Perjalanan Mendatangkan Inspirasi (1)

Ekonomi Hijau Berbasis Pariwisata Berkelanjutan yang terintegrasi dengan teknologi informasi, digital, energi terbarukan, industri kreatif, seni-budaya, perternakan dan pertanian organik. Menarik sekali kan?


Ide ini berawal dari keprihatinan melihat pengelolaan sampah yang ditimbulkan oleh pendakian gunung. Di Gunung Merbabu, Senin – 22 April 2013, bertepatan dengan Hari Bumi. Aku berada di basecamp pendakian Merbabu milik Pak Parman.

Keindahan sabana Merbabu jalur Grenden. Jalur Grenden merupakan sebalah utaranya jalur Suwanting-Agus Wibisono

Jeffry teman mendakiku saat itu harus turun mengantar Alett ke terminal Ampel. Alett cedera kaki dan teman-temannya saat datang ke Merbabu telah pulang malam sebelumnya. Jadi Jeff dapat tugas mengantarnya sampai terminal.

Saat itulah aku merenung. Setelah mandi dengan air yang sangat dingin, berjemur di bawah belaian panas matahari yang ramah, sambil menghabiskan beberapa batang rokok kretek yang kubeli dengan sisa-sisa uang terakhirku bulan ini. Tentunya bersama segelas kopi Gayo yang beraroma harum dan begitu halus ditenggorokan pemberian dari Sisca Mudyastuti.

Langit Merbabu sangat cerah dengan gumpalan awan putih yang memanjakan mata. Di sebelah kananku, Puncak Merapi terlihat gagah perkasadengan kawah merekah. Tepat di depanku, segaris tipis dari dasar awan melintang membatasi langit. Gumpalan-gumpalan diatasnya bergradasi dari abu-abu sampai ke putih polos. Gumpalan itu seperti kapas yang disusun memenuhi langit.

Aku terharu, membayangkan betapa indahnya anugerah Tuhan yang diberikan padaku. Ide ini didatangkan dari langit yang cerah. Keheningan di basecamp pendakian memuluskan masuknya ide-ide indah ini. Hanya ada dua pendaki yang naik, mereka survey ke pos 2. Kedua basecamp di merbabu kosong, hanya ada sepeda motor parkir.

Di dekatku, ibu-ibu muda mencuci pakaian. Bapak-bapak muda mulai beraktivitas sesuai rutinitas kerja. Bapak-bapak yang lebih tua tampak melangkah menuju kebun. Sebagian turun dengan menjunjung hasil pertanian. Mereka membawa wortel sekarung penuh atau rumput sekarung rumput untuk pakan ternak.

Pemandangan keseharian penduduk ini sungguh sederhana. Mengalir bagai air sejuk yang merayap perlahan di dasar sungai. Sungguh pemandangan yang membawa ketenangan. Jauh dari hiruk-pikuk kota yang sangat komersial dan memuakkan.

Ya, begitulah dua lembar catatanku yang hilang kini terganti dengan satu halaman penuh tulisan. Dua jam, selama Jeffry mengantarkan Alett dan ternyata tersesat di jalan, Tuhan memberikan lebih dari yang kuinginkan.

Kasus tersesat ini, yang mana dalam bahasa Jeff dia sebut “Mengelilingi Merbabu nyaris 360 derajat” seakan memberikan waktu bagiku untuk menyendiri. Menyelami diri sendiri lalu berkolaborasi dengan alam dan suasana kesederhanaan di kaki gunung Merbabu. Hingga perenungan indah itu menghasilkan sebuah lecutan ide yang begitu besar. Jauh lebih besar dari fisik Gunung Merbabu itu sendiri.

Ide ini, jika benar-benar terlaksana dengan lancar di suatu tempat, maka akan menjadi percontohan luarbiasa berstandar internasional yang dapat diterapkan di gunung manapun dengan improvisasi konsep dan teknis sesuai situasi dan kondisi di masing-masing tempat.

Untuk satu sampel pelaksanaan teknis, konsep ini secepatnya bisa bersirkulasi dengan baik dalam waktu 5 tahun (jika semuanya lancar dan jalan sangat mulus). Waktu ini tanpa dasar. Hanya prediksi dengan membayangkan tingkat kesulitan yang ada untuk merealisasikannya.

Kemudian, 15 tahun untuk evaluasi, penyesuaian konsep, pengamatan dan monitoring proses berjalannya sirkulasi konsep, hingga bisa menjadi suatu standar yang bisa diterapkan di tempat lain. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dalam jangka 100 tahun, konsep standar ini bisa menyebar dan diterapkan secara bertahap di seluruh wilayah Indonesia.

Pertanyaannya, seperti apakah detail dari ide yang kumaksudkan? Jika pembaca penasaran, silakan tulis kan pertanyaan dan tanggapan di komentar. Semakin banyak komentar, akan semakin membuat saya bersemangat menyelesaikan detail dari ide ini. [Nurul Amin/to be continue]


Note : Terima kasih Jeffry dan Alett – yang telah menjadi partner mendaki dimana ide ini tercetus. Thanks buat Hardian Putra yang mau diajak diskusi tentang rencana ini dan memberi tambahan ide baru.

Bagikan :

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *