Mengunjungi Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Mengunjungi Museum Perumusan Naskah Proklamasi

posted in: Otherside | 0

 

Sebagai bangsa Indonesia, kita tentu tidak boleh melupakan peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di negeri ini, dimana para pahlawan dengan gigih berjuang melawan penjajah demi meraih kemerdekaan . Selain peristiwa bersejarah, kita juga perlu mengetahui tempat dimana peristiwa bersejarah itu terjadi.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi dapat menjadi salah satu destinasi untuk mengenalkan kita terhadap bagian dari peristiwa bersejarah tentang kemerdekaan Republik Indonesia.

Rumah Laksamana Maeda sekarang dijadikan sebuah museum yang dapat di kunjungi oleh para wisatawan yang ingin mengetahui tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. Di dalam museum tersebut kita disuguhi berbagai macam foto serta narasi tentang sejarah proklamasi tersebut. Penataan perabot di dalamnya di sesuaikan sehingga hampir menyerupai aslinya dan miniatur patung para tokoh untuk memperjelas situasi. Pengunjung juga dapat menonton pemutaran film pendek terkait tentang perumusan naskah proklamasi. Tempat ini sangatlah cocok jika kita mengajak anak-anak untuk belajar mengenal sejarah di Indonesia.

Gedung yang didirikan sekitar tahun 1920-an oleh arsitek Belanda J.F.L Blankenberg ini bergaya arsitektur Eropa (Art Deco). Di atas tanah seluas 3.914 m2 berdiri bangunan seluas 1.138,10 m2. Pada tahun 1931 gedung ini dimiliki oleh PT. Asuransi Jiwasraya. Ketika Perang Pasifik pecah, gedung ini dipakai British Consul General sampai Jepang menduduki Indonesia.

Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang.

Di Gedung ini pula Soekarno-Hatta beserta para pemuda merumuskan naskah Proklamasi yang kemudian dibacakan di halaman rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Sementara Gedung ini berada di Jalan Imam Bonjol No.1 Jakarta Pusat.

Berikut ini merupakan kronologi peristiwa perumusan naskah proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Perang Dunia II dengan jatuhnya sebuah bom atom yang meluluhlantahkan kota Hiroshima dan Nagasaki, kasak-kusuk kemerdekaan Republik Indonesia mulai tercium. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Setelah golongan muda (Sultan Sjahrir, Wikana, Darwis dan Chaerul Saleh) mendengar kabar dari radio BBC bahwa Jepang telah bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru.
Pada malam hari tanggal 15 Agustus 1945 bertempat di kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta, berlangsung debat serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Para pemuda menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Setelah berunding, Hatta menyampaikan keputusan bahwa usulan para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan itu para pemuda tidak puas dan mengambil kesimpulan menyimpang untuk menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh tersebut dari pengaruh Jepang.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan langsung menuju kediaman Laksamana Maeda untuk menagih janji atas kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi terjadi perdebatan tentang status quo.
Di ruang makan Laksamana Maeda menjelang tengah malam, rumusan teks Proklamasi yang akan di bacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan, kemudian di salin dan ketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Herman Kandeler.
Pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 04.00 yang juga bertepatan dengan bulan Ramadhan, Soekarno membuka pertemuan dini hari. Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan penandatanganan teks Prokalamasi dilakukan bersama-sama selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran itu diperkuat oleh Mohammad Hatta  dengan mengambil contoh pada “Declaration of Independence” Amerika Serikat, namun usul itu di tentang oleh kaum muda yang tidak setuju dan menganggap bahwa kaum tua merupakan budak-budak Jepang. Sukarni kemudian mengusulkan agar penandatanganan naskah Proklamasi cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni pun diterima oleh hadirin.
Pada pukul 05.00, para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda. Mereka sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu juga di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00

Upacara pembacaan teks Proklamasi berlangsung sederhana. Dengan suara mantap dan jelas Soekarno menyampaikan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.

“Saudara-saudara! Dengan ini menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami :

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945.

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/Hatta.”

Peristiwa besar itu telah terjadi di negeri kita tercinta, Indonesia. Peristiwa tentang kemerdekaan Republik Indonesia yang perubahannya dapat kita nikmati sampai saat ini.

“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” kata Bung Karno.

Itu merupakan sebuah ungkapan yang pernah dikatakan oleh Soekarno dalam pidatonya pada saat upacara HUT kemerdekaan RI.

Mengenalkan sejarah kepada putra-putri penerus bangsa adalah suatu keharusan. Agar para generasi bangsa kita dapat mengetahui, menghargai dan menjaga apa yang sudah menjadi milik bangsa ini. Bahwa kemerdekaan tidak diperoleh dengan cara yang mudah. Untuk menjadi bangsa yang merdeka seperti saat ini, para pejuang bangsa rela mempertaruhkan nyawa. [Mia Kamila/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Follow Mia Kamila:

Tinggal di Semarang. Aktif berkegiatan traveling dan komunitas di Semarang. Pemilik www.jejakjelata.com

Komentar Pembaca