Nusantaride Human Action, Kisah Para Pendekar Tong Sampah

Nusantaride Human Action, Kisah Para Pendekar Tong Sampah

posted in: Otherside | 0

Tentang Nusantaride Human Action (NHA)

Nusantaride Human Action merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh Forum Nusantaride Jawa Barat (NR Jabar) dengan tagline NHA Peduli Lingkungan. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh dampak kunjungan wisatawan terhadap kebersihan lingkungan. Saat ini, semakin marak bermunculan objek-objek wisata baru dengan tingkat kunjungan yang naik dengan pesat.

Sayangnya, kemunculan objek wisata yang dengan cepat menjadi primadona ini tidak didukung oleh sarana pendukung wisata, salah satunya yaitu tempat sampah. Penumpukan sampah sudah menjadi konsekuensi jika suatu potensi wisata berubah menjadi objek tujuan wisata. Penumpukan sampah sebagai akibat banyaknya pengunjung yang tidak didukung oleh kesiapan pengelolaan sebaiknya segera diatasi. Salah satunya dengan menumbuhkan kesadaran akan kebersihan dan swadaya masyarakat untuk mengelola kebersihan lingkungan di objek wisata tersebut.

Kegiatan NHA yang diadakan oleh Forum Nusantaride Jawa Barat ini merupakan aksi sederhana dalam rangka menjaga kebersihan lingkungan, terutama di sekitar wilayah objek wisata. Adapun yang menjadi sasaran kegiatan NHA ini yaitu : pertama, objek wisata yang sudah ramai dan cukup dikenal, namun jumlah tempat sampahnya tidak memadai atau bahkan tidak ada sama sekali. Kedua, objek wisata baru yang jumlah kunjungannya meningkat pesat dan diprediksi jumlah kunjungan akan terus meningkat namun masih belum tersedia tempat sampah untuk mengantisipasi sampah yang berserakan. Ketiga, objek-objek wisata tersebut setidaknya memiliki pihak pengelola (non pemerintah) / relawan / kuncen / karang taruna / warga setempat, dll. Pengelola ini yang nantinya akan bertanggungjawab untuk mengelola masalah sampah dan merawat tempat sampah yang diberikan dalam program NHA Peduli Lingkungan ini

Teknis Pelaksanaan Nusantaride Human Action

Tempat sampah dibawa dan didistribusikan oleh para voluntrider menggunakan sepeda motor, meskipun ada juga yang dibawa menggunakan mobil. Tempat sampah kemudian dibawa oleh para voluntrider dari Purwakarta. Dalam tahap ini, ada tempat sampah yang langsung didistribusikan ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan, ada juga yang disimpan sementara di tempat masing-masing voluntrider. Pengadaan, pembuatan, dan penyelesaian pengerjaan fisik tempat sampah dikerjakan seluruhnya di Purwakarta oleh voluntrider. Setelah tiba di lokasi, tempat sampah kemudian diletakan di lokasi tujuan bersama-sama dengan komunitas atau yang mengelola (dalam hal ini non pemerintah) objek wisata tersebut

Kegiatan Nusantaride Human Action yang Telah Terlaksana

Kegiatan NHA telah terlaksana beberapa kali. Kegiatan yang terlaksana antara lain : Puncak Guha di Kecamatan Caringin, Garut sebanyak 3 tempat sampah, Curug Ceret di Kecamatan Naringgul, Cianjur, sebanyak 2 tempat sampah, Talaga Nila di Kecamatan Sindangwangi, Majalengka sebanyak 3 tempat sampah, Situ Cikuda di Kecamatan Sindangwangi, Majalengka sebanyak 2 tempat sampah, Terasering Panyaweuyan di Kecamatan Argapura, Majalengka sebanyak 3 tempat sampah, Bukit Panyawangan di Kecamatan Wanayasa, Purwakarta sebanyak 10 tempat sampah, Curug Cimanitin di Kecamatan Salopa, Tasikmalaya sebanyak 3 tempat sampah, Pantai Sayang Heulang di Kecamatan Cikelet, Garut sebanyak 7 tempat sampah, Situ Cisaladah dan Perkebunan Pangheotan di Kecamatan Cikalong Wetan, Purwakarta.

