Pendakian Gunung Merbabu Via Grenden

Pendakian Gunung Merbabu Via Grenden

posted in: Experience | 0

Hari Minggu jam sembilan pagi, kami  sudah sampai di dusun Grenden di lereng barat Gunung Merbabu. Sudah tiga jam lebih saya sendiri mengendarai sepeda motor. Teman saya yang bernama Huda melakukan perjalanan dengan motor juga dari Jogja. Gusmana, datang paling awal. Dia malamnya ada acara di base camp Wekas yang jaraknya cuma beberapa kilometer dari Grenden. Yang terakhir Yuyun, dia datang paling akhir. Perjalanan santai dari Semarang.

Kita memang baru pertama kali ke dusun Grenden. Keramahtamahan penduduk membuat kami disini terasa seperti keluarga. Pemilik rumah sekaligus penjaga base camp ini  juga langsung menawari kami makan beberapa kali. Namun kami sungkan. Selang tawaran makan bareng yang kesekian, kita pun langsung mengiyakan. Makan bareng dilakukan di ruangan tempat makan dan dapur dengan kompor tanah menggunakan kayu bakar. Kami semua duduk di amben kayu.

Pendakian Merbabu via Grenden

Kami tidak ingin lama-lama di base camp. Kami segera berkemas sekaligus mengecek kelengkapan peralatan dan logistik pendakian kami. Beberapa kue sisa lebaran dari rumah seperti nastar kami bawa untuk logistik pendakian.

Pukul sebelas siang, kami segera berangkat dan mengucapkan terima kasih untuk pada penjaga base camp. Langkah pertama pendakian melewati jalan makadam (jalan setapak dengan di cor semen. red) yang membelah dusun Grenden dari ujung hingga ke hutan wisata Grenden. Jalan makadam ini bisa dilewati mobil dan motor untuk mengunjungi  kawasan hutan wisata.

Tempat perijinan mendaki masih harus ditempuh 500 meter lagi melewati rumah warga. Setiap kali ketemu penduduk sini pasti mereka menegur ramah mempersilahkan untuk mampir ke rumahnya.

Monggo mas Mampir”.

“Nggih pak / buk. Matursuwun” ucapku setiap kali disapa warga.

Tibalah kami di tempat mengurus tiket masuk pendakian. Ada Spanduk wisata Grenden yang melintang jalan makadam di antara rumah warga. Beberapa warga sebagai petugas pengelola. Mereka mendata identitas kami untuk keperluan keselamatan. Biaya masuknya sepuluh ribu rupiah setiap pendaki. Kami juga diberi karcis dan flyer yang berisi peta panduan. Walaupun fotokopian dan sedikit tidak jelas dibaca. Pengunjung yang mengunjungi hutan wisata Grenden juga membayar tiketnya disini. Biayanya kurang lebih dua ribu rupiah.

 

Hutan Wisata Grenden

Jalan Madakam sudah sampai ujung digantikan dengan jalan tanah. Sudah tidak ada lagi lahan pertanian berganti jajaran pohon pinus tinggi berbatang merah api. Pohon pinus yang tinggi  membentuk kanopi yang meneduhkan dibawahnya. Itu tanda sampailah kami di hutan wisata Grenden.

Menurut keterangan dari medial sosial tentang Hutan Wisata Grenden,

Diberi nama Hutan wisata Grenden karena berada di Dusun Grenden. Sejarah Singkat  “Grenden” dan Kawasan Wisata “GRENDEN” berasal dari nama orang pertama yang meninggal di dusun ini yang bernama Mbah Grendi.  Dikarenakan logat jawa yang kental, nama Grendi berubah menjadi Grenden yang kemudian ditetapkan sebagai nama dusun ini.

Petunjuk jalur sudah jelas tinggal mengikuti arah dan jalan setapak hingga ada papan di pos yang bertuliskan pos 1. Di pos 1 terdapat tempat duduk untuk beristirahat.

Pos 1 menuju Pos 2

Perjalanan setelah pos 1 masih banyak didominasi oleh pohon pinus. Jalur sedikit lebih menanjak. Jalur awal melewati pinggiran jurang yang berupa punggungan. Setelah itu menuju ke tengah punggungan yang luas. Ada pipa warga yang melintasi jalur. Hati-hati jangan sampai terinjak. Beberapa jalur ada yang rusak oleh kendaraan motor trail. Meskipun sudah dilarang oleh taman nasional dan warga Grenden, namun kemarin masih saja ada motor trail yang melintasi jalur pendakian yang sempit. Terpaksa kita mengalah keluar jalur sekaligus beristirahat.

Di pos 2 ini terdapat tempat luas untuk mendirikan tenda. Bisa untuk lima tenda. Tidak disarankan untuk mendirikan tenda disini karena jarak menuju puncak masih jauh. Jarak dari pos 1 ke pos ini tidak terlalu jauh.

 

Pos 2 Lawu Menuju pos 3

Perjalanan setelah pos 2 inilah yang lama dan jauh. Trek semakin menanjak dengan jarak elevasi dengan pos 3 sekitar 500 meter. Jalur pendakian setelah pos 2 masih berupa hutan. Hutan pinus sudah berganti menjadi hutan yang heterogen. Lebatnya hutan menutupi sinar matahari masuk ke dalam sela-sela hutan. Siang hari itu kabut berganti beriringan dengan sinar matahari.

Di antara pos 2 dan pos 3 kami memasuki hutan lumut. Terdapat lumut yang menutupi batang-batang pohon yang tinggi. Rasanya sinar matahari jarang menembus hutan ini.  Jalur di hutan lumut ini menyempit seolah-olah kiri kanannya ada tembok tinggi dari tanah. Jalur ini hanya bisa dilewati oleh satu orang. Sedikit susah jika berpapasan dengan pendaki yang berlawanan arah.

Jam empat sore kita sudah sampai di pos 3. Terdapat tanah lapang cukup luas yang bisa menampung enam tenda di pos 3 ini. Selain itu, yang utama terdapat sumber air dari pipa yang bisa diambil. Sumber air dari pipa itu sedikit susah mengambilnya. Lubang dari pipa air yang seukuran jempol tangan.

Sejam lebih kita beristirahat sambil makan siang mengisi perut. Peralatan masak dikeluarkan dari keril untuk membuat kopi hangat sambil makan lontong dan bumbu pecel yang dibeli di pasar sebelum berangkat pendakian. Setelah selesai semua tak lupa untuk mengisi lagi air buat persediaan berikutnya karena setelah ini tidak ada lagi sumber air hingga puncak.

(Catatan redaksi : Jaringan pipa air di Gunung Merbabu merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat di dusun yang berada di lereng Merbabu. Bagi pendaki yang terpaksa menggunakan air dari pipa ini diharapkan hanya mengambil seperlunya dan dengan bijaksana. Selain kondisi darurat, yang paling bijaksana adalah membawa persedian air sendiri dari bawah. Terutama di musim kemarau. Beberapa dusun di lereng Gunung Merbabu mengalami kekeringan air dan sangat bergantung pada sumber air di Gunung Merbabu)

Pos 3 menuju Pos 4

Matahari hampir terbenam. Langit terlihat berubah rona. Garis horison yang tampak oleh mata makin lama makin terlihat jingganya. Kini perjalanan setelah pos 3 berganti dari hutan lebat menuju vegetasi semak dan tumbuhan yang tidak terlalu tinggi hingga jajaran pohon edelweis yang sudah mati karena terbakar.

Jalur pendakian menuju pos 4 ini semakin menanjak. Tidak ada bonus jalan datar maupun jalan menurun selama pendakian menuju pos 4 ini. Trek tanah sudah dibuat jalan beranak-tangga oleh warga Grenden.

Jarak pos 3 menuju pos ini sebenarnya tidak terlalu jauh. Terdapat tempat untuk mendirikan tenda yang luas. Bisa menampung sampai sepuluh tenda. Namun saat kita melakukan pendakian ini, di atas pos 3 belum diberi tanda petunjuk jalan sama sekali. Papan nama pos 4 belum dipasang. Tempat untuk mendirikan tenda juga belum dibersihkan. Jadinya rencana kami untuk bermalam di pos 4 ini batal. Kami terpaksa melanjutkan perjalanan ke atas lagi sampai menemukan tempat untuk berkemah.

Kendi kencana

Langit sudah berganti menjadi gelap. Akhirnya perjalanan setelah pos 4 menembus pergantian malam. Gemerlap kota di lereng Gunung Merbabu tampak kecil dan berjumlah banyak. Kota Magelang dan Salatiga tampak terlihat hiruk-pikuknya jika dilihat dari terangnya cahaya kota.

