Menyeberang ke Negri Saleman – Maluku Tengah

Menyeberang ke Negri Saleman – Maluku Tengah

posted in: Experience | 0

Pelabuhan Laut Tulehu siang itu mulai ramai, terlihat calon penumpang berdatangan memadati ruang tunggu. Pelabuhan ini masih berada di wilayah Pulau Maluku dan merupakan jalur penyeberangan menuju Kota Masohi di Pulau Seram. Saya segera antre di depan loket penjualan tiket kapal bersama calon penumpang lainnya.. Menurut informasi waktu tempuh perjalanan diperkirakan sekitar empat jam. Harga tiket berkisar Rp.125.000/orang, agak mahal menurut saya, tetapi harga tersebut sebanding dengan armada kapal cepat yang cukup bagus.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, di sini saya berkenalan dengan Aziz, pemuda asal Pulau Seram yang sedang menyelesaikan kuliah di Universitas Pattimura di Kota Ambon. Lewat obrolan santai, Aziz mengatakan bahwa dari tadi dia memperhatikan tampilan saya yang terlihat seperti petualang, khas dengan ransel besar di punggung. Dari Aziz pula saya disarankan untuk menginap saja di Rumah Singgah Backpacker di Kota Masohi, lumayan hemat ongkos. Begitu katanya.

Tak lama kemudian kapal yang saya tumpangi perlahan beranjak meninggalkan pelabuhan. Selama di perjalanan saya disuguhi dengan pemandangan laut dan pulau yang membuat mata seakan tidak mau berkedip, indah sangat! Di kiri kanan nampak pulau-pulau yang menghiasi Laut Molluca, seperti Pulau Latu, Pombo, Saparua dan beberapa pulau kecil lainnya.

Tiga jam berlalu. Laut yang sebelumnya tenang berubah menjadi gulungan ombak besar setinggi hampir tiga sampai empat meter menghantam badan kapal. Saya yang duduk di bagian paling atas kapal mulai merasa pusing kepala, disertai goyangan kapal yang sangat terasa. Tapi saya lihat penumpang lain di dekat saya malah santai-santai saja, bahkan ada di antara mereka sedang bercanda, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Sudah biasa seperti ini Bang, sebentar lagi kita sampai di Pelabuhan Amahai”, ujar Aziz yang duduk disebelahku.

Benar apa yang dikatakan Aziz, selang beberapa saat kemudian laut kembali tenang. Di depan mata nampak garis-garis pantai dan pelabuhan lautnya, sebagai pertanda kapal akan segera sampai di pelabuhan Kota Seram.

Seiring datangnya senja, kapal cepat ini segera merapat di Pelabuhan Amahai. Saya bersama Aziz bergegas turun dari kapal menuju ke terminal kecil di depan pelabuhan. Nampak kendaraan angkutan umum dan tukang ojek memenuhi area terminal kecil ini sambil menawarkan jasa kepada para penumpang.

“ Dari sini kita naik angkutan umum saja Bang, dan turun di Terminal Kota Masohi.Terus kita lanjutkan jalan kaki saja ke Rumah Singgah Backpacker”,ujar Aziz kembali mengingatkanku.

“Baiklah”, balasku singkat.

Kami menumpang angkutan umum menuju terminal di Kota Masohi dengan tarif Rp. 20.000/orang. Sampai di Terminal kami jalan kaki, cukup jauh juga tempatnya. Menyisir gang yang diapit rumah-rumah penduduk. Selang beberapa saat kemudian saya dan Aziz sampai di rumah ini, rumah semi permanen berdinding kayu. Setelah bersalaman dengan penghuninya kami tenggelam dalam obrolan, seperti layaknya sahabat lama yang baru saja berjumpa kembali. Ternyata malam itu juga ada tamu rombongan dari Jakarta, yang baru saja menyelesaikan pendakian di Gunung Binaya, tanah tertinggi di Kepulauan Maluku.

