PESONA PULAU SUMBA

posted in: Destination | 0

Letak Pulau Sumba yang terpisah dan menyendiri dari gugusan kepulauan di Nusa Tenggara Lainnya, seakan menandakan bahwa Pulau Sumba bukan merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Nusa Tenggara Timur. Letaknya yang terpisah ini pun berdampak pada keunikan dan kekayaan Pulau Sumba yang sedikit berbeda dari bentangalam di gugusan kepulauan lainnya.

 

Bukit Tanarara. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Nusa Tenggara Timur dalam pandangan dunia pariwisata

Lengkap, eksotis, dan esklusif. Tiga kata yang mewakili gambaran bentangalam di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur sudah sejak lama dikenal dengan topografi dan kondisi alamnya yang unik. Gugusan kepulauan dengan topografi perbukitan savana hingga ekosistem gunungapi pun terdapat di provinsi ini. Nama Nusa Tenggara Timur tentu tidak bisa dilepas dari Kelimutu, Sano Nggoang, Komodo, Sasando, Kampung Adat, peninggalan Megalitikum, Pancasila, serta pantai-pantainya yang cantik.

Kelimutu dan Kota Ende merupakan dua hal yang paling lama dikenal oleh masyarakat banyak ketika menyebutkan Nusa Tenggara Timur. Kelimutu bahkan menjadi objek gambar di uang kertas (Rupiah). Kota Ende tentu tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Kota Ende merupakan salah satu kota di Nusa Tenggara Timur yang menjadi lokasi pengasingan Ir. Soekarno sekaligus kota tempat lahirnya Pancasila.

Lama kelamaan, nama Flores mulai dikenal. Hal ini tentu saja berawal dari keberadaan Danau Kelimutu dan Kota Ende yang berada di Flores. Kampung adat Bena dan Desa Wae Rebo kemudian menyusul menjadi primadona baru bagi dunia pariwisata. Potensi Nusa Tenggara Timur terus diperkenalkan. Setelah sejarah, budaya, dan alam gunung/pegunungan, kali ini giliran potensi wisata alam bahari serta keunikan topografi dan bentangalam Nusa Tenggara Timur yang gencar dipopulerkan.

Perbukitan sekaligus savana, keunikan flora dan fauna yang hidup di dalamnya, hingga keunikan bentangalam dan landsekap Nusa Tenggara Timur kini seakan tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Hampir seluruh wilayah di Nusa Tenggara Timur memiliki savana dan bertopografi perbukitan. Semakin ditelusuri, bukan hanya perbukitan dan savana gersang saja yang terdapat di Nusa Tenggara Timur. Perbukitan khas dataran tinggi, gunungapi, bahkan air terjun yang airnya mengalir sepanjang musim pun terdapat di Nusa Tenggara Timur. Air terjun, sungai bawah tanah, bahkan danau terdalam se-Asia Tenggara pun dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur. Tersembunyi dibalik gersangnya savana dan terjalnya perbukitan khas Nusa Tenggara Timur.

Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam kedaulatan NKRI

Dalam persoalan kedaulatan pun, Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu sorotan. Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki perbatasan dengan Negara Timor Leste dan Australia. Perbatasan yang dimiliki pun termasuk perbatasan perairan dan perbatasan daratan. Perbatasan perairan meliputi seluruh perairan di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan perbatasan darat terdapat di Pulau Timor. Ujung Selatan Indonesia pun dimiliki oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Rote, merupakan pulau yang letaknya paling Selatan di Indonesia. Dengan ditetapkannya Pulau Rote sebagai pulau terselatan di di Indonesia, maka otomatis, bandara yang berada di Pulau Rote pun menjadi bandara paling Selatan di Indonesia.

