Petualangan Doknyom Bersama Max (Tips, Trik dan Tantangannya)

Petualangan Doknyom Bersama Max (Tips, Trik dan Tantangannya)

posted in: Travelers Profile | 0

 

Membawa anak ke gunung tidak seperti membawa anak ke mall. Orangtua harus memperhitungkan semuanya karena kalau kurang sulit mencarinya. Sesuaikan ritme perjalanan dengan kemampuan anak, bukan kemauan anak. Yang bisa mengukur kesanggupan seorang anak hanyalah orangtua sendiri. Maka jadilah orangtua realistis yang tidak ambisius bila memang tidak memungkinkan, puncak hanyalah bonus. Gunakan intuisi bukan ambisi. Dan jangan lupa untuk membawa turun kembali sampah pendakian.

drh. Nyomie dan Max adalah ibu dan anak yang jadi partner traveling serasi dan saling membutuhkan. Jika pembaca adalah pengguna instagram dan aktif mengikuti timeline seputar kegiatan pendakian, mungkin sekali dua kali pernah melihat wajah dua orang ini di-repost oleh akun-akun sosial seputar pendakian. Foto-foto di IG Nyomiez yang kini followersnya 42,6 ribu termasuk sering di-repost oleh akun sosial dengan jangkauan followers ratusan ribu.

Tentunya bukan kebetulan akun IG Nyomiez memiliki banyak followers dan fotonya di-repost di-repost. Pasti ada sesuatu dibalik itu kan? Nah berawal dari rasa penasaran untuk menjawab apa sesuatu dibalik itu, tim Travelnatic Magazine akhirnya mewawancarai Ibu drh. Nyomie.

Travelnatic Magazine mencoba mengorek cerita seru, tips, trik dan pengalaman-pengalaman dibalik foto-foto di instagram itu. Cerita yang kami peroleh sangat menarik dan inspiratif untuk diketahui oleh pembaca, khususnya perempuan yang mungkin ingin mengajak anak untuk traveling bersama.

Wanita dengan Nyoman Sakyarsih ini sekarang tinggal di Jakarta. Dokter Nyomie atau Doknyom, begitu panggilan sehari-harinya, bekerja sebagai dokter hewan di klinik di daerah Jakarta Timur. Sedangkan Max nama lengkapnya Maxwell Amertha. Max sampai saat ini masih anak tunggal.

Awal Mula Mengenal Dunia Petualangan

Kegiatan petualangan yang dikenal Doknyom bermula pada kegiatan sispala di tahun 1999 sampai lulus SMA dan berlanjut ke mapala saat kuliah. Namun untuk traveling secara intens tidak terlalu banyak karena dalam berorganisasi ada program kerja dan schedule yang disesuaikan dengan kesibukan sekolah atau kuliah. Justru tidak banyak jalan-jalannya. Di sispala awalnya sering mendaki kemudian naik status keanggotaan mengambil bidang susur goa (caving). Ketika kuliah Doknyom mengambil bidang arus deras (rafting). setelah lulus Doknyom langsung praktek dokter hewan di sebuah klinik di jakarta selatan selama 9 bulan sampai akhirnya lulus di tahun  2009, saat itulah terakhir kalinya dia mendaki gunung yaitu ke Semeru.

Tahun-tahun berikutnya Doknyom sibuk merintis usaha sendiri bersamaan dengan menyelesaikan kuliah S2, jadi nyaris tidak pernah traveling sampai bertemu suami (mantan) dan kemudian menikah. Mantan suaminya senang traveling tapi ternyata selera mereka berbeda. Suami Doknyom tidak tertarik outdoor atau backpacker, lebih suka dengan pantai dan hotel yang nyaman. Jadi selama itu mereka juga hanya berpergian ke Bali dan Australia.

Kapan Mulai Petualangan Bersama Max?

Kini telah banyak petualangan seru mereka lalui bersama. Pertama kalinya, ketika usia Max lima bulan, kami pergi ke Gunung Bromo. Saat itu pula Doknyom memutuskan berpisah dengan bapaknya Max. Sejak saat itu, Doknyom dan Max telah mendaki sekitar 15 gunung, mulai dari Prau di Dieng, Merbabu, Slamet, Tambora, hingga Rinjani, dan masih banyak lagi. Terakhir kami mendaki Kerinci ketika usia Max tiga tahun.

Dimana Tempat Favorit Mereka?

Semua pengalaman mendaki Doknyom dan Max menarik. Bahkan karena itu banyak pula yang mengharapkan Doknyom menulis buku tentangnya. Namun, tempat favorit untuk dikunjungi hingga saat ini tentu saja yang terakhir yaitu Gunung Kerinci. Hal ini karena Gunung Kerinci selain puncak kedua tertinggi, mereka juga mendapatkan cuaca cerah. Ditambah lagi mereka juga mengunjungi danau-danau cantik seperti Danau Gunung Tujuh dan Danau Kaco.

Bagaimana Doknyom dan Max Membagi Waktu untuk Bertualang?

Menurut Doknyom, kesibukannya sebagai dokter hewan sebenarnya mengganggu kegiatan travelingnya bersama Max. Doknyom merupakan seorang workaholic yang perfeksionis. Dia Bekerja sendirian seakan pekerjaan tida ada habisnya. Pasien terus berdatangan tidak kenal waktu. Bahkan sebelum menikah Doknyom nyaris bisa menerima pasien 24 jam. Dengan keterikatan emosional dengan pasien terkadang pekerjaan ini menjadi beban moral yang berat, sangat mudah membuatku stres. Jadi liburan memang sangat penting.
Doknyom sangat bersyukur dengan adanya Max. Max membuatnya bisa kembali melihat dunia yang hampir dia lupakan. Dia bisa membagi hidup lebih seimbang sekaligus membagi waktu untuk kebersamaan dengan anak.

Ketika dia merencanakan bepergian, klinik sudah diumumkan untuk ditutup selama beberapa hari. Jadi semua yang ingin mengatur jadwal bisa dialokasikan sebelum atau sesudah liburan. Selebihnya Doknyom bekerja full time setiap hari. Untuk Max sendiri kebetulan memang belum masuk sekolah formal hanya berupa sekolah playangroup dan tumbuh kembang yang bisa diatur jadwalnya.

Menurutnya, waktu mereka traveling biasanya tidak ditentukan terlebih dulu. Bisa setiap tiga bulan dan akhir-akhir ini malah bisa sebulan sekali tergantung kebutuhan. Tapi kalau terlalu banyak jadwal pasien untuk treatment maintenance tentu tidak bisa ditinggal terlalu sering. Maksimal lamanya bepergian satu minggu.

Tampaknya Max sekarang terlihat sangat menikmati kegiatan traveling. Di lapangan Max sangat ceria apapun kondisinya. Walaupun hujan sekalipun. Bahkan kini tidak perlu repot membangunkannya subuh-subuh untuk summit karena dia sudah bisa bangun dengan ceria jam tiga pagi untuk memulai trekking.

Bagaimana Efek Petualangan Bagi Max?

Doknyom memang tidak pernah merencanakan ini bagian pendidikan untuk Max. Awalnya mereka hanya berlibur, supaya Doknyom juga punya waktu intens dan fokus dengan Max tanpa terganggu pekerjaan. Hal yang paling ditakutkan Doknyom sekarang ini adalah Max bisa saja membenci pekerjaan Doknyom karena dia terlalu sibuk. Padahal ini juga dilakukan demi mereka berdua untuk bisa survive. Oleh karena itu harus ada reward untuk kesabaran Max kehilangan waktu bermain mereka sehari-harinya.

Namun, menurut pengakuan Doknyom,  pada akhirnya dia bisa menanamkan nilai-nilai sederhana dalam diri buah hatinya. Max bisa menjadi anak yang mudah beradaptasi bagaimanapun kondisi lingkungan baru yang mereka temui. Max juga menjadi lebih interaktif  padahal awalnya Max sangat cuek. Banyak hal yang bisa Max pelajari ke depannya saat Max beranjak dewasa. Misalnya mengenai ketangguhan dan kekuatan mental untuk menyelesaikan masalah.

Semakin lama Max semakin menikmati perjalanan, padahal awalnya Doknyom yang selalu takut seandainya Max sulit beradaptasi. Menurut Doknyom, perkembangan diri Max terkadang tidak bisa ditemui di rumah, dimana Max bisa bermanja pada semua orang dan banyak yang memfasilitasi semua keinginannya. Tapi justru lebih terlihat di lapangan yang penuh keterbatasan, dimana Max bisa menjadi lebih sabar, mandiri dan tangguh.

Seperti ketika dia berusia belum genap tiga tahun. Saat itu mereka menempuh perjalanan darat selama 12 jam dengan bis tua kecil tanpa AC dan juga mengangkut pakan ayam di jalan yang berkelok-kelok. Doknyom sendiri tak yakin orang dewasa bisa tahan tanpa mabuk. Atau contoh lainnya disaat semua orang kedinginan di gunung, Max malah masih sanggup keluar tenda dengan hanya memakai popok. Dan ketika pendakian terakhir mereka ke Gunung Kerinci lalu, bahkan Max sudah bangun mendahului alarm jam tiga dan bersiap untuk summit attack.

Menurut beberapa porter yang pernah membawa anak kecil mendaki sebelumnya, Max adalah anak yang sangat tidak merepotkan, mudah beradaptasi, tidak memaksa berjalan sendiri saat melihat trek berbahaya seperti anak lainnya. Yang dikhawatirkan menjelang tiga tahun justru hanyalah selera makannya yang kadang berubah dan cenderung sulit di rumah, namun ternyata di gunung makannya justru lebih banyak.

Pengaruh traveling terhadap hubungan mereka sangat besar terutama untuk menjaga bonding antara Doknyom dan Max. Hal ini karena diluar liburan Doknyom terlalu sibuk bekerja. Max yang tadinya hiperaktif dan cuek kini semakin terarah. Semua orang berpikir Max anak yang tenang karena itu dia bisa dibawa ke gunung. Justru sebenarnya Max tidak bisa diam. Tapi tidak ada kecemasan mengenai tingkat aktifnya karena Max memahami sedang berada di ketinggian, di medan yang sulit. Max tak akan pergi jauh dari pengawasan. Dia sangat menikmati perjalanan, daya tahan tubuhnya semakin terbentuk.

Bagaimana Doknyom Menyiapkan Semuanya?

Tentunya rumit, lebih rumit karena membawa anak untuk pergi seharian saja biasanya orang harus membawa barang sangat banyak. Apalagi ini berhari-hari di gunung tapi harus membawa barang seringkas mungkin.

Banyak yang harus disiapkan mulai dari berapa jumlah baju, jumlah penghangat,  disesuaikan dengan berapa hari perjalanan, tempat tujuan dan kondisi cuaca, makanan dan minuman yang dibutuhkan, P3K, sampai itenerary dan backup plan. Kalau jalan backpacker sendiri bisa go show aja. Bawa anak ya sulit karena harus dipastikan kapan dia makan, kapan istirahat untuk menjaga kondisinya. Kalau kata orang-orang ya pasti “rempong”.

Masalah Gizi juga perlu diperhatikan. Doknyom harus mengkalkulasi jumlah susu, air untuk minum karena bila mendaki ada gunung yang mudah mencari sumber air, ada yang sulit. Jumlah makanan, alternatif makanan yang diberikan bila yang biasa tidak mau dimakan oleh Max. Beberapa snack untuk perjalanan. Dulu saat Max masih bayi cukup mudah. Cukup membuat bubur instan. Sekarang malah makin sulit karena usia tiga tahun keatas mulai picky eater.

Membawa anak kecil membutuhkan persiapan Safety procedure yang cukup banyak. Biasanya Doknyom melakukan survey terlebih dahulu mengenai kondisi medan apakah berpasir, berbatu, banyak pacet atau tidak, seberapa dingin, kering atau panas,  banyak nyamuk atau serangga, juga tanaman berbahaya. Jadi P3K yang dibawa juga bisa lebih tepat sasaran. Untuk P3K pastinya Doknyom membawa obat-obat umum yang sudah dipastikan cocok dan tidak alergi digunakan pada anak. Fungsinya untuk berbagai gejala penyakit umum seperti demam, diare, sembelit, batuk, pilek. Selain itu Doknyom juga membawa vitamin, minyak penghangat, antiradang, antialergi, obat serangga, termometer dan alkohol berikut obat luka minor.

Untuk gunung tinggi yang treknya sulit dengan berbatu yang longgar kadang Doknyom membawa helm, beberapa carabiner dan tali webbing. Untuk berpasir harus membawa trekking pole yang memudahkan grip saat mendaki supaya saat mengendong beban anak yang lumayan berat kita tidak mudah tergelincir.

Sebagai emergency bisa membawa emergency blanket atau thermal bivy, kadang sleeping bag untuk suhu minus dan flysheet, tentunya termos air hangat bersama minuman dan makanan secukupnya.

Untuk penghangat badan Max menggunakan jaket berlapis tiga dengan bagian dalam long john khusus musim dingin plus jaket goosedown tipis, baru diberi outer jaket capuchon. Namun akhir-akhir ini Max semakin kuat dingin jadi kadang hanya berlapis dua. Karena Max tidak suka pakai sarung tangan, Doknyom tetap membawanya muncak meski terkadang tidak terpakai. Begitu juga dengan kupluk atau windstopper, Max tidak begitu senang memakainya namun tergantung situasi. Walau Max tidak suka minimal perlindungan telinga itu sangat penting jadi tetap dipakaikan buff untuk menutup kepala. Doknyom tak pernah membawa oksigen, namun beberapa orang dengan masalah pernafasan mungkin membutuhkannya sebagai syarat safety.

Max seringkali sakit sebelum perjalanan. Biasanya flu tapi selalu sembuh persis setelah turun mendaki. Hidungnya langsung kering padahal terkadang pendakian juga dilakukan saat musim hujan. Ini terjadi pada beberapa pendakian mereka yaitu saat ke Merbabu, Slamet dan Kerinci. Sakit setelah mendaki tidak pernah sama sekali terjadi pada Max. Max memang anak yang unik. Doknyom percaya kegembiraannya saat mendaki turut mengembangkan imunitasnya terhadap penyakit.

Beberapa hal menegangkan diawal biasanya masalah perijinan pendakian, bila ada peraturan tertulis atau tidak yang tidak mengizinkan Max mendaki gunung tertentu. Hanya Gunung Semeru yang memiliki peraturan tersebut. Gunung Semeru tidak mengizinkan anak dibawah 10 tahun mendaki. Tapi pada prakteknya banyak anak mendaki sebelum dan sesudah Max naik Semeru. Kemarin di Kerinci mereka nyaris menemui masalah serupa namun karena sudah ditemani guide sekaligus porter senior mereka diizinkan juga.

Pernah sekali di Semeru ketika akan muncak, ditengah perjalanan angin semakin kencang, padahal dua jam pertama Max sangat bersemangat, selalu tertawa dan melonjak-lonjak dalam gendongan, dan karena Max sebenarnya tidak masalah minum susu tanpa air hangat pada pendakian-pendakian sebelumnya maka Doknyom tak pernah membawa termos.

Tapi ketika itu semua air terasa dingin seperti es jadi mereka memutuskan untuk berhenti dulu, memeluknya dan Doknyom membuka lapisan terdalam jaket untuk menambah lapisan jaket Max yang sudah tiga lapis banyaknya sambil terus menimangnya sampai Max tertidur kembali. Itu sungguh sulit karena Doknyom harus tetap menimangnya tanpa ada pijakan yang nyaman diatas pasir dengan kemiringan 60 derajat. Setelah tidur Doknyom mengakatakan pada teman kalau Max bisa melanjutkan perjalanan. Namun matahari sudah terbit atau diputuskan untuk berhenti dan turun, Doknyom mempersilakan. Akhirnya tim memutuskan untuk turun karena salah satu anggota juga tidak kuat terhadap dingin. Akhirnya tim tidak sampai ke Puncak Mahameru, tapi sudah cukup puas berjemur di Kalimati. Bagaimanapun puncak itu bonus, tak ada yang harus dikejar.

Bertualang bersama anak tentu saja harus memilih barang tepat guna seminimalis dan seringkas mungkin untuk dipacking dalam jumlah yang tepat. Hal ini karena membawa anak ke gunung tidak seperti membawa anak ke mall. Jadi harus diperhitungkan semuanya karena kalau kurang sulit mencarinya. Sesuaikan ritme perjalanan dengan kemampuan anak, bukan kemauan anak. Terkadang anak terlalu bersemangat tidak ingin memakai pakaian safety seperti jaket atau seperti Max tidak suka memakai raincoat, atau memaksa ingin berjalan sendiri dijalur ekstrim. Hal semacam itu tidak bisa dituruti karena tidak sesuai standar keamanan.

Yang bisa mengukur kesanggupan seorang anak hanyalah orangtua sendiri, jadilah orangtua realistis yang tidak ambisius bila memang tidak memungkinkan, puncak hanyalah bonus. Gunakan intuisi bukan ambisi. Dan jangan lupa untuk membawa turun kembali sampah pendakian. [Nurul Amin/End]

Penyunting : Bela Jannahti

 

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    628
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar Pembaca