Papandayan, Switzerland Van Java

Akhirnyaaaaa, Pondok Saladah.

Pondok Saladah. Dok. Anindya Andari
Pondok Saladah. Dok. Anindya Andari

Kampung pendaki di Papandayan. Ketika weekend Pondok Saladah sudah pasti ramai.
Kita beristirahat sejenak baru mulai mendirikan tenda lalu memasak untuk makan siang.

Waktu itu cuaca sedang kurang bersahabat, pukul 10.30 kabut mulai turun dan mulai turun hujan sampai sore. Alhasil kita hanya di dalam tenda, dan sesekali hujan reda keluar untuk membuat selokan kecil agar aliran air mengalir.

Tegal Alun, Cireng bumbu Rujak, Pagi yang sempurna.

Pukul 05.00 alarm bunyi, “siapa sih yang tadi alarmnya ga jelas pisan.. gandeng tau”, kata salah satu temen yang kaget karna bunyi alarm yang saya pasang.

Gosok gigi, cuci muka, kumur-kumur pake listerin udah cukup kece buat kita anak-anak gunung. Tapi kalian jangan takut, sekarang di Papandayan udah ada WC umum hasil sumbangan dari mahasiswa pecinta alam. Jadi kalian juga bisa mandi di atas gunung, hahaa. (pendaki kebangetan namanya…), tapi jangan harap kalian bisa mandi, bahkan untuk mengantri saja panjangnya super panjang, untuk sekedar buang air kecil saja harus mengantri mungkin sampai setengah jam.

Trek yang di tempuh cukup terjal, menanjak, batu-batuan, licin, harus saling ngalah kalau papasan sama pendaki lain.
Sebelum sampai ke Tegal Alun kita akan melewati “Hutan Mati”. Hutan Mati adalah sisa erupsi gunung papandayan. Mungkin kedengeran serem, tapi waktu kalian sampai disana kalian akan terkagum dengan keindahannya, apalagi kalau sudah turun kabut, suasananya bakal kaya di film-film.

Tegal Alun adalah padang rumput cantik penuh Bunga Edelweis. Di Tegal Alun, sesekali turun kabut dan menghilang kembali.
Jangan sembarangan dipetik ya teman-teman. Di Tegal Alun kita menghabiskan waktu beberapa jam sambil sarapan pagi. Sambil menikmati tawa-tawa riang pendaki lainnya yang terdengar dari kejauhan.

Cireng bumbu rujak dan roti maryam …..!

Kurang sempurna apa pagi ini, ditemani obrolan ringan tapi hangat bersama teman-teman sambil menggoreng cireng bumbu rujak yang kita bawa dari Bandung. Sesekali memanggang roti maryam yang diolesi selai srikaya dan cokelat ditambah secangkir milo dan cappucino hangat.

Diselingi tawa-tawa ringan, dan bully-an ringan, pagi itu rasanya “perfect amat ya..” karena ini adalah cireng, roti maryam dan milo hangat terenak di akhir 2014.

Pukul 10.00 kita kembali turun ke Pondok Saladah, dan bersiap-siap untuk kembali ke Camp David. Packing tenda dan barang-barang lainnya kami lakukan. Tepat pukul 12.00 sebelum kabut dan hujan turun kami bersiap turun ke bawah. Sore itu kabut cukup tebal saat setengah perjalanan.

Kira-kira pukul 14.00 kita sampai kembali di Camp David. Perjalanan turun lebih sebentar daripada perjalanan naik karena trek yang di tempuh menurun. Sesampainya di Camp David kami istirahat sejenak dan bersih-bersih serta persiapan turun ke Cisurupan dilanjut ke Terminal Guntur.

Sesampainya kembali di Terminat Guntur kita berpisah dengan teman dari Jakarta. Sampai jumpa lagi teman-teman, sampai bertemu di pendakian selanjutnya. [Anindya Andari/End]

“Perjalanan merupakan sebuah proses. Proses pembelajaran mengenal berbagai macam pribadi dari orang-orang baru. Mendapatkan pelajaran tambahan dari cerita-cerita pejalan lainnya. Bertambah koneksi, relasi dan silaturahmi. Dan pada setiap perjalanan kita akan menemukan suatu pelajaran yang berbeda, Anindya Andari.”

Akses ke Papandayan :
Bandung – Garut via terminal Leuwi Panjang / Tol Buah Batu – Terminal Guntur – Cisurupan
Bus Bandung – Garut – 35.000
Angkot Terminal Guntur – Cisurupan – 20.000
Colt Buntung Cisurupan Camp David – 20.000
Selamat mendaki teman-teman. Jangan Lupa bawa Sampah kalian waktu turun.
Salam Lestari.

Bagikan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *