Rekam Jejak Sejarah di Kawasan Citarum Purba

Rekam Jejak Sejarah di Kawasan Citarum Purba

posted in: Otherside | 1

Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat. Panjangnya mencapai 300 km yang berhulu di Gunung Wayang Kab. Bandung dan bermuara di utara Karawang, Jawa Barat. Sejak dahulu sungai Citarum merupakan bagian yang sangat penting. Sungai ini menjadi jalur perekonomian warga. Bahkan sejak jaman kerajaan Tarumanagara, masyarakatnya sangat bergantung pada aliran sungai tersebut.

Citarum memiliki banyak fungsi, seperti masyarakat Tarumanagara yang memanfaatkan aliran sungai sebagai penyuplai air untuk ladang pertanian. Selain itu, ikan air tawar yang begitu banyak di aliran sungai Citarum yang jernih dimanfaatkan oleh masyarakat Tarumanagara sebagai sumber protein yang melimpah. Pada jaman prasejarah pun, sungai Citarum sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan karena disana berkumpul sumber makanan yang beragam.

Sebelum manusia hadir di cekungan Bandung saat ini, sungai Citarum sudah mengalir. Sungai ini embelah cekungan dari arah tenggara menuju barat-laut yang morfologinya memang lebih rendah dibanding kawasan lain. Aliran sungai Citarum saat ini merupakan aliran yang dapat dibilang baru dari sudut pandang sejarah. Dahulu, sebelum meletusnya Gunung Sunda yang merupakan induk dari Gunung Tangkubanparahu, aliran Citarum mengalir melintasi kawasan utara Padalarang dekat dengan stasiun kereta api Padalarang sekarang. Aliran sungai menembus kawasan bukit kapur hasil dari pengendapan fosil moluska yang hidup di dasar laut pada jaman dahulu.

Letusan besar Gunung Sunda sekitar 105.000 tahun yang lalu menyumbat aliran sungai Citarum. Keadaan alam Kota Bandung yang dilingkup oleh pegunungan membuat aliran sungai Citarum meluap dan terbentuklah sebuah danau yang besar.  Danau tersebut terbagi kedalam dua wilayah, yaitu Danau Bandung Barat dan Danau Bandung Timur. Kedua danau tersebut terpisah oleh dinding alam yang kokoh hasil dari letusan Gunung Sunda dan fosil dari tubuh gunung api purba.

Oleh karena sifat air yang terus-mengerus mencari titik terlemah, akhirnya Danau Bandung Barat jebol di sekitar kawasan Pasir Kiara, Padalarang. Sedangkan Danau Bandung Timur jebol di sekitar kawasan Soreang, Kab. Bandung. Akibat terlepasnya air Danau Bandung Purba, kini aliran Sungai Citarum berbelok mengikuti aliran air danau yang dahulu berhasil menerobos dinding alam yang kokoh. Hal ini menyebabkan aliran sungai saat ini dimulai dari hulu sungai di Gunung Wayang mengalir hingga kawasan Soreang, tepatnya di Curug Jompong dan berbelok menuju Batujajar hingga ke Pasir Kiara, Padalarang.

Kawasan yang dahulu menjadi Danau Bandung Barat kini dibuat menjadi waduk atau danau untuk menampung air sungai. Waduk tersebut diberi nama Waduk Saguling. Banyak fungsi dari pembuatan waduk tersebut. Salah satunya sebagai mata pencaharian warga setempat menambak ikan air tawar, penyuplai ladang pertanian warga dan juga air sungai yang menjadi tenaga pembangkit listrik.

Aliran Sungai Citarum yang tertimbun oleh material letusan Gunung Sunda kini diberi nama Citarum Purba. Terdapat sisa aliran Sungai Citarum di kawasan tersebut yang mengalir dan bertemu kembali pada aliran Citarum saat ini. Sumber airnya berasal dari Bendungan Saguling. Air sungainya begitu jernih. Disinilah kita dapat melihat Sungai Citarum yang bersih seperti dahulu kala. Tidak seperti aliran Sungai Citarum yang kita lihat sehari-hari. Berbau limbah industri, penuh dengan sampah, dan lain-lain.