Sementara itu, di Curug Genclang, Kecamatan Sangiang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat direncanakan sebanyak dua tempat sampah. Namun belum terlaksana.

Permasalahan di Beberapa Lokasi Kegiatan Nusantaride Human Action

Beragamnya tempat, lokasi, dan karakteristik wilayah tujuan, beragam juga cerita dan permasalahan yang dihadapi. Puncak Guha yang namanya sudah cukup dikenal oleh para wisatawan sejak awal 2013 lalu ternyata masih belum memiliki tempat sampah. Selama ini sampah hanya ditumpuk kemudian dibakar. Itupun lokasinya menyebar. Lokasi tersebar tampak suatu wadah yang sesuai terkadang membuat sampah-sampah ada yang tertinggal dan berceceran ketika dikumpulkan untuk dibakar.

Majalengka yang kini tengah berbenah dari sektor pariwisata pun tidak luput dari pemasalahan seputar pengelolaan sampah. Saat ini, siapa yang tidak tahu tentang Talaga Nila dan Panyaweuyan di Majalengka. Kedua tempat ini sempat masuk ke dalam beberapa acara TV Swasta. Talaga Nila, danau kecil berair kebiruan dan jernih dan areal perkebunan bawang di perbukitan sekitar Kec. Argapura yang bernama Panyaweuyan merupakan dua tujuan utama di Majalengka.

Permasalahan pengelolaan sampah di area Talaga Nila yang arealnya lebih kecil tidak terlalu sulit untuk diatasi jika dibandingkan dengan Panyaweuyan yang arealnya relatif luas dan medan yang berbukit-bukit. Ironisnya, tidak lama setelah beberapa unit tempat sampah dititipkan kepada teman-teman Ngetrip Majalengka, selaku komunitas yang ikut menjaga kebersihan di objek-objek wisata Majalengka, Panyaweuyan yang menjadi icon wisata Majalengka mengalami kerusakan.

Banyak petani bawang yang mengeluh karena tanamannya rusak berat diinjak-injak pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Selain itu juga sampah plastik banyak berserakan di area tanam. Sampah plastik yang dibuang sembarangan otomatis akan tertiup angin sehingga akan berserakan ke areal-areal tanam disekitarnya. Dengan adanya kejadian ini, beberapa petani pun bahkan sampai memasang pagar agar pengunjung tidak dapat melewati areal tertentu.

Tidak ketinggalan, teman-teman dari Komunitas Ngetrip Majalengka dan lainnya langsung turun tangan memasang berbagai macam spanduk sembari membersihkan area dari sampah. Mereka juga menempatkan beberapa unit tempat sampah program dari NHA Peduli Lingkungan di beberapa titik utama. Perlu beberapa waktu agar kondisi di Panyaweuyan ini kembali normal seperti sebelum kejadian.

Lain Majalengka, lain halnya dengan Garut. Pantai Sanyang Heulang yang menjadi lokasi lainnya di Garut pun memiliki permasalahan terkait sarana kebersihan. Permasalahan ketersediaan fasilitas kebersihan di areal Pantai Sayang Heulang bukanlah sesuatu yang baru. Pantai Sayang Heulang merupakan salah satu objek wisata utama di pesisir Selatan Kabupaten Garut bersama dengan Pantai Rancabuaya, Puncak Guha, dan Pantai Santolo. Kunjungan wisatawan sudah pasti cukup tinggi, namun ketersediaan fasilitas kebersihan (dalam hal ini tempat sampah) masih belum memadai.

Berdasarkan penuturan Bpk. Duseng, sudah ada perintah langsung dari Camat Pameungpeuk pada Kades Mancagahar untuk segera menyediakan tempat sampah di areal Pantai Sayang Heulang dan sekitarnya. Kegiatan ini belum juga terlaksana akibat keterbatasan dana. Oleh karena itu, Bpk Duseng mengambil inisiatif untuk membuat sendiri tempat sampah.

