Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Merapi

Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Merapi

posted in: Experience | 0

Puncak Gunung Merapi – Banyak pendaki yang sudah ada disana. Begitu ramai. Tepat diatas salah satu batu yang cukup curam dan sangat berbahaya jika kita tidak berhati-hati menginjaknya. Batu itu tepat berada disamping kawah yang sangat curam.

Ini perjalanan ke gunung Merapi untuk pertama kalinya. Aku memutuskan melakukan pendakian hanya berdua. Tanggal keberangkatan trip kami pun sudah fix. Pengennya sih cepat-cepat kesana, tapi kebetulan terbentur sama ujian di kampus. Akhirnya aku nyari waktu libur diantara sibuknya ujian dan fix dapat! Aku langsung packing perlengkapan, mulai dari SB, matras, jaket tebal, headlamp, logistic dan masih banyak lagi. Yaaah! Satu persatu masuk kedalam tas ransel yang lumayan besar. Packing selesai.

Mentaripun akhirnya datang. Aku begitu semangat karena waktu yang kunantikan sudah tiba. Aku bergegas mandi dan langsung bersiap untuk perjalanan ke Merapi.  Setelah semuanya siap, kami berdua diantar oleh keluarga ke basecamp Merapi.

“Yeaaahhh petualangan dimulai “

Perjalanan memang benar-benar dimulai. Kami menyusuri Kota Boyolali..

Aku duduk dibelakang sama Andre sambil bercanda ndaa jelass. Sampai akhirnya akupun tertidur. Tak lama kemudian akupun terbangun dan ternyata sudah memasuki wilayah Selo, Boyolali. Disinilah keberadaan basecamp para petualang. Mobilpun berhenti tepat di depan basecamp Barameru.

Andre bergegas turun,

“Kemana Ndre? Tanyaku

“Registrasi bentar, kamu disini aja ” Jawabnya

“Oh oke 🙂 ” Jawabku

Setelah selesai registrasi kami melanjutkan perjalanan ke tempat terakhir persinggahan, tepatnya di New Selo. Jalannya yang begitu ekstrim belakbelok dengan keindahan hutan di sepanjang jalan membuatku semakin semangat dan ingin cepat-cepat sampai di jalur pendakian gunung Merapi.

Yeeaaaayyyy!  Akhirnya sampai juga di New selo. Kalo siang sih dipakai buat tempat peristirahatan para pendaki. Kami pun turun. Kami berdua mulai menata rapi barang bawaan biar enak saat dibawa naik atau istilahnya re-packing.

Tepat jam 13.00 WIB kami mulai mendaki. Kawanku memimpin doa, setelah itu langsung melanjutkan perjalanan.. Disepanjang trek, kami selalu bertemu dengan pendaki-pendaki hebat yang turun gunung. Ada yang lari-lari, Ada yang terlihat loyo. Pokoknya macam-macam deh! Dimanapun bertemu kawan pendaki, kami udah kayak semut, ada orang lewat pasti nyapa. Entah tanya dari mana. Adaa juga yang ngasi support semangat. Banyak hal deh yang aku dapat dari situ.

Setelah kurang lebih 2 jam, aku dan Andre memutuskan untuk beristirahat sholat dzuhur di selter pertama. Sembari menunggu adzan ashar tiba, aku melihat begitu ramainya para pendaki yang turun. Ada yang sempat ngobrol  di shelter. Lama Andre ngobrol sama mereka hingga akhirnya adzan ashar pun berkumandang. Aku langsung bergegas siap-siap shalat ashar. Masih sama seperti tadi, Andre menjadi imamku. Selesai shalat, kami berdua langsung melanjutkan perjalanan.

Canda tawa, joke ndaa jelas iringi perjalanan kami menuju puncak Merapi. Setelah kurang lebih 2 jam kami pun sampai di pos 1. Aku mengajak Andre untuk berhenti.

Kami berdua duduk berdua diatas batu sambil melihat puncak Merapi. Melihat senja yang samar. Tertutup oleh kabut tebal. Di momen indah ini aku sempatkan buat mengabadikan foto. Yaaah, kita berdua memang hoby banget narsis. Hehehe!

Kami melanjutkan perjalanan. Sampai di pos 2 ternyata hari telah berganti malam. Aku memutuskan untuk beristirahat diatas batu. Aku meletakkan ranselku dan mulai merebahkan diri diatas batu. Kami berdua rebahan diatas batu sembari menikmati bulan yang terang. Gemerlap lampu kota Boyolali. Kerlip sorotan lampu senter di gunung Merbabu. Alunan musik tenda sebelah. Semua menjadi teman malam kami.

Malam begitu dingin kala itu, angin menerobos ke jaket tebalku. Aku tetap mencoba memejamkan mata tapi dingin memaksaku untuk tetap bangun. Badan semakin menggigil. Aku langsung rebahan dibalik batu. Aku berusaha memejamkan mata. Tapi dingin semakin dingin malam itu.

Aku bangun dan duduk disebelah kawanku Andre. Ternyata dia pulas tertidur. Kulihat dia kedinginan, ga tega melihatnya. Aku menahan dingin ditubuhku hingga berujung sakit kepala. Aku memang sering sakit kepala secara tiba-tiba. Aku tahan, ingin kubangunkan Andre tapi ndak tega. Aku menahannya hingga akhirnya Andre terbangun.

Kami beranjak dari tempat istirahat. Akhirnya kami temukan tempat yang lumayan tersembunyi karena dikelilingi pohon kecil. Kami langsung mendirikan tenda disitu. Angin yang kencang malam itu membuatku semakin ingin cepat berada dalam tenda. Tenda pun berdiri, perlengkapan serta logistik sudah berada dalam tenda semua. Secangkir kopi hangat menemani kami malam itu.

Pagi telah datang, Entah kenapa pagi itu aku begiu malas hingga bangunpun enggan.

“Sunrise neng sunrisenya udah keliatan..” Sayup-sayup hatiku berbisik.

Yaapsss kali ini aku langsung terbangun. Larii keluar dan hari masih gelap. Akhirnya aku sama Andre pun memutuskan untuk shalat shubuh sembari menanti sunrise muncul dari ufuk timur..

“Assalamualaikum wr.wb”

Salam terakhir terucap dari Andre untuk mengakhiri shalat subuh kami.  Kami langsung membereskan semua peralatan shalat dan

SUBHANALLAH..!

Betapa terpukaunya aku melihat mentari yang malu-malu menampakan wajahnyaa tepat di depan mataku!

“Ya Allah nikmat yang mana lagi yang akan aku dustakaan”

Aku duduk di salah satu batu yang tidak terlalu jauh dari tenda. duduk terdiam menatap mentari, menikmati sunrise pagi itu sambil menikmati hangatnya susu coklat yang ada di genggaman tangan. Begitu banyak pose-pose yang kami lakukan didepan kamera. Yaaahh..! Semacam mengabadikan momen luar biasaa di gunung Merapi.

Mentari semakin meninggi. Begitu banyak pendaki yang juga lalu lalang menuju puncak Merapi. Terlihat di kejauhan keramaian pendaki yang sudah ada di puncak.  Akhirnya kami memutuskan ke puncak. Kami langsung memulai perjalanan ke puncak. Tidak adaa satu momen pun yang kami lupakan..

Yaaahhh!  Aku masih asik menikmati jalur yang menanjak. Puncak ada didepan mata. Jalan yang begitu menjulang tinggi. Bebatuan dan pasir adalah jalan utama yang harus kami lalui. Tapi kami tetap semangat. Langkah demi langkah kami pijakan disini. Betapa tidak percaya ketika aku meihat seorang lelaki yang seumuran seperti ayahku. Berjuang dengan sepatu ket, kaos orange dan peci yang membuatnya terlihat gagah dan berwibawa. Terlintas dibenakku.

Melihat bapak itu kami menjadi semakin semangat . Pasir bebatuan seolah menjadi teman setia. Kami juga bertemu beberapa pendaki dari AMS yang tidak kalah semangat untuk sampai ke puncak Merapi. Semakin mendekati puncak bau belerang mulai tercium.

Aku begitu semangaaat. Beberapa langkah lagi dan SAMPAI…!

Subhanallah.. Inikah kuasaMU Tuhaaannnn..!

Dalam hatiku tiada berhenti memujaMu Tuhan. Banyak pendaki yang sudah ada disana. Begitu ramai. Tepat diatas salah satu batu yang cukup curam dan sangat berbahaya jika kita tidak berhati-hati menginjaknya. Batu itu tepat berada disamping kawah yang sangat curam. Sembari menikmati keindahan kami sempatkan berbincnag-bincang dengan kawan pendaki yang lain. Bagaimana tidak bahagia usaha yang bukan main main. Akhirnya kami sampai disini. Menikmati potongan demi potongan buah pir yang segar. Ditemani sang surya yang begitu cantik. Dari kejauhan terlihat gunung Merbabu, Sindoro Sumbing, Andong, Prau, Gunung slamet yang terlihat kecil. Melihat betapa agungnya kuasaNya. [Suryaning Prastuti/End]

Penulis : Suryaning Prastuti – Yogyakarta

Catatan : Pendakian ini dilakukan sebelum Taman Nasional Gunung Merapi melarang pendakian sampai ke Puncak Merapi.

 

 

Sebarkan :
  • 179
  • 168
  • 167
  •  
  •  
  •  
    514
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar anda?