Pacu Jalur, Tradisi Melayu di Rantau Kuantan

Pacu Jalur, Tradisi Melayu di Rantau Kuantan

posted in: Otherside | 0
Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan. Disinilah wibawa, persatuan, serta keindahan bergumul menjadi satu, membentuk suatu tradisi yang membudaya. Namun seolah kalah mahsyur, sampai sekarang tak banyak yang menyadari betapa masyarakat Rantau Kuantan sangat memuliakan perlombaan Pacu Jalur.
Penonton menyaksikan Jalur di lintasan pacu. Dok. @reremaharani
Penonton menyaksikan Jalur di lintasan pacu. Dok. @reremaharani

Salah satu kabupaten di Provinsi Riau yang masih memegang erat kebudayaan Melayu adalah Kuantan Singingi. Berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, Rantau Kuantan, begitu kebanyakan orang menyebut, banyak dipengaruhi oleh adat istiadat Minangkabau. Meski begitu, tak semua penduduknya menganut sistem kekeluargaan matrilineal, yaitu suatu sistem kekeluargaan yang menganut garis keturunan dari pihak ibu.

Pacu Jalur merupakan tradisi besar yang dapat memadukan dan membanggakan masyarakat Rantau Kuantan. Setahun sekali, tradisi ini diselenggarakan untuk memperingati warisan leluhur yang penuh makna.

Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan. Disinilah wibawa, persatuan, serta keindahan bergumul menjadi satu, membentuk suatu tradisi yang membudaya, sekaligus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Namun seolah kalah mahsyur, sampai sekarang tak banyak yang menyadari betapa masyarakat Rantau Kuantan sangat memuliakan perlombaan Pacu Jalur.

Jalur merupakan sebutan untuk perahu yang terbuat dari kayu pohon dengan panjang kurang lebih 25-30 meter. Jalur ini mampu memuat 50 orang dewasa. Selama perlombaan, bukan hanya anak pacu, sebutan untuk pendayung Jalur, yang berada di atas perahu. Ada juga yang disebut sebagai tukang tari, yang berdiri di bagian depan Jalur dan akan menari ketika Jalurnya telah berhasil mendahului Jalur lawan.

Selain itu ada tukang timbo yang berada di bagian tengah Jalur, bertugas memberi aba-aba menggunakan peluit agar anak pacu serentak dan lebih laju mendayung Jalurnya. Tukang timbo juga berperan menguras air yang masuk ke dalam Jalur.

Yang terakhir adalah tukang onjai, berada di bagian belakang Jalur dan bertugas menghentak Jalur agar anak pacu mendapat posisi yang menguntungkan untuk mendayung perahu. Gerakan tukang onjai mirip seperti gerakan tari.

Jalur menepi dan kembali ke pancang start. Dok. @reremaharani
Jalur menepi dan kembali ke pancang start. Dok. @reremaharani

Dalam perlombaan, Jalur diadu satu lawan satu sejauh satu kilometer yang dibagi menjadi enam pancang termasuk garis mulai dan garis akhir. Pada waktu itulah akan terlihat kesetiaan, kepatuhan, komitmen, dan pengorbanan masyarakat, melebur dengan kebahagiaan suka cita mendukung dan merayakan salah satu hari besar dalam kalender kehidupan masyarakat Rantau Kuantan.

Lomba adu cepat perahu ini biasanya diadakan terlebih dahulu di rayon-rayon yang sudah ditentukan dan festival puncaknya diadakan di Teluk Kuantan yang merupakan ibukota Kabupaten Kuantan Singingi. Tumpah ruah perayaan budaya teramat mengakar, menjadi bukti betapa masyarakat – mulai dari anak-anak hingga atuk-atuk – rela berdesakan dan berpanas-panasan demi menghadiri sekaligus mendukung Jalur dari desanya masing-masing.

Peserta lomba mayoritas berasal dari desa-desa yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi, namun ada juga peserta yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu, bahkan juga diikuti oleh peserta dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

Proses persiapan Jalur diawali dengan pembuatan Jalur menggunakan batang pohon besar yang diambil dari Rimbo atau hutan. Batang tersebut kemudian dibawa ke desa masing-masing dan oleh para tukang Jalur dipahat sedemikian rupa sehingga terbentuklah cekungan besar dan panjang pada kayu pohon tersebut. Proses selanjutnya dikenal dengan sebutan Melayur Jalur, yaitu pengasapan Jalur yang bertujuan untuk merenggangkan mulut cekungan agar bisa digunakan sebagai perahu pacu.

Selama proses melayur ini biasanya warga disuguhkan pertunjukan Randai agar mereka lebih bersemangat  ketika melakukan ritual Layur tersebut. Randai sendiri ialah seni hiburan rakyat yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran dan kemudian menari sekaligus melangkah perlahan berkeliling pada lingkaran tersebut. Seni Randai menggabungkan seni tari, lagu, musik, bahkan drama dan silat. Selama persiapan pembuatan Jalur tersebut banyak dilakukan ritual-ritual yang masih berbau mistik, yang tak lain bertujuan untuk memohonkan selamat serta kemenangan bagi Jalur tersebut. [Amirul BK/End]

Penyunting : Bela Jannahti

Sebarkan :
  • 13
  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
    15
    Shares

Komentar anda?