Pesona Alam dan Keunikan Masyarakat Pegunungan Arfak, Papua Barat

Pesona Alam dan Keunikan Masyarakat Pegunungan Arfak, Papua Barat

posted in: Destination | 0

“Sekali tepuk, tiga lalat mati.”

Mungkin kalimat diatas sangat cocok untuk menggambarkan apa yang diperoleh jika kita pergi berwisata ke Kabupaten Pegunungan Arfak (selanjutnya disingkat Pegaf). Apa pasal? Setelah badan hampir remuk berjuang melewati tantangan jalan pegunungan yang meliuk-liuk penuh tanjakan dan turunan, pengunjung akan disuguhi panorama alam luarbiasa, sekaligus dengan keasrian alam dan keunikan masyarakatnya. 

Pegaf masuk dalam wilayah Provinsi Papua Barat. Provinsi Papua Barat sendiri terletak di bagian kepala burung pulau Papua.  Kabupaten Pegaf ini terletak di pegunungan Arfak dengan ketinggian 2.950 mdpl. Sebelah utara Kabupaten Pegaf berbatasan dengan kabupaten Manokwari. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Manokwari Selatan. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Teluk Bintuni. Dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Sorong Selatan.

Kabupaten Pegaf memiliki tempat wisata yang sungguh menakjubkan. Ada wisata danau Anggi, wisata kuliner (makanan khas masyarakat kabupaten Pegaf), kita juga bisa ikut merasakan hidup bersama-sama dengan suku-suku di Pegaf (cara bertani, cara hidup, cara bertahan hidup di Pegaf), pemandangan menuju ke Kabupaten Pegaf juga masih sangat asri, dan yang paling terasa ke badan yaitu perjalanan yang tentunya sangat menantang adrenalin.

Ada dua jalur menuju ke Pegaf, yaitu pertama jalur dari Kabupaten Manokwari dan kedua jalur dari Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel).  Perjalanan kali ini saya dan rekan-rekan melalui kedua jalur tersebut. Saat pergi ke Pegaf, kami melalui jalur yang pertama dan pulang melalui jalur yang kedua. Ini merupakan perjalanan pertama saya menuju Pegaf.

KEINDAHAN DAN LEGENDA DANAU ANGGI

Ada dua danau besar yang terletak di Kabupaten Pegaf ini. Danau yang terletak di bagian bawah diberi nama Danau laki-laki (Danau Anggi Giji) dan danau yang terletak dibagian atas diberi nama danau perempuan (Danau Anggi Gida). Dibalik nama yang unik tersebut, ada sebuah cerita romantis yang hingga saat ini masih terus diceritakan kepada anak cucu dan para wisatawan yang berkunjung kesana.

Alkisah, ada sepasang kekasih yang berbeda suku namun hidup berdampingan di Pegunungan Arfak. Suku si pemudi tinggal di daerah yang jauh lebih tinggi daripada suku si pemuda. Si pemudi dan si pemuda menjalin kisah cinta dalam waktu yang cukup lama. Sehingga rasa cinta dan sayang semakin hari semakin kuat. Namun kisah cinta mereka berdua ditentang oleh orang-orang di suku mereka masing-masing. Terlalu banyak aturan adat yang harus dilanggar jika kisah cinta mereka berujung di pelaminan. Hal inilah yang membuat mereka dipaksa untuk memutuskan hubungan cinta yang telah lama mereka rajut. Mereka akhirnya berpisah dan kembali tinggal di suku masing-masing. Karena putus cinta dan tak diperbolehkan bertemu lagi, mereka menangis tak henti-henti hingga air mata mereka menjadi danau.

Danau yang terbentuk dari genangan air mata si gadis diberi nama danau perempuan (Anggi Gida) dan danau yang terbentuk dari genangan air mata si pria diberi nama danau laki-laki (Anggi Giji). Hingga saat ini masyarakat setempat masih percaya bahwa sepasang kekasih itu masih hidup di dalam masing-masing danau tersebut. Di Pegaf, banyak terdapat suku-suku kecil, namun semua suku kecil tersebut saat ini telah menjadi satu suku besar yaitu suku Pegunungan Arfak.

