Photo Story : Cara Bercerita Lewat Gambar

Photo Story : Cara Bercerita Lewat Gambar

posted in: Photo Story, Tips & Trik | 0

Terkadang kita lupa, bahwa gambar dapat bercerita, tanpa kita harus repot untuk berkata menceritakan.

Kamu memiliki banyak pengalaman petualangan. Kamu ingin menceritakannya pada orang lain. Kamu ingin orang tau cerita-cerita seru yang kamu alami. Kamu ingin cerita untuk menjangkau masyarakat luas. Bercerita secara langsung hanya akan menjangkau teman bicaramu, sementara kamu ingin lebih banyak orang tau, tapi kamu harus terus bercerita secara lisan.
Kamu telah mencoba berkali-kali untuk menuliskan cerita itu, namun selalu stuck di beberapa kata pertama. Kadang cerita yang kamu tulis melebar kemana-mana. Kadang cerita yang kamu tulis kehilangan fokus dan jadi membingungkan. Kamu tidak percaya diri untuk menuliskan cerita dan akhirnya menganggap bahwa kamu tak berbakat menulis. Kamu menyerah dan akhirnya membiarkan diri jadi pembaca dan penonton cerita orang lain.
Padahal : Kamu telah berjalan kemana-mana, mendokumentasikan banyak foto. Membuat banyak video, melihat banyak kejadian, mendengar banyak pelajaran. Kamu sendiri tau bahwa apa yang kamu lihat, kamu dengar, apa-apa yang berhasil kamu dokumentasikan itu begitu berharga dan dapat : mengajak, menginformasikan, mencegah, memberi pelajaran, bahkan bisa menginspirasi orang-orang yang melihatnya. Namun..! Lagi-lagi, ah syudahlah. Kamu merasa tidak bisa bercerita. Kamu merasa tidak berbakat. Terpendamlah dan terkuburlah keinginan hatimu agar ceritamu bisa menjangkau banyak orang itu di dalam peti yang entah kapan baru akan terbuka.

Kamu mengalami hal seperti yang kami gambarkan diatas? Kendala diatas seringkali kami temui setiap kali mengajak kawan-kawan pejalan untuk menulis, bercerita dan berkontribusi lewat cerita. Tidak terhitung lagi dengan jari 20 di badan berapa orang yang mengalami hal serupa, dan jawabannya pun hampir sama. Bahkan kami sampai menyarankan agar kawan kami tersebut untuk merekam apa yang apa-apa cerita yang menurut dia asyik, seru ketika pergi ke suatu tempat, atau ketika mendapat pengalaman seru saat bertualang. Kami bersedia mencatat ulang cerita tersebut. Demi dia bisa ikut berkontribusi. Namun apa daya jawabannya tetap sama, “saya tidak berbakat menulis” sahutnya lemah.

Kami terus berpikir. Mencari-cari cara agar kawan kami yang mengalami hal seperti ini dapat terwadahi aspirasinya. Dan kami sangat senang jika mereka mau berkontribusi untuk menceritakan sesuatu yang menurutnya dapat mengajak, menginformasikan, mencegah, bahkan mengispirasi orang lain. Bahwa bercerita tidak mesti dengan tulisan, adalah sesuatu yang sudah diketahui sejak lama. Namun bagaimana teknisnya agar hal tersebut mudah dilakukan, baik oleh kawan kami, maupun oleh kami? Bagaimana teknis produksinya? Itulah yang perlu kami carikan jalan tengah agar kawan-kawan kami dapat berkontribusi dan kami dapat mewadahinya.

Membuat video, merupakan salah satu cara mengatasi masalah tersebut. Namun membuat video yang bagus, tentu beda cerita dengan sekedar membuat video. Punya kamera video dan paham teknis pengambilan gambar, penyuntingan video, pengisian suara, membuat efek, dll adalah hal yang perlu dipenuhi pemula. Video yang bagus tentu tidak dibuat sembarangan.

Foto, adalah suatu produk perjalanan yang paling banyak beredar sekarang. Banyaknya kamera untuk menghasilkan foto, kemudahan penggunaan, dan kemudahan pengelolaan, memudahkan dan mempercepat distribusi foto akhir-akhir ini. Semua orang yang punya gawai berkamera bisa membuat foto. Ada banyak kamera pocket, dan kamera DSLR pun sudah terjangkau dan banyak dimiliki orang. Pengelolaan foto setelah diambil cenderung lebih singkat dan mudah dibandingkan pengelolaan video. Meskipun ini relatif.

