Ngabolang Hujan-Hujanan ke Curug Adjan

posted in: Experience | 0

Tasikmalaya bagian Selatan memang terkenal dengan keberadaan air terjunnya yang megah. Sebut saja Curug Dengdeng, Curug Koja, Curug Gedus. Kali ini, ada satu curug lagi yang tidak kalah megahnya dan masih belum terkespose oleh para traveller. Curug Ajan namanya.

Minggu pagi pukul 07.00 WIB. Pagi yang di tunggu-tunggu, karena hari inilah yang bisa digunakan untuk melepaskan kemelut kepenatan pekerjaan. Momen pagi ini ternyata tidak didukung oleh cuaca. Hujan lumayan deras turun sedari malam hingga pagi ini. Hal tersebut tidak mengurungkan niat kami untuk tetap berangkat ngabolang. Kami tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk bisa mendapatkan tempat baru untuk dijelajahi.

Tidak seperti ngabolang biasanya, kali ini kami hanya berlima saja. Jumlah berlima pun dirasa sudah cukup. Dengan kondisi hujan sepanjang jalan, kami terus memacu kendaraan dengan semangat menuju ke daerah Tasik selatan tanpa henti.

Saya bersama empat orang teman yang lain menuju ke sebuah tempat yang belum banyak sekali orang yang tahu. Tempat tersebut bernama Curug Azan/ Adjan/ Ajan dari segi penulisan, yang jelas sering di sebut curug Ajan karna memang ada di daerah Tasik (Sunda).

Curug ini berada di daerah Karangnunggal, tepatnya di kampung Mangunwati, desa Sukawangun dan berada pada koordinat : (-7.611613, 108.198067). Untuk menuju ke tempat ini, arahkan kendaraan dari Tasikmalaya menuju ke daerah Selatan Tasik via Sukaraja, Cibalong, Karangnunggal kemudian masuk dari daerah Kecamatan Cikukulu lalu menuju ke daerah Sukawangun.

Ada beberapa alternatif jalan untuk menuju desa Sukawangun ini, bisa via Cikukulu, bisa via Garacina atau juga via Batulawang. tentunya dengan kondisi jalan yang berbeda. Saya merekomendasikan via Cikukulu, sebelum lapang bola ada jalan keci,l belok kiri.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama karena kondisi hujan, kami memutuskan mampir di warung untuk sekedar istirahat dan ngopi. Setelah itu kita melanjutkan lagi perjalanan menuju ke kampung Mangunwati. Oia untuk menemukan tempat ini sangat sulit, kami saja sampai harus beberapa kali bertanya pada warga. Informasi yang diberikan kurang jelas, bahkan setelah sampai di kampung Mangunwati pun, kami sampai bingung untuk meminta informasi mengenai jalur menuju curug Ajan ini.

Setelah beberapa lama tanya sana sini, akhirnya sampailah kita di kampung Mangunwati. Kampung Mangunwati merupakan kampung terakhir menuju curug yang akan kami tuju. Kami langsung memarkirkan kendaraan di sebuah rumah warga di ujung kampung.

Kami berbincang terlebih dahulu dengan warga untuk minta arahan mengenai jalur menuju Curug Ajan. Hampir setengah jam kami ngobrol, namun tidak juga mendapatkan informasi yang jelas, hanya beberapa patokan arahan yang kita dapat.

Dengan fikiran yang bingung, akhirnya kita memutuskan buat jalan mencari curug sambil berharap ada warga yang bisa dimintai keterangan lagi. Dengan menggunakan insting yang kuat, kami lanjut trekking menyusuri ladang dan hutan.

Akhirnya kami tiba di area pesawahan dan terdapat beberapa rumah. Kebetulan ada penghuninya. Ibarat nemu air di tengah gurun pasir hehe. Langsung saja kami gedor pintunya dan minta petunjuk menuju curug.

Setelah berbincang, akhirnya kami disuruh untuk mengikuti jalur selokan air kecil yang mengalir di pinggir sawah. Menurut warga tersebut, aliran selokan ini ujungnya mentok sampai ke Curug Adjan. Langsung saja kami bergegas sambil tidak lupa mengucapkan terima kasih pada warga; yang kebetulan masih teteh-teteh tersebut.

Sekitar tiga puluh menit kita menyusuri jalan, akhirnya kami sampai di ujung selokan yang merupakan puncak dari curug. Kami berada di atasnya Curug Adjan.

Tak berlama-lama di atas curu, kami mencari jalan menuju ke bawah. Dikarenakan jalan menuju ke bawah ini dekat dengan puncak curug, kontur kemiringan jalannya lumayan ekstrim. Hampir 50⁰. Untungnya, di beberapa titik terdapat pohon yang bisa dugunakan untuk pegangan.

 

Disarankan jika mau berkunjung ke tempat ini bawa tali tambang atau tidak lewat jalur ini. Jalur lain bisa menggunakan jalur pesawahan yang tidak terlalu ekstrim jalannya. Setelah sampai di sungainya, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri sungai sekitar 10 menitan. Sampailah kami di Curug Adjan.

Curug Adjan ini sangat keren, indah dan eksotis. Curug Ajan memiliki tinggi hampir 70 meter dengan beberapa umpakan/tingkatan. Dari atas, aliran mengalir satu jalur namun setelah jatuh alirannya melebar mengaliri badan curug yang memiliki umpakan.

Untuk mendapatkan kondisi air yang besar, harus pada saat musim hujan. Curug ini merupakan tipe curug non permanen. Pada saat kemarau sudah dipastikan curug ini kering. Kalaupun ada, aliran airnya sangat kecil.

Oia curug ini memiliki cerita mistis loh. Konon katanya mengapa curug ini diberi nama Ajan, karena dahulu kala pernah ada kejadian orang yang bunuh diri. Orang tersebut menggantungkan diri di curug ini. Kebetulan orang yang bunuh diri tersebut namanya Ajan. Dari sanalah mengapa nama curug ini di beri nama Curug Ajan. Bagaimanapun cerita yang menghinggapi setiap tempat yang kita kunjungi, kita harus selalu tetap menjaga perilaku ya dan jangan lupa harus menjaga kebersihan!

Galeri Foto

(01) Curug Ajan. Foto: Dokumentasi Gunawan Moch

 

(02) Curug Ajan. Foto: Dokumentasi Gunawan Moch

 

(03) Curug Ajan. Foto: Dokumentasi Gunawan Moch

 

(04)) Curug Ajan. Foto: Dokumentasi Gunawan Moch

 

(05) Curug Ajan. Foto: Dokumentasi Gunawan Moch
Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Follow Gunawan Mochammad:

Tinggal di Tasikmalaya menggemari kegiatan travelling terutama di bidang waterfaller/ curuger. Aktif mempromosikan wisata daerah priangan timur khususnya, daerah sendiri, Tasikmalaya lewat blog. Pemilik www.ngabolangngabolang.blogspot.com

Leave a Reply