Di kawasan Citarum Purba terdapat beberapa situs yang bersejarah. Kita dapat mengungkap sejarah Bandung dari kawasan Citarum Purba tersebut. Ada beberapa objek yang vital keberadaannya bagi para peneliti. Selain itu, terdapat pula mitos yang konon dapat merubah Bandung kembali menjadi Danau seperti dahulu kala. Kawasan ini pun sangat cocok untuk bahan penelitian lapangan bagi beberapa pelajar dan menjadi objek wisata yang mengedukasi untuk berbagai kalangan masyarakat.

 

Bendungan Saguling

Kantor PLTA Saguling. Dok. Rendy Rizky Binawanto
Kantor PLTA Saguling. Dok. Rendy Rizky Binawanto

Sebelum berjalan menyusuri aliran Sungai Citarum Purba yang bersih, kita akan dihadapkan dengan pipa-pipa berukuran besar. Pipa-pipa tersebut berfungsi sebagai penampung air yang berasal dari Waduk Saguling untuk dijadikan tenaga di pembangkit listrik bertenaga air. Pipa-pipa itu dipasang di permukaan tanah yang membelah bukit dan tersusun dari batuan breksi atau batuan yang berasal dari material letusan gunung api.

Kawasan ini merupakan kawasan Bendungan Saguling. Letak astronomis Bendungan Saguling terletak di 6o51’58’’ LS dan 107o21’ BT. Air waduk yang melimpah dimanfaatkan oleh pemerintah untuk membuat pembangkit listrik bertenaga air. Listrik tersebut disalurkan ke wilayah Jawa dan Bali. Aliran sungai Citarum yang tak pernah kering sangat potensial untuk pembangkit listrik. Namun, karena daerah hulu dan tingkah laku masyarakat sepanjang aliran sungai yang tak beretika membuat erosi sungai dan pendangkalan sungai begitu cepat. Dampaknya, sungai yang membawa segala bentuk endapan membuat kedalaman waduk setiap tahunnya semakin dangkal. Ini yang dikhawatirkan oleh PLTA Saguling. Semakin dangkalnya Waduk Saguling berdampak pada semakin pendeknya umur PLTA terebut dan berkurangnya pasokan air untuk pembangkit listrik.

Lokasi Bendungan Saguling berada di kawasan perbukitan kapur Rajamandala. Itu sebabnya, jika kita berada di lokasi bendungan ini sering kita temui batuan kapur yang putih. Baik itu di tebing samping jalan maupun material untuk jalan menuju kawasan Bendungan.

Lokasinya dapat ditempuh menggunakan roda empat maupun roda dua. Jika keluar dari pintu tol Padalarang, arahkan kendaraan menuju arah Cianjur atau Rajamandala. Setelah melewati panorama tambang kapur yang berjejer sepanjang jalan, ada gapura PLTA Saguling. Rajamandala terletak di sebelah kiri jalan. Belokkan kendaraan ke gapura itu, lalu masuklah menyusuri jalan tersebut. Jalanan berkelok juga menanjak mengikuti alur lembah bukit kapur. Jalan menuju lokasi sudah teraspal dengan baik.

Setelah melewati perkebunan karet, kita akan dihadapkan dengan sebuah portal yang dijaga oleh seorang petugas keamanan kawasan. Kita harus meminta ijin terlebih dahulu untuk memasuki kawasan bendungan serta area Citarum Purba. Setelah ijin diperoleh, arahkan kendaraan menyusuri jalanan yang menanjak juga berliku. Ada papan petunjuk jalan yang telah terpasang. Arahkan kendaraan menuju Powerhouse. Disanalah letak kawasan bendungan serta area Citarum Purba. Disini juga merupakan lahan parkir kendaraan bagi pengunjung.

