Ngota Mozaik edisi Peatland Coffee : Merekam kehidupan DAS Sungai Mendahara lewat Kopi

Dalam beberapa menit perjalanan Tour Ngota Mozaik di Sungai Mendahara, terekam secuplik gambaran dan pengalaman tim Tour Ngota Mozaik tentang sungai ini. Dan dari situ muncul sesuatu yang menarik bagi mereka. Salah satunya adalah perihal Ketinting,….


Para undangan kegiatan Tour Ngota Mozaik sebagian dijemput dengan Ketinting. Dok. Nurul Amin

Tour Ngota Mozaik yang diinisiasi oleh Jhe Ediyanto, ketua Dekopi Jambi dan Ismet Raja, seorang musikus folk, telah memasuki hari ketiga. Tour 25 hari untuk merekam geliat perkopian di Provinsi Jambi ini mengunjungi dan menyelenggarakan kegiatan di 18 Venue yang mewakili 10 kabupaten/kota di Provinsi Jambi.

Ngota, dalam bahasa melayu pasaran di Jambi berarti ngobrol tanpa batas, ngobrol ngalor ngidul tentang berbagai hal, kira-kira begitu. Sedangkan Mozaik, sebagaimana kita tau, merupakan ornamen tidak berbentuk, acak, yang memiliki harmoni dan karakter tertentu yang kuat. Tentu saja definisi ini adalah terjemahan penulis sendiri dalam menggambarkan masing-masing kata itu. Ngota Mozaik, secara singkat dapat kita tangkap sebagai obrolan tanpa batas, yang acak, namun memiliki karakter dalam ke-acakannya itu. Karakter kuat ini terkerucutkan dalam tema sentral yang mengikatnya, yaitu kopi.

Inisiasi kegiatan ini, juga merupakan langkah Jhe Ediyanto sebagai ketua Dekopi untuk melanjutkan gerakan menyinergikan perkopian di Provinsi Jambi. Ada banyak hal yang dilakukannya dalam Tour Ngota Mozaik ini, misalnya memetakan problematika di masyarakat kopi, memetakan sosial budaya di sekitar masyarakat perkopian, mengangkat kearifan lokal, mempropagandakan nilai-nilai kemanusiaan dan kelestarian. Ada banyak.

Media yang digunakannya yaitu Kopi, Musik, dan Film. Ya, perpaduan media propoganda yang sangat pas. Ya, dalam tim Tour Ngota Mozaik ada pegiat kopi yang diwakili oleh Jhe Ediyanto, musikus dengan genre Folk atau musik rakyat yang diwakili oleh Ismet Raja, dan pembuat film yang diwakili oleh Agus Darmawan. Bahkan tim ini membawa drone untuk mengambil gambar. Drone ini menjadi pemandangan menarik bagi anak-anak di lokasi acara. Ya, apalagi kalau bukan karena suaranya yang sepeti suara pasukan lebah.


Jhe Ediyanto (kanan) dan Ismet Raja (kiri) di kebun kopi Liberika milik pak Ibrahim di parit Antara, Sungai Beras. Dok. Nurul Amin

Tentu saya tidak akan mengulas lebih dalam tentang tour yang baru berjalan 3 hari dari 25 hari target ini. Saya akan mengulas apa yang terjadi di kampung kami, suatu tempat yang dipilih oleh tim Tour Ngota Mozaik sebagai salah satu Venue penyelenggara acara. Yap! Peatland Coffee, sebuah brand kopi lokal yang dari namanya saja sudah terkesan keminggris dan berselera internasional, namun sangat mengedepankan lokalitas itu.

Peatland Coffee menjadi tempat ketiga yang dikunjungi tim Tour Ngota Mozaik, yaitu pada tanggal 3 Maret 2020. Dari rute geografis yang dilalui, tampaknya tim Tour Ngota Mozaik dilakukan dari timur ke barat. Sama seperti langkah Sun Go Kong dan pendeta Tong Sam Dong mencari kitab suci, dari timur ke barat. Dari arah geografis yang mengikuti pergerakan matahari ini, kami menyimpulkan bahwa gerakan dari timur ke barat sebenarnya adalah kecenderungan kosmik. Kita selalu punya orientasi begitu, sebelum dunia barat membaliknya dan membuat orientasi berpikir kita jadi berantakan. Oke. Ini kecenderungan kosmik. Selain itu? Pergerakan tim Tour Ngota Mozaik yang dari timur ke barat tidak sekedar karena kecenderungan kosmik, tapi dalam kasus Jambi, itu adalah pergerakan dari rendah ke tinggi. Itu berarti apa? Segala sesuatu yang tumbuh punya kecenderungan begitu, dari rendah ke tinggi. Ini menggambarkan kecenderungan alamiah untuk bertumbuh. Dikaji dari relevansi kekinian perkopian di Jambi, saya menemukan dua relevansi terkait kecenderungan alamiah bertumbuh ini. Pertama, perkopian di Jambi, dalam hal organisasi dan volume produksi, akan mengalami fenomena yang sama, semakin ke barat, semakin besar. Ini menarik bukan? Adakah yang juga melihat fenomena ini? Oke, lagi-lagi, bukan itu yang saya bahas sebenarnya.