Rumah Singgah Backpacker ini juga berfungsi sebagai tempat transit bagi para pendaki gunung yang akan menjajal Gunung Binaya. Biasanya dari sini para pendaki mendapatkan informasi tentang lama perjalanan, tour guide, dan informasi penting lainnya sebelum memulai pendakian.

Jika sahabat ingin berpetualang ke Pulau Seram, ada baiknya singgah dan sekalian menginap di tempat ini. Hitung-hitung bisa hemat pengeluaran untuk biaya penginapan. Jangan ragu, anak-anak muda pengurus rumah singgah ini baik-baik kok. Kita juga bisa sekalian diajak berkeliling oleh mereka, sembari melihat keindahan alam di salah satu pulau cantik di Provinsi Maluku ini.

Berikut nomor telpon pengurus Rumah Singgah Backpacker “Kompas Masohi” :

  • Ibrahim, Ketua Kompas Masohi { 082238146623 dan 082199204042 }
  • Abas { 082312617420 }

Selain di Kota Masohi sebagai basecamp, para pengurus Kompas Masohi juga tersebar di beberapa daerah lainnya, seperti di Pelabuhan Tulehu-Ambon dan di Desa Saleman sebagai pintu masuk menuju ke Pantai Ora.

“Abang, kalau Abang besok mau ke Saleman, beta telpon teman di sana, nanti Abang nginap di rumahnya saja”, ujar Ibrahim,  pengurus Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam Pulau Seram di sela obrolan kami malam itu.

Jujur, aku tertarik dengan Negri Saleman. Sebuah perkampungan nelayan di Pulau Seram, dan merupakan pintu masuk menuju ke Pantai Ora. Dari cerita sahabat traveler yang saya dengar dan juga tulisan-tulisan di media sosial yang saya baca, Pantai Ora seakan mengusik tidur malam saya. Karang, koral, tebing batu, sungai Belanda yang terpampang indah di gambar-gambar media sosial membuat keinginan saya untuk segera mendatangi salah satu tempat wisata favorit di Pulau Seram ini semakin membuncah. Apalagi saat ini saya sebagai solo backpacker di Kepulauan Maluku dan Pulau Seram, jadi sungguh sangat disayangkan kalau saya tidak sekalian menjelajahi tempat ini.

Ketika malam kian beranjak, saya segera memantapkan rencana untuk berangkat sendirian kesana. Sembari menunggu datangnya pagi, barang bawaan sudah dipersiapkan, dan tak lupa saya memberitahu Ibrahim supaya menghubungi temannya di Saleman. Kebetulan teman satu ini juga merupakan salah satu dari anggota Komunitas Kompas Masohi.

Berbekal nomor telepon dan petunjuk lainnya dari Ibrahim, pagi itu saya berangkat menuju Negri Saleman dengan menumpang mobil travel. Kebetulan saya penumpang terakhir yang dijemput, jadi kendaraan ini langsung menuju ke tempat yang dituju.

Kebun kelapa dan beberapa tanaman sisipan khas Indonesia Timur masih mendominasi pemandangan yang saya lihat di luar kendaraan. Jalan mulus dan cukup lebar ini membentang hingga memasuki hutan tropis yang lebat. Setelah itu berganti dengan kondisi jalan yang sempit dan berkelok. Beberapa ruas jalan yang saya lihat sedang dilakukan perbaikan. Banyak material yang ditumpuk tidak beraturan di sisi kiri-kanan jalan, hal ini sedikit menghambat perjalanan saya. Tak apalah semoga perbaikan jalan ini cepat selesai, demi menunjang perekonomian dan geliat pariwisata di pulau ini.

Dua jam berlalu begitu cepat. Ketika kendaraan yang saya tumpangi sampai di sebuah persimpangan jalan, kendaraan ini mengambil jalur ke kiri, sementara jika lurus merupakan jalur menuju ke Desa Sawai.