Jalur sekarang ini berada di punggungan sempit. Sebelah kiri dan kanan berupa jurang. Itu artinya jalur pendakian hanya lurus naik ke atas. Lampu headlamp kami menyorot bukit di depan yang didaki terasa terjal. Ya, itu adalah bukit Kendi Kencana. Jalur pendakian akan melewati bukit Kendi Kencana itu. Di atas bukit terdapat tiang bendera sebagai penanda puncak Kendi Kencana.

Kami terus melanjutkan perjalanan dengan rasa was-was tidak menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Bagaimana tidak, jalur telah berganti menjadi sabana di atas punggungan kecil, dimana sebelah kiri-kanannya jurang. Angin beberapa kali bertiup kencang dari bawah jurang. Seolah-olah memberitahu kami agar jangan berlama-lama disini. Rasa lelah kaki, serta penglihatan kami yang terbatas karena hanya mengandalkan lampu headlamp membuat kami khawatir. Gemerlap lampu kota terlihat jelas, menunjukkan bahwa malam semakin larut.

Selang dua bukit setelah bukit Kendi Kencana yang berjarak setengah jam perjalanan akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda tepat di atas bukit. Tempatnya tidak terlalu luas. Bisa menampung tiga tenda dengan posisi tenda yang sedikit miring. Ada pohon Cantigi tunggal disini. Kami pun menyebut bukit ini Cantigi Tunggal. Akhirnya kami bermalam di sini.

Puncak Cantigi Tunggal

Apa yang paling dicari oleh pendaki ketika mendaki gunung? Ya, Sunrise. Matahari Terbit. Terkadang, dimanapun kita berpijak. Panorama yang berpadu dengan rona matahari pagi terasa mengagumkan. Disetiap tempat mempunyai keindahan sendiri.

Senin pagi itu pemandangan tampak cerah. Beberapa gunung sejauh mata memandang tampak terlihat jelas. Gunung Sindoro, Sumbing, Prau, Slamet berada di sisi barat. Sedangkan gunung Andong, Telomoyo dan Ungaran tampak dari sebelah utara. Kami mengabadikan beberapa foto sambil menikmati kopi hangat yang sudah dibuat sebelumnya.

Kami masih melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tampak di depan dua bukit lagi yang harus dilalui sampai ketemu jalur dari dusun Suwanting. Tepatnya di atas puncak Suwanting. Kami hanya membawa peralatan sesuai kebutuhan ke puncak. Kami berempat membawa satu tas yang berisi logistik cemilan dan air sedangkan tenda dan keril ditinggal di puncak Cantigi Tunggal tadi.

 

Pertigaan Jalur Suwanting

Jalur Sabana yang rumputnya sudah menjadi kuning kini menghiasi vegetasi sepanjang jalur. Pohon cantigi dan edelweis jadi pelengkap pemandangan disini. Trek berupa tanah yang sudah diperbaiki warga dibuat menjadi anak-tangga. Jalurnya menanjak. Sudah setengah jam lebih kita berjalan dari tempat berkemah. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Kami sudah tepat di pertigaan jalur Suwanting.

Dari pertigaan Jalur Suwanting ini pemandangan Gunung Merapi sudah tampak jelas. Terlihat pula Sabana 2 jalur Selo dengan tenda-tenda tersusun secara acak berwarna-warni menghiasi sabananya. Dari sisi sebelahnya, sisi utara, Tenda kami juga masih terlihat. Pemandangan yang indah.

Puncak Trianggulasi

Jarak dari pertigaan Suwanting hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk menuju puncak. Jalurnya akan bertemu di puncak Trianggulasi Merbabu. Salah satu dari tiga puncak Merbabu yang terkenal, yang tingginya hampir sama. Puncak Trianggulasi, puncak Kenteng Songo dan puncak Syarif.

Jam setengah sembilan pagi sampai juga kami di puncak Trianggulasi. Beberapa pendaki dari jalur lain sudah berada di tempat ini sambil berfoto-foto dengan penanda puncak. Di puncak tidak banyak pendaki karena saat itu hari Senin.

Kami tidak berlama-lama di puncak. Setelah berfoto sebentar langsung kami kembali ke tempat tenda berdiri. Setelah itu kami menghabiskan logistik untuk sarapan pagi dan langsung turun melewati yang sama. [Agus Wibisobo/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 195
  • 192
  • 179
  •  
  •  
  •  
    566
    Shares
Follow Agus Wibisono:

Travel Addict | Adventure Seeker | Sport Enthusiast | Landscape Lover Based on Surakarta

Latest posts from

Komentar anda?