Tempatnya masih ditutupi oleh rindangnya pohon-pohon. Seringkali terdengar suara gemuruh air ketika sampai di lokasi tersebut. Untuk mencapai Bendungan Saguling kita diharuskan berjalan kaki. Waktu tempuhnya sekitar 10 menit dari lokasi parkir kendaraan. Untuk berdiam melihat pipa-pipa besar itu kita harus hati-hati karena truk-truk besar bermuatan pasir sering kali melewati kawasan tersebut. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan sebelumnya.

 

Guha Purbakala Sanghyang Poek

Citarum Purba - Bagian dalam guha Sanghyang Poek. Dok. Rendy Rizky Binawanto
Citarum Purba – Bagian dalam guha Sanghyang Poek. Dok. Rendy Rizky Binawanto

Dari lokasi Bendungan Saguling kita dapat berjalan menyusuri jalanan beraspal untuk melihat area Citarum Purba. Ada dua jalan yang dapat ditempuh. Pertama, menyusuri jalanan beraspal tempat truk-truk besar terparkir. Kedua, menyusuri jalanan setapak melewati perkebunan warga dan tebing kapur yang tinggi meniang.

Disana terdapat sebuah tebing kapur yang tingginya mencapai 20 meter. Di bawah tebing tersebut terdapat lorong-lorong saling menyambung dan ruang-ruang yang cukup luas yang kita kenal dengan sebutan Goa atau Guha. Goa ini diberi nama dengan sebutan Sanghyang Poek. Diambil dari imajinasi nenek moyang terdahulu yang sangat mengagung-agungkan objek alam semacam ini. Sanghyang yang bermakna “agung seperti dewa” dan Poek yang dalam bahasa Sunda berartikan “gelap”. Jika dianalogikan, masuk ke dalam goa tersebut kita tidak dapat melihat apapun karena gelap gulita.

Pada saat Citarum Purba masih mengalir menuju muara, goa ini termasuk bagian dari aliran Sungai Citarum. Ketika itu aliran Citarum Purba tersumbat oleh material letusan Gunung Sunda, volume air berkurang sehingga goa ini tidak lagi dialiri oleh aliran Sungai Citarum. Namun kini, aliran sungainya mengitari goa tersebut. Volume airnya tidak terlalu deras karena tertahan oleh Bendungan Saguling. Akibat adanya bendungan tersebut air Sungai Citarum ini begitu jernih.

Letak astronomis Sanghyang Poek yaitu 6o51’58’’ LS dan 107o34’ BT. Sanghyang Poek dikenal pula sebagai Guha Purbakala. Kepurbakalaan goa tersebut diketahui lewat cerita yang menyebutkan bahwa dahulu terdapat sekelompok manusia prasejarah yang menetap disana. Namun, keberadaan fosil manusia purba tak ditemukan satupun di dalam goa tersebut. Letak goa yang dekat dengan sumber air merupakan tempat hunian yang strategis bagi manusia prasejarah. Hal ini sesuai dengan pemikiran logis bahwa bertempat tinggal dekat dengan sumber air, maka dekat pula dengan sumber makanan.

Di dalam goa Sanghyang Poek terdapat ornamen goa kapur yang sangat indah. Stalaktit dan stalagmit, begitu pula dengan ornamen lainnya dapat ditemui di dalam goa. Ciri khas dari stalakmit dan stalagmit di dalam goa Sanghyang Poek yaitu bentukannya yang menyerupai sesuatu. Misalnya stalaktit yang menggantung menyerupai gigi seekor tupai.

Stalaktit dan stalagmit di dalam goa Sanghyang Poek masih aktif. Maka dari itu, kita tidak boleh sembarangan memegang batuan di dalam goa tersebut. Jika kita sampai memegang ornamen di dalam goa, ornamen tersebut akan mati dan tidak dapat tumbuh kembali. Batu kapur yang telah berkontak dengan kulit manusia akan menghitam dan tak akan dapat terlihat indah seperti sedia kala.

Jika ingin masuk ke dalam Guha Purbakala Sanghyang Poek disarankan untuk membawa lampu senter dan ditemani oleh seseorang yang mengenal jalur di dalam goa. Jika tidak, kita akan kesulitan menemukan jalan untuk keluar goa. Ada banyak jalan yang bercabang di dalam goa tersebut. Kita pun harus hati-hati karena batuan kapur yang licin jika terkena air. Batu kapur yang licin ini dapat membuat kita terpeleset dan jatuh.