Saya akan membahas Peatland Coffee, sebuah brand lokal yang terkesan keminggris. Apa keminggris itu salah? Tidak dong. Salah jika saya melupakan sama sekali soal lokalitas dan nasionalitas. Tapi jika saya tidak melupakan itu, kan tidak salah. Ya, selain itu, saya juga akan membahas terkait lingkungan sekitar yang mengiringi keberadaannya, beberapa hal yang juga sempat dirangkum dalam dialog interaktif yang tim Tour Ngota Mozaik disini.

Peatland Coffee mengangkat “origin” Sungai Mendahara. Ini bukan tanpa alasan. Cukup banyak pertimbangan untuk memutuskan hal ini. Tentu pertimbangan yang disaring secara rasional, tidak hanya “kepingin”, keren, dll yang lebih dekat pada kepentingan jangka pendek dibanding rasionalisasi ilmiah. Faktor bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Mendahara yang sangat mempengaruhi iklim mikro disini, juga tanahnya dan airnya, akhirnya mempengaruhi kopi yang tumbuh di tanah ini dan kami proses, adalah bahan pertimbangan paling kuat. Saya mencoba menghindari latah pada kepentingan jangka pendek, yang mana itu bisa saja menyesatkan. Ada banyak anak sungai yang bermuara di Sungai Mendahara. Anak sungai itu, ada yang dibuat, ada yang alami. Meskipun kini sebagian besar anak sungai, atau dalam bahasa kami disebut parit, yang di dalamnya terdapat pemukiman manusia, merupakan anak sungai buatan. Itu tidak mengurangi pengaruh dari Sungai Mendahara ini pada kehidupan sehari-hari, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Sungai Mendahara memiliki panjang sekitar 20-30 kilometer, berkelok-kelok dan bermuara di pesisir timur Provinsi Jambi yang berbatasan langsung dengan subselat Berhala. Saya sebutsub selat karena jika kita melihat peta dg skala yg lebih besar, subselat Berhala bisa dibilang merupakan bagian kecil dari Selat Karimata, perairan yang memisahkan pulau Sumatera dengan pulau Kalimantan. Saya tidak tau apakah ini istilah resmi, tapi relakan lah saya menyebutnya begitu.

Dalam beberapa menit perjalanan Tour Ngota Mozaik di Sungai Mendahara, terekam secuplik gambaran dan pengalaman tim Tour Ngota Mozaik tentang sungai ini. Dan dari situ muncul sesuatu yang menarik bagi mereka. Salah satunya adalah perihal Ketinting, suatu moda transportasi sungai yang kini banyak digunakan masyarakat untuk angkutan manusia, barang dan komoditi di Sungai Mendahara. Ya, benar-benar pengalaman. Sebagian besar dari tim yang berjumlah enam orang itu ternyata tidak pernah menaiki atau menggunakan ketinting. Berbeda dengan “ketek” yang umum digunakan di Sungai Batanghari, ketinting lebih kecil, lebih simpel, dan lebih cepat. Pembawa acara dan Jhe Ediyanto sendiri sangat memperlihatkan ketertarikannya untuk mengulik moda ini lebih dalam. Baginya Ketinting sesuatu yang unik dan dekat dengan masyarakat. Pembahasan Ketinting diulas beberapa kali, jika dikumpulkan, mungkin menghabiskan waktu sekitar 30an menit. Mungkin. Ini karena ada beberapa jeda ke topik lain, lalu kembali lagi ke topik Ketinting. Ada banyak hal terungkap dari Ketinting. Misalnya, saudara Jainir, warga Parit Alamsyah yang didapuk untuk menjelaskan tentang Ketinting menyebutkan bahwa sebenarnya Ketinting bukanlah moda transportasi asli dari Sungai Mendahara, melainkan dibawa oleh pendatang dari Sulawesi Selatan. Di Sungai Mendahara, adat Bugis cukup mempengaruhi dan berakulturasi dengan budaya lain yang ada di sekitarnya. Di Sungai Beras saja, pemukim suku Bugis merupakan pemukim terbesar kedua setelah suku dari Jawa.

Ketinting, selain bukan asli berasal dari Sungai Mendahara, sebenarnya juga datang pada medio yang lebih baru, sekitaran tahun 2000 ke atas. Ketinting ini, jika kita jeli melihat sejarah moda transportasi sungai di Sungai Mendahara, merupakan pintu yang kini dapat kita buka untuk melihat ke belakang, bagaimanakah moda transportasi sebelum adanya Ketinting? Ini akan menjadi menarik dan akan saya bahas pada publikasi berikutnya tentang Tour Ngota Mozaik edisi Peatland Coffee. Apakah anda tertarik untuk mengetahui banyak? [To be Continue/Nurul Amin]

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *