata yang masih aktif sampai saat ini dengan tujuan Ambarawa – Tuntang. Lama perjalanan pulang pergi sekitar 1 jam. Jadwal pemberangkatannya hanya ada pada hari minggu dan libur nasional yaitu pada pukul 10.00, 12.00 dan 14.00.  Sayang saya kehabisan tiket padahal pasti seru mencoba menikmati kereta uap jaman kolonial dulu. Tidak perlu sedih kalau tidak bisa menikmati kereta wisata, pengunjung juga bisa melihat-lihat koleksi kereta yang ada. Sambil melihat-lihat, pengunjung juga dapat mencoba menumpangi dan berfoto diatas kereta. Walaupun tidak bergerak setidaknya pengunjung dapat menikmati suasana di dalam kereta yang tentunya jauh berbeda dengan kereta komersial saat ini.

Persis di sebelah kereta yang dipajang terdapat penjelasan kereta-kereta tersebut. Sehingga dapat menambah wawasan pengunjung khususnya tentang perkertaapian Indonesia. Misalnya saja saya menjadi mengerti kenapa bahasa jawa nya kereta adalah spoor ini berasal dari nama pabrik sebuah perusahaan kereta api di Hindia Belanda yaitu Staatsspoorwegen (SS). Staatsspoorwegen dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah Hindia Belanda, pendahulu PT.Kereta Api Indonesia dan pesaing dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij. Bagi kalian yang sedang berkunjung ke Semarang jangan lupa mampir kesini yah. [Elysa Rosita/End]

 Penyunting : Nurul Amin

 

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    539
    Shares
Follow Elysa Rosita:

Muslimah. Bungsu. Trip Maker

Komentar Pembaca