PERJALANAN MENUJU KABUPATEN PEGAF

Kabupaten Pegaf terletak diketinggian 2.950 mdpl. Perjalanan menuju Pegaf memakan waktu selama empat jam dari Kota Manokwari. Perjalanan menuju Pegaf bisa lebih cepat jika jalan menuju Pegaf beraspal. Sekarang, akses menuju Pegaf masih berbatu dan berlobang di mana-mana. Pada tahun 2006 lalu, pemerintah telah membangun jalan aspal menuju Pegaf, namun karna kondisi batuan dan tanah yang mudah bergerak dan cuaca yang lembab, jalan tersebut kembali rusak. Keberadaan jalan aspal tersebut ditandai dengan adanya beberapa badan jalan yang beraspal. Hanya mobil sejenis offroad yang bisa sampai ke Pegaf. Contohnya seperti Hilux, Ranger, truk, dan kendaraan khusus medan berat lainnya.

Ada beberapa tanjakan yang saya beri nama “tanjakan maut”. Kemiringannya mencapai 45 derajat. Hal ini membuat nafas seakan berhenti berhembus dan jantung berhenti berdetak saat mobil sedang menaiki tanjakan tersebut. Semua mobil yang berhasil mencapai Pegaf punya pedal gas tambahan. Ini biasa disebut turbo double oleh supir-supir yang sering menuju Pegaf. Jika ingin menggunakan kendaraan leluasa, kita bisa menyewa Hilux. Harga sewa mobil Hilux Rp 2.500.000 per hari bisa muat 4-5 orang penumpang. Namun kita juga bisa menggunakan Taxi Hilux (digunakan bersama penumpang lainnya). Harga per orang Rp 300.000 per orang jika duduk di dalam mobil dan Rp 150.000 per orang jika duduk di bak belakang. Perjalanan mengelilingi pegunungan Arfak minimal 2-3 hari jika kita sekalian mau berwisata dengan nyaman dan santai. Perlu digaris bawahi, jika kita menaiki angkutan umum, kita tidak bisa berkunjung ke danau Anggi gida karena tidak ada angkutan umum ke sana. Akan lebih santai dan nyaman jika kitaberwisata ke danau Anggi menggunakan kendaraan sewa atau kendaraan pribadi.

Di sepanjang jalan menuju Pegaf ini pengunjung akan melalui hutan-hutan dengan pepohonan yang sangat besar dan menjulang tinggi. Badan jalan bertengger di lereng mengitari gunung. Hamparan hutan tak berujung. Gunung-gunung di kejauhan tampak menjulang tinggi dan jurang-jurang terlihat tanpa dasar karena begitu tingginya.

Di beberapa titik tertentu ada perbaikan jalan, sehingga kendaraan yang hendak melewati jalan tersebut diwajibkan berhenti. Penutupan jalan ini sering pula terjadi di tanjakan atau turunan. Penutupan jalan ini bisa memakan waktu hingga sejam, sehingga terjadi antrian kendaraan yang panjang. Ada keunikan dengan cara parkir mobil diantrian panjang tersebut. Saat mengetahui ada penutupan jalan, para supir akan meneriakan kata “melintang!!!” dan membunyikan klakson panjang. Itu tanda pemberitahuan kepada supir-supir di mobil belakang agar bersiap-siap memarkir mobil dengan posisi melintang. Posisi melintang ini bertujuan agar mobil yang parkir di kemiringan tidak terperosot ke bawah.

Saya adalah satu dari ribuan orang yang mabuk jika melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan mobil. Jadi sebelum melakukan perjalanan, saya mengkonsumsi obat anti mabuk agar tidak mabuk saat dalam perjalanan menggunakan mobil. Obat anti mabuk tersebut mengandung penenang sehingga mampu membuat saya tertidur pulas di sepanjang perjalanan. Ada beberapa kerugian jika kita mengonsumsi obat anti mabuk dengan dosis penenang. Pertama, kita tidak bisa menikmati suasana perjalanan. Kedua, kita tidak akan tau apa yang terjadi di perjalanan. Saya belum mengenal medan menuju ke Pegaf dan saya melakukan kesalahan dengan mengonsumsi obat anti mabuk. Obat anti mabuk tersebut agak lambat bereaksi pada tubuh saya. Obat tersebut baru bereaksi terhadap tubuh saya setelah setengah perjalanan. Mata saya terasa sangat berat karena pengaruh obat tersebut. Namun saya tidak bisa tidur walau hanya setengah menit karena kondisi jalan yang sangat rusak. Rasanya sangat tersiksa. Saya tobat mengonsumsi obat anti mabuk di medan yang belum saya kenal. Saran saya, sebaiknya jangan mengonsumsi obat-obat yang mengandung penenang saat melakukan perjalanan.

Karena kondisi jalan yang berlobang dan bergelombang, saya tidak bisa duduk dengan satu gaya. Badan saya terhempas kiri-kanan dan maju-mundur seiring dengan irama gelombang dan gundukan di jalan. Teman saya yang bertubuh gemuk (maaf) dengan berat badan 87 kilogram saja terhempas kiri-kanan, apalagi orang yang beratnya hanya 40-70 kilogram. Saya menyarankan untuk mengatur posisi duduk yang nyaman dan aman. Tidak memangku barang atau tas dan sangat tidak disarankan duduk berimpit-himpitan di dalam mobil. Ini adalah keseruan pertama yang akan dirasakan jika ingin berwisata ke dua danau Anggi.

KEUNIKAN RUMAH KAKI SERIBU DAN FILOSOFINYA

Untuk menginap di Pegaf, pengunjung bisa menginap di rumah warga desa. Ada banyak warga yang dengan senang hati menerima pengunjung untuk tinggal di rumah mereka, asal pengunjung bersedia tinggal seadanya dan tidak banyak menuntut. Penginapan di rumah warga bisa membayar dengan seikhlasnya saja. Jangan lupa membawa bekal dan stok makanan untuk persediaan makan disana. Perjalanan menuju Pegaf memang terasa relatif lama. Namun tidak perlu khawatir karena pemandangan alam yang akan kita saksikan mampu membuat kita lupa waktu.

Kami tiba di Pegaf, tepatnya di Anggi Giji jam delapan malam, sehingga kami tak bisa langsung melihat keindahan danau Anggi. Malam ini kami bermalam di salah satu rumah warga. Danau Anggi Giji yang berada di ketinggian 2.950 mdpl (bukan puncak tertinggi pegunungan Arfak), suhunya pada malam hari sangat dingin. Bisa mencapai -4°C dan suhu pada siang hari maksimal 17°C. Udara di luar sangat dingin, namun jika masuk ke dalam rumah, akan terasa hangat. Padahal rumah warga terbuat dari kayu dan beratapkan daun.

Nama rumah adat masyarakat suku Arfak ini yaitu “Rumah Kaki Seribu”. Nama yang sangat unik ini diambil karena desain rumah yang juga sangat unik. Secara kasat mata, rumah kaki seribu ini tampak seperti rumah panggung biasa pada umumnya. Namun ternyata desain rumah kaki seribu ini cukup rumit dan betul-betul dihitung kekuatan menahan hawa dingin. Apa rahasianya?

Sesuai namanya yaitu rumah kaki seribu, rumah kaki seribu ini memiliki kayu penyangga rumah yang sangat banyak. Jumlah kayu penyangga yang sangat banyak ini bertujuan agar rumah kuat dan mampu bertahan hingga puluhan tahun. Bukan hanya jumlah kayu penyangga yang sangat banyak, jumlah lantai dasar rumah pun berlapis dua. Jumlah lantai ini bertujuan agar asap dari bawah rumah tidak mudah masuk ke dalam rumah.

Pada malam hari, masyarakat suku Arfak biasanya membuat perapian di bawah rumah agar seluruh rumah terasa hangat. Ini merupakan salah satu cara mengusir dingin yang sudah diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang suku-suku di Pegunungan Arfak. Masyarakat suku Arfak masih banyak yang tinggal di rumah adat. Mereka lebih memilih tinggal di rumah kaki seribu daripada tinggal di rumah semi permanen. Kebanyakan orang berpikir bahwa rumah beton jauh lebih nyaman dan tahan dingin. Namun pendapat tersebut tidak selamanya benar. Rumah beton lebih cepat dan lebih banyak menyerap dingin dibandingkan rumah kayu. Material rumah dari beton sangat tertutup rapat dan mampu menghalangi angin dan juga panas yang menyengat dari Matahari di siang hari. Suhu panas dari matahari tidak bisa langsung masuk ke sisi dalam rumah, sehingga rumah terasa dingin. Bukan hanya itu, suhu dingin mampi bertahan pada dinding dan lantai rumah dengan material beton. Pada siang haripun rumah masih terasa dingin. Hal tersebut berbeda dengan rumah kayu. Rumah kayu tidak serapat rumah beton, sehingga masih ada angin dan juga panas matahari yang masuk ke sisi dalam rumah. Pada siang hari, rumah akan terasa lebih hangat karena ada panas matahari yang masuk. Hal ini  menyebabkan di dalam rumah beton terasa lebih dingin daripada rumah kayu. Di daerah yang bersuhu dingin, jauh lebih nyaman tinggal di rumah kayu dibandingkan tinggal di rumah beton.

Di Danau Anggi Giji ini masih terdapat listrik siang dan malam. Pengunjung masih dapat menikmati penerangan dimalam hari atau jika ingin mengecas perangkat elektronik. Bagi pengguna telepon seluler, untuk sementara ini di Danau Anggi Giji hanya tersedia sinyal dari layanan Ceria. Oleh karena keterbatasan akses seluler tersebut, pengguna operator lain nyaris tidak bisa menggunakan perangkat selulernya untuk berkomunikasi. Hal ini ada baiknya, kita benar-benar akan fokus untuk menikmati pemandangan alam yang masih sangat asri ini.

KEGIATAN MASYARAKAT KABUPATEN PEGAF

Pagi-pagi sekali kami pergi ke pasar. Udara masih terasa sangat dingin. Namun sudah banyak orang berjualan di pasar. Ada banyak orang berkumpul di pasar. Ada yang berbelanja. Ada yang menjual hasil panen dan hasil ternaknya. Uniknya, pasar hanya ada pada hari senin, rabu, dan jumat. Kebetulan kemarin kami sampai pada hari kamis malam. Jadi, hari jumat pagi kami bisa ke pasar. Selain hari-hari tersebut, tidak ada kegiatan perdagangan di pasar tersebut.

Ada lagi yang unik. Pasar ini hanya berlangsung dari jam 05.00 hingga 07.00 (on time). Tepat jam 07.00 semua penjual akan membereskan barang dagangan dan kemudian pulang. Penjual tidak akan melayani permintaan pembeli yang datang terlambat. Para penjual di pasar masih didominasi masyarakat asli suku Arfak. Hari itu kami terlambat datang ke pasar.  Tidak ada yang bisa kami beli dan tak ada yang bisa saya foto. Hal ini menjadi pengalaman agar lain kali saya harus datang lebih pagi lagi.

Perjalanan yang akan kami tempuh hari ini akan sangat panjang. Kami akan berkeliling mengitari danau laki-laki (Anggi Giji). Setelah itu kami akan pergi dan bermalam di rumah warga sekitar Danau Anggi Gida. Awalnya kami kiramengitari sebuah danau dengan kendaraan bermotor hanya akan memakan waktu paling lama 15 menitan. Ternyata perkiraan kami meleset. Kami hanya berhasil mengitari setengah dari Danau Anggi Giji karena jalan terputus. Kami mengitari setengah Danau Anggi Giji dengan menghabiskan waktu 1,5 jam. Bayangkan saja seberapa luasnya Danau Anggi Giji tersebut.

Terdapat beberapa kampung kecil di pinggir danau. Kampung-kampung tersebut masih sedikit penghuninya. Rumahnya terbuat dari kayu (rumah kaki seribu) yang tertata sangat rapih dan bersih. Warga setempat banyak menanam daun bawang, daun sup, dan bunga-bungaan di halaman rumah mereka. Tanaman-tanaman ini semakin menambah keindahan disekitarnya. Pada siang hari terlihat ibu-ibu dan anak-anak berenang di sungai-sungai sekitar danau. keakraban dan ikatan kekeluargaan masih sangat kental. Ada satu keunikan di tiap kampung tersebut. Setiap kampung bisa terdiri dari 20 hingga 30 rumah. Semua orang di kampung tersebut memiliki nama belakang atau lebih dikenal dengan marga yang sama. Jadi setiap marga, memiliki kampungnya sendiri-sendiri.

Setelah lelah berkeliling di Danau Anggi Giji, kami memutar haluan dan menuju ke Danau Anggi Gida. Jalan dari Danau Anggi Giji menuju ke Danau Anggi Gida harus melewati sebuah gunung. Perjalanan yang jauh lebih ekstrim kami rasakan. Kami disambut dengan tanjakan tanpa ujung. Setelah melewati tanjakan tersebut, tampak Danau Anggi Gida yang sedang memancarkan pesona warna airnya yang tampak jauh lebih biru daripada Danau Anggi Giji. Danau Anggi ini terlihat sangat luas dan lebih mempesona.

Tidak hanya itu, ternyata kami masih harus melewati sambutan yang kedua, yaitu turunan curam dengan ratusan belokan tajam. turunan curam yang berkelak-kelok seperti ular raksasa ini membuat kami sangat parno. Kami hanya bisa menahan nafas dan berdoa agar mobil tetap pada jalurnya dan kami semua sampai di Danau Anggi Gida dengan selamat.

Kedua danau tersebut tampak mesra jika dilihat dari pesawat. Selalu hidup berdampingan tak pernah sekalipun kering. Di dalam kedua danau Anggi ini terdapat ribuan ekor ikan dengan ukuran mulai dari paling kecil hingga ukuran jumbo. Ukuran ikan pling kecil seperti satu ruas jari tangan orang dewasa dan ikan berukuran paling besar bisa mencapai paha orang dewasa. Sayang sekali, pada saat melihat warga menangkap ikan, camera saya sedang lowbet, sehingga saya tidak dapat melampirkan foto-foto jenis ikan di danau Anggi Giji. Masyarakat dan wisatawan diperbolehkan untuk memancing ikan di kedua danau Anggi tersebut. pengunjung boleh membawa ikan pulang ke kota Manokwari atau Manokwari Selatan (berapapun gratis tanpa dipungut biaya). Namun hal tersebut tidak perlu dilakukan karena di kota Manokwari dan/atau Manokwari Selatan terletak di pesisir pantai yang sangat kaya akan ikan dan hasil laut lainnya. Barangkali ikan hasil memancing bisa saja dibawa jika pengunjung ingin membawa oleh-oleh ikan air tawar dari danau Anggi.

Kebaikan masyarakat suku Arfak sangat luar biasa. Mereka sangat ramah dan sopan saat menyapa. Disini sekali lagi ada yang unik dari masyarakat asli suku Pegaf, yaitu dialeknya. Masyarakat asli suku Pegaf mengganti huruf “R” menjadi “L” dan huruf “L” menjadi huruf “R”. saya kurang tahu persisnya mengapa demikian, namun inilah yang terjadi. Saya sempat memberikan permen (orang papua menyebutnya gula-gula) kepada seorang anak. Kemudian datang orang tuanya dan berkata kepada saya,

“saya bisa minta gura-gura kah?” (saya boleh meminta permen kah?). saya benar-benar bingung, apa yang bapak itu minta. Kemudian saya bertanya pada pak driver kami,

“gura-gura itu makanan atau minuman?”.

Kata pak driver, “gura-gura itu gula-gula.” Sambil tersenyum. saya baru tau, bahwa masyarakat suku Arfak membalikkan penggunaan huruf L dan R.

Kami menginap semalam di kampung Anggi Gida. Kemudian keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Manokwari Selatan. Perjalanan dari Anggi Gida hingga Manokwari Selatan memakan waktu 2 jam. Perjalanan yang sangat menguji adrenalin dan sangat memanjakan mata. Sesekali kalian harus mencobanya… 🙂 [Melissa Siahaya/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  • 277
  • 237
  • 187
  •  
  •  
  •  
    701
    Shares
Follow Melissa Siahaya:

Tinggal di Manokwari, Papua Barat. Menyukai kegiatan traveling dan kuliner. Mulai suka mendaki gunung sejak tahun 2012. Fresh graduate.

Komentar anda?