Menurut informasi yang saya dengar dari penumpang lain di kendaraan ini, 30 menit lagi perjalanan akan sampai di Negri Saleman. Tapi jalan yang dilewati sungguh membuat saya merasa tidak nyaman. Jalanan sempit dan rusak cukup parah di banyak tempat belum sepenuhnya diperbaiki. Pantai Ora yang merupakan destinasi wisata utama di Pulau Seram setidaknya tercoreng dengan akses jalan yang belum memadai. Keluhan sama juga disampaikan wisatawan lainnya yang datang ke sini, hal ini saya ketahui lewat obrolan yang saya dengar dari sopir mobil travel. Sebenarnya itu bukan menjadi masalah besar buat saya karena cukup dengan melihat pemandangan alam di luar kendaraan semua seakan terbayar. Gugusan pegunungan dan bukit-bukit nan terjal siap memanjakan mata, dengan balutan hutan tropis yang menghiasinya.

Memasuki Negri Saleman ditandai dengan sebuah gapura kecil, tempat ini menurut penduduk setempat disebut dengan  “Pintu Angin”. Dari sini saya sudah bisa melihat bukit karang, laut dan pemukiman penduduk yang membentang di bibir-bibir pantai. Selepas turunan saya turun, persis di depan Puskesmas, karena rumah salah seorang sahabat letaknya di depan tempat ini.

Ternyata kedatangan saya sudah ditunggu, setelah ersalaman dengan keluarganya, saya dipersilahkan masuk kerumah. Para pejalan pasti tidak akan melupakan kisah ini, dimana demi menghemat biaya biasanya sering menumpang di rumah-rumah penduduk. Nama sahabat saya yang satu ini adalah Abang  Jeppo, begitulah nama panggilan pria hitam manis khas Indonesia timur yang pandai bergurau ini. Sesaat kemudian ia begitu akrab denganku, karena beliau juga seorang pejalan yang sudah malang-melintang di dunia petualangan.

Setelah selesai makan malam bersama keluarganya, saya diajak untuk melihat perkampungan nelayan di Negri Saleman sembari menelusuri bibir pantainya. Malam itu cukup cerah, dengan bintang-bintang menghiasi langit sementara bulan memancarkan sinarnya hingga menembus dasar laut yang dangkal. Beberapa kali saya bisa melihat dengan jelas rombongan ikan-ikan kecil bermain di dalam air. Sungguh luar biasa indahnya panorama alam di tempat ini. Malam saja sudah indah seperti ini, apalagi kalau siang. Seperti itulah yang saya pikirkan.

Rencana awal untuk melihat mentari terbit dari ufuk timur cakrawala terbuyar, karena saya bangun kesiangan, mungkin karena terlalu lelah setelah perjalanan. Hari ini saya berencana menyambangi beberapa tempat wisata di Negri Saleman. Setelah negosiasi alot dengan pemilik perahu kayu nelayan setempat, akhirnya disepakati harga sewa sehari Rp.350.000. Memang cukup mahal, tapi apa daya karena sudah kepalang tanggung. Sudah sampai di Negri Saleman, sayang sekali jika tidak menjelajahi Pantai Ora dan sekitarnya karena tidak ada yang tahu kapan saya bisa kembali ke sini.

Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah Pantai Ora. Di sini saya harus mengeluarkan kocek lagi sebesar Rp. 25.000, hanya untuk foto dan melihat panorama alamnya saja. Maklum ini wilayah terbatas dan hanya dikhususkan bagi para wisatawan yang menginap di sini. Bentuk penginapan di sini seperti rumah kecil beratap rumbia yang didirikan di atas laut dan di bibir-bibir pantai berpasir putih. Harga sewa penginapan di sini cukup mahal menurut saya. Sebaiknya  membawa rombongan untuk menghemat biaya penginapan.

Kembali ke perahu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Tebing Batu. Letaknya di balik Pantai Ora dan masih satu wilayah dengan Taman Nasional Manusela. Batu yang menjulang nyaris 180 derajat berdiri kokoh, beralaskan laut yang sangat jernih. Tak ingin menunggu lama, saya segera terjun bebas ke laut. Sudah tidak sabar rasanya melihat terumbu karang. Apalagi laut di sini cukup dangkal dan untuk saya inilah surganya snorkelling di Pantai Ora. Dengan ikannya yang jinak saya seolah dipaksa untuk berlama-lama melihat panorama alam bawah lautnya yang sangat memukau.

Destinasi selanjutnya, saya disarankan ke Sungai Belanda, sebuah muara kecil tempat bertemunya air tawar dan air laut. Tempat ini sering dijadikan camping area bagi para pecinta alam. Bukan hanya pecinta alam dari Kepulauan Maluku saja rupanya, ternyata dari luar daerah dan bahkan banyak teman-teman pecinta alam dari Jawa dan Sumatra pun pernah camping di sini. Biasanya setelah turun Gunung Binaya, mereka sekaligus menyambang tempat ini sembari melepas penat.

Ketika senja mulai menyapa saya kembali diajak oleh Abang Jeppo naik  ke salah satu bukit yang terletak tidak jauh dari Sungai Belanda. Menurut beliau tempat ini sering disinggahi para wisatawan yang berkunjung ke Negri Saleman. Dari sini saya bisa melihat dengan sangat jelas panorama alam di depan mata seperti Pulau Tujuh, Pantai Ora dan pemukiman nelayan yang membentang sepanjang garis pantai. Tempat ini memang cukup tinggi dan sangat cocok untuk para fotografer mengabadikan pemandangan alam di sekitarnya. Tidak salah jika banyak wisatawan semakin banyak yang datang menikmati panorama alam Negri Saleman. Sepertinya biaya sudah tidak menjadi masalah bagi mereka para pecinta dunia petualangan, yang penting hati senang.

Tak terasa malam pun datang. Saya bersama Abang Jeppo kembali ke rumah. Selepas magrib, mandi dan makan bersama keluarganya, kami diajak para pemuda dari penduduk setempat untuk turut serta berkumpul. Ternyata malam itu ada kegiatan perkumpulan pemuda yang sepertinya sudah secara rutin diadakan.

Kopi hangat, pisang goreng dan singkong rebus menemani obrolan kami malam itu diselingi canda tawa khas anak-anak muda. Dan yang membuat saya kagum dalam pertemuan ini, semua pemuda wajib berbicara bahasa Indonesia ketika menyampaikan pendapat. Entah karena saya turut hadir dipertemuan ini atau memang sudah seperti itu aturannya.

Hari kedua saya berpamitan dengan keluarga Abang Jeppo dan kembali ke Kota Masohi. Sebelumnya saya sempatkan mampir sebentar di Gapura Pintu Angin untuk mengambil gambar. Begitu damainya Negri Saleman, jauh dari hingar-bingar bisingnya dunia. Masyarakatnya yang ramah membuat seorang pendatang merasa seperti berada di kampung sendiri.

Di tempat ini pula saya berpisah dengan Abang Jeppo. Sebenarnya saya akan memberikan beliau sebuah kaos sebagai cinderamata, tapi dengan halus beliau menolaknya. Saya terharu dengan sikapnya. Kebaikan seorang pemuda Pulau Seram yang sulit dilupakan. Walau kami baru berkenalan, tapi beliau memperlakukan saya sudah seperti keluarga sendiri. Menerima saya untuk makan, tidur dirumahnya dengan sangat baik. Kiranya Tuhan yang akan membalas semua kebaikan yang saya terima.

Terimakasih Abang Jeppo

Terimakasih masyarakat Negri Saleman

Terimakasih Pantai Ora

Kelak suatu masa aku akan kembali.

[Emanuel Ndelu Wele/End]

Penyunting : Annas Chairunnisa Latifah

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    833
    Shares
Follow Emanuel Ndelu Wele:

Karyawan di perusahaan swasta. Suka naik gunung, free dive, penggiat alam bebas, traveler, dan penjelajah hutan - Ende, Flores. Kontak : 08125323546 Email : emanuelnw.enw@gmail.com

Komentar Pembaca