Pempek Palembang Menuju Pasar Dunia

Pempek menjadi kuliner favorit bagi siapa saja yang berkunjung ke Kota Palembang. Tak heran, makanan khas daerah yang terbuat dari ikan giling ini sangat gurih dan semakin sedap dengan disiram saos cuko bercita rasa asam dan pedas.

Wisata kuliner pempek pun bergeliat dan dijadikan sebagai bisnis kreatif yang turut berkontribusi dalam membangun identitas daerah. 

Saat ini, pempek tengah disiapkan untuk menuju pasar global. Kudapan ringan ini sebenarnya sudah menembus pasar negara ASEAN sejak 2013 dengan volume mencapai delapan ton per bulan atau senilai Rp 875 juta. Pempek bahkan sudah menjadi salah satu dari 17 jenis komoditas andalan ekspor nonmigas Provinsi Sumatera Selatan.

Pempek Palembang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Dok. Yulia Savitri.

Langkah awal untuk mempromosikan pempek menjadi produk global dimulai pada tahun 2018, saat Palembang menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Asian Games. Dalam mendukung Pempek Goes Global Starting From Asian Games, Badan Standar Nasional (BSN) menyelenggarakan Rekor MURI Pempek ber-SNI sebanyak 18.818 buah yang dihadiri oleh Menteri Pariwisata kala itu. 

Guna mendukung pempek mendunia ini, BSN bahkan telah melakukan pembinaan penerapan SNI kepada UMKM pempek di Palembang agar mampu memenuhi persyaratan standar dan regulasi negara tujuan ekspor. 

Menuang kuah untuk menikmati Pempek Palembang. Dok. Yulia Savitri.

“Alasan pempek perlu ber-SNI yakni sebagai penjamin kehigienisan dan keamanan kandungan pangan. Selain itu, dapat meningkatkan brand pempek di pasar internasional,” jelas Direktur Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN, Heru Suseno dalam webinar Kiat Sukses UKM Pempek Palembang Menuju Pasar Dunia, Jumat 20 November 2020 lalu. 

Saat ini sudah beberapa UMKM Pempek Palembang yang dibina dan difasilitasi dalam penerapan SNI, termasuk sertifikasi HACCP bagi UMKM yang akan ekspor. Sampai saat ini sudah ada 6 UMKM Pempek yang sudah sertifikasi SNI. 

Diakui, BSN telah memfasilitasi pelaku usaha pempek dengan menerbitkan SNI 7661:2013; Pempek Ikan Rebus Beku. Dengan pengolahan pempek beku ini, para UMKM dapat memasarkan produknya lebih luas dan bisa masuk ke marketplace.

“Penerbitan akreditasi dan sertifikat dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi yang diakui. Setelah mendapat SNI, UMKM Pempek tentu perlu menjaga kualitas produk aman dikonsumsi dan proses produksi yang bersih,” jelasnya.

Adapun komitmen Kepala Daerah setempat, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dalam mendorong penerapan SNI di wilayahnya mengeluarkan Surat Edaran pertanggal 28 Maret 2019 kepada seluruh Instansi Pemerintah dan Swasta agar menyajikan Pempek Palembang pada penyelenggaraan pertemuan atau rapat, maupun sebagai oleh-oleh khas.

Komitmen pimpinan daerah akan pentingnya penerapan standar di wilayahnya juga dibuktikan dengan penyediaan fasilitas gedung untuk Kantor Layanan Teknis (KLT) BSN Sumatera Selatan pada 2017. Melalui KLT Sumatera Selatan, sampai saat ini ada 28 UMKM yang dibina dalam penerapan SNI yang tersebar di Sumatera Selatan.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Pempek Palembang, Yenny Anggraeni mengatakan, masalah UMKM pempek terkait pengiriman ke luar secara umum yakni terkait biaya. Hal ini menurutnya karena terbatas dengan modal. Selain itu, urusan sertifikasi standar selalu dianggap ribet oleh para pelaku UMKM. “Belum ada ekspor pempek yang dikirim secara formal. Rata-rata bawa sendiri atau melalui kurir,” ulas Yenni. [End]

Bagikan artikel