Panjang Umur Pecinta Alam Indonesia

Panjang Umur Pecinta Alam Indonesia

posted in: Otherside | 1

Kekerasan dalam pendidikan tidaklah dibenarkan. Diterangkan dalam kode etik pecinta alam yang berbunyi, “menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar, serta menghargai manusia dan kerabatnya. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam, sesuai dengan azas pecinta alam.” Yang ditanamkan dalam karakter Mapala adalah rasa kekeluargaan dan solidaritas yang tinggi, bukan kekerasan, Mapala bukanlah pembunuh.

Sebelum mengikuti Pendidikan Dasar Mahasiswa Pecinta Alam (Diksar Mapala), almarhum menempel materai dan  menandatangani surat pernyataan, yang menyebutkan bahwa tidak dapat menuntut pihak panitia apabila terjadi musibah. Begitu juga yang kulakukan sebelum melaksanankan Diksar Mapala di kampusku. Aku penah menjadi peserta Diksar, juga panitia Diksar. Namun, aku hanyalah anggota muda, bukan anggota penuh Mapala sebab aku tidak melalui semua prosesnya dikarenakan sulit memanajemen waktu kala itu.

Sebelumnya, aku juga pernah menandatangani surat seperti ini sewaktu menginjak SMP. Aku bersekolah di tanah rantau, Jawa Barat, cukup jauh dari rumahku di Jakarta. Hatiku agak berat begitu menandatangani surat ini, terasa seperti ada sesuatu yang mengancam sampai-sampai aku perlu menandatangani surat pernyataan yang tertulis di dalamnya, “tidak dapat menuntut pihak yayasan apabila terjadi musibah pada siswa, sakit, ataupun meninggal,” Aku tertegun membacanya lalu menengok pada ibu dan bapak, keduanya mengangguk, kemudian aku menandatangani surat pernyataan itu.

Namun, yang terjadi padaku dan pada saudara Muhammad Fadhli (19), Syaits Asyam (19), dan Ilham Nurpadmy Listia Adi (20) berbeda. Aku masih bisa merasakan nikmatnya bernafas, tetapi tidak bagi mereka bertiga. Suasana sekejap menjadi berkabung bagi semua yang mengetahui bahwa mereka bertiga wafat selagi mengikuti Diksar, orangtua almarhum pasti amat sangat sedih mengetahuinya.

Aku pun pernah bertanya pada ibuku, “Ibu, kalau aku wafat di saat menempuh pendidikan, bagaimana ibu menanggapinya?” Dan ibuku menjawab, “kalau kamu wafat karena sakit, tanpa kesalahan dari yayasan atau almamater, ibu mengikhlaskan, tidak ada yang perlu disalahkan. Kan ajal Allah yang atur, nak. Di manapun, ajal akan menjemput.”

Kabar Duka Untuk Semua

Ilustrasi peserta Diksar. Dok Fadhil Ramadhan

Berita ini, jujur, sangat mengguncang hati dan menaikkan emosi, marah dan sedih jadi satu. Setelahnya, dunia maya diramaikan dengan hujatan pada panitia Diksar, hinaan, umpatan, kalimat kotor dan binatang keluar. Ada yang meng-generalisasi bahwa Mapala itu buruk. Mengatakan tragedi ini disebabkan oleh balas dendam senioritas. Menyalahkan pihak universitas mengapa tidak langsung mengabarkan keadaan sebenarnya. Mengatakan bubarkan saja Mapala, organisasi tidak mendidik. Saling hina antarpegiat alam pun terjadi. Ada yang menghimbau untuk tenang, tetapi ikut memprovokasi, ironis.

Pada Senin, 23 Januari Universitas Islam Indonesia (UII) memuat rilis di laman resminya, uii.ac.id bahwa semua peserta Diksar telah dibawa ke Rumah Sakit (RS) Jogja International Hospital (JIH) untuk dirawat. Tetapi dunia maya masih beramai-ramai mengumpat kepada Mapala Unisi dan UII. Mengatakan pihak UII melindungi nama universitas, menyembunyikan dan melindungi panitia Diksar. Tidak percaya pada rilis yang telah dimuat. Padahal saat itu, para peserta benar sedang berada di JIH untuk menjalani perawatan. Beberapa orang memang lebih suka menuntut dan menghujat, daripada mengikuti kabar dan mencari tahu kebenarannya, ataupun untuk berduka dan berdoa.

