Norrdic House : tempat ngopi Traveler di Bandung

posted in: Culinary | 0

Norrdic House, dari namanya tercium aroma pohon pinus Skandinavia. Dari logonya, kapak es bersilangan, kita ingat pada bangsa Viking, bangsa Sang Penjelajah Bumi.

Ketika masuk ke dalam ruangan, terlihat interior bergaya rustik yang kental dengan kayu-kayuan belahan bumi utara. Ruangan oktagonal beratapkan kayu, gaya rumah yang barangkali banyak dijumpai di negeri yang selalu diselimuti es tersebut.

Norrdic House : rumah orang Norrdic, salah satu tempat ngopi yang memang mengambil sebagian konsep Skandinavian dan woods menjadi ciri khasnya.

Namun tahukah sobat, bahwa sebenarnya Norrdic House mencampur konsep Skandinavian tersebut dengan dengan suasana dan situasi lokal di Bandung?

Dituturkan oleh Anindya (yang akrab kami sapa dengan nama Teh Anin) dan Huda (kang Huda), bahwa ;

“Norrdic House sebenarnya mengikuti kebiasaan orang Bandung yang biasa menyingkat dan memplesetkan kata-kata. Norr bermula dari kata North yang maksudnya utara. Itu karena Dago ini masuk kawasan Bandung utara” tutur Teh Anin.

“Logonya itu kan awalnya terinspirasi dari kapak bangsa Viking. Namun karena kita suka mendaki, maka Norrdic House pakai kapak es” sambung Kang Huda.

“Bandung kan salah satu yang kental disini yaitu Viking (suporter sepakbola yang cukup populer di Bandung, bahkan di Indonesia), jadi kira-kira itu juga jadi pertimbangan sampai akhirnya namanya jadi Norrdic” lanjut Kang Huda.

Teh Anin dan Kang Huda, dua dari lima orang owner yang mengelola Norrdic House. Lainnya yaitu : Cikal, Tya dan Nadya.

Salah satu owner di Norrdic House sedang membuatkan kopi untuk pengunjung. Dok. Nurul Amjn

Selain tamu dari kalangan pejalan, penggiat alam, dan komunitas, pengunjung Norrdic House juga dari kalangan mahasiswa di sekitaran Dago, Bandung. Bahkan kadang-kadang ada juga pengunjung anak-anak SMA.

“Dalam bulan ini mungkin akan ada kegiatan komunitas disini, launchingnya buku Gunung Bandung, nah pas itu rame komunitas juga ikut pameran, sekalian ada sharing-sharing juga” promosi Kang Huda.

Saya baru dua kali mengunjungi Norrdic House, kunjungan waktu itu, di akhir Februari 2018 adalah kunjungan kedua. Bersama Andika dan Nadya kami memang memilih Norrdic House untuk bertemu. Sebelumnya saya juga merekomendasikan Norrdic House kepada dua orang kawan satu almamater. Kami bertemu disitu untuk nostalgia dan semacam reuni kecil.

“Kalau Abang ini yang pilih warung kopi, pasti kopinya enak” ujar Arlen pada Bang Joewan tempo hari dalam kunjungan saya yang pertama.

Sejatinya, Norrdic House memang warung kopi yang nyaman dan cocok untuk saya. Interior kayu yang kentara, berbagai asesories dan gambar pendakian dipajang disini, selain itu ada mini library yang memiliki banyak koleksi buku bagus. Ini tipikal interior warung kopi yang saya sukai. Dan tentu saja sajian kopi yang sesuai dilidah harus ada. Untuk yang satu ini, Norrdic House sudah membuktikannya.

Mini Library di Norrdic House. Dok. Nurul Amin

Saya memesan kopi Manglayang pada kunjungan pertama. Ini bukan murni pilihan saya, tapi rekomendasi dari salah satu owner Norrdic.

“Teh, mana bean yang paling asam?” tanya saya sambil melihat enam toples kecil berisi biji kopi. Yang saya tanya lalu menghubungi Teh Anin via gawai, dan direkomendasikan ke bean Manglayang. Memang memuaskan. Setelah habis gelas pertama, Kang Huda menawarkan saya untuk mencoba bean Puntang. Asamnya mirip dengan Manglayang, namun ada sedikit pahit saat itu.

Sebelum pergi, saya menyerahkan titipan bean Liberika dari tanah gambut di Jambi. Beberapa kabupaten di Provinsi Jambi memang sedang gencar mempromosikan kopinya. Salah satunya Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang mempromosikan kopi Liberika Tungkal Komposit. Adapun bean yang saya bawa ke Bandung, sejarahnya memiliki indukan yang sama dengan kopi yang ditanam di setra kopi Tanjung Jabung Barat : yaitu di Serdang Jaya dan Parit Tomo. Namun bean yang saya bawa berasal dari kabupaten yang berbeda : Tanjung Jabung Timur. Sama-sama Liberika, dan sama-sama ditanam di lahan gambut basah, ciri khas beberapa kecamatan di dua kabupaten bersaudara ini.

Pada kunjungan kedua di Norrdic House, bean Liberika itu sudah di roasting. Norrdic menyangrai bean ini dalam dua profil : medium dan dark. Pada kali kedua datang ke Norrdic itu, saya mencicipi juga bagaimana rasa Kopi Liberika ketika dibuat menjadi espresso dengan alat rockpresso milik Norrdic. Sungguh pengalaman yang menarik. Ini untuk kedua kali saya minum espresso setelah sekian tahun lamanya.

Suasana Norrdic House yang nyaman dan tenang layaknya rumah sendiri. Pada kunjungan pertama saya mengobrol dengan Arlen dan Bang Joewan sampai jam 1 malam. Tidak terasa dan tetap seru. Hanya karena mengingat Bang Joewan akan ada meeting esok harinya, maka kami bubar. Padahal cerita kami tentang lebah, buaya, sawit, malaria, dan minyak belumlah seujung kuku. Cerita ditutup dengan kisah Arlen yang menjadi danton saat ditraining oleh Kopassus dalam rangka kerja di PLN.

Kiri-kanan : Teh Nadya, Teh Andika, dan Teh Anin. Dok. Nurul Amin

Kunjungan kedua, saya di Norrdic dari jam 2 siang sampai jam 8 malam. kami membicarakan Travelnatic dengan Andika dan Nadya. Dua kru Travelnatic yang berdomisili di Jawa Barat. Norrdic berada di pertengahan untuk pertemuan kami. Nadya ada di Soekarno Hatta, saya dan Andika datang dari Cimahi.

Menariknya, dalam dua kunjungan itu, ownernya, entah itu Kang Huda, Teh Anin, maupun yang lainnya, mereka menjadi tuan rumah yang sangat ramah. Mereka ikut terlibat juga dalam obrolan kami, berbagi informasi dan ilmu, mengobrol layaknya kawan lama yang sudah sangat kenal dan lama tidak bertemu. Tidak terkesan bahwa bahkan saya baru sekali itu mengobrol langsung dengan Teh Anin dan Kang Huda.

Yang jelas, ngopi di Norrdic House itu feels like home! Pasti akan kesitu lagi jika ada kesempatan ke Bandung.

Buat sobat pembaca yang belum tau atau belum berkunjung ke Norrdic House, lokasinya mudah dicari kok. Ada di google maps dan Trip Advisor. Ketik saja Norrdic House di keyword pencarian. Jadi jangan tunda waktu lagi, berkunjunglah kesana. Cek jam buka di instagram : @norrdichouse. [End/Nurul Amin]

Sebarkan :
  • 4
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    4
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Leave a Reply