Tempat sampah yang dibuat secara swadaya oleh Bapak Duseng terbuat dari besi yang dilubangi bagian tengahnya. Ukurannya pun lebih besar dan biayanya cukup mahal. Sekitar 250 ribu Rupiah untuk satu unit tempat sampah. Bapak Duseng membuat lima unit tempat sampah sebagai percontohan dan sebagai penambah motovasi bagi pihak berwenang untuk segera memperhatikan permasalahan ketersediaan fasilitas kebersihan.

Curug Ceret yang berada persis di pinggir jalur Naringgul – Cidaun, Kabupaten Cianjur yang mulai ramai dilalui sejak awal 2013 lalu merupakan lokasi wisata yang potensial. Posisinya yang persis berada di pinggir jalan akan menjadi tempat beristirahat pengendara yang melintas. Terutama ketika musim hujan. Otomatis, dengan banyaknya pengunjung, maka akan tersisa juga sampah.

Lokasinya yang berada di pinggir jalan menyebabkan tidak adanya pihak yang merasa bertanggung jawab atas kebersihan lokasi tersebut. Hingga beberapa waktu lalu, ada warga yang secara konsisten mengelola secara sukarela area tersebut. Penempatan dua unit tempat sampah diharapkan dapat membantu warga sekaligus menumbuhkan kesadaran pengemudi yang singgah akan kebersihan area Curug Ceret.

Situ Cisaladah di Kabupaten Purwakarta yang mulai naik daun pun ternyata masih belum memiliki sarana kebersihan yang memadai. Penempatan beberapa unit tempat sampah ini sebagai antisipasi dari semakin meningkatnya jumlah kunjungan ke Situ Cisaladah yang terkenal sebagai lokasi favorit untuk berfoto underwater.

Curug Cimanitin merupakan lokasi lainnya yang berada di Kabupaten Tasikmalaya. Akses menuju Curug Cimanitin merupakan yang tersulit diantara lokasi lain yang menjadi tujuan kegiatan ini. Kondisi khas perbukitan Selatan Jawa Barat dan beberapa jalan batu yang akan cukup licin ketika musim hujan merupakan medan yang harus dilalui oleh voluntrider. Dalam pelaksanaannya, dua voluntrider asal Tasikmalaya datang dengan menggunakan sepeda motor, sehingga otomatis tingkat kesulitan melalui medan menuju Curug Cimanitin pun bertambah.

Kondisi jalan berbatu dengan beban yang cukup banyak tidak memungkinkan bagi motor sampai ke parkiran Curug Cimanitin. Akhirnya, sisa perjalanan menuju parkiran Curug Cimanitin sepanjang  satu kilometer dilanjutkan dengan berjalan kaki. Untuk menempuh satu kilometer jalan berbatu yang licin dan menanjak dengan membawa tiga unit tempat sampah bukanlah hal yang mudah. Hal ini cukup menguras tenaga. Penempatan tiga unit tempat sampah di Curug Cimanitin merupakan yang pertama kalinya dilakukan di tempat yang kini semakin dikenal masyarakat luas ini.

Target penempatan tempat sampah dalam kegiatan NHA Jawa Barat ini berjumlah 50 unit tempat sampah dan dilaksanakan dalam waktu empat bulan sejak tanggal 27 April 2016. Hingga tulisan ini dibuat sudah mencapai 36 unit tempat sampah atau sudah lebih 50% dari target yang ditentukan. Tempat sampah sejumlah itu tersebar di 10 lokasi wisata di Jawa Barat. Kedepannya, program ini akan terus berlangsung tanpa batas waktu tertentu oleh para voluntrider yang berada di Jawa Barat. Diharapkan program serupa dapat diikuti oleh rekan-rekan lain di luar Jawa Barat untuk membantu mengatasai masalah kebersihan di lingkungan sekitar objek wisata. [Dya Iganov/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    486
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Komentar Pembaca