Beberapa akun sosial media milik pecinta alam, termasuk Mapala Unisi mengganti foto profil dengan warna hitam sebagai bentuk rasa duka dan sungkawa atas tragedi ini, aku pun turut mengganti foto profil sebagai bentuk sungkawaku. Namun, orang-orang menuduh Mapala Unisi mengganti foto profil menjadi hitam untuk menghindar. Mengatai bahwa Mapala Unisi bersembunyi, mengindari tanggungjawab, pengecut, dan sebagainya. Ternyata amarah orang-orang masih meluap tumpah, tanpa tahu-menahu, semuanya disambar.

Ada Satu Hal yang Luput dari Kita Semua

Aku kira ada satu hal yang teman-teman lupakan. “Apakah teman-teman sudah merenungi tragedi ini?” Saudara kita baru saja wafat, dan ternyata orang-orang malah sibuk saling menyalahkan, adu pendapat, debat kusir. Sepeninggal almarhum, bukanlah permusuhan seperti ini yang ia inginkan. Kematian memang sulit untuk diterima, berat, amat berat. Namun kematian tentu memberikan kita banyak pelajaran.

Semoga Alm. M. Fadhli, Alm. Syaits Asyam, dan Alm. Ilham Nurpadmy Listia Adi mendapat pahala syahid atas wafat mereka dalam menjalani pendidikan.

“Siapa yang wafat dalam keadaan menuntut ilmu, maka ia berada dalam tanda husnul khotimah (akhir yang baik), karena ia wafat dalam ketaatan yang sangat besar.” (HR. Muslim)

Bagi teman-teman yang mungkin belum berdoa, ada baiknya untuk sejenak menundukan kepala dan mengheningkan cipta. Silakan juga yang mungkin belum sholat ghoib, monggo.

Pihak UII membantu sekuat tenaga mengurusi kejadian ini. Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk proses pemeriksaan kesehatan dan rawat inap ditanggung sepenuhnya oleh UII. Juga mengupayakan pendampingan dengan seluruh peserta dengan keluarga, agar keluarga selalu mengetahui perkembangan insiden ini, terutama keluarga dari Alm. M. Fadhli, Alm. Syaits Asyam, dan Alm. Ilham Nurpadmy Listia Adi. UII Memfasilitasi orangtua yang akan datang ke Jogja untuk mendampingi putra-putrinya.  Jenazah Alm. M. Fadhli dikirim ke keluarga di Batam pada Sabtu (21/1). Kepada keluarga Alm. Ilham Nurpadmy Listya Adi, UII telah memfalisitasi keluarga almarhum sejak dirawat di RS Bethesda, pelaporan ke kepolisian, proses otopsi, hingga pemulangan jenazah ke Lombok melalui Solo.

Semua peserta Diksar yang lain juga tentu sedang berkabung, merasa terpukul saudaranya ada yang wafat. Situasi seperti ini tentu sangatlah sulit, bahkan lebih rumit dari yang kita bayangkan. “Kita nggak bisa nyalahkan orang, karena ini musibah,” tutur M. Sandi Malik Ibrahim mahasiswa jurusan Hukum UII 2015, peserta Diksar (TribunJogja.com 27/1). Tidak mudah untuk  membeberkan kejadian ini karena situasinya memang sangat sulit. Banyak hal memang tidak dapat kita kuasai, bahkan terkadang hal yang tidak kita kuasai itu malah sering terjadi.

Ibarat keluarga, Rektor Harsoyo sebagai seorang bapak, panitia sebagai seorang kakak, peserta Diksar termasuk almarhum sebagai adik, dan kejadian ini adalah masalah keluarga. Kita sebagai orang luar seringkali menduga-duga tentang apa yang terjadi pada tetangga, walau sejatinya kita tidak tahu apa-apa, hanya berprasangka. Dalam keluarga, sebagai suatu kesatuan tentulah tiap-tiap perorangan saling membantu agar dapat keluar dari suatu masalah bersama-sama. Dan itulah yang terjadi sampai saat ini.

UII dan Mapala Unisi Bertanggungjawab

Kekerasan dalam pendidikan tidaklah dibenarkan. Diterangkan dalam kode etik pecinta alam yang berbunyi, “menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar, serta menghargai manusia dan kerabatnya. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam, sesuai dengan azas pecinta alam.” Yang ditanamkan dalam karakter Mapala adalah rasa kekeluargaan dan solidaritas yang tinggi, bukan kekerasan, Mapala bukanlah pembunuh. Apabila memang terbukti bersalah, Mapala Unisi mengungkapkan siap untuk bertanggungjawab. “Jika didapatkan kekerasan fisik hingga menyebabkan korban jiwa, kami siap bertanggung jawab atas itu semua,” ungkap Imam Noorizky (Merdeka.com 27/1).

Pada Jumat (27/1), lima dari sepuluh peserta Diksar yang dirawat sudah diperbolehkan pulang dan bisa ikut kuliah di kampus. Para pasien ini juga masih harus menjalani kontrol rutin (HarianJogja.com 27/1). Hari Jumat itu juga masuk 4 pasien dari peserta Diksar yang lain dengan keluhan sakit di ulu hati.

Satu pasien yang sebelumnya menjalani perawatan di ICU pada Kamis (26/1), Hafizal Firdani kondisinya sudah membaik. “Perkembangan yang empat (masuk pada Jumat) membaik,” jelasnya. Dan pada Sabtu (28/1), tiga pasien diperbolehkan pulang. “Sekarang yang masih berda di rumah sakit JIH ada enam orang,” ungkap dokter Mock Khalimur Rouf, Ketua Tim Medis yang menangani Mapala UII pada TribunJogja.com, Sabtu (28/1).

Rektor Harsoyo mengundurkan diri. Dan pada Minggu (29/1) siang di Lapangan Sepakbola Kampus UII, Rektor Harsoyo mengadakan pertemuan dengan seluruh civitas UII, menyampaikan kepada semuanya bahwa benar ia mengundurkan diri. Lalu menceritakan kejelasan kronologi peristiwa dari awal hingga akhir. Abdul Jamil, Warek III juga menyatakan mundur dari jabatannya sesaat setelah pernyataan mundur Rektor Harsoyo. Dalam memenuhi panggilan kepolisian nanti, Rektor Harsoyo sebagai  jaminannya kalau dari yang dipanggil ada yang kabur. Rektor Harsoyo akan mendampingi para panitia bersama-sama mendatangi kepolisian pada Selasa (31/1).

Terima kasih Rektor Harsoyo telah menangani musibah ini dengan baik, semoga UII mendapat rektor pengganti yang seperti bapak, atau yang lebih baik dari bapak. Bagi yang masih saling menyalahkan dan saling hujat tanpa tahu kebenarannya, ada baiknya disudahi saja. Saya rasa dari tulisan yang saya buat ini masih ada salah di dalamnya, mohon berikan saya masukan yang membangun melaui komentar atau melalui surat pembaca Travelnatic. [Fadhil Ramadhan/End]

Fadhil Ramadhan

Penulis :

Fadhil Ramadhan, berdomisili di Surakarta, Jawa Tengah. Pembaca dapat menghubungi Fadhil di email : farastafara@gmail.com

Penyunting : Nurul Amin

 

Sebarkan :
  • 357
  • 329
  • 297
  •  
  •  
  •  
    983
    Shares
Follow Fadli Ramadhan:

Penggiat Alam dari DKI Jakarta I Domisili di Surakarta, Jawa Tengah.

Latest posts from

One Response

  1. Fadhil Ramadhan

    “Hari Minggu kemarin (29/1) Satreksrim Karanganyar melakukan gelar perkara selama 5 jam hingga hampir tengah malam dan hasil (gelar perkaranya), penyidik menetapkan dua panitia sebagai tersangka,” kata Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul kepada detikcom di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (30/1).

    Martinus menyebut kedua tersangka kasus diklat maut Mapala UII itu berinisial YUD (25) dan ANG alias WAL (27). Keduanya adalah mahasiswa yang berasal dari luar Pulau Jawa.

    YUD dan ANG dijerat dengan Pasal 170 ayat 2 juncto 351 KUHP. “Ancaman hukuman lebih dari lima tahun,” sebut Martinus.

    YUD dan ANG dijemput dari Posko Mapala UII pada sekitar pukul 05.30 WIB Senin pagi untuk diperiksa terlebih dahulu.

    Selasa (31/1) polisi akan memanggil 16 panitia untuk diperiksa. (Sumber: detikcom)

Komentar anda?