Predikat pulau dan bandara terselatan yang dimiliki Pulau Rote menjadi pelengkap kakayaan yang dimiliki Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain gugusan kepulauan yang berada di garis gugusan kepulauan utama Provinsi Nusa Tenggara Timur, ada juga pulau-pulau yang letaknya berada di Utara dan di Selatan. Pulau Rote, Pulau Savu, Pula Raijua, Pula Dana, dan Pulau Sumba merupakan beberapa pulau yang berada di Selatan gugusan pulau-pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Savana Merdeka di Bukit Tanarara. Foto: Dokumetasi Dya Iganov

Pulau Sumba sebagai bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur

Diantara kelima pulau tersebut, Pulau Sumba menjadi primadona baru dari gugusan Kepulauan Nusa Tenggara Timur. Letak Pulau Sumba yang terpisah dan menyindiri dari gugusan kepulauan di Nusa Tenggara Lainnya, seakan menandakan bahwa Pulau Sumba bukan merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Nusa Tenggara Timur. Letaknya yang terpisah ini pun berdampak pada keunikan dan kekayaan Pulau Sumba yang sedikit berbeda dari bentangalam di gugusan kepulauan lainnya.

Pulau Sumba merupakan bagian dari wilayah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terbagi kedalam empat wilayah administrasi setingkat Kabupaten. Pada awalnya, Pulau Sumba hanya terdiri dari wilayah administrasi Kabupaten Sumba Timur dengan ibukotanya adalah Waingapu dan Kabupaten Sumba Barat dengan ibukotanya adalah Waikabubak. Pada 2007, Kabupaten Sumba Barat dimekarkan menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya dengan Ibukotanya adalah Tambolaka, dan Kabupaten Sumba Tengah dengan Ibukotanya adalah Waibakul. Pemekaran Kabupaten Sumba Barat dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2007.

Aksesibilitas Pulau Sumba

Posisi Pulau Sumba yang berada sedikit terpisah dari gugusan utama pulau-pulau di Kabupaten Nusa Tenggara Timur tentunya menjadikan akses menuju pulau ini sedikit berbeda. Saat ini, sudah ada dua bandara yang beroperasi di Pulau Sumba. Bandara Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya yang merupakan bandara terbesar di Kabupaten Sumba dan Bandara Umbu Mehang Kunda di Kabupaten Sumba Timur. Rute penerbangan merupakan akses yang paling banyak dipilih oleh wisatawan dibandingkan rute pelayaran. Rute pelayaran umumnya lebih banyak digunakan oleh pedagang, perusahaan, pegawai pemerintah dan swasta.

Akses melalui pelayaran pun dilayani oleh Pelabuhan Waikelo di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Pelabuhan Waingapu di Kabupaten Sumba Timur. Jika menggunakan jalur darat dan laut menuju Pulau Sumba, perjalanan dapat dimulai dari Pelabuhan Ketapang di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Berikut rute perjalanan melalui darat dan laut menuju Pulau Sumba.

 

Pulau Jawa – Pulau Bali melalui penyeberangan dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Perjalanan darat dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Padang Bai di Pulau Bali

Pulau Bali – Pulau Lombok melalui penyeberangan dari Pelabuhan Padang Bai menuju Pelabuhan Lembar

Perjalanan darat dari Pelabuhan Lembar menuju Pelabuhan Kayangan di Pulau Lombok

Pulau Lombok – Pulau Sumbawa melalui penyeberangan dari Pelabuhan Kayangan menuju Pelabuhan Poto Tano

Perjalanan darat dari Pelabuhan Poto Tano menuju Kota Bima kemudian ke Pelabuhan Sape

Pulau Sumbawa – Pulau Sumba melalui penyeberangan dari Pelabuhan Sape menuju Pelabuhan Waikelo.

Setelah tiba di Pelabuhan Waikelo, perjalanan di Pulau Sumba berikutnya dapat dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan bermotor, baik sewaan mobil dan sepeda motor, ataupun menggunakan trasnportasi umum seperti bus ¾ dan truk pasir yang dimodifikasi. Angkutan umum di Pulau Sumba jumlah dan jenisnya sangat terbatas dan sangat disesuaikan dengan medan Pulau Sumba.

Kondisi jalan penghubung antar ibukota Kabupaten sudah sangat baik. Umumnya kendaraan yang melintas di jalur ini merupakan mobil dan sepeda motor pribadi, pick up, dan bus ¾. Sedangkan angkutan umum yang melayani hampir ke seluruh pelosok desa di Kabupaten Sumba yaitu truk pasir yang sudah dimodifikasi. Truk pasir diberi kursi kayu dan penutup dari terpal. Pengguna angkutan ini mulai dari warga hingga hewan ternak, bahan material bangunan, hasil panen, bahkan kendaraan kecil (sepeda motor, sepeda).

Keterbatasan jenis angkutan umum di Pulau Sumba disebabkan medan perbukitan yang memanjang dari ujung Barat ke Ujung Timur yang umumnya mulai ditemui dari bagian tengah hingga ke bagian Selatan pulau. Semakin ke Selatan, medan akan semakin berbukit. Bahkan, pantai-pantai yang berada di pesisir  Timur Tenggara hingga Barat Barat Laut Pulau Sumba lebih bercirikan pantai dengan tebing terjal. Pantai Watuparunu, Pantai Lailiang, Pantai Pajura, Pantai Mbawana, Pantai Watu Malandong, dan Tanjung Mareha merupakan beberapa pantai yang bercirikan tebing terjal dan termasuk ke dalam wisata alam andalan Kabupaten Sumba.

Rumah di atas bukit. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Bentangalam Pulau Sumba

Perbukitan yang membentang di bagian tengah Pulau Sumba merata dari Barat hingga Timur merupkan area savana yang sangat luas. Jalan berkelok membentang membelah perbukitan terjal dengan jurang-jurang yang cukup dalam. Desa-desa, air terjun, serta sungai yang airnya jernih hingga tosca tersembunyi di balik terjalnya perbukitan dan gersangnya savana. Air terjun dengan air yang mengalir sepanjang tahun banyak terdapat di dekat pesisir Tenggara hingga Barat Pulau Sumba, meskkipun ada beberapa yang terletak di bagian Utara Pulau Sumba.

Air terjun Hirumanu, Wai Marang, Kanabu Wai, Lobung, Lai Kubu, Laiwangi, Laindamukti merupakan beberapa air terjun yang berada di Tenggara hingga Barat Daya Pulau Sumba. Air terjun Matayangu, Lapopu, Ngadulara, dan Lokomboro merupakan beberapa air terjun yang berada di Barat Pulau Sumba. Air terjun Gunung Meja I, Air terjun Gunung Meja II, Tanggula Jangga, Tanggedu, serta Kalamba merupakan beberapa air terjun yang berada di sisi Utara Pulau Sumba.

Diantara air terjun yang berada di Pulau Sumba, hanya air terjun Lapopu, Tanggedu, Waimarang, dan Matayangu yang sudah memiliki akses serta fasilitas pelengkap yang memadai. Untuk air terjun lainnya, seperti Air terjun Hirmanu, Gunung Meja I, dan Gunung Meja II masih memiliki akses jalan yang cukup buruk. Bahkan, air terjun Laiwangi yang berada di area TN Laiwangi-Wanggameti masih harus ditempuh dengan satu jam berjalan kaki. Namun, semua kesulitan dan rasa lelah akan terbayar oleh kacantikan air terjun dan airnya yang jernih.

Desa-desa yang berada di perbukitan umumnya memiliki rumah dari kayu. Hewan ternak seperti sapi, kuda, ayam, dan babi dilepasliarkan di savana luas. Jarak dari satu desa ke desa lainnya cukup berjauhan dan tidak jarang terpisah lembah curam. Di desa-desa inilah masih banyak masyarakat yang menggunakan kuda sebagai alat transportasi selain sebagai hewan ternak.

Penggunaan kuda di Pulau Sumba, terutama Kabupaten Sumba Barat pun erat kaitannya dengan kebudayaan dan agama Marapu yang diebut Pasola. Di Sumba Barat, bahkan kuda sebagai alat transportasi pun masih banyak digunakan oleh warga setempat. Lebih banyak dibandngkan dengan di Kabupaten Sumba Timur.

Pulau Sumba dalam kajian Geologi

Sumba adalah sebuah pulau unik secara geologi sebab karakternya lain dibandingkan pulau-pulau di dekatnya. Sumba tidak asli terjadi di tempatnya sekarang, tetapi berasal dari tempat lain yang kemudian berjalan selama periode sejarah geologi tertentu, dan akhirnya menempati posisinya sekarang. Data paleomagnetik, umur batuan, karakter batuan, anomali isotop batuan volkaniknya, dan kandungan fosil-fosilnya menunjukkan bahwa Sumba posisi pertamanya ada di 18.3 LU yaitu pada sekitar 60 juta tahun yang lalu, dan telah menempati posisinya yang sekarang (9.9 LS) sejak 20 juta tahun yang lalu. Berarti selama 40 juta tahun Sumba berjalan melintasi sekitar 28 derajat garis lintang dari utara ke selatan.

Rekonstruksi geologi kemudian menunjukkan bahwa Sumba dulu bersatu dengan sisi timur Sulawesi, di sebelah utara Teluk Bone sekarang (Sulawesi pada masa itu juga posisinya tidak seperti posisinya sekarang). Data paleomagnetik ini juga didukung data fosil, anomali isotop, karakter dan umur batuan. Sumba memiliki fosil2 berumur 40 juta tahun (Eosen) yang khas Sundaland (yaitu fosil2 Assilina, Pellatispira, dan Biplanispira – dan tak memiliki fosil seumur asal Australia/ Lacazinella). Pendek kata, Sumba pernah menjadi bagian timur Sundaland.

Secara batimetri, Sumba merupakan punggungan yang memisahkan cekungan muka busur Savu (kedalaman > 3000 m) di timur dan cekungan muka busur Lombok (kedalaman > 4000 m) di barat. Studi seismik refraksi menunjukkan (Barber et al., 1981) bahwa Sumba merupakan kerak benua dengan tebal 24 km (Chamalaun et al., 1981). Berdasrkan studi tektonik yang dilengkapi data paleomagnetik dan geokimia, beberapa ahli menganggap Sumba merupakan mikrokontinen atau fragmen kontinen (Hamilton, 1979; Chamalaun dan Sunata, 1982; Wensink, 1994, 1997; Vroon et al., 1996; Soeria-Atmadja et al., 1998).

Stratigrafi Pulau Sumba dapat dibagi kedalam empat seri, yaitu seri Mesozoikum, seri Paleogen, seri Neogen, dan seri Kuarter. Seri Mesozoikum tersingkap ke permukaan terutama di sepanjang pantai seperti bagian selatan dari Sumba Barat (Patiala, Wanokaka dan Konda Maloba) dan pada bagian selatan dari Pegunungan Tanadaro (Sungai Nyengu dan Labung). Selama Paleogen, Sumba merupakan bagian dari busur magmatik yang dikarakterisasi oleh seri batuan vulkanik kalk-alkalin (Sumba Barat) dan sedimen laut dangkal.

Seismik refleksi lepas pantai menunjukkan sedimen laut dalam berumur Neogen membentuk sikuen sedimenter awal dari cekungan muka busur yang menghilang ke arah punggungan (Fortuin et al., 1992; Van der Werff et al., 1994a, b; Van der Werff, 1995; Fortuin et al., 1997). Kejadian mereka merefleksikan posisi stabil dari Punggungan Sumba di dalam cekungan muka busur sejak inisiasi sistem palung-busur Sunda selama Oligosen Akhir dan Miosen Awal (Silver et al., 1983; Reed, 1985; Barberi et al., 1987).

Seri Kuarter Pulau Sumba dicirikan oleh keseluruhan pulau yang telah mengalami pengangkatan dengan cepat terhadap elevasinya sekarang. Seperti yang diindikasikan oleh teras-teras berumur Kuarter yang mencapai ketinggian tidak kurang dari 500 m (Jouannic et al., 1988), dengan kecepatan rata-rata 0.5 mm/tahun pada bagian utara dan tengah Sumba (Pirazzoli et al., 1991).

Jalan di area Bukit Tanarara. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Travelling ke Pulau Sumba

Kunjungan wisatawan ke Pulau Sumba khusus bagi wisatawan domestik masih didominasi oleh wisatawan dari wilayah Barat. Sebut saja dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan Lombok. Aksesibilitas di Pulau Sumba yang masih terbatas, luasan Pulau Sumba dan banyaknya objek wisata yang terus diperkenalkan berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan untuk berwisata di Pulau Sumba. Kebanyakan wisatawan yang datang ke Pulau Sumba menghabiskan waktu paling lama selama lima hari empat malam. Hanya sedikit wistawan yang sampai menghabiskan waktu lebih dari satu bulan untuk mengeksplore Pulau Sumba.

Salah satu tips untuk berwisata di Pulau Sumba dengan waktu yang cukup terbatas yaitu dengan memprioritaskan objek wisata apa yang ingin dikunjngi Jika Sobat Travelnatic penikmat laut dan pantai, maka Kabupaten Sumba Barat memiliki serangkaian pantai cantik dengan karakteristik bertebing curam dan berpasir putih di sepanjang pesisirnya. Bila Sobat Travelnatic termasuk yang lebih menyukai savana perbukitan dan pantai, maka, Kabupaten Sumba Timur dapat menjadi pilihan. Bila Sobat Travelnatic lebih menyukai wisata yang memacu adrenalin, maka menjelajah air terjun di Tenggara hingga Barat Daya Pulau Sumba bisa menjadi pilihan yang tepat.

Selain keterbatasan waktu, pendanaan untuk berwisata ke Pulau Sumba pun perlu perhitungan. Masih banyak hal tidak terduga yang bisa menjadi biaya tambahan, seperti biasa sewa kendaraan, biaya makan, biaya masuk lokasi wisata, ataupun biaya tak terduga lainnya. Semakin lama waktu yang dihabiskan untuk mengeksplore Pulau Sumba, maka akan semakin besar juga dana yang dibutuhkan.

Tentunya hal ini cukup merepotkan jika dikerjakan sendiri dan dengan waktu yang terbatas. Selain persiapan dana dan penetuan tujuan wisata, kita pun harus mencari sendiri lokasi tujuan wisata lengkap beserta rute dan waktu tempuhnya. Bagi yang sudah pernah berkunjung ke Pulau Sumba tentunya mencari lokasi tujuan, rute, dan waktu tempuh tentunya tidak akan terlalu sulit. Lain halnya jika ini kali pertama Sobat Travelnatic berkunjung ke Pulau Sumba, apalagi jika solo trip ataupun hanya dalam kelompok kecil (2-3 orang), dipastikan akan banyak perubahan rencana selama mengeksplore Pulau Sumba.

Kali ini, Sobat Travelnatic tidak perlu khawatir, karena Travelnatic memiliki tim yang khusus menangani traveling. Trip Travelnatic akan menyediakan jasa tour berkeliling Pulau Sumba secara lengkap. Jadi, dengan menggunakan jasa Trip Travenatic, Sobat Travelnatic hanya tinggal duduk manis dan sampai ke lokasi-lokasi wisata eksotis di Pulau Sumba. Tanpa harus pusing memikirkan biaya tambahan, rute perjalanan, hingga hal-hal terduga lainnya yang harus ditangani sendiri.

Air Terjun Tanggedu. Foto: Dokumentasi Dya Iganov

Sebarkan :
  • 20
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    20
    Shares
Follow Dya Iganov:

Tinggal di Bandung. Menggemari kegiatan traveling sejak kecil. Aktif di Voluntrider (Rider - Volunteer) Perjalanan Cahaya. Aktif mempromosikan wisata Indonesia, khususnya Jawa Barat lewat artikel diberbagai majalah dan blog. Pemilik www.dyaiganov.com

Leave a Reply