Kita pun harus hati-hati dengan kepala kita. Tinggi atap goa tidak lebih dari 1,5 meter sampai 1,7 meter. Sesekali kita harus menunduk agar kepala kita tidak terkena atap goa. Untuk menjaga keselamatan kita, diusahakan memakai alat pengaman seperti helm dan sebagainya untuk melindungi kepala.

Diujung mulut goa Sanghyang Poek terdapat sebuah teras yang cukup luas. Disinilah tempat yang pas untuk menikmati panorama aliran Citarum Purba. Batu kapur berbongkah yang berserakan, juga pepohonan yang menghijau, ditambah suara gemuruh air sungai yang mengalir menjadi keindahan yang tiada duanya. Kita bisa bersantai di teras ini atau dapat pula turun ke garis pantai sungai untuk bermain dengan air Sungai Citarum yang bersih. Bagi para fotografer pun disini bisa menjadi spot yang cocok untuk berburu gambar terbaik.

Batu Hiu

Citarum Purba - Penampakan Batu Hiu. Dok. Rendy Rizky Binawanto
Citarum Purba – Penampakan Batu Hiu. Dok. Rendy Rizky Binawanto

Setelah asik bermain di teras Sanghyang Poek kita dapat menyusuri aliran Sungai Citarum Purba ke arah hulu. Untuk jalurnya, kita akan menyusuri batuan kapur yang berserakan di seluruh badan sungai. Kita harus berhati-hati karena pijakan kita akan menjadi licin jika batu kapur tersebut terkena air sungai. Selain itu, terdapat pula batu-batu kapur yang meruncing tajam. Sangat berbahaya jika kita terjatuh dan mengenai batu kapur yang runcing tersebut.

Sepanjang jalur, kita dapat melihat bentukan batuan kapur yang beragam. Air yang mengalir mengerus batuan terasa seakan menenangkan pikiran. Tak jarang burung-burung saling menyapa dibalik pohon-pohon yang masih terjaga. Perpaduan suara burung juga deru air sungai membentuk sebuah alunan melodi alam yang indah. Kita akan mendapatkan ketenangan disini.

Setelah menyusuri aliran Sungai Citarum Purba kearah hulu selama 15 menit, kita akan dihadapkan dengan sebuah batu yang menyerupai seekor ikan hiu yang tengah menganga keluar dari permukaan air. Pemandangan ini terlihat menyeramkan karena sangat menyerupai seekor ikan hiu. Tingginya mencapai 3 meter dari permukaan air sungai. Masyarakat setempat menamainya dengan sebutan Batu Hiu.

Batu Hiu ini merupakan batuan kapur yang larut oleh air hujan membentuk menyerupai seekor ikan hiu. Letaknya tepat di tengah badan sungai membelah aliran sungai menjadi dua bagian. Seakan-akan seekor hiu yang menampakan dirinya dari permukaan air Sungai Citarum Purba.

Spot ini sangat cocok untuk berfoto-foto. Wisatawan yang berkunjung ke tempat ini tak pernah melewatkan untuk berfoto dengan latar belakang Batu Hiu tersebut. Pemandangan yang asri dengan hijaunya pepohonan di lingkungan sekitar serta air sungai yang jernih menambah nilai keindahan lokasi di Batu Hiu ini.

Bentukan-bentukan yang ada di lingkungan Citarum Purba saat ini tak lepas dari sejarah terangkatnya pulau Jawa sekitar 27 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau Jawa masih berupa lautan dangkal yang penuh dengan beragam biota laut. Lautan yang hangat karena berada di iklim tropis membuat terumbu karang tumbuh subur.

Proses geologi disini mempertemukan dua lempeng tektonik. Lempeng benua yang berada di bawah pulau Jawa dikenal dengan nama Lempeng Eurasia. Lempeng Samudera yang berada di sebelahnya disebut Lempeng Hindia. Dua lempeng tektonik ini saling beradu. Lempeng samudera memiliki berat yang lebih besar dibanding lempeng benua. Akibatnya, Lempeng Samudera Hindia menyusup ke bawah Lempeng Eurasia. Tumbukan ini membuat sebagian Lempeng Eurasia terlipat dan terangkat naik ke permukaan. Tumbukan dua lempeng ini jugalah yang menghasilkan gunung api aktif di pulau Jawa.

Terumbu karang yang awalnya berada di dasar laut dangkal terangkat ke permukaan seiring waktu. Akibat perbedaan suhu dan lingkungan tempat terumbu karang tersebut hidup, maka mereka mati dan kemudian terendapkan menjadi batuan kapur. Proses ini terjadi selama jutaan tahun dan membentuk bukit-bukit kapur yang sering kita lihat di beberapa daerah. Salah satunya di kawasan Rajamandala, Jawa Barat.

Batuan kapur yang menjadi bukit-bukit tersebut kemudian mengalami proses pelapukan oleh air hujan dan juga panas dari sinar matahari selama bertahun-tahun. Membuat batuan yang menyusun bukit tersebut terbelah dan hancur, larut bersama air yang meresap ke dalam permukaan bukit. Dari pelarutan kapur tersebut terbentuklah goa-goa kapur seperti Sanghyang Poek dan juga goa-goa kapur lainnya. Selain itu, batuan-batuan yang besar terbelah dan jatuh ke permukaan tanah. Adapula yang tersingkap karena permukaan tanah yang tererosi oleh air permukaan. Penyingkapan ini menghasilkan batuan kapur yang awalnya berada di dalam permukaan tanah kini muncul di permukaan.

Dari proses tersebut mulailah air hujan membuat bentukan yang beranekaragam di atas batuan kapur tersebut. Dibantu oleh panas dari sinar matahari, juga oleh angin yang bertiup. Batuan kapur tersebut membentuk banyak objek yang menawan. Salah satunya seperti Batu Hiu yang berada di aliran sungai Citarum Purba ini.

Bentukan yang telah terbentuk oleh hasil alam ini semestinya kita jaga dan kita rawat. Jangan sampai bentukan yang memiliki kekhasan tersebut tidak bermakna lagi karena ulah tangan kita. Selayaknya kita harus bangga akan hal tersebut. Kekayaan yang kita miliki dapat kita pergunakan sebaik mungkin. Salah satunya dengan memaksimalkan potensi yang ada seperti di Citarum Purba yang penuh dengan rekam jejak sejarah untuk menjadi objek wisata yang mengedukasi kepada masyarakat secara luas.

Sejarah yang terekam di Citarum Purba akan senantiasa terjaga dengan baik apabila kita cermat dalam bertindak. Seperti pepatah yang mengatakan “sebuah Negara tidak akan maju apabila warganya tidak mengenal sejarah”. Semoga dengan mengenal sejarah dari fenomena alam yang ada di lingkungan kita, kita akan bangga terhadap alam Indonesia yang begitu kaya. [Rendy Rizky Binawanto/End]

Penyunting : Nurul Amin

Sebarkan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    746
    Shares
Follow Rendy Rizky Binawanto:

Rendy Rizky Binawanto, seorang mahasiswa Geografi di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Bale Bandung. Ia seorang pejalan yang gemar bercerita. Cerita perjalanannya ia bagikan lewat beberapa media. Sebagai seorang geograf, sebuah perjalanan sangatlah berarti untuknya. Selain untuk penelitian lapangan juga untuk mengenali keunikan di setiap daerah yang ia kunjungi. Motivasinya dalam menjelajah adalah untuk menyebarkan keindahan dan kekayaan alam serta masyarakat yang hidup didalamnya, di luar lingkup orang-orang tinggal. Hal ini agar mereka bergerak dan menyebarkannya kembali kepada mereka yang diam.

One Response

  1. Cindy Cintia

    Izin share yaa rend..☺☺☺

Komentar Pembaca