Pertama Kali Mendaki Gunung Prahu

Pertama Kali Mendaki Gunung Prahu

posted in: Destination | 0

Akhirnya setelah sekian lama (hampir 2 tahun tidak mendaki), saya berkunjung juga di Gunung Prahu. Ini sedikit oleh-oleh dari sana. Berhubung 05 Mei pendakian telah dibuka kembali (paska insiden pendaki disambar petir).

Jalannya Pendakian

Alhamdulillah, pendakian berjalan lancar dan aman. Saya tiba di basecamp Pathak Banteng sekitar pukul 14.00 WIB. Lima belas menit di basecamp, hujan gerimis turun. Semakin lama semakin deras. Jadi mau tak mau menunggu sejenak sambil minum kopi di basecamp.

Waktu itu juga dimanfaatkan untuk menyewa peralatan, re-packing dan melakukan registrasi. Sekitar pukul 15.30 WIB hujan reda. Hari itu banyak rombongan pendaki dari Bekasi, Tangerang, Jogja dan Semarang. Menurut orang di basecamp, di atas sudah ada sekitar 200 orang yang mendaki sebelumnya.

Basecamp Pathak Banteng bisa dibilang basecamp paling ramai dijadikan sebagai titik awal pendakian Gunung Prau. Mungkin karena aksesnya yang dekat dengan jalar raya Dieng dan treknya ke puncak yang lebih pendek dibanding jalur lainnya. Di Basecamp ini sudah banyak warung yang menyewakan peralatan outdoor. Untuk 100 orang sekali jalan masih dapat ditampung 1-2 warung. Biaya sewa per paket lengkap sekitar 200 ribu rupiah. Jika sewa satuan tentu lebih murah.

Saya mulai berangkat 15.45 WIB setelah menunggu hujan deras reda. Jalur awalnya melewati jalan disamping rumah-rumah warga. Lalu semakin keatas mulai melewati perkebunan warga. Disini penduduk dominan menanam kentang.

Jalur dari basecamp sampai pos 1 memang dibuat oleh warga berundak dan banyak cukup untuk 2 orang berpapasan. Dikiri-kanannya ada semacam pagar tali besi yang dapat digunakan untuk berpegangan. Sepanjang jalan menuju pos 1 dan 2 ini masih melewati perkebunan warga. Di sepanjang jalan menuju dua pos 2 malah ada banyak warung yang dibuat sementara oleh warga setempat. Isinya makanan ringan, cemilan sampai makanan berat yang memang disediakan untuk pendaki yang naik ataupun turun. Ada semangka yang segar. Pas dimakan setelah berkeringat dihajar oleh trek yang menanjak.

Dari pos 2 ke pos 3 jalur tetap terjal. Medannya mulai dari tanah berbatu hingga dibeberapa area jalurnya batuan beku. Pemandangan sekitar semakin di dominasi pohon yang lebih tinggi dan besar seperti Pinus. Dari pos 3 sampai Pelawangan mulai ditumbuhi Cantigi. Trek berbatu semakin banyak.

Dari Pelawangan menuju Sunrise camp dan puncak, jalan cukup landai. Inilah bonus paling segar sebelum puncak Prahu. Dari landasan hanya perlu beberapa menit lagi untuk tiba di puncak 2565 MDPL.

Saya tiba di camping area (sekitar bukit Sunrise) dekat sama puncak Gunung Prahu pukul 18.07 WIB. Cahaya di sekitar lokasi sudah mulai gelap. Saya berjalan-jalan di sekitar area tersebut cukup lama. Saya mencari dataran yang cukup baik untuk tenda kapasitas 2 orang. Setelah melihat-lihat arah timur di kompas, akhirnya mendirikan tenda dengan pintu mengarah ke timur. Posisi tenda agak di jauh dari puncak gundukan bukit.

Mungkin karena baru dibuka, malam itu tidak terlalu banyak pendaki yang menginap di sekitar puncak. 200-300 orang mungkin ada. Itu masih terhitung kondusif untuk mendirikan tenda. Masih banyak space untuk camping. Menurut Mas Dodi, salah satu guide di basecamp Prau, pernah ada 7.000 orang dalam sehari pendakian Gunung Prahu. Terbayang banyaknya orang di bukit itu dan bagaimana antrian pendaki yang naik dan turun.

Menu kentang rebus dan ikan asin pindang. Dok. Nurul Amin

Setelah tenda berdiri dan saya juga mulai kedinginan. Akhirnya waktu makan malam pun harus segera diadakan. Saya sengaja tidak membawa peralatan masak. Saya membawa makanan yang sudah matang. Dua makanan impian saya : kentang rebus dan ikan asin saya bawa ke Gunung Prahu. Syukurnya, setelah dibuka, saya rasakan kondisinya masih hangat. Saya makan dengan lahap 2 kali dalam semalam itu. Saya bawa empat biji kentang sebesar genggaman tangan orang dewasa yang gemuk. Panjang sekitar 10 cm. Berat mentah sebiji kentang itu sekitar 0,5 kilogram. Dan lauknya empat ekor ikan pindang asin yang digoreng dengan telur ayam. Makjleb! Keduanya masih hangat saat saya makan. Enak sekali. Jauh lebih enak daripada waktu saya ngiler mie kering di Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Kentang rebus dan ikan pindang asin itu menurut saya makanan paling enak yang pernah saya makan di gunung. Kebetulan saat memakannya saya juga sudah cukup lapar.

Malam itu saya dua kali terbangun dan keduanya untuk buang air kecil. Bangun yang kedua saya manfaatkan untuk  d makan yang kedua kali. Udara dingin namun tidak sampai membuat tubuh menggigil. Tenda saya berdiri sendirian sampai pagi di lereng tersebut. Memang tidak banyak space datar yang pas buat tenda di area tersebut. Saya pilih karena pemandangannya ke Sunrise tidak terhalang apapun.

Setelah bangun pagi ternyata view’ Gunung Sindoro-Sumbing ada di sebelah tenggara. Tepat disamping pintu tenda. Saya harus mengeluarkan sedikit kepala untuk melongo melihat Sindoro-Sumbing di ujung sana. Namun tidak mengapa. Pagi itu cukup cerah, saat matahari bersinar, cahaya dan panasnya pas masuk ke dalam tenda. Saya tinggal membuka resleting pintu tenda untuk mengundang cahaya dan panas itu masuk ke dalam.

Lanskap pemandangan di sekitar puncak Gunung Prahu. Dok. Nurul Amin

Saya bangun jam 5 pagi, liat sunrise yang belum keluar karena awan menutupi. Saya duduk, merokok, sambil memperhatikan tingkah polah pendaki yang sedang mengambil foto. Sempat berjalan-jalan sambil merokok juga ke beberapa bukit sampai capek sendiri. Satu saja yang kurang dalam pendakian ini, yaitu kopi. Kopi manual brew tentu sangat maknyus jika dinikmati di perbukitan sekitar Puncak Gunung Prahu ini. Ya itu efek saya tidak bawa alat masak. Dan saya tidak berniat sewa alat masak karena saya tidak bawa persediaan biji kopi ke Dieng.

Di salah satu puncak bukit yang menghadap ke telaga warna saya ngobrol sama mas Thopik, guide Gunung Prau yang sedang membawa tamu dari Malaysia. Sambil dia menunggu tamu berfoto kita berdua ngobrol dan mungkin akan bertemu darat suatu kali nanti.

Mas Thopik bilang dia membubarkan beberapa tenda yang nekat mendirikan tenda di puncak bukit sekitar Tower. Di basecamp sudah diingatkan untuk tidak mendirikan tenda di sekitar area tersebut untuk meminimalkan kejadian serupa insiden tersambar petir beberapa waktu lalu. Pendaki juga disarankan untuk tidak turun lewat jalur lain, terutama yang tidak mengerti Medan di Gunung Prau. Mungkin untuk memudahkan pendataan turun-naik pendaki. Dan pendaki disarankan untuk turun pada jam 8 pagi untuk menghindari hujan. Akhir-akhir ini, menjelang siang, cuaca sering mulai mendung di Dieng.

Jam 09.00 WIB saya turun. Turun Gunung Prahu yang sebagian jalurnya dibuat tangga berundak cukup membuat lutut gemetaran menahan beban. Syukurnya undangannya tidak sepanjang seperti di jalur Cemoro Sewu, Gunung Lawu. Jadi masih kuatlah kaki yang sudah tua ini.

Dibawah pos 2 saya kembali berhenti di warung yang sama. Makan semangka 2 potong dan istirahat sebentar menghabiskan rokok. Tiba di basecamp Pathak Banteng pukul 10.35 WIB dan segera mengembalikan peralatan yang di sewa lalu kembali ke Dieng Kulon.

Penilaian :

Treknya bisa bikin muntah jika dipaksa jalan cepat sejak awal. Lebih terjal daripada Trek awal di Merapi. Saya sarankan tidak memakai celana jeans ketat karena treknya bisa bikin paha keram dan celana robek. Usahakan tidak memakai sepatu kets karena trek terjal dan licin saat musim hujan, untuk mengurangi potensi terpeleset.

Saya mendaki sendiri dan membawa caping tani untuk mengantisipasi hujan deras yang beberapa waktu terakhir kerap mengguyur Dieng Plateu. Syukurnya tidak sempat dipakai karena tidak hujan.

Waktu pendakian untuk naik sekitar 2-4 jam tergantung kecepatan mendaki dan jumlah pendaki. Dan untuk turun sekitar 1 -3 jam.

Aturan :

  1. Dilarang nyampah tentu saja. Dilarang juga merusak pohon dan berburu.
  2. Open trip per sepuluh orang wajib membawa guide lokal. Biaya guide 300 ribu per trip 2 hari semalam.
  3. Biaya : Sewa tenda kap 2, matras dan SB seharga 80 ribu. Semangka 4 potong, es teh dan kopi seharga 15 ribu, registrasi dan parkir seharga 20 ribu. Untuk satu paket lengkap 200 ribu

Pemandangan diatas bagaimana? Tentunya lebih indah daripada di foto ya. Kalau ada sobat Travelnatic mau kesana, admin bisa guide in 😂. Bisa juga langsung ke basecamp Gunung Prahu karena disana banyak guide yang ready mengantar tamu.

Baiklah pendakian Gunung Prahu untuk pendaki pemula? Jawabannya relatif. Setidaknya pendaki ada pengetahuan sedikit tentang pendakian gunung, gunung Prahu, melakukan olahraga beberapa hari sebelum melakukan pendakian, membawa perlengkapan yang sesuai dan direkomendasikan, serta mengikuti instruksi petugas di basecamp pendakian, saya kira pendaki pemula dapat mendaki Gunung Prahu dengan aman. Tentunya penilaian ini diluar adanya faktor X.

Nah cukup ini dulu oleh-oleh saya dari Gunung Prahu. Silakan tulis komentar ya jika ada yang mau ditanyakan. Saya akan jawab sepengetahuan saya saja. Terima kasih pembaca Travelnatic. Jangan segan buat share yahhh 😂😂😂

#gunungprau #gunungperahu #gunungprahu #dieng #diengplateu #jawatengah #indonesia #mountprau #mount #mountain #mountaineering #mountainers

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    1.1K
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar Pembaca