Akhirnya, untuk tahap awal ini, kami memilih “foto” untuk digarap lebih awal daripada “video”. Meskipun video juga terwadahi. Namun kami belum memasukkannya sebagai prioritas berdasarkan berbagai pertimbangan ; salah satunya tingkat kerumitan pengolahannya yang mungkin, belum merata dapat dilakukan oleh kawan-kawan kami.

Hari ini kami yakin untuk mulai mengaktifkan satu rubrik baru, yaitu photo story. Rubrik ini adalah cerita berbasis foto seperti yang sudah banyak kita temui di berbagai media/portal berita. Baca ketentuannya Photo Story di bagian paling bawah ulasan berikut ini : Panduan Teknis Pengiriman

Rubrik Photo Story pada dasarnya adalah sub rubrik yang bisa mengakomodasi semua primer lainnya yang sudah ada di www.travelnatic.com dan Travelnatic Magazine. Rubrik Photo Story, seperti yang sudah diceritakan diatas hanya berbeda pada media yang digunakan untuk bercerita. Jika sebelumnya Teks sebagai sarana utama bercerita dan foto hanya pendukung saja. Maka di Photo Story adalah kebalikannya. Foto sebagai sarana utama bercerita, dan teks catatan kaki adalah pendukungnya. Dengan kendala pengetahuan dan bakat menulis teratasi.

Kini, kendala : “Saya Tidak Berbakat Menulis”. Sudah teratasi. Mari bercerita lewat Photo Story.

Menariknya, Photo Story tidak hanya mendukung gambar yang diambil lewat kamera untuk bercerita. Secara logikanya, semua gambar yang terkonsep dapat tertampung di rubrik ini. Misalnya sketsa, karikatur, kartun. Ini merupakan celah baru bagi kami ketika mulai memikirkan Photo Story lebih serius. Jadi, tidak hanya bisa menampung kawan kami yang tidak pandai menulis, kini kami juga dapat menampung kawan kami yang suka menggambar. Namun, tentu saja kami membatasi sketsa, karikatur ataupun kartun yang dimaksud haruslah dalam konteks pariwisata dan perjalanan, karena kami berfokus disitu saja.

Misalnya : Kamu yang suka menggambar dan peduli pada lingkungan, dapat mengonsepkan suatu cerita berbasis gambar, tentang isu tertentu. Misal isu tentang pembangunan hotel. Kamu tinggal buat 1-15 gambar (jumlah relatif tergantung kebutuhan kamu, tapi kami membatasinya hanya sampai 15) yang terkonsep dan membentuk satu aliran cerita (sesuai konsep) yang utuh. Tinggal dikirim ke kami. Catatan kaki kadang diperlukan beberapa kalimat untuk mengarahkan pembaca agar tak salah fokus. Lah! menulis catatan kaki (caption) yang bagus kan juga susah? Tenang saja. kawan-kawan cukup sediakan informasi dasar tentang foto (misal lokasi, nama tempat, suasana, nama pemilik foto, atau nama-nama orang digambar, nama fotografer), dramatisasi dan lainnya biar kami yang mengelola. Simpel kan 🙂

Nah! Akan seperti apa Photo Story itu. Berikut ini satu contoh Photo Story berbasis foto dari kamera :

Tantangan Mendaki Gunung Kerinci – 3805 MDPL

(klik gambar untuk memperbesar foto)

Nah! Seru kan! Jangan lupa cek apa aja sih syarat-syarat untuk mempublikasikan Photo Story di www.travelnatic.com disini : Panduan Teknis Pengiriman dan baca juga Ayo Mengirim Artikel ke Travelnatic dan Disclaimer kami. Selamat bercerita ya kawan Travelnatic! Salam Pejalan. [End]

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    435
    Shares
Follow Nurul Amin:

Penulis indie. Mulai menulis sejak sekolah menengah lewat catatan harian. Kemudian belajar menulis lewat pelatihan kepenulisan, pelatihan jurnalistik serta belajar secara otodidak. Belajar menyunting naskah sejak pertengahan masa kuliah, lewat komunitas environment journalist dan aktif menyunting sejak di travelnatic.com. Selain dunia menulis, juga menyukai kegiatan kreatif, organisasi, enterpreneur, penelitian, kegiatan sosial kerelawanan dan kegiatan alam bebas (tentu saja). Bacaan yang disukai tentang sejarah, sastra, petualangan, kemiliteran, lingkungan dan sains. Sedang mencari ilmu di program studi Teknik Lingkungan, tertarik pada studi tentang material komposit alam dan pengelolaan air.

Komentar Pembaca