Pulau Tunda : Serunya Wisata Bahari di Banten

Pulau Tunda : Serunya Wisata Bahari di Banten

posted in: Experience | 0

 

Pulau Tunda di Provinsi Banten memiliki banyak alasan untuk dikunjungi. Pantai pasir putih ada, diving dan snorkeling ada. Ikan lumba-lumba juga ada! Selain itu, sempatkan untuk melihat kesibukan masyarakat pribumi sambil bersantai setelah lelah mengeksplorasi keindahan pulau ini.

Backpacker, istilah ini tidak asing lagi untuk para traveler, yaps. Backpacker merujuk pada klasifikasi traveler yang menggunakan tas punggung (dari kata back : belakang, pack : pak, tas, ransel) sebagai tempat menyimpan peralatannya. Berlibur dan bertualang bermodal peralatan yang di pak di ransel punggung bisa menjadi pengalaman menantang. Peralatan, keamanan dan kondisi ala backpacker berbeda dari sekadar mengikuti paket wisata.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya dan teman-teman ketika backpackeran ke Pulau Tunda, Serang, Banten. Pulau Tunda merupakan sebuah pulau terpencil yang terletak di Laut Jawa, yakni di sebelah utara Teluk Banten. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten yang memiliki luas sekitar 300 hektare.

Jumat, 24 oktober 2014, dengan seluruh perhitungan dan perbekalan yang telah direncanakan sebelumnya,  saya dengan 10 orang teman memulai pemberangkatan dari Jatinangor, Sumedang. Kami berangkat memakai Damri jurusan Elang-Jatinangor dan berhenti di Terminal Leuwi Panjang. Disana kami naik bus Arimbi dengan jurusan Merak – Bandung dengan melakukan negosiasi harga terlebih dahulu. Untuk catatan, biasanya jika yang naik bus rombongan, harga selalu diturunkan. Kami berangkat sekitar pukul 16.00 WIB. Perjalanan memakan waktu 8 jam untuk sampai Terminal Merak.

Pukul 23.00 WIB kami tiba di Terminal Merak, Banten dan dari sana kami carter angkot menuju Pelabuhan Karang Antu. Setiba di Pelabuhan Karang Antu, kami memutuskan untuk beristirahat dan bermalam disana mengingat keadaan kami yang sudah lelah dan waktu yang tidak memungkinan. Kami mencari sebuah masjid untuk dijadikan tempat peristirahatan. Namun, nasib baik memang selalu berpihak, kami ditawarkan oleh ibu dan bapak tukang warung disana untuk menginap secara cuma-cuma di rumahnya. Allhamdulilah, terimakasih untuk ibu dan bapak yang baik, semoga menjadi berkah.

Pukul 09.00 WIB kami memulai pemberangkatan dengan naik kapal yang sudah disewa sebelumnya. Setelah kurang lebih 2-3 jam terombang-ambing di lautan lepas. Terpana dengan seratus juta keindahan warna-warninya lautan, tersihir dengan pemandangan sekitar, dan terperangkap pada imajinasi kami masing-masing, akhirnya tibalah kami di Pulau Tunda, surga dunia yang tersembunyi.

Layaknya wisatawan lainya, kami disambut oleh cerahnya langit utara teluk Banten. Lambaian daun nyiur, jernihnya air laut, kapal-kapal besar, senyum hangat warga sekitar dan seteko air es. Kami tinggal di sebuah rumah tour guide kami, Mas Firman. Rumah yang memberi segala keramahan dan kebaikannya selama kami disana.

Tak usah beristirahat berlama-lama, saatnya kita menjelajah pulau..! Yeaaaaaaaaaayyy….!!! HAVE FUN TIME!

Seperti yang diceritakan oleh seorang penduduk asli  Pulau Tunda, Pulau Tunda memiliki jumlah penduduk kurang dari 3000 orang. Sebagian penduduk yang tinggal di Pulau Tunda adalah orang-orang yang merantau. Sedikit orang yang asli Pulau Tunda Sendiri. Di Pulau Tunda mata pencarian utama mengandalkan hasil laut, karenanya hampir seluruh warga Pulau Tunda merupakan nelayan. Keadaan geografis Pulau Tunda dikelilingi oleh lautan dengan hutan yang lebih banyak dibanding dengan pemukiman warga. Masih sedikit sekali rumah warga yang dibangun disana. Pulau Tunda memiliki sekolah satu atap untuk SD dan SMP, sedangkan untuk melanjutkan ke SMA mereka harus menyeberangi lautan terlebih dahulu.

Selain berprofesi sebagai nelayan, sebagian besar penduduknya beternak kambing. Kambing dibiarkan berlalu-lalang kesana-kemari seharian penuh. Sehingga jangan aneh ketika kita menjelajah pulau seringkali bertemu dengan kambing dimana-mana. Seperti pulau terpencil umumnya, tenaga listrik susah untuk di dapatkan di Pulau Tunda, penduduk disana menggunakan listrik tenaga surya untuk penerangan lainnya.

Warga di pulau ini sendiri sudah tidak asing dengan para wisatawan yang hampir tiap hari berkunjung kesana. Mereka menyambut baik kedatangan para wisatawan termasuk kami. Mereka menyambut kami dengan senyum ramah khas orang Indonesia.

Sangat disayangkan terdapat banyak sampah di pesisir pantai, hal itu disebabkan mungkin karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab membuang sampah dilaut sehingga terbawa ombak sampai ke pesisir pantai, dan menjadikan banyak sampah.

Pantainya berpasir putih, pasirnya berbaur dengan kerang-kerang kecil. Nanum, air laut disana benar-benar jernih. Dengan berteduh dibawah pohon mangrove kita bisa menikmati keindahan birunya pantai dan kapal-kapal yang merayap-rayap di tengah laut sana.

Snorkeling dan Diving

Ini dia, Pulau Tunda terkenal dengan surga dunianya bawah laut. Pulau Tunda memiliki keindahan bawah laut yang luar biasa dan masih alami. Pulau Tunda dikelilingi dengan terumbu karang yang sangat beragam. Umumnya banyak ditemui karang dengan tipe Pertumbuhan Karang Tepi atau Fringing Reef.

Terumbu karang di Pulau Tunda banyak terdapat di bagian utara. Hal ini karena bagian selatan banyak aktivitas manusia. Sedangkan di bagian timur hingga tenggara Pulau Tunda memiliki kondisi arus yang cukup besar sehingga baik untuk kegiatan Drift Diving. Pepohonan mangrove ditemukan cukup padat dibagian selatan hingga timur. Karena Pulau tunda memiliki keindahan bawah lautnya yang masih alami, maka banyak terdapat spot-spot snorkeling dan Diving.

Lumba-lumba

Selain snorkeling dan diving, di Pulau Tunda kita juga bisa bertemu lumba-lumba untuk melihat lompatan dan liukannya yang indah. Menurut cerita, pulau ini merupakan lintasan lumba-lumba. Jadi kemungkinan bertemu lumba-lumba sangat besar. Untuk catatan bawa biskuit ya jika mau ngasih makan lumba-lumba.

Sedikit cerita, setelah kami beristirahat sebentar, lima teman kami yang lain melakukan snorkeling ke pantai selatan dan utara Pulau Tunda, sedangkan saya dan keempat tempat lainnya  berjalan-jalan ke pesisir pantai. Rombongan saya memutuskan untuk berburu hamparan luas pasir putih dan sunset di Barat sana. Perjalanan yang tanpa rencana itu akhirnya berhenti di sebuah pohon dan sebuah vila yang dijaga oleh seorang bapak-bapak yang merantau dari Jakarta. Kami berbincang-bincang, disuguhi air kelapa muda yang langsung diambil dari pohonnya. Setelah maghrib, kami pulang kembali dan tanpa sadar ternyata kami berjalan sangat dan sangat jauh…!

Pagi-pagi, saya lancang berjalan-jalan ke dermaga sendirian, bertemu dan berkenalan dengan wisatawan-wisatawan dari Jakarta. Kita mengobrol sebentar dan saya melanjutkan untuk jalan-jalan kembali.

Saya duduk di sebuah saung kecil yang berada di ujung jalan dermaga, memandang laut bebas dan merah tejanya sunrise. Saya tak bisa berkata, imajinasi saya terlalu liar, damai yang saya rasakan saat itu tidak terukur lewat kata-kata.

Pembuatan Kapal di Pulau Tunda

Di Pulau Tunda juga ada tempat untuk pembuatan kapal yang letaknya tidak jauh dari dermaga pulau Tunda. Kapal yang dibuat berukuran kecil dan terbuat dari bahan baku kayu. Pembuatan kapal di Pulau Tunda memakan waktu berbulan-bulan. Kapal tersebut di gunakan untuk keperluan masyarakat pulau tundanya sendiri yang mayoritas mata pencahariannya nelayan.

Ini hanyalah cerita tentang sebagian kecil keindahan Pulau Tunda. pulau ini sebenarnya sudah dapat dijadikan objek pariwisata yang sangat menarik untuk dikaji. Keindahan pantai dan lautnya belum dieksplorasi lebih jauh. Padahal kegiatan berlayar dengan pemandangan laut dan lumba-lumba, memancing, snorkeling, diving, melihat sunset dan sunrise adalah potensi wisata yang menarik.

Berbicara Pulau Tunda, memang tidak akan ada habisnya. Semoga lain waktu saya, kamu, kita, kalian semua bisa lagi backpackeran ke Surga dunia lainnya seperti Pulau Tunda. Oke, see you next time..! [Rahmia Khaerunnisa/End]

Penulis : Rahmia Khaerunnisa – Jakarta

Sebarkan :
  • 191
  • 176
  • 145
  •  
  •  
  •  
    512
    Shares
Follow Travelnatic:

Travelnatic Magazine is magazine about tourism and traveling in Indonesia or by Indonesian. Every people can shared their travel story here. Send me by email at redaksi@travelnatic.